
Selamat membaca.... 😃😃
Mela dan Rumaisya berusaha mengangkat Kala. Tapi, mereka berdua kesulitan. Kala dibiarkan tetap di kursi. Rumaisya beranjak ke dapur, mengambil air untuk mengompres.
Mela mengaduh. "Kal, Kala, demam kamu bisa setinggi ini. Ini kayaknya tiga sembilan. Pucet wajahnya. Tangan sama kakinya dingin. La, bangun dong, La. Dicariin Syarif, La. Eh, dicariin Pak Abi, La. Pak Abi di depan rumah"
Rumaisya berceletuk, "Eh, aneh banget, sih, kamu, Mel? Ngapain bawa-bawa nama Syarif. Pak Abi. Hadeh" Dia duduk di dekat kaki Kala.
"Ya kali aja dia bangun. Syarif, kan, sudah jelas naksir sama Kala. Tiap dia ke kelas nyamperin Kala terus ngasih kita jajan, itu biar kita setuju. Merayu dia mah"
"Belum tentu Kala suka. Lagian kalau menurut aku, ya, tipe-tipe Kala itu nggak pantes sama Syarif. Kurang agamais. Cocokan sama Pak Abi."
"Itu kamu juga bawa-bawa Pak Abi, Rum."
"Kamu yang mulai. Berarti Pak Abi itu santri juga, kan? Aku kok tiba-tiba pengen dolan ke pondok."
"Lu kira taman safari apa. Main dolan. Sambang santri, Rum"
"Iya maksud aku itu. Nyambang Nurmaya mungkin. Temen Vey yang pemalu itu."
Sepuluh menit kemudian Vey datang. Dia masuk lewat pintu depan dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana?"
"Baru aku kompres, Kak," ucap Rumaisya.
"Ini masih jam sekolah. Kalian harus balik. Aku pesenan greb, ya. Kalian harus ke sekolahan lagi. Perkara nanti mau ke sini lagi nggak apa-apa."
Mela dan Rumaisya hanya saling menatap. Tak berani membantah.
Sekitar lima belas menit kemudian, barulah greb mobil yang dipesan datang.
"Sudah aku bayar pakai aplikasi. Makasih, Ruma, Mel."
"Sama-sama, Kak Vey. Kita pamit."
Mela dan Rumaisya bersalaman sebelum melenggang pulang.
Pukul 12.35 WIB
Suara tiga sepeda terpakir di halaman rumah Kala dan Vey. Menyusul langkah-langkah pelan yang mendekat ke pintu utama.
Vey menyelesaikan lukisannya yang tinggal sepuluh persen lagi.
"Assalamualaikum?" Suara laki-laki uluk salam.
Vey mengerutkan alis. "Kaya suaranya Syarif?" batinnya. Dia beranjak untuk memastikan.
__ADS_1
Vey membelalak.
Mela dan Rumaisya spontan menunjukkan sederet giginya.
"Ngapain bawa kaya ginian?"
Rumaisya meletakkan roti, susu, dan buah yang tadinya dicangking Syarif.
"Butuh bantuan, Kak?" Rumaisya menawarkan diri meskipun dia agak ragu Vey akan menerima bantuannya.
"Bantuin apa? Orang kita nggak repot-repot apa-apa. Makasih. Silakan duduk!" Vey duduk terlebih dahulu.
"Kala sudah sehat?" Syarif bertanya lembut.
Mela kontan menoleh. Berbisik, "Suaramu terlalu anggun."
Syarif mendesis. Mengabaikan
"Belum aku cek lagi. Habis ngelukis. Nih lihat masih cemong semua." Vey menertawakan dirinya yang berantakan dan penuh dengan cat minyak.
"Pesenan banyak, ya?"
"Alhamdulillah, Rum.Bentar aku cek dulu demamnya Kala."
Vey melepaskan celemeknya ke meja makan. Dia sekalian membawa air kompresan yang baru.
"Duh, tiga delapan koma sembilan lagi."
Kala bergerak, menarik selimutnya sampai ke leher. Dia menggigil. Juga sedikit mengigau memanggil nama Abimana, tapi tidak terlalu jelas.
Vey terperangah. Dia mendekatkan telinganya. Kala kembali menyebut nama Abimana lirih sekali. Vey merasa ganjil.
"Ngapain dia? Mimpi apa kira-kira?" batin Vey.
Tapi, Vey mencoba untuk tidak terlalu peduli. Toh, mimpi bisa datang kapan pun. Dia keluar kamar. Membiarkan kamar Kala tetap terbuka.
"Badannya masih panas banget." Vey mengerling ke wajah mereka bertiga, satu demi satu.
"Mending diperiksakan ke puskesmas atau klinik biar cepet," saran Syarif. Mela dan Rumaisya pun ikut-ikutan membujuk.
