Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
PART 4 "Seragam Abu-abu"


__ADS_3

Jangan lupa baca doa...🤗 Bismillah


Matahari sedang mengerjap-ngerjap. Daun-daun pohon mangga yang terembus angin menutupi wajahnya yang telah bersinar. Hampir pukul enam pagi.


Kala sudah menyelesaikan jadwal memasaknya hari ini. Berhubung kumadang subuh datang lebih awal, setelah mengaji Alquran setengah jam, dia langsung pergi ke bakul sayuran. Sementara, Vey membersihkan rumah karena dia harus sampai di sekolah tepat pukul tujuh--jarak dari rumah ke sekolahan sekitar dua puluh menit.


Kala memasak simpel dengan rasa seadanya. Untungnya, Vey jarang sekali protes jika Kala memasak dengan rasa yang tak tentu, kadang asin dan kadang terlalu hambar. Meskipun, over all hasil masakan itu sudah cukup baik. Hari ini dia memasak sop sayur kubis, sosis, bunga kol, dan wortel. Lauk tempe krispi dan sambal kecap pedas level lima. Porsi masaknya juga tak banyak supaya tidak terlalu lama. Karena biasanya, sore nanti dia masih akan memasak lagi, entah masih dengan menu yang sama atau berbeda.


Jam berdenting menunjukkan menit sudah melebihi lima belas. Kala buru-buru mengambil sepatunya di rak setelah pamitan dengan Vey yang baru selesai mandi. Dia mengeluarkan sepedanya dari ruangan samping yang sudah dibuka Vey tadi saat hendak memanasi motor.


Baru beberapa menit perjalanan, dia bertemu dengan Syarif. Remaja paling pintar se-sekolahan yang kebetulan dulu pernah satu kelas dengannya. Dia mengayuh sembari melibatkan diri dalam percakapan ringan. Syarif yang pada dasarnya remaja laki-laki yang cukup humble, membuat dia menjadi salah satu idola anak-anak kelas sembilan--khususnya perempuan. Tapi, tidak dengan Kala yang suka berbincang-bincang dengan Syarif karena dia tahu ke mana Syarif ingin melanjutkan kuliah.


Syarif ingin melanjutkan pendidikannya ke STAN. Mimpi yang sangat besar. Penuh ambisi. Wajar karena ayah Syarif sendiri seorang dosen di IAIN Pasuruan, kampus harapan Kala. Dosen yang kata Vey cukup killer. Tapi, untungnya Syarif tidak seperti itu. Tapi, seperti yang Kala tahu bahwa Syarif memang tipikal laki-laki yang suka memperjuangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dengan kecerdasan dan keuletannya, maka sudah pasti mudah bagi Syarif untuk menggapai mimpinya ke STAN. Dan, satu yang paling penting, bahwa Syarif remaja laki-laki yang sederhana. Yang mau berangkat bersepeda daripada menggunakan motor.


"Kalau kamu pengen ke mana?"


"Aku di sini aja, Rif. Biar bisa nemenin Onni Vey juga."


"Kamu keren," ucap Syarif spontan.


"Keren gimana maksudnya, Rif?"


"Sekolah nyambi usaha. Aku nggak bisa seperti itu."


"Halah, ngapain repot-repot bikin bisnis kalau kamu sudah disediakan fasilitas lengkap sama Ayahmu. Iya, kan?"


"Kakakku mau ulang tahun. Aku pesen lettering-nya dong."


"Oh, iya mau ukuran frame berapa?"


"Yang agak besar. Yang 20R."


"Eh, kalau segede gitu enaknya sketsa wajah aja. Atau sketsa terus dibingkai sama doodle juga bisa."

__ADS_1


"Iya, ya. Oke. Nanti aku kirim fotonya ke kamu."


"Oke siap ditunggu."


Kedua remaja itu mengayuh sepeda lebih cepat. Syarif mendahului dengan sepeda gunungnya yang selalu terlihat kinclong. Sementara, Vey hanya memakai sepeda butut milik Vey dulu--usianya sudah sekitar lima belas tahun. Tepat pukul setengah tujuh, saat gerbang hendak ditutup satpam, dia buru-buru menuntun sepedanya menuju parkir. Untungnya dia tidak terlambat. Kala tak ingin membubuhkan catatan buruk di raportnya karena dianggap sebagai siswi yang tidak disiplin.


