Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 80 "Perjalanan"


__ADS_3

Jangan lupa bismillah. 😀🤗🤗


Alhamdulillah Vey dan Kala bisa hadir menemani Bestie semuanya. Kawal Kala dan Vey sampai mereka bersatu dengan kekasih sejati. ❤️❤️😍🤩🥳🥳🥳


Terima kasih sudah menunggu dan banyak berkomentar. 🙏🙏


Waktu begitu cepat pergi. Tanpa sempat berpamitan atau bahkan menawarkan harapan baru. Vey duduk tenang menghadap kaca bus besar yang melaju cepat menuruni jalan berkelok, kadang juga menanjak. Pohon-pohon pinus di seberang kiri tampak berlari, berpacu dengan kecepatan bus yang semakin cepat. Berhubung sepi, bus melaju tanpa khawatir berpapasan dengan kendaraan besar lainnnya. Vey tak memutarkan pandangannya sejak tadi.


Meski tak mau meratap, tapi nyatanya Vey terpaksa kembali bergeming. Abimana dan Nurmaya tiba-tiba hadir, ikut satu rombongan ziarah yang diagendakan oleh lurah Desa Lekok. Padahal, sebelum itu Vey sempat memeriksa apakah ada daftar nama penumpang yang dia kenal. Tidak. Lantas dia memutuskan berangkat. Hitung-hitung liburan akhir pekan. Sayang sekali, Abimana dan Nurmaya menggagalkan rencananya pagi tadi. Mau tidak mau mereka bertiga harus duduk dalam satu bus. Itulah sebabnya Vey enggan menoleh ke sebelah kanan. Suasananya seakan-akan telah diatur. Abimana dan Nurmaya datang hanya untuk membuat dirinya kembali ke masa lalu. Ah, tidak. Dia menyandarkan kepalanya, miring ke kaca bus.


Vey mengalihkan perhatian ke arah pemandangan rumah yang terhampar di bawah tebing. Diiringi musik sembilu. Ditemani harapan yang tak pasti. Keheningan suasana bus, membuat telinganya begitu nyaring mendengar gejolak hatinya. Tawa-tawa lirih yang ada di bangku samping, pun membuatnya ingin memasang tembok besar. Kalau saja dia masih terpandang remaja, dirinya bisa saja menukar posisi duduk dengan orang di depannya. Lagi-lagi dia harus menjaga image-nya sebagai perempuan dewasa. Dia sama sekali tidak mau dipandang kekanak-kanakan oleh Abimana. Masih sepeduli itu. Walau, harusnya tidak. Walau seharusnya akan sangat lebih baik jika dirinya mengabaikan semuanya tentang Abimana. Bahkan, gara-gara masalah ini dia lupa dengan pertemuannya bersama Kafil pada saat itu.


Bus melaju lebih pelan ke arah barat. Berpapasan dengan sorot matahari yang sangat mencorong. Ya meski kadang pohon besar menghalangi cahayanya agar tak sampai ke wajah Vey yang terkantuk-kantuk. Masih setengah sadar kalau laju bus kadang mendadak pelan dan kadang melaju sangat cepat saat jalan turun sedikit curam. Hingga Vey segera tersadar karena desir tak mengenakkan. Lantas dia menoleh ke arah kanan.


"Mereka tidur." Begitu batinnya. Vey melihat Abimana dan Nurmaya pulas sembari menautkan jemari.


Vey menguap. Ikut mengantuk melihat kebanyakan penumpang tak bersuara dan memilih tidur. Lantas tidurlah dia.


Tak berselang lama, laju bus mendadak sangat cepat. Beberapa penumpang mulai bertanya. Gupuh. Semuanya terbangun.


"Rem blong. Rem blong."


Vey mendengar teriakan demikian dari arah depan. Dia melongok-longok untuk memastikan kebenaran. Orang yang duduk di depan mengangguk-ngangguk.


Kernet memandu agar semua penumpang lebih tenang dan berpegangan erat. Dia mengatakan sopir akan berusaha mengendalikan sebisa mungkin. Walau demikian, Vey tak akan bisa tenang. Wajah pucat pasi di rumah sakit itu menggerayangi. Kematian papa dan mama mendadak hadir di tengah kalutnya keadaan bus yang semakin tak bisa dikondisikan.