"Pesanan lagi banyak banget. Aku juga belum membuat soal anak-anak ujian tengah semester. Ya Allah, lancarkan, sembuhkan Adikku," batin Vey.
Memang mudah, seandainya dia mau meminta tolong pada saudara-saudaranya yang senggang. Tapi, Vey hanya akan meminta bantuan orang lain jika dirinya sudah benar-benar tak mampu mengerjakannya sendiri. Dia seringkali seperti itu.
Mela, Rumaisya, dan Syarif menunggunya menjawab.
"Onni, kalau saudara pada repot, aku sama Mel mau kok njagain Kala kalau misalnya Kala harus rawat inap."
__ADS_1
"Belum tentu." Syarif menegaskan.
"Maksud lu?" Mela yang bertanya.
"Kala cuma demam. Nggak mesti rawat inap. Diperiksakan terus dikasih obat sembuh itu."
"Iya, Rip. Maksudku juga giru." Rumaisya nyengir.
"Iya nanti aku bawa ke klinik."
"Dekat rumahku ada klinik dokter. Praktik sampek jam delapan."
"Iya, Rif. Yang kumaksud juga klinik dekat rumah kamu."
Tak berselang lama, mereka bertiga pamit pulang. Rumaisya paham. Gerak-gerik Vey ingin segera mengerjakan pesanan-pesanan lagi. Mela mengamati suasana rumah Vey dan Kala yang masih berantakan. Dia berpikir, mungkin saking banyaknya pesanan. Sedangkan, Syarif sudah jelas tahu karena dia juga yang memesan souvenir. Dia jugalah yang memberi isyarat Rumaisya agar segera berpamitan.
Setelah Vey mengelapi Kala yang tidak kuat bangun--sudah muntah tiga kali setelah Rumaisya, Syarif, dan Mela berpamitan tadi--dia membawa Kala ke klinik. Paman Gani yang menemani.
Sembari menunggu Kala diperiksa, Paman Gani mengajaknya berbincang-bincang.
"Kamu itu sebenarnya sudah punya pacar po belum, Na?"
Vey diam saja. Setiap kali Paman Gani bertanya, dia pasti akan hanya merespons dengan diamnya. Untuk membicarakan soal Kafil, Vey merasa saat ini waktunya benar-benar tidak tepat. Kala jatuh sakit dan pesanan sangat banyak. Dia tak ingin memikirkan selain keduanya.
"Kalau belum, Paman pamit nyarikan kamu jodo. Kalau kamu mau. Yaaah, Paman ngerti anak jaman sekarang itu mana ada yang mau dijodohkan. Ya betul, kan? Pasti mereka lebih suka mencari sendiri. Nggak seperti Paman jaman masih muda dulu."
Vey masih diam. Anggap saja dia tidak ingin fokus pada tema pembicaraan itu.
"Na, akhir bulan syawal kemarin itu...Paman pernah mengenalkan kamu pada seseorang." Di separuh kalimat, Paman Gani menatap Vey di samping kanannya.
"Dengan?"
"Ya adalah orangnya. Tapi, dia tidak berkenan. Maklum, Na. Orang berada dan terpandang. Banyak orang yang kenal. Makanya Paman waktu itu tidak memberitahumu. Niat Paman ya hanya barangkali. Nana, kamu sudah dua empat, Paman gapopo kalau kamu ingin mencari pasangan. Bawa pacarmu ke sini, Nduk!"
"Iya, Pakde."
Paman Gani merangkul Vey dari samping. "Semenjak Bapakmu tidak ada, Paman yang bertanggung jawab menikahkan kamu. Paman peduli sama kamu dan Kala, Nduk, Nduk! Jangan gelo, ya, kalau Paman bersikap seperti ini."
Tiba-tiba mata Vey menghangat. Air matanya menggenang di pelupuk. Dia mengulur napas sejenak. Hidup kadang memang terasa begitu berat. Dia mencoba untuk tidak mempedulikan itu selama ini. Bahkan, jika sesaat setelah kepergian itu dia tidak mengalahkan egonya, dia akan menjadi perempuan yang lemah. Kenangan telah mendidiknya banyak hal dan waktu mengajarinya untuk tetap sabar dan tegar.
"Syukurlah tawaran Pakde tidak diterima," batin Vey kemudiah.
Vey dan Paman Gani beranjak karena Kala sudah selesai diperiksa.
🌷🌷🌷
"Seperti halnya cinta, sesulit apa pun sebuah kisah, ia akan dipersembahkan oleh penulisnya dengan cara yang istimewa. Kau boleh menyebut kisahmu sebagai hatimu atau mimpimu. Ia layak diperjuangkan. Makanya aku pun berpikir, seni itu memang mahal harganya." ~Kun Kuni~
__ADS_1