Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 35 "Falling in Love"


__ADS_3

"Siap, Pak Abi. Kala berangkat, saya juga." Ruma menambahi. Mengacungkan jempol dengan air muka ceria.


Abimana pamit ke dalam.


"Diem lu, Mel." Kala cemberut. Matanya melotot.


"Apa? Aku ngapain? Orang aku nggak ngapa-ngapain."


"Nggak gitu. Didengar nggak enak. Malu tahu, Mel, Mel." Kala sedikit merebahkan punggungnya.


Ruma menatap Syarif. "Rip, diem bae kamu. Ngomong dong!"


"Emang gini kalau keluar sama cewek-cewek. Rame."


"Lu sendiri juga mau. Salah siapa." Ruma menyeringai.


Jika bukan karena Kala yang mengajak, Syarif tidak akan bersedia.


"Eh, gue tahu. Gue tahu." Mela menebak. Dia tersenyum tidak jelas. "Gara-gara dia, kan?" Matanya sedikit melirik ke Kala yang fokus ke layar handphone.


"Bisa diem nggak lo. Jadi cewek jangan ngomong terus." Syarif mengancam. Justru ekspresinya itu membuat tawa Mela semakin lolos.


Ruma berbisik, "Aku ada resep, Rip."


"Ogaaaah." Syarif beranjak. Mengambil makanan.


"Yah, dia mati kutu." Mela mengejek.


"La, pilih Syarif apa Pak Abi kamu?" bisik Mela.


"Aku aja ya yang pilih." Ruma mengedip-ngedipkan mata. Berlagak manja.


"Aku nanyin Kala."


"Lu itu bego apa gimana, sih? Ya kaleee Kala jawab pertanyaan elu. Gak mungkin." Lalu menoleh. "Bener, kan, La?"


"Apaan? Kalian berdua aneh."


Namun, sudah jelas hati Kala akan memilih Abimana. Berulang waktu, perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Katanya, tidak ada yang salah dengan perasaan. Bahkan, ia datang tanpa diminta.


"La, La, aku cuma mau ngomong. Ati-ati, ya kalau suka sama cowok kaya Pak Abi."


Kala melirik Mela. "Napa?"


"Aku yakin aja, sih, Pak Abi sudah punya calon."


"Mmm...ya biarkan saja. Itu bukan urusan aku kali, Mel."


"Mending sama Syarif tu. Nanti biar kamu bulet kaya pentol. Disuruh njajan terosss." Mela terkikik. Memandang Syarif sekilas.

__ADS_1


Ruma menambahkan, "Jatuh cinta sama orang kaya Pak Abi itu harus siap patah hati."


"Emang kalian seyakin itu aku suka sama Pak Abi?"


Ruma mengulum bibir. "Ya kita sama-sama perempuan. Pasti ngertilah perasaan kamu sekarang."


Kala, Mela, dan Ruma terdiam. Syarif kembali dengan sepiring penuh nasi, sayur, dan lauk pauk.


"Ambil, La!" Dia menyuruh Kala.


Mela dan Ruma mengajak bangkit. Menu makanannya sudah bertambah lagi.


"Oh, iya...Onni kamu itu belum punya pacar atau calon gitu, ya, La?"


"Punya, Rum. Tapi..." Kala menggantung entong di tangannya. Menoleh kepada Ruma di samping kirinya. "Lagi ada masalah."


"Siapa cowoknya?"


"Bang Kafil namanya. Lihat aja di sosmednya. Kaf under score satu."


"Ya ampuuuun."


"Napa, Mel?" tanya Kala dan Ruma bersamaan.


Seragam Mela terkena kuah ayam lodho.


"Nanti habis pulang langsung aja dicuci."


"La, kalau kamu buruh bantuan kita, ngomong. Kita bisa kok bantuin kamu. Misalnya kalian butuh orang buat bantuin pesenan. Aku sama Mela nawarin gini karena menurutku kamu dan Onni itu terlalu berusaha keras. Nggak salah. Tapi, jujur, ya kadang lihat mukamu itu aku kadang...ya gimana gitu. Ini aku serius lo. Aku boleh nginep sama Bundaku. Bundaku tahu kok kalau kita sahabatan."


"Makasih, ya. Tapi, kayaknya Onni merasa bisa melakukannya tanpa dibantu."


Dan, tanpa sengaja Mela berjalan tidak terlalu fokus sehingga menyenggol kaki kursi kosong. Dia pun tersungkur dan piring plastik yang dibawanya tumpah. Nasinya berserakan. Sejurus dia menjadi pusat perhatian. Ruma dan Kala melotot. Buru-buru meletakkan piring mereka.


"Hati-hati, Mel," ujar Kala. Dia membantu Mela berdiri.