"Ya Allah. Aku takut." Tubuhnya bergetar hebat. Tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Papa, apa kita akan segera bertemu?" Jemarinya menjadi semakin dingin. Denyar-denyar merambat ke seluruh tubuh.


Teriakan demi teriakan penumpang saling bersahut-sahutan. Kecuali dirinya yang sedari tadi diam menahan ketakutan. Sementara di bangku samping, Abimana dan Nurmaya saling menggenggam tangan. Sangat erat.


Dan...


Usai sudah kekhawatiran itu.


Bus terperosok ke dalam jurang dengan kedalaman kurang lebih lima meter. Merobohkan pohon-pohon pinus. Beberapa penumpang terkesiap. Berdarah-darah karena kaca bus kebanyakan juga menjadi pecah. Ranting-ranting pinus, sebagiannya pun masuk dan mengenai penumpang. Sebagian penumpang merintih kesakitan. Sebagiannya lagi memohon pertolongan. Sementara, kernet dan sopir sudah tak sadarkan diri setelah berseteru dengan ketegangan selama kurang lebih tiga menit.


Hanya satu penumpang yang mampu berteriak agak lantang. Sisanya bersitegang dengan maut.


"Kala?" Vey yang masih bernyawa memanggil. Merintih sangat lirih.


Tubuh Vey terlempar ke luar dari bus melewati kaca yang seketika pecah setelah mengenai batang pohon pinus agak besar. Sampai akhirnya dia merangsuk ke tanah yang menjorok agak ke dalam. Lalu, tertimpa ranting-ranting pohon yang agak besar.


Vey tak tahu. Entah yang sakit sebelah mana. Yang jelas dirinya sudah tak mampu lagi berkilah. Sesak. Air matanya berlinangan. Bibirnya bergerak tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.


"Apa aku akan benar-benar pisah sama kamu, La?" Ketika denyut jantung itu terasa kian melemah. Hawa dingin merambat pelan dari ujung kaki menuju badan. Suara-suara di sekitar menjadi tak dapat didengar. Kecuali, suara dua manusia yang saling menukar tangis dan suara dari seberang yang terdengar sangat jauh.


Alarm berbunyi.


Vey terjaga dengan ekspresi membelalak. Dia mendapati Kala telah terduduk di sampingnya. Menawarkan gurat kecemasan.


"Onni, mimpi apa?"


Vey masih terdiam. Sebagain tubuhnya masih terasa kaku. Dia menelan ludah. Sampai akhirnya dia sadar hanya bermimpi buruk. Namun, ketakutan itu masih membebat di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Istigfar."


Vey beristigfar dua kali.


"Tadi Onni manggil-manggil aku."


Vey menggeleng. "Nggak apa-apa."


"Ya sudah. Hampir mau subuh. Tahajud nggak?"


"Aku absen."


"Oh." Kala bangkit.


"Eh, La, besok lusa jadi akad nikahmu?" tanya Vey lirih.


Kala di tengah pintu menoleh. Mengerutkan alis. "Iya jadi."


"Cepet," gumam Vey kemudian.


Kala hanya diam. Dia mengerti maksud kegundahan yang terpajang di wajah Vey.


Kini Vey merasa sedang menjadi orang tua. Hampir tujuh tahun berjuang bersama adik kesayangan, yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Dia sudah bertanggung jawab selama itu. Membersamai cita-cita Kala sebagai penghafal Alquran yang sekarang sudah terlaksana. Sudah selayaknya jika dia akhir-akhir ini merasa sangat kehilangan. Rasanya ingin merajuk dan mengulur waktu lebih panjang. Namun, yang ditawarkan ialah kesepian yang kian mendalam. Yang semakin menjadi nyata.


Semakin pagi, sanak saudara datang untuk mempersiapkan hari pernikahan. Acaranya akan diadakan sederhana saja dengan undangan yang sangat terbatas, sesuai dengan permintaan Kala beberapa waktu yang lalu. Dia bersikukuh tak ingin mengundang banyak teman karena belum siap.


Akad akan digelar hari Ahad.

__ADS_1


__ADS_2