Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 32 "Untuk yang Kedua Kali"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah...😀🤗


Hari ini Vey dan Kala menyempatkan berbelanja. Kebutuhan pangan sudah sangat mendesak. Beras, telur, mie, gula dan minyak goreng habis. Seperti biasanya mereka memilih waktu sore hari. Pergi hipermart pukul setengah empat setelah semua pekerjaan rumah beres. Hari ini juga Kamis. Tak ada anak-anak privat mengaji di rumahnya--Kala mulai mengajar privat tiga hari yang lalu dengan bantuan Syarif.


Dan, untuk yang kedua kalinya Vey tak sengaja bertemu dengan Abimana. Kali ini Abimana bersama seorang perempuan. Tepat di depan pintu masuk, namanya terpanggil. Dia menoleh dan mendapati Abimana tersenyum ke arahnya.


"Pak Abi itu, Onni," bisik Kala seraya setengah melirik Abimana.


Vey mengangguk, lalu melempar senyum. Dia terpaku pada wanita di samping Abimana. Tapi, dia cepat menjulurkan tangan untuk menyapa wanita itu.


"Ini ibu aku, Na. Berdua saja sama Kala?"


"He.em, Mas. Ya emang cuma berdua di rumah, mau sama siapa lagi perginya kalau bukan dengan Kala." Vey terkekeh kecil. Dia berusaha mengelabuhi pandangan orang di tengah suasana hati dan pikiran yang belum stabil.


"Ini Nduk Nana yang katamu itu, Bi?" tanya ibunya Abimana.


"Nggeh, Buk."


Vey meringis kaku, sedangkan Kala mengernyit--menceritakan Onni?


"Ayo sekalian belanja bareng," kata Abimana kemudian.


"Iya. Mari, Tante." Vey mempersilakan mereka berjalan mendahuluinya.


"Gapapa barengan saja, Nduk Nana."


Posisi Kala ada di samping kiri Vey. Sehingga Vey mempunyai banyak kesempatan untuk leluasa berbicara dengan ibunya Abimana yang ada di samping kanan.


"Nana beli apa ini? Ibuk beli beras, minyak...pokoknya banyak banget, Nduk Na."


"Hehe sama, Tante. Habis juga. Kebetulan saya dan Kala repot banget, pas mau makan eh...kok ternyata berasnya habis. Kami lupa saking repotnya."


"Lho terus makannya gimana tadi? Sudah makan apa belum?"


"Sudah kok, Tante. Dikasih nasi sama Budhe Atun."


"Alhamdulillah. Kalau belum, Ibuk ajak ke warungnya Ibuk. Abimana itu punya warung."


"Tumben Onni antusias banget gitu sama ibunya Pak Abi...hmm....kayanya tadi semrawut mukanya...hmmm," batin. Dia hanya menyimak. Ingin bertanya, tapi posisi tidak membuatnya leluasa. Ingin bertanya pada Abimana pun terlalu jauh. Selain Abimana juga terlihat dingin kepadanya. Tapi, diam-diam Kala kembali berdecak kagum. Untuk yang kedua kalinya dia menyukai sikap itu. Baginya, Abimana terlihat begitu tampan dan bersahaja untuk ukuran pria yang telah dewasa. Dan dari pemandangan yang dia lihat sekarang ini, dia menyimpulkan satu kalimat bahwa kemungkinan besar Abimana adalah pria yang berbakti kepada ibunya. Karena dia sendiri jarang melihat ada pria sibuk yang sempat menemani ibunya berbelanja. Dia tersenyum tipis sembari berharap Abimana melemparkan barang satu pertanyaan kepadanya.


"Warung makan dekat LBB Najah?"


"Nah, ya itu. Bener banget," seru ibunya Abimana.

__ADS_1


"Saya kok baru tahu kalau warung itu usaha milik Mas Abi sekeluarga. Padahal rame, kan, Tante?"


"Ya alhamdulillah pokoknya. Bisa untuk menyekolahkan Adik-e Abi itu. Pokok alhamdulillah sudah ndak pernah kekurangan kalau masalah uang. Ini tahaddits bin ni'mah lo, Nduk Na. Bukan apa-apa."


Padahal Vey dan Kala tak mengerti apa maksud tahaddits bin ni'mah.


Mereka langsung menuju tempat beras dan minyak goreng. Kala dan Abimana mengedarkan pandangan. Sementara, Vey dan ibunya Abimana masih melanjutkan percakapan.


"Tadi Nduk Na katanya repot. Apa kesibukannya?"


"Kerjaan anak muda, Tante. Bikin hampers seserahan, mahar, buat lukisan, dan souvenir pernikahan."


