
Jangan lupa bismillah. 😀
E ee eere ternyata dugaan semuanya bener, ya... Gus Omar memang ada ketertarikan sama Kala comel. ❤️❤️😍😁
🖊️Maaf nggeh up lama lagi. kalau 2 eps ini berhasil review-nya hari Senin, harusnya Minggu malam sudah up. 🙏
🥀🥀🥀🥀
Sepulang makan malam dengan Gus Omar, Vey terus membungkam mulutnya. Membiarkan Kala sesekali terisak ditengah lamunan. Seharusnya dia menenangkan Kala, tapi entahlah dia justru memilih diam seribu bahasa. Paman Gani pun sesekali menoleh ke belakang, menyaksikan Kala dan Vey yang terlihat seperti orang usai bertengkar.
Tak ada suara kecuali tarikan napas yang terulur lebih panjang. Kaca mobil sengaja ditutup supaya tak ada keramaian apa pun yang masuk. Bagai patung yang tak bernyawa. Vey menghadap sebelah kanan, menempel di kaca. Begitu pula Kala melakukan hal yang sama di sebelah kiri.
"Harusnya beliau menjelaskan," batin Kala. Tak ada kalimat lain kecuali hanya sebaris itu yang sering dia pertanyakan.
"Aku memang sudah selamat dari perkenalan ini, tapi justru Kala yang terbebani. Aku khawatir dia marah sama gue," batin Vey. Dia menggigit bibir.
Begitu juga saat sudah berada di dalam rumah. Kala diam berjalan ke kamarnya. Lalu, Vey berjalan di belakangnya, memperhatikannya keluar lagi dari kamar dalam keadaan sudah mengganti pakaian.
"La, mau bantuin aku nggak?"
Kala masih terdiam. Bukan karena tidak mendengar, tapi karena dia tak ingin berbicara dulu. Juga tidak ingin membahas soal pertemuan tadi.
Vey bingung. Kali ini dia benar-benar canggung harus bersikap seperti apa. Karena jika Gus Omar benar-benar memilihnya pun dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Dan, dia tidak pernah melihat Kala sediam ini, kecuali saat kehilangan kedua orang tua mereka dulu. Dia menjatuhkan diri di lantai, menatap sekeliling yang masih berantakan dengan perkakas menulis, menggambar, asesoris, dan sterofoam.
"Bulan ini pendapatanku berapa, ya?" batinnya. Vey membuka aplikasi di smarphone-nya.
Setidaknya dia bisa tersenyum melihat perkiraan pendapatan sementara masuk tiga juta. Lega sekali. Tabungan uang kuliah Kala sudah tidak perlu dikhawatirkan. Dia berencana ingin mengajak Kala liburan.
"Siapa tahu Kala mau. Itung-itung menenangkan diri."
Vey melirik Kala yang sudah kembali dari kamar mandi.
"La?"
Kala hanya menoleh tanpa menjawab.
"Pendapatan kita masuk tiga juta. Insyaallah kalau orderan masuk terus, kita liburan, ya. Mau ke mana?"
Kala menggeleng.
__ADS_1
"Atau aku yang pilih?"
"Terserah," jawabnya ketus. Dia melenggang pergi, lalu menutup pintu kamarnya.
"Ya Allah, malah gini jadinya." Vey menghela napas.
Keesokan harinya. Vey sengaja bangun lebih awal untuk menggantikan jadwal memasak Kala. Dia mengira Kala akan menanyakan kenapa dia melakukan itu, tapi ternyata Kala masih terlihat tak peduli. Pagi ini, dia melihat wajah Kala lebih sembab daripada semalam--atau dia baru nangis semalaman?
"La, please jangan gini dong. Masalahku sama Kafil aja belum kelar." Vey membatin. Hanya saja dia sudah merasa lebih lega. Dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