Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 88 "Daris"


__ADS_3

Tak sedikit orang yang membicarakan kecelakaan Abimana dan Nurmaya. Mereka berbicara berdasarkan versi masing-masing. Ada yang dilebih-lebihkan. Rata-rata orang menyalahkan Abimana selaku pengendali. Karena rencana pergi ke Pesantren Kalimosodo adalah inisiatif Abimana. Namun, tak sedikit pula yang menyampaikan belas. Para tetangga sudah bertandang ke rumah Abimana, bergiliran sejak kemarin sore.


Nurmaya dan Abimana belum beranjak dari ruang tamu. Walaupun Nurmaya memang telah hilang ingatan, tapi dia tidak lupa bagaimana caranya menyapa dan melayani tamu. Dia duduk di bawah Abimana sembari mengangsurkan tangan. Saat ini Abimana masih kesulitan duduk. Dia masih harus menggunakan kursi roda. Gerakannya pun masih sangat terbatas. Lebih sering di tempat tidur. Malang nasib mereka berdua.


Satu per satu pembesuk pulang.


Selain memikirkan dirinya sendiri, Abimana kini memikirkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan Nurmaya. Karena sikap Nurmaya sama seperti abdi ndalem, menganggap dirinya sebagai majikan dan tak pernah mau disentuh. Jika agak didekati, gerakannya akan cepat menjauh. Sekarang dia harus belajar memperhatikan orang lain. Dalam situasi dan kondisi yang seperti ini, dia tak mungkin menjauhi Nurmaya. Bahkan, untuk sekadar bersikap dingin.


"Ya Allah, jika musibah ini Engkau jadikan sebagai cara-Mu untuk mencintaiku, biarkan hatiku lapang menerima semuanya." Abimana memandangi kakinya yang sudah hilang betisnya.


Tubuh cacat, mobil rusak parah, istri hilang ingatan, dan tentunya pembangunan lanjutan LBB Najah jelas akan tersendat. Musibah datang beruntun untuk menguji keimanan Abimana.


***


Keberangkatan ke Jogja harus mundur karena Gus Omar ada urusan di luar kota tepat di hari Jumat. Rencana honey moon sekaligus sowan ke Pesantren Daris baru terlaksana h+10. Sekarang, Gus Omar dan Kala masih perjalanan menuju ke sana.


"Pesantren Daris santrinya berapa, Mas?"


"Mungkin ada lima belas ribu lebih."


"Banyak banget lo niku (itu)."


"Sayangnya Yusuf tak mintak mondok di sana tidak mau."


"Yusuf kemarin tidak pulang, nggeh?"


"Nggak. Lagi betah di pondok katanya. Ya sudah aku nggak maksa dia."


Pesantren Darul Islamiyah ini terletak di pinggiran jalan raya sehingga untuk menuju ke sana pun tidak akan kesulitan. Selain letaknya yang strategis, pesantren Daris ini sudah sangat masyhur setara dengan pesantren besar yang ada di Pasuruan, Dalwa. Kubah masjid warna birunya terlihat jelas dari jarak empat ratus meter. Nama pesantren ditulis dengan cat emas yang diukir di atas batu pualam hitam. Kendaraan belok ke kiri, begitu melihat tulisan itu.


Halaman pesantren yang biasa digunakan para santri upacara, dibiarkan seperti lapangan sepak bola yang luas. Terbentang hijau dan asri meski berada di wilayah kota. Kebetulan saat mobil berusaha diparkirkan, para santri putra tengah beramai-ramai membersihkan halaman. Laju pelan mobil otomatis menyibak, para santri memberikan ruang.


Gus Omar membuka kaca mobil. Seketika Kala melongokkan kepalanya.


"Alfin, Alfin?" Ada salah seorang santri yang memanggil temannya.


"Alfin?" Kala langsung menoleh. Mencari sumber suara. Dia turun dari mobil. Dia memperhatikan santri itu sampai santrinya memahami jika tengah dipandangi. Ketika santri itu berbalik menghadapnya, Kala menyadari jika dirinya hanya terlalu berharap bisa bertemu dengan Syarif di Jogja selama dua hari ke depan.

__ADS_1


Kala masih fokus mengedarkan pandangannya ke seluruh santri. Dan, memang tidak ada yang dikenalnya.


"Dek?" Gus Omar meminta Kala agar berjalan di sampingnya. Sekaligus meminta agar Kala menggandeng lengan kirinya.


"Malu. Mboten, ah."


