
Jangan lupa berdoa.. Bismillah 😊
Kala bergidik ngeri. Tak membayangkan kalau tiba-tiba ada yang datang melamarnya saat usianya masih begitu belia. Saat dia masih harus mengejar mimpi.
"Tapi, Bu, saya masih tujuh belas."
"Ya dulu Ibu juga masih sekamu. Cuman Ibu nikahnya dua tahun kemudian. Nunggu Ibu agak besaran dikit. Nunggu Ibu sudah lebih dewasa. Asal kamu tahu, masa-masa remaja perempuan ketika sudah memasuki usia tujuh belas tahun itu akan ada baaaanyak sekali kemungkinannya. Termasuk datangnya jodoh. Tidak sedikit orang tua yang sudah merasa anaknya cukup umur di usia itu. Lebih-lebih kalau semisal Bapak punya anak banyak. Ya limalah misalnya. Hidup pas-pasan. Ada juga orang tua yang malah senang anak perempuannya cepat menikah. Karena itu akan mengurangi beban dan tanggung jawab seorang bapak. Itu faktanya."
"Tapi, yang saya persoalkan tadi Onni, Bu."
"Sebagai Adik pasti ingin tetap bersama Kakaknya. Apalagi kamu, Kala. Kalian terbiasa bersama-sama. Ya kalau memungkinkan Mbakmu tinggal di rumah sama kamu, itu lebih baik. Kamu tidak kesepian. Tapi, ini seandainya..seandainya laki-laki yang datang melamar Mbakmu dia bilang, 'Kan Kala bisa ditemani saudara yang lain? Bulek, Bude, atau siapa gitu.' Kamu jawab bagaimana?"
Kala menekuk wajahnya. Dia bergeming. Tak ada kalimat yang bisa dia keluarkan.
Bu Maria memegang kedua pundak Kala. Dia berkata, "Kala, semua tergantung kalian berdua. Kamu dan Kakakmu bisa memutuskan siapa yang paling mungkin untuk bertempat tinggal di rumah peninggalan Ayahmu."
"Terima kasih, Bu Maria."
Bu Maria tersenyum. "Iya. Sama-sama. Tetep semangat. Ibu ingin hafalan kamu lancar. Wisuda tahun ini, Ibu ingin lihat kamu menjadi wisudawati tahfiz terbaik."
"Pangestu, Bu. Insyaallah."
Kala menuntun sepedanya sampai ke gerbang. Syarif memburunya dari belakang. Berlari sembari menuntun sepeda gunungnya.
"Ngobrol apa sama Bu Maria?"
"Mau tahu aja kamu, Rip."
"Iyalah. Sepet tahu nggak lihat mukamu ketekuk gitu terus."
"Halah."
__ADS_1
"Kakakku mau nikahan. Bisa pesen souvenir di rumahmu nggak?"
"Hmm...insyaallah bisa. Tadi pagi Onni juga dapat pesanan banyak. Kapan?"
"November pertengahan."
"Waduh, moga Onni bisa. Kira-kira butuh berapa dan souvenir apa?"
"Belum tahu. Ya nanti, deh, aku tanyakan. Nanti aku kabari."
Mereka berdua pun pulang bersama. Syarif membuntuti Kala tanpa berani mensejajari.
***
Vey tersenyum mengantarkan anak-anak didiknya pulang. Sebelum keluar kelas, dia tak lupa membersihkan papan tulis. Dia telah terbiasa tidak meninggalkan coretan apa pun usai mengajar. Cek handphone--tak ada notif apa pun. Dia memasukkannya ke tas. Lalu, beranjak pulang.
Seperti yang dikatakan tadi pagi saat menerima telepon, Vey langsung berangkat ke rumah kekasihnya. Dari Kecamatan Lekok ke Kecamatan Gempol, perjalanannya sekitar satu jam lebih. Tiba di sana ketika khatib usai berkhutbah.
Sudah empat kali Vey datang ke rumah kekasihnya. Dia diminta masuk oleh mamah Kafil yang kebetulan sedang diluar rumah memberi makan ikan-ikan di kolam taman depan rumah.
Vey melepaskan kunci motor. Tersenyum. Lalu, buru-buru mencium tangan mamahnya Kafil.
"Kafil masih di surau. Korang nak minum tea or ice, or apalah. Nak ape?"
"Tea saja Tante. Esnya tidak usah banyak-banyak." Vey duduk pelan-pelan. Menduduki sofa mahal berwarna gold.
