
Begitu Vey selesai membeli dua pigora, dia menyempatkan membuka notifikasi media sosialnya. Harapannya masih sama. Barangkali Kafil membalas semua pesan-pesannya. Atau, setidaknya hanya salah satu saja dia akan senang.
Kling! Muncul notifikasi pop-up inbox. Mata Vey terbeliak.
"Nana?"
Tangan Vey otomatis bergetar. Dia menelan salivanya. Tak jadi menyalakan motor.
Kafil sedang aktif.
^^^"Hei, Kafil? Kamu di mana? Sehat? Telfon aku pakai washapp, ya!"^^^
Dia menggigit bibir. Tak berkedip. Menunggu centang itu lekas berubah. Juga menahan napas. Debar jantungnya kian memburu saat Kafil terlihat mengetikkan sesuatu.
"Aku baik. Kamu?"
Vey yang stand by sejurus membalas. Tak perlu memikirkan kalimat apa yang akan disampaikan. Dia mengetikkan sembarang kata yang sudah lama dia gelisahkan selama beberapa waktu.
^^^"Jelas aku nggak baik. Kamu di mana? Kenapa lama nggak ngabari aku, Kaf?"^^^
"Maaf, ya."
^^^"Kaf, aku video call kamu angkat, ya. Penting."^^^
Dia tak menunggu Kafil mengiyakan. Lalu, Kafil justru mengabaikannya.
^^^"Kamu sibuk? Kaf, ngomong kalau ada masalah besar. Yes, i'm bussy. But, i can help you. Maybe i can giving solution for you."^^^
"Nggak. Aku nggak sibuk."
Dia tak akan mudah percaya begitu saja. Dia kembali memanggil. Panggilan ditolak.
^^^"Kaf, kamu kenapa? Ngomong kamu ngomong! Aku pusing tahu nggak. Jangan nambahin pikiran! Saat aku butuh kamu, kamu malah ngilang nggak jelas." Kali ini dia mengirim pesan suara. Dia tak perlu menutupi kekesalannya. Dia berterus terang dengan memperdengarkan suaranya yang agak meninggi dan penuh penekanan. ^^^
Belum juga dibalas, Vey mengirim pesan suara lagi.
^^^"Kaf, aku pengen denger suara kamu." Dia memelankan suaranya. ^^^
"Aku ada urusan. Sory, aku belum bisa cerita. Sory, Nana. Maafkan sangat sangat. Mama pesan, kamu jaga kesehatan. Jangan lupa istirahat."
__ADS_1
Vey ingin menangis di tempat. Suasana hatinya sudah tak keruan lagi. Panas. Sumpek. Rasanya berat di dada. Suaranya pun mulai sumbang. Dan pelan-pelan memunculkan getar. Tak mungkin dia berurai air mata di tempat umum seperti ini. Dia pun bergegas mencari tempat lain. Tak peduli dengan Kafil yang terlihat masih mengetikkan pesan. Dia memakai helm sembari menghisap isaknya lirih. Untungnya dia memakai masker. Dia tidak akan memicu perhatian orang-orang yang lewat di sekitarnya.
Belok kanan. Wushhhhh! Motor melaju dengan kecepatan enam puluh lima kilo meter. Dia menyalip satu angkutan umum yang membawa penumpang penuh. Juga menyalip dari arah kanan bus mini yang kosong penumpang. Dia lupa kalau tengah membawa pigora. Dia hanya fokus menahan air matanya agar tak tumpah di jalan. Dia membiarkan angin terus mengeringkan korneanya meski nyatanya anak mata itu tetap saja berlinang.
Satu kilo kemudian, Vey memelankan laju karena akan menyeberang. Ada masjid di seberang, kiri jalan. Sampai di halaman masjid yang hanya berisi dua motor, dia buru-buru melepaskan helm. Membiarkan semua barangnya tetap di atas jok dan di bawah dash-board. Dia menepi di berada samping dekat lemari kaca kosong.
Vey berdehem sebelum kembali memeriksa notifikasi pesan yang sudah muncul. Ternyata bukan dari Kafil. Kafil yang tadi mengetik justru aktif lima menit yang lalu. Dia melenguh kesal. Dua inbox masuk beruntun. Salah satu pembelinya men-canceled pesanan. Dia berdecak. Sejurus beristigfar. Susah payah dia menahan amarah walau pigoranya sudah kadung terbeli.
"Vey, tenang. Nggak masalah. Pigoranya bisa buat pesenan yang lain." Dia berusaha meredam dirinya sendiri.
^^^"Iya gapapa." Terkirim pada pelanggannya yang men-canceled tadi.^^^
^^^"Kafil, sebetulnya aku cuma minta kamu satu hal. Datang ke rumah, Kaf. Atau, aku akan dikenalkan pada laki-laki lain." Vey terpaksa berkata jujur. Dia berharap Kafil akan merasa terdesak, lalu menuruti permintaannya.^^^
Namun, Kafil telanjur tidak aktif.
