
Jangan lupa berdoa. Bismillah. π
Handphone Vey berdering. Dia pamit menyisih sebentar dari Gus Omar dan Paman Gani. Dia menepi di tempat duduk sebelah utara. Di dekat pucuk merah yang ditanam di pot bertulisan nama rumah sakit ini.
π"Mas Abi, ada apa?"
π"Ini aku lagi di rumahmu. Kamu di mana, Na?"
π"Perlu apa? Mau pesen?"
π"Iya. Pesen souvenir. Kamu di mana?"
π"Butuhnya kapan? Banyak?"
π"Sebulan lagi. Enggak cuma empat ratus. Tadi ada yang pesen makanan buat prasmanan acara nikahan. Tanya di mana kalau pesen souvenir, aku ngomong pesen ke kamu bisa."
π"Oo mau ngomongin itu."
π"Iya."
π"Mas Abi nggak ngasih nomerku aja?"
π"Sudah. Tapi, Bu Nani pasrah ke Ibuk."
π"Oo gitu. Aku catat, ya, Mas. Souvenir apa?"
π"Aku kirim pict-nya di chat."
π"Oke siap. Makasih, Mas."
π"Kamu belum jawab."
π"Ooh, sory sory. Aku lagi di rumah sakit."
π"Siapa yang sakit?"
π"Kala kena musibah."
π"Pantes nggak di rumah. Syafakillah."
π"Aamiin."
π"Ada Gus Omar juga, Mas, di sini. Lagi ngobrol sama Pamanku."
π"Soal pernikahan?"
π"Kurang tahu. Tadinya aku cerita kronologinya aja. Nggak tahu sekarang lanjut bahas apa. Mungkin rencana pernikahan. Kalau menurut Mas Abi baiknya gimana, ya? Aku nggak pernah bersinggungan dengan keluarga kiai, Mas. Aku kaku. Canggung. Mas Abi yang ngerti banget seluk beluknya. Gimana?"
Sementara Mela dan Ruma balik ke ruangan Kala hanya untuk pamit. Mereka lewat di depan Vey sembari menolah dan menunduk. Begitu jarak sudah agak menjauh, Mela berbisik, "Kok Mas Abi, Rum?"
Ruma menggeleng.
"Jangan-jangan???"
Ruma berdecak.
Mela mengajaknya minggir. Menepi di dekat tembok. Menghindari tatapan Vey.
"Sedekat itu, ya, mereka berdua?"
"Nggak ngerti. Tapi, kaya agak akrab gitu lo, Rum. Masak kamu enggak ngeh hmmm..."
"Aku jadi inget kata-katamu pas di warung itu. Pas kita datang, Pak Abi malah nyariin Kak Vey. Bener, kan?"
"Bener sekali."
Ruma mengerutkan dahinya. Sedangkan, tatapan Mela berpikir. Lalu kompak berkata, "Berarti calon Pak Abi itu..."
"Sssttttt." Mela memberi aba-aba.
"Bukan calon, deh. Tapi, Pak Abi suka sama Kak Vey."
"Mungkin, sih."
__ADS_1
"Ini gimana ceritanya lagi. Kala tiba-tiba sama Gus Omar, terus Kak Vey tiba-tiba dekat sama Pak Abi. Jujur aku pinisirin."
"Iyi iki simi, Mil."
Mela terkikik. Memukul lengan Ruma. "Nggak usah gitu juga kaleee ngomongnya."
"Ya udahlah. Syarif nanti kelamaan nunggu." Ruma mendorong punggung Mela.
Mereka berdua pamit.
Lalu, Vey terlihat masih berbincang serius dengan Abimana.
π"Gus Omar itu pengertian. Lemah lembut. Nggak usah mikir yang terlalu jauh, Na."
π"Kasihan Kala, Mas, kalau dia menikah secepat ini. Lagipula aku juga belum nikah."
π"Mau nikah cepet?"
π"Sama siapa juga." Vey keceplosan.
π"Jadi, kamu masih jomblo, Na?"
Vey berdehem. "Apaan. Bahas yang lain aja."
π"Aku serius. Kamu pengen aku kenalkan ke seseorang nggak?"
π"Nggak usah bahas itu. Nggak penting."
π"Ya itu temanya nanti nyambung sama rencana pernikahan Kala yang mendadak."
π"Maksud Mas Abi aku harus nikah dulu begitu?"
π"Iya."
π"Kalau aku cepet nikah, Kala malah kasihan."
"Kok sekarang aku malah mikir gitu?" batinnya kemudian.
π"Kok ooo?"
π"Nggak apa-apa."
π"????"
Mereka berdua diam.
π"Mas, Kala itu belum siap menikah."
