
"Barli ini siapa? Kapan aku kenal dengan orang yang namanya Barli? Tapi, aku kenal tempat ini. Aku pernah ke sana. Di gambar itu, aku yang duduk membelakangi kamera. Dan, seingatku aku nggak pernah mengekspos fotoku yang ini?" Vey mencoba mengingat-ingat, dengan siapa saja dulu dia pernah pergi Bromo. Sayang sekali kejadiannya sudah sangat lama. Lima tahun lalu ketika dia masih duduk di bangku kuliah semester awal.
Kemudian, Vey mengirim pesan di grup sekelas kuliahnya dulu.
^^^"Hei, Rek, dulu kita ketika masih semester awal, ke Bromo sama siapa aja, ya?"^^^
Seseorang mengetik.
"Waktu itu yang nggak ikut cuma empat orang."
^^^"Berarti kan dulu orang luar ada yang ikut?"^^^
"Ada, Vey."
"Sepuluh orang," tulis temannya yang lain.
^^^"Ada yang masih punya file foto bareng-bareng?"^^^
"Ada mungkin. Di @shinta."
"@shinta? Minta file dong. Punyaku sudah enggak keruan ke mana."
Shinta mengirimkan dua foto yang masih tertinggal di arsip media sosialnya. Vey mengerutkan alis saat melihat satu per satu satu wajah di foto dengan jeli.
^^^"Emang dulu ada yang namanya Barli?"^^^
"Barli?" tanya Shinta.
Salah seorang kawan cowok menjawab, "Dulu temen-temen gue yang ikut. Nggak ada yang namanya Barli."
"Gitu? Makasih."
"Ih, ini pasti kerjaan Mas Abi." Dia mendadak berpikir demikian.
"Siapa tahu Mas Abi emang juga jail begitu. Niar saja anaknya bar-bar. Masnya paling juga bisa. Kelihatannya saja sok dingin. Aku harus nanyain ke dia," pikirnya kemudian.
Dia langsung saja mengirim pesan. Mumpung Abimana ternyata sedang online. Dia mengetik cepat. Terburu off.
^^^"Mas Abi ngaku!"^^^
"?"
"Tanda tanya doang?" batin Vey.
^^^"Kalau emang mau ngajak aku ketemuan mending ngomong langsung, deh. ๐คจ๐๐"^^^
"๐ค๐ค๐ค."
^^^"๐ค."^^^
"๐ ."
^^^"โ๏ธ๐ ๏ธโ๏ธ."^^^
"Baru bangun tidur kamu, Na?"
^^^"Enggak."^^^
"Terus?"
^^^"Nabrak."^^^
"Oooo."
^^^"Bunder."^^^
^^^"Kita itu padahal udah sama-sama dewasa, tapi ujung-ujungnya pasti kaya anak kecil. ๐ฅฑ๐ฅฑ."^^^
"Aku dewasa kok."
^^^"Maksud kamu aku yang kekanak-kanakan?"^^^
__ADS_1
"Kamu sendiri yang bilang."
^^^"Oke. Aku to the point aja."^^^
"Monggo."
Vey mengirim foto, barang paketan itu.
"Ini apa, ya, maksudnya?"
"Lah?" batin Vey. Karena menyadari bahwa bukan Abimana yang mengirim, dia cepat-cepat menghapus foto itu.
"Salah kirim atau?"
"Kayaknya aku yang keliru, deh," batinnya lagi.
"Aku baru ngerti kalau kamu itu ternyata orangnya ..."
Vey mendesis.
^^^"Napa? ๐."^^^
"Gampang ..."
^^^"Apa? ๐๐."^^^
"Isi sendiri. Benar aku kasih nilai seratus."
^^^"๐ง๐ง๐."^^^
"Mungkin itu dari fans kamu."
^^^"Fans?"^^^
"MUNG-KIN."
^^^"Aku bukan artis."^^^
"Na?"
"Kembalikan cincinku!"
Vey mendesis lagi. Kesal. Menurutnya, Abimana itu pria yang aneh.
Vey mengirim voice note. "Oke. Aku kembalikan." Dengan nada setengah menahan kesal.
"Kebelet e'ek?"
"Aku itu heran, kenapa kalau sama ini laki-laki aku bisa mendadak kesel, pengen ngamuk, pengen nggarong mulu. Sabar, Vey. Sabaaar." Vey mengelus dadanya. Meloloskan napas.
Abimana pun mengirim voice note. "Nanaaa? Na ... Na ... Na ...Na ..."
^^^"Gaje." Vey memungkas percakapannya.^^^
"Nana, Nana. Aku tunggu kamu mengembalikan cincinku." Abimana tertawa lirih melalui voice note.
Vey menelepon.
๐"Ambil sendiri. Dulu siapa yang maksa biar aku bawa?"
๐"Aku."
๐"Makanya itu. Ambil tu cincin. Daripada nganggur di laci."
๐"Kapan ada waktu?"
๐"Nggak harus nungguin aku ada, kan? Kala ada di rumah. Kalau aku nggak ada, bisa minta tolong dia."