Sama seperti Syarif, Kala juga bagian dari organisasi OSIM yang menjabat sebagai seksi keagamaan. Syarif sebagai wakil ketua. Berhubung anggota lain yang diajak rapat belum ada yang datang, Syarif mendekati Kala yang termangu sembari menatap halaman sekolah dari lantai tiga.


Syarif mengeluarkan handphone-nya, lalu menunjukkan foto kakaknya.


"Bagusan yang ini apa yang ini?"


"Haaa?" Kala tergagap.


Syarif spontan memukul pundak Kala.


"Gimana? Foto Kakakmu?" Lalu, memandang layar handphone Syarif.


"Bagusan yang inilah." Kala menunjuk foto setengah badan.


"Bukannya bagusan yang full. Kan bagus kalau kelihatan gesturnya."


"Kata Onni, emang gitu. Biar mukanya jelas. Kecuali kalau ukurannya lebih besar lagi. Masuk kalau foto yang tadi."


"Oke. Aku kirim yang ini ke kamu. Bawa hape nggak?"


"Aku tinggal di kelas."


Sembari mengirim, Syarif melempar pertanyaan. "Aku mau ngganti seksi humasnya. Aku lempar ke kamu, ya."


"Loh, kok aku, Rif? Jadi seksi humas itu nggak enak lo. Mesti repot muter-muter."


"Yo enggaklah. Repotan bendahara. Pasti bendahara. Kamu kudu mau. Itu Gisti mau ada olimpiade bulan Oktober. Ya pas di minggu acara milad sekolah. Aku kira kamu yang cocok menggantikan posisinya dia. Anggap aja bonus jalan-jalan. Siap gitu lo."

__ADS_1


Kala mengulur napasnya. Lalu, mengangguk pasrah. Dua seksi yang paling dia hindari saat menjadi panitia acara apa pun ialah bendaraha dan humas. Tapi, Syarif memaksanya. Dari nadanya, Syarif sudah sangat yakin Kalalah yang pantas mengemban amanah menjadi humas. Padahal, saat di kepanitiaan acara agustus-an sekolah kemarin, dia sudah ditunjuk menjadi humas.


"Yang ngisi acara seminar literasi tanggal sepuluh siapa?"


"Nanti kita diskusikan dulu sama yang lain. Aku ada tiga opsi. Jangan lupa persiapkan tenaga. Kita masih ada acara setelah milad. Ingat kan Oktober akhir, kita reorganisasi?"


"Numpuk-numpuk gitu, ya, acaranya."


"Iya harusnya di awal bulan Agustus kemarin. Tapi, wakanya bilang diundur aja ya sudah. Padahal, aku juga pernah kasih saran. Kasihan anak OSIM capek. Agustusan, milad, terus reor. Pehhhh, bener-bener mumet aku."


"Iya, Rif. Tapi nggak papalah. Itung-itung pengabdian terakhir kita di sini. Ya, kan? Habis ini kita fokus ke ujian, ujian, dan ujian. Terus jadi mahasiswa. Gak kebayang kalau udah berdiri di depan presentasi di depan dosen."


"Semoga kamu keterima, La."


Kala menyungging senyum. "Oke. Aamiin aamiin. Kamu juga, Rif. Kamu dari sononya udah pinter."


"Eh, kamu itu bukannya hafalan juga, ya?"


"Iya. Program anak unggulan agama."


"Dapet berapa?"


"Hehe. Doakan aja deh. Nggak usah ditanyain. Malu aku, Rif. Masih dikit."


"Nggak lo. Harusnya kamu daftar kuliah di luar negeri bisa. Kaya al-azhar itu."


"Weeeeeww. Al-azhar? Ya Allah, aku nggak pernah kepikiran mau ke sana. Kasihan Onni, Rif, Rif."


"Ada saudaramu juga. Atau kamu suruh Kak Vey nikah biar ada yang nemenin."


"Kamu ada-ada aja, Rif."


"Masuk akal juga idenya Syarif," batin Kala. "Eh tapi Onni belum kepikiran ke sana. Kasihan Onni. Haaah, ya udahlah. Satu tujuan aja daripada bingung. Dah mau finish masak masih mau bingung-bingungan." Kala tak ingin tergoda oleh iming-iming apa pun.

__ADS_1


__ADS_2