"Loh ya lumayan itu. Hasilnya?"


"Alhamdulillah. Sama seperti yang Tante katakan tadi."


Seketika terpancar aroma kebanggaan di wajah ibunya Abimana.


"Nduk Na mandiri, ya, ternyata."


"Keharusan, Tante. Kalau tidak begitu, tidak mungkin kami yang sudah dewasa harus bergantung pada saudara."


"Betul. Perempuan harus mandiri. Kudu itu." Ibunya Abimana menengok Kala yang tengah memutar lehernya ke arah kiri. "Itu Kala sekarang sudah kelas berapa?" lanjutnya.


"Sudah kelas berapa?"


"Kelas dua belas, Buk."


"Jurusan?"


"Agama?"


"Anak jurusan agama hafalan, ya?"


Deg! Tiba-tiba suara Abimana membuat dadanya mencuat.


"Nggeh, Pak Abi. Baru meluluskan satu generasi Qurani."


"Lumayan. Bisa lebih gampang itu kuliah di luar negeri."


Kala memberanikan menyambung. Mumpung Abimana tampak antusias.


"Jadi, Pak Abi juga...mmm...itu hafidz?"

__ADS_1


Abimana hanya tersenyum tipis. Pun tak memandangnya. Malah kembali mengedarkan pandangan. Kala mengernyit, menyimpulkan sendiri maksud ekspresi itu.


Mereka pun berbelanja. Sekaligus bertukar pendapat merk-merk mana yang bagus dan harga bersahabat. Tentu perbincangan seperti itu membuat ibunya Abimana bersemangat memberitahu. Malah-malah ibunya Abimana memberinya satu resep cara membuat kue donat--kesukaan Abimana.


Kata ibunya, Abimana memang sudah suka dengan donat sejak balita. Donat jenis apa pun dan merk apa pun Abimana sangat menyukainya. Meski sudah dewasa, kadangkala dia masih meminta agar dibuatkan donat sampai-sampai adik perempuannya mengejeknya seperti pria manja.


"Ternyata donat, ya, kesukaannya Pak Abi. Aku mah bisa kalau bikin donat aja," batin Kala. Dia melihat sekilas ekspresi Abimana. Dan, ternyata biasa saja. Dia mengira Abimana akan malu jika ibunya menceritakan sesuatu yang baginya tidak sembarang orang bisa tahu soal itu.


Abimana mengambil beberapa botol minyak goreng. Seperti biasa, mengambil merk yang sudah sering ibunya beli. Dia hafal merk-merk apa saja barang belanjaan ibunya. Kadang dia disuruh dan sering diminta menemani seperti ini.


Begitu pulang, Kala melihat Abimana menyuruh ibunya duduk di samping outlet donat, kue bikang dan pukis. Ingin rasanya dia mengejek sekaligus menertawakan. Alhasil dia hanya menyengir tidak jelas saat melihat Abimana terlihat tidak sabar menunggu mbak penjual membuatkan pukis dan donat pesanannya. Antara geli dan suka. Pria sedingin Abimana ternyata suka dengan donat. Bagi Kala itu sesuatu yang lucu.


"Tante, kami permisi pulang dulu saja. Mau mengerjakan pesanan."


"Oh, ya ya. Hati-hati. Kapan-kapan mbok mampir ke warung Ibuk. Tak tunggu."


"Hmm...hehe insyaallah."


"Kayaknya aku, Mela, Syarif, dan Rumaisya kapan-kapan harus nongkrong di sana, nih. Ya ya perlu dicoba," batin Kala. Mendadak kepikiran.


"Semoga ada kesempatan." Kala menyambungi.


Mereka bersalaman. Kala mencium punggung tangan ibunya Abimana, sedangkan Vey tidak.


Vey menyerahkan kreseknya pada Kala. Lalu, dia menggotong satu per satu beras isi lima kilo itu ke motornya. Dia meletakkannya di depan. Abimana yang melihat itu langsung membantu mengangkat karung beras selanjutnya.


Kala tersenyum. Entah kenapa setiap sikap yang ditunjukkan Abimana, dia selalu menyukai.


"Makasih, Mas. Kalau buketnya terburu-buru Mas Abi chat ulang aku. Maaf soalnya ini ada kendala dikit, Mas."


"Oke. Nyantai kok. Hati-hati, Na."


"Ya, Mas. Ayok, La!" Vey menaiki motornya. Lanjut Kala menaiki jok belakang.


Mereka pamit pulang.


"Pak Abi, Pak Abi." Di sepanjang jalan, Kala terngiang sikap yang manis itu.


Terpesona aku terpesona...


Memandang memandang wajahmu...


Yang manis...

__ADS_1


__ADS_2