Gus Omar yang bermaksud bercanda hanya tersenyum kemudian.


Di ruang tamu ndalem, mereka berdua menunggu sekejap karena kata salah seorang santri, kiai masih ada daurah kitab bersama santri ma'had aly. Mereka diminta untuk menikmati makanan yang sudah tersaji di dua meja ruang tamu.




"Apa mau ada tamu, Gus?"


"Kayaknya iya." Gus Omar mengambil ote-ote. Setelah menggigitnya sekali, dia meminta Kala untuk menggigitnya juga. Karena dia memaksa, Kala pun menggigitnya sedikit.


"Mau lagi?"


"Mboten. Nanti saya ambil sendiri."


"Ya Allah, jika dalam dua hari ini Engkau pertemukan aku dengan Syarif. Atau, justru dengan pertemuan yang aku harapkan, dia akan terluka?" batin Kala.


Kiai Bashir keluar. Mengucap uluk salam. Gus Omar buru-buru mencium punggung tangan itu.


"Ngapunten, Mas Omar. Kemarin itu saya tidak bisa memenuhi undangan panjenengan, Mas. Tapi, njenengan sudah tahu kalau waktu itu saya ke Lombok?"


"Inggih, Yai. Mas Naba kemarin sudah menyampaikan salam dari Kiai. Alhamdulillah sudah sampai ke semua keluarga. Abah dhawuhaken (menyampaikan) salam balik, assalamualaikum."


"Alhamdulillah. Waalaika waalaikumussalam warahmatullah."


Beberapa menit kemudian, para santri terdengar berjubelan di pintu samping. Pintu depan ndalem Kiai Bashir memang ada dua. Satu ruang tamu dan yang sebelah kirinya digunakan untuk para santri putra mengaji Alquran dengan Gus Ikrom.


Percakapan berlangsung dengan iringan santri-santri putra mengaji.


"Santri-santrinya banyak yang khatam, Yi, tahun ini?"

__ADS_1


"Alhamdulillah. Alhamdulillah banget, Mas. Ada hampir seribu wisudawan putra putri yang fainsyaallah akan wisuda quran bulan depan. Beberapa bulan yang lalu, ada santri putra yang datang, punya beberapa juz hafalan, alhamdulillahnya yo dia ikut wisuda tahun ini."


Kala terpukau mendengarnya.


"Ngapunten namanya siapa, Kiai?" tanya Kala.


"Sinten, ya ... ngapunten kok lupa. Tapi, insyaallah dia dari Pasuruan. Silakan disambi. Apa hari ini buru-buru?"


Kala hanya mengangguk. Sedangkan, Gus Omar menjawab pertanyaaan Kiai Bashir, "Mboten, Yi."


"Kalau begitu, tinggal saja dulu. Nanti ikut acara aqiqah cucuku. Putrane Ikrom yang ketiga. Alhamdulillah laki-laki."


"Gimana?" Gus Omar menoleh ke Kala.


"Tumut (ikut)."


"Insyaallah, Kiai. Sendiko dhawuh."


Seperti yang diiyakan, Gus Omar dan Kala turut merayakan acaranya. Berlangsung mulai ba'da magrib. Dirayakan bersama seluruh warga Pesantren Daris, baik keluarga ndalem, asatid dan asatizah yang bermukim di pesantren, muraqib dan muraqibah, santri-santri yang bertugas masuk dalam kepanitiaan, dan santri yang andil dalam inti acaranya.


Kala khidmat menyimak santri putra yang tengah melantunkan seni tilawah alquran di depan, yang kemudian disambung sari tilawahnya yang memukau. Namun, sesekali dia teringat dengan dhawuh Kiai Bashir tadi.


"Ah, nggak mungkin. Nggak nggak." Kala menyudahi.


Gus Omar berbisik, "Acara selesai, langsung kita ke penginapan."


"Njenengan sudah booking?"


"Sudah. Aku kenal dengan pemilik vilanya."


"Ke Heha Sky View?"


"Kok tahu?"


"Memang di situ, kan, sudah famous, Mas. Jadi, saya tahu. Terus ke mana lagi mangke (nanti)?"


"Lupa namanya. Nanti kamu tahu sendiri."

__ADS_1


Pukul sembilan malam acara rampung. Ditambah setengah jam untuk jamuan makan tamu undangan khusus. Gus Omar dan Kala langsung pamit sesuai rencana. Dan pintu mobil hendak ditutup, Kala melihat orang sekelebat.


"Sepertinya aku kenal," batinnya.


__ADS_2