"Nglamun apa, sih? Kursi disandung segala," bisik Ruma. "Mesti malu banget, nih," lanjutnya. Dia menoleh ke samping kiri. Orang-orang tengah memperhatikan seraya berbisik-bisik.


"Seragamku kotor semua. Pengen numpang ke kamar mandi. Nggak nyaman kena kuah."


"Ya sudah bentar." Kala mendekati Abimana yang ada di dekat mbak kasir.


"Nggak apa-apa biar dibersihkan sama karyawan. Mbak, minta tolong disapu itu." Abimana segera merespons mimik wajah Kala yang bersalah sekaligus sungkan.


"Nggeh. Pak, tapi Mela mau izin numpang ke kamar mandi. Seragamnya kena kuah. Dia tidak nyaman."


Abimana menyuruh Mela mengikuti langkahnya. Sementara, Kala dan Ruma mengekor.


"Masuk saja. Tidak ada orang di dalam. Cuma ada Simbah Putri di kamar. Lurus aja. Nanti ketemu kamar mandi."

__ADS_1


Mela ragu. Ternyata dia pun kebelet pipis.


"Ini rumah Pak Abi?"


"Iya. Gapapa aku izinkan kamu masuk. Temani, La!" Dia menoleh ke belakang sebentar.


Kala maju dua langkah. Mengangguk.


"Aku balik kalau gitu," bisik Ruma pada Kala. Dia segera menyisih.


"Terima kasih, Pak Abi. Saya izin masuk." Mela menunduk. Melepaskan sandalnya dan mulai memijak teras keramik warna hijau lumut itu.


Mela menoleh. "Widiiih." Terbelalak.


Kala bergeming. Langkahnya pun terhenti. Gagal fokus dengan banyaknya piala yang terpajang di lemari kaca sebelah kirinya.


"La, sumpah ini lebih banyak dari punyamu. Ada lima puluh lebih ini. Gila..Jan super, Ya Allah." Mela tak berhenti berseru. Lupa kalau dia sedang berada di rumah orang.


Mela mengaduh. Lalu, menarik paksa Kala agar menemaninya.


"Keren banget, ya," bisiknya. "Auto nggak bisa tidur kamu, La. Ntar kamu pasti terbayang-bayang wajah Pak Abi yang tampan bak pria india." Lantas terkikik.


Kala mendiamkan. Dia sudah terlalu biasa mendengarkan Mela berceloteh memojokinya.


"Sudah sana masuk! Katanya kebelet." Kala bersedekap. Bersandar di tembok.


Memang benar kata Mela. Kali ini dia benar-benar sudah yakin telah jatuh cinta meski bukan pada pandangan pertama. Dia meletakkan telapak tangannya, tepat di pusat suara dimana jantung itu tengah berdegup. Mencipta senyum kemudian. Dan, Abimanalah cinta pertamanya. Hatinya telah tertambat pada sosok pria dewasa yang sikapnya terlalu dingin untuk menerima cintanya yang hangat.


"Ya Allah, apa artinya semua ini? Apakah itu artinya dia akan menjadi jodohku?" Dia tersenyum lagi.


Mela yang membuka pintu seketika nyengir. "Sudah kuduga," katanya kemudian.


Sejurus Kala memperbaiki ekspresi. Menyembunyikan bahagia.


"Pilih Syarif apa Pak Abi?" Mela memainkan alisnya. Menaikturunkan berulang-ulang.


"Aku pilih apa."


"Yeeee."


"Kamu bilangnya tiga. Syarif apa Pak Abi. Ya aku pilih apalah."


Seketika mereka berdua terkesiap. Abimana menyembul tiba-tiba di pintu. Yang ditatap plonga-plongo.


"Pak Abi tadi dengar nggak, ya? Duuuuh," batin Kala.


"Terima kasih, Pak Abi," ucap Mela.


Kala segera menarik tangan Mela. Sebelum melangkah ke pintu, Kala sempat memperlambat langkahnya hanya demi melihat piala-piala itu sekali lagi. Bahkan, dia menyuruh Mela agar meninggalkannya. Mela melarang, tapi dia berdalih ingin berbicara, menanyakan soal beasiswa ke Kairo pada Abimana. Mela pun mengalah. Tapi, sebetulnya Kala hanya ingin melihat satu per satu piala itu dari dekat.

__ADS_1


Juara jujitsu tingkat provinsi, juara MFQ (Musabaqah Fahmil Qur'an/ cerdas cermat Alquran), juara lomba qiroatul kutub tingkat kabupaten dan provinsi, juara musikalisasi puisi tingkat nasional, juara tahfiz international Holy Quran Dubai. Dari sekian banyak bacang yang diikuti Abimana, Abimana seringkali memperoleh prestasi dalam bidang tahfiz, cerdas cermat, dan qiroatul kutub. Kala tak bisa menahan kekagumannya. Dia sungguh sedang terpesona.


__ADS_2