π"Gus Omar pasti paham itu."
π"Tapi, kenapa kok kesannya buru-buru?"
π"Aku sudah pernah bilang ke kamu. Permintaan Abah sepuh. Ketika Gus Omar minta restu lagi, begitu saran Abah."
π"Aku juga ngerti dari sini. Jadi orang tua pasti mikir anak laki-lakinya yang sudah usia kepala empat, tapi belum nikah juga. Nggak salah juga."
π"Sebagai kakak kamu harus ngasih support. Berikan pandangan yang luas. Buat dia berani melangkah. Katakan kalau pernikahan tidak akan membuat mimpinya hilang begitu saja."
"Andai kamu tahu, Mas. Kala menyukaimu. Apa mungkin itu jadi alasan dia juga? Tapi, kemarin dia siap dikenalkan sama Gus Omar..hmm...," batinnya.
π"Ya udah makasih dikasih saran. Maaf ganggu waktunya."
π"Soal souvenir aku tunggu kabar selanjutnya, Na."
π"Iya."
Lima hari kemudian.
Beberapa teman sekelas sekolah Kala datang bergiliran untuk menjenguk. Dia benar-benar harus istirahat sehingga Vey harus menumpuk pesanan-pesanan. Dia juga belum bisa masuk sekolah sampai beberapa hari lagi. Setelah tiga temannya pulang, Mela dan Ruma datang tepat pukul empat sore. Lalu, Vey mempersilakan keduanya langsung ke kamar Kala.
"Syarif mana?"
"Itu..."
__ADS_1
"Itu kenapa, Mel?"
Mela bingung menjawab.
Ruma pun menyenggol lengan Mela supaya jangan sampai keceplosan bicara.
"Biasanya dia sering nongol. Sebetulnya aku nungguin dia ngechat nanyain kabarku. Tapi, kok nggak?"
"Selama kamu nggak masuk, Syarif juga nggak ke kelas kok, La." Ruma menjawab apa adanya.
"Dia ngambek sama kalian?"
Mela dan Ruma bertatapan.
"Enggak," jawab Mela.
"Nggak tahu kenapa," tambah Ruma.
"La, aku cuman mau ngomong...kalau kamu butuh temen cerita, cerita ke kita. Aku siap jadi tong sampah, La."
"Ngaco kamu." Kala tersenyum seraya melempar boneka ke Mela.
"Apa kabar hati?"
"Kok nanyamu gitu, Rum?"
"Pengen aja. Perempuan gampang bete, kan?"
Kala mengulur napas.
"Doakan, ya."
Tak lama kemudian, muncul seorang pria. Datang langsung mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Mela.
Kala menggeleng.
Mela bangkit bersamaan dengan langkah Vey yang hendak menuju ruang tamu.
Vey mengamati penampilan pria itu barang sejenak. Setengah tidak asing. Tapi, dia bisa menebak kalau pria itu seorang santri.
"Cari siapa, ya?"
"Mau menyampaikan amanah untuk Mbak Kala. Dari Gus Omar."
"Ohh." Vey mengambil paper bag warna hitam dengan pita hijau muda. Juga tas kresek yang berisi parsel buah.
"Monggo pinarak dulu."
Pria itu menolak dengan alasan ada banyak utusan.
"La, ada titipan. Mau langsung lihat?"
Kala menerawang. Begitu juga Mela dan Ruma. Mereka bertiga menebak sama siapa pemberinya. Tapi, Kala segera menggeleng karena malu ada Mela dan Ruma didekatnya. Dia mengira mereka berdua belum mengetahui rahasianya.
"Dari siapa, La? Spesial kayaknya."
"Nggak tahu, Rum. Fans kali."
Vey meletakkan barangnya di meja.
Malam tiba. Meski kepalanya kadang terasa pusing, dia tetap berusaha mengulang hafalannya meski tidak menambah. Target khatam ketika wisuda kelas XII nanti. Tak terasa sudah dua jam lamanya dia berkomat-kamit lirih.
Dia mengirimkan pesan.
^^^"Rip, aku minta maaf kalau ada salah sama kamu. Kok kamu nggak ke sini?"^^^
Sebagai seorang sahabat, Kala merasa pertemuannya tidak terasa lengkap tanpa kehadiran Syarif.
Lantas dia kembali memperhatikan laman insagrem Abimana. Beberapa waktu lalu, dia melihat postingan yang membuatnya masygul. Dia memperhatikan dengan baik sampai dirinya yakin kesimpulan itu tidaklah keliru.
"Ternyata Pak Abi suka sama Onni..." Perih memang. Nyata sakit. Untuk hati yang kadung menaruh suka, dia benar-benar kecewa.
__ADS_1