Vey menyalin pesannya, lalu mengirim lewat washapp. Justru centang satu.
"Ya Allah, gini amat rasanya. Aku nggak ngira kalau Kafil malah membuat aku kalut seperti ini. Berikan aku ketenangan, Ya Rabb."
"Apa Kafil pulang ke negaranya? Tapi, seharusnya dia ngomong. Kenapa masalahnya jadi rahasia banget sampai aku nggak bisa tahu. Padahal, aku sudah mohon banget. Kaf, kamu mendadak aneh," pikirnya.
"Aku nggak bisa tenang mungkin karena aku lagi kebanyakan pesenan. Aku nggak bisa mikir santai." Di sisi lain dia bisa berpikir demikian. Tapi, di lain hal dia sangat mencemaskan sikap Kafil yang tak biasa.
"Kalau nggak mendesak, Kafil kayaknya nggak pulang lagi. Tiga bulan lalu dia baru dari Pakistan ngurus kerjannya." Vey tak bisa berhenti menebak. Dugaan demi dugaan terus bermunculan. Namun, dia tak mempunyai pilihan harus berbuat apa. Satu-satunya jejak yang Kafil tinggalkan hanyalah foto profil ficibook yang baru diganti. Itupun Vey tak bisa mendapatkan jawaban yang jelas.
Hari berubah malam. Di pukul setengah satu, barulah Vey menghentikan pekerjaannya. Kala sudah pamitan ke kamar sejak pukul setengah sebelas tadi karena harus mencicil hafalan baru. Usai menyelesaikan satu sketsa foto wisuda, dia masuk ke kamar tanpa merapikan barang-barang yang berserakan di lantai. Dia tak peduli. Rasa pusingnya mengganggu sejak tadi.
Vey mengunci kamar. Salat isya lima menit, lalu merebahkan punggungnya di bibir tempat tidur. Urung melepas mukena. Lagi-lagi tak ada notifikasi pesan terbalas dari Kafil. Justru Abimana yang memberinya pesan.
"Nana belum tidur, Na?"
"Dia suwong banget apa gimana? Kok basa basi banget." Vey tiba-tiba merasa demikian. Mendadak sentimentil.
^^^"Belum, Mas. Ada perlu atau gimana?"^^^
"Aku mau ngadain lomba buat anak-anak. Kira-kira kalau hadiahnya dikasih sketsa atau lettering gitu bagus nggak?"
Vey berpikir sejenak.
__ADS_1
^^^"Kok kurang pas. Mendingan buket saja, Mas. Buket jajan. Tapi, itu cuma hadiah sampingan kan? Tropi sama piagam tetap ada, kan?"^^^
"Ada. Oke aku pesen buket jajan tiga. Kamu buatkan yang gede semuanya. Jangan dibedakan."
^^^"Ada empat paket. Paket 60k, 40k, 30k, apa 15k?"^^^
"Yang 30k saja. Tapi, kamu buat besar biar terkesan banyak."
^^^"Iya, Mas. Untuk tanggal?"^^^
"Masih seminggu lagi. Aku pesen sekarang karena aku tahu pesenan kamu pasti banyak banget. Ngomong-ngomong kamu sehat?"
"Nggak, Mas," batinnya.
^^^"Sehat alhamdulillah."^^^
"Na, kamu ingat nggak dulu aku pernah beberapa kali ke rumahmu?"
^^^Alis Vey berkerut. "Ke rumah? Kapan 🤔?" tanyanya kemudian.^^^
"Sudah ngantuk belum? Maaf aku ganggu malam-malam. Kamu boleh istirahat kalau emang sudah payah banget."
^^^"Pernah ke rumah kapan?" Vey penasaran.^^^
"Bapakku namanya Pak Cipto. Jelas kamu nggak ingat. Kamu orangnya cuek banget."
^^^"Dulu kapan, sih, Mas Abi?"^^^
Abimana mengirim pesan suara. "Aku mulai kenal kamu dari kamu pas umur enam tahun mungkin. Sambil nostalgia dikit nggak apa-apa, kan?" Tersela sendawa. "Kamu itu kelihatannya dekat sekali sama Ayahmu. Oh...iya maaf aku baru ingat. Maaf, ya. Aku tidak tahu karena setelah lulus SMP, aku mondok. Aku jarang banget pulang."
Vey mendengarkan sembari menahan kantuk.
Dia belum membalas, tapi Abimana mengiriminya pesan tertulis.
"Tidur, Na. Sudah malem banget. Assalamualaikum."
^^^"Waalaikumussalam."^^^
"Aku kok nggak ingat sama sekali, ya. Ternyata kita kenal udah lama. Jadi ingat Ayah. Gimana, ya, kalau seandainya Ayah masih hidup. Apa Ayah akan merestui hubunganku dengan Kafil, Yah?"
__ADS_1