"Okay. Awak tunggu sekejap. Sambil tunggu Kafil go home. Kejap, ye."
Dulu ketika awal-awal dia menjalin hubungan, dia sempat memikirkan ketidakpantasannya untuk Kafil. Dari segi perekonomian pun tentu kalau jauh. Gaya hidup, bahasa, marga, dan keislamannya dengan keluarga Kafil sudah seperti langit dan bumi. Dia sempat membayangkan mamanya Kafil tidak se-friendly itu. Ternyata setelah dia berbincang-bincang dengan mamanya Kafil, dia cukup nyaman dan bisa berkomunikasi dengan baik. Lebih-lebih ketika mamanya mengatakan suka pada perempuan yang mandiri. Di situlah, awal mula dia yakin bahwa ke depannya semua perbedaan di antara dirinya dan Kafil tidak akan menjadi masalah. Hingga akhirnya hubungan itu berlanjut sampai enam tahun.
"Tante tidak punya ART sampai sekarang?"
__ADS_1
"No." Mamanya Kafil meletakkan lemon tea dingin di meja. "Siang-siang minum fresh tea sungguh sedap. Mama biasanya pun macem tu. By the way, korang sehat ka?"
"Alhamdulillah. Saya ke sini memenuhi permintaan Tante untuk membicarakan hubungan saya dengan Kafil, Te."
"Yah, Mama tahu. Tunggu kejap sampe Kafil go home. Maybe sepuluh minit je. Jom minum tea. " Dia mengangkat gelas di hadapannya.
Vey mengikuti.
Sepuluh menit menunggu. Mereka hanya berbincang-bincang ringan. Vey bertukar cerita soal kesibukannya setiap hari, sekolah Kala, dan dia juga sempat menceritakan kehadirannya di Pesantren Mahbubah tadi malam, sebelum akhirnya Kafil tersenyum saat mendapati dirinya sudah duduk di ruang tamu.
"Belum lama, kan?"
Vey menggeleng.
Kafil menyampirkan sajadah di pundaknya. Duduk. Mengambil gelas milik mamanya. Lalu, minum di bekas bibir mamanya.
"Ehmm...So, mama nak terus terangkan pasal realition ship awak berdua ni. Mama berkeinginan awak dan Kafil married tahun ni. Tapi, mama sengaje tak aturkan bulan and hari. So, itu ya..what ever-lah korang nak manage and pilih kapan pun. Macam mane, Vey?"
"Kata Kafil, Kafil sudah menceritakan semuanya ke Tante Aisyah. Seperti yang sudah Tante tahu, saya dan Kala hanya hidup berdua. Kita pun punya bisnis kecil-kecilan. Di sini, saya hanya ingin memastikan beberapa hal. Di mana nantinya kita akan tinggal, setelah kita menikah. Ini sangat penting bagi saya dan Kala, Tante."
"Korang berat hati ke, misal Mama nak suruh korang stay at here selepas married? Atau, da orang yang tak setuju? Jom ceritakan sesiapa sahaja yang tak nakkan korang di sini?"
"Saya sengaja tidak bercerita terlebih dahulu sebelum saya punya kepastian. Jadi, saya ke sini ingin meminta kepastian dari Tante, Om, dan Kafil." Vey mulai berkecil hati. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia pun sebetulnya ingin tinggal bersama Kala. Namun, seandainya keluarga Kafil menginginkannya keluar dari rumah setelah menikah, dia juga akan berusaha untuk membujuk semua keluarganya.
"Papa kemarin ngomong, Na. Kalau memungkinkan tinggal di sini, itu lebih baik, Na. Itu artinya kitalah yang harus memutuskan."
"Insyaallah saya akan segera bicarakan ini dengan Paman. Insyaallah adil dalam memutuskan masalah."
Vey melepaskan ranselnya. Lalu, tiba-tiba dia menjatuhkan lutut di hadapan mamanya Kafil. Dia melakukan itu bukan dalam rangka mengemis. Dia tak merasa rendah sedikit pun. Dia hanya ingin meminta doa dan keikhlasan orang tua Kafil.
"Ape yang nak korang buat?"
__ADS_1
"Apa Tante sudah betul-betul ridakan hubungan saya dan Kafil?"
"Tentu. Mama redakan awak bedua. Mama tak pandang siape keluarga dan macam mane keluarga awak. Mama kasi pesan, awak pun cuba raih rido keluarga. Macem mane pernikahan bole terjadi kalao dua keluarga tak kasihkan rido. Okay?" Mama Kafil membelai lembut pipi Vey.