๐"Kamu kenapa sebal? Ada masalah kalau aku ambil cincinnya?"
๐"Enggak. Enggaklah. Cincinnya kegedean juga kok. Ngapain."
__ADS_1
๐"Oooo."
Vey mematikannya langsung.
"Kenapa aku sebel dia ngambil cincinnya? Lagipula itu juga bukan punyaku. Seperti yang kubilang waktu itu, cincin itu pantas berada di tangan perempuan yang lebih dari aku. Yang lebih sabar ngadepin keanehannya dia."
Esok hari.
Sepulang dari sekolahan, rumah masih sepi. Namun, Vey mendapati sesuatu di teras. Dia menoleh ke kanan kiri, tapi tak ada siapa pun.
"Bunga?" Vey mengambil buket bunga mawar merah itu. Sekali lagi dia menoleh.
Ada sepucuk surat yang terikat di satu batang cokelat. "Simpan saja cincin itu sampai hatimu berubah."
"Haa? Yang ngirim Mas Abi? Katanya nggak bisa seromantis ini? Dia ngirim bunga? Kok aku masih nggak percaya, ya?" gumamnya.
Lantas dia masuk rumah. Meletakkan buket itu di meja ruang tamu. Setelah dia mengganti seragamnya dengan kaus, ada yang seperti mengetuk pintu. Dua kali.
"Kaya orang melempar batu gitu?" Dia penasaran.
Datanglah satu buket bunga yang lain. Lebih besar. Pun terdapat suratnya. "Nana, gimana kabarmu?" Tanpa nama pengirim.
"Pertanyaan ini kok ...?
Vey berlari. Jantungnya berdebar. Berjalan ke sana ke mari, memastikan ada orang atau tidak. Dia terus menoleh ke sembarang arah seperti orang kebingungan. Dia kembali mengamati buket itu.
"Siapa pun yang ngirim bunga ini, tolong keluarlah!" Dia memohon.
Hening. Yang ada hanya suara angin menerbangkan daun-daun kering. Limbung ke arah kakinya.
"Oke kalau kamu nggak mau keluar. Thank's bunganya." Vey terdengar bicara sendiri. Namun, dia yakin pengirim buket itu masih bersembunyi di sekitarnya.
"Aku harus berangkat," gumamnya seraya masuk ke rumah.
Dia mengambil jaket di cantolan, cincin di laci, masker, dan kunci motor.
Wussshhhh!
Bukan karena ramainya warung Abimana Vey tidak berkenan masuk, tapi dirinya hanya tidak ingin bertemu dengan orang tua Abimana. Dia berharap bisa menemui Abimana di depan rumah saja. Dering panggilannya terabaikan. Dua kali.
"Nduk?" panggil Bu Cipto.
"Waduh."
Vey terpaksa mendekat.
"Kok malah ke sini?"
"Iya, Buk, maaf. Saya mau ketemu Mas Abi sebentar."
"Abimana baru saja pamit mau ke rumah kamu. Mau ada sesuatu yang penting. Apa nggak janjian kok kamu ke sini, Abimananya malah ke rumahmu?"
"Sudah lumayan dari tadi atau memang barusan, Buk?"
"Ya baru kok. Paling baru lima menitan."
"Lha buket tadi??" batinnya.
"Ya sudah ada perlu apa? Nanti Ibu sampaikan."
"Emm ... tidak jadi, Buk. Lain kali saja."
"Nana, sebentar Ibu mau ngobrol sebentar saja. Bisa, kan?"
"Oh, iya bisa, Buk."
Bu Cipto mengarahkan ke teras rumah saja.
"Ibu minta maaf, ya. Abimana memang punya sikap yang agak kaku. Kalau Ibuk perhatian selama ini, sepulang dia mondok, dia cuek kepada banyak perempuan kecuali kamu, Nduk. Ibuk dengarkan beberapa kali kalian berbincang di telpon. Abimana tidak pernah begitu sebelumnya. Akhir-akhir ini dia memang disibukkan dengan dana pembangunan LBB. Belum lagi dia itu tiaaap hari wira wiri ke pondok. Ibuk itu sebetulnya kasihan. Dia itu capek." Kalimat itu memang hanya penjelasan. Namun, tersirat makna permohonan.
Vey dapat menangkap dengan jelas harapan itu.
__ADS_1
"Tapi, kenapa Mas Abi malah nyuruh aku mengembalikan cincin itu? Apa mungkin tidak bertemunya aku dengan Mas Abi saat ini karena supaya aku bisa mendengarkan Ibunya bicara begitu?" Dia mendadak gelisah.
Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan ke-23. Tidak terasa kita hampir tiba di penghujung. Sebentar lagi kita akan menyambut hari yang Fitri. Moga makin semangat. Di malam-malam terakhir ini, semoga kita menjadi bagian dari lrang-orang yang mampu merasakan kedamaian malam Lailatul Qadar dan bisa menjemput pahalanya yang begitu besar. Aamiin.. Makasih semuanya.. panjenengan semuanya ๐๐๐๐. ๐ค๐ค๐ค๐ฅ๐