
Silakan berkomentar sebanyak-banyaknya. 😄😄
Dua pesanan souvenir fix diterima. Sembilan ratus souvenir sendok plastik dari Gondang Wetan dan lima ratus souvenir gelas kayu dari Syarif. Keduanya harus rampung bulan November. Hanya selisih satu minggu.Vey dan Kala sudah membelanjakan sebagiannya sejak seminggu lalu sembari menunggu stok barang kembali penuh. Untuk souvenir gelas kayu, mereka langsung datang ke salah seorang pengrajin. Yang kata Paman Gani, pengrajin itu ialah teman lamanya. Sementara untuk souvenir sendok plastik dan besi, mereka langsung mendatangi agen besar dengan harga yang cukup murah--harga yang lumayan bersaing di pasaran.
Hari demi hari mereka berdua lalui dengan kerja keras. Demi membayangkan income yang banyak di bulan ini, mereka bersemangat menyelesaikannya sampai lewat tengah malam. Jadwal mengurus rumah pun sempat terbengkalai. Termasuk jadwal murajaah Kala yang menjadi berkurang. Jika biasanya ba'da subuh dia menambah hafalan, dia hanya bisa melalar seperempat, lalu kembali mem-packing barang, mencetak kartu nama pengantin, memberi hiasan pita, dan lain-lain. Untuk makan, seperti biasanya, saat sibuk mereka akan memesan di greb food. Begitu pula Vey yang dalam beberapa malam tak sempat menyiapkan materi mengajar. Keesokan paginyalah dia baru bisa mempelajarinya sebentar sebelum berangkat mandi pukul enam. Bulan ini memang bulan yang amat berkah.
Sampai dua minggu berlalu sejak Vey bertandang ke rumah Kafil. Dia belum menceritakan apa pun kepada Paman Gani. Itu karena dia benar-benar sibuk mengurusi pesanan-pesanan. Selain souvenir, pesanan seserahan pun masuk dari dua orang, sketsa dari dua orang, buket jajan wisuda lima orang, satu lukisan, dan lettering tiga buah. Di hari yang juga tengah aktif mengajar, pesanan-pesanan itu membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan. Dia selalu menunggu respons kepuasan dari setiap orang yang memesan kepadanya.
"La, kamu kenapa?" tanya Vey yang tengah memperhatikan Kala menyeka bibirnya.
Kala mendongak. Menatap Vey dengan pandangan sayu. Mengucek-ngucek matanya kemudian. Penampakannya juga tak semringah biasanya. Tapi, dia tetap melanjutkan nge-print kartu ucapan souvenir.
"Onni, aku pesankan makan, ya."
"Eh, kamu napa?" Vey masih berusaha mengamati.
"Kenapa lo?" Dia malah bertanya balik.
Vey bangkit. "Coba lihat!" Dia menyentuh dagu Kala. Memperhatikan wajah Kala lamat-lamat. Meletakkan punggung tangannya ke kening Kala.
"Demam kamu. Dah, kamu istirahat aja. Buat surat, terus minta Syarif mampir ke sini."
"Cuma anget dikit, Onni. Tapi, aku nggak pusing kok."
"Seminggu ini kita emang nggak istirahat, La," batinnya.
Vey bergegas mengambil handphone-nya. Memesan bubur ayam dua porsi. Dia juga akan menemani Kala memakan bubur yang sama.
Done!
Kala melanjutkan nge-print kartu ucapan sampai berlembar-lembar. Sembari menunggu, dia ke gudang barang mengambil satu dus besar sendok garpu plastik berwarna-warni. Pengerjaan souvenir pesanan pertama masih 70 persen karena Vey masih mengerjakan pesanan lukisan, sketsa, dan lettering.
__ADS_1
"La, aku beliin obat dulu. Kamu nggak usah siap-siap sekolah. Pamit sama gurumu. Titip surat ke Syarif." Vey mengambil kunci motor di gantungan yang menempel di tembok. Berlalu ke garasi.
Kala memburu. "Onni, tapi hari ini jadwalku setoran. Aku harus masuk."
"La, kamu panas itu lo. Dibilangin kok ngeyel kamu."
"Aku masuk aja, Onni," ucap Kala lirih. Tidak berani meninggikan suara.
"Ya sudahlah terserah kamu." Vey tetap mengeluarkan motor. Wajahnya berubah sedikit kecil.
Kala memeluk bingkai pintu. Menempelkan pipinya. Dia bersedih.
"Aku harus sehat. Aku nggak boleh sakit," katanya kemudian.
Kakinya mundur dua langkah. Menengok jam dinding di atasnya. Dia Berjingkat-jingkat ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan seragam almamater. Menyiapkan buku pelajaran. Dan, tidak lupa dia segera ke kamar mandi, mencuci muka dan berwudu. Dia terbiasa salat duha dua rakaat sebelum berangkat. Selepas itu, dia memasukkan mukena dan Alqurannya. Begitu dia keluar kamar menjinjing tas ranselnya, Vey datang, masuk dari pintu depan.
Vey meletakkan kresek obat dan dua bubur ayam di kotak sterofoam.
"Aku cancel. Makan, gih!" Vey berlalu. Meletakkan kunci motor ke tempat semula. Dia pun bersiap-siap setelah menyapu dapur, ruang tamu, dan halaman rumah.
Kala pamitan usai menghabiskan buburnya. Namun, sebelumnya Vey memastikan demamnya tidak terlalu tinggi.
"Moga aja turun panasnya. Kalau nggak kuat, izin pulang sama gurumu. Ya?"
Kala mengangguk. Mencipta senyum tipis.
"Berangkat, Onni. Assalamualaikum?"
Vey menjawab lirih.
"Udah bawa air minum kamu?" teriak Vey.
__ADS_1
"Eh." Kala tak jadi menaiki sepedanya. Memeriksa tasnya. Kemudian, menggeleng seraya menatap Vey.
Vey bersegera ke dapur. Dia cepat-cepat memberikannya pada Kala. Kembali berpesan, "Minum yang banyak."
"He.em."
Saat Kala sudah menjauh dari pandangannya, dia baru kepikiran, kenapa dia membiarkan Kala berangkat sendiri. Seharusnya dia mengantarkan dan pulangnya nanti Kala bisa naik greb. Dia menghela napas.
"Aku punya nomor Syarif nggak, ya?" batin Vey. Dia memeriksa kontak.
Vey bersyukur. Rupanya dia sudah menyimpan nomor Syarif saat Syarif dan kakaknya datang ke rumah memesan souvenir. Dia mengetik pesan.
^^^"Rip, Kala sakit. Dia maksa sekolah. Coba kamu minta dua temen cewek yang sekelas dengannya biar jagain dia. Takutnya dia pingsan. Kalau demam tinggi, biasanya dia gitu. Atau kalau sudah istirahat, suruh dia minum obat penurun panas. Terima kasih." Send. Centang satu.^^^
Vey melanjutkan membuat sketsa. Tak sengaja dia menoleh ke arah printer yang belum dimatikan, sedangkan kertasnya habis.
"Lah, ditinggal." Kala lupa meninggalkan handphone-nya di dekat printer.
"Syarif sudah berangkat belum, ya?" batin Vey. Sayangnya, hanya Syarif yang rumahnya paling dekat. Jika ada teman perempuan Kala yang lain, Vey akan meminta tolong pada mereka.
Vey menelepon Syarif, tapi tidak berdering. Dia pun mencari chat teman Kala teratas. Dia menemukan kontak bernama Mela dan Rumaisya. Dia mengirimi pesan yang sama pada mereka berdua.
Pukul 09.13 WIB.
Vey masih mengajar mata pelajaran matematika. Menunggui anak-anak didiknya mencatat contoh soal yang dia tuliskan di papan tulis. Dia mencoba memeriksa pesan yang dikirimkannya pada Syarif, Mela, dan Rumaisya. Di Mela tetap centang satu, sedangkan di Syarif dan Rumaisya sudah centang dua. Syarif belum membuka handphone-nya sejak pagi karena terakhir dilihatnya masih sama, sedangkan Rumaisya baru sepuluh menit yang lalu. Dia menelepon Rumaisya.
Berdering, tapi tidak diangkat. Vey berpikir, mungkin Rumaisya masih di kelas mendengarkan pelajaran.
"Semoga Kala nggak apa-apa. Anak itu emang ngeyelan. Ma, seandainya Mama masih hidup. Mama pasti bangga melihat anak kesayangan Mama itu selalu semangat menghafal Alquran."
Vey tahu bahwa perhatian ibunya memang dilebihkan kepada Kala. Saat Kala lahir, Kala hanya memiliki bobot dua kilo--lahir prematur di usia kandungan 33 minggu. Sampai Kala tumbuh menjadi sosok gadis cilik yang manja dan anggun, ibunya pun bertambah sayang kepada Kala. Vey memaklumi itu. Karena semua harapan ibunya ada bersama Kala. Ibunya yang sejak dulu bermimpi salah satu dari kedua putrinya ada yang menjadi penghafal Alquran. Sementara, Vey cenderung lebih menggandrungi hobi ayahnya hingga dia tumbuh menjadi gadis yang sedikit tomboy.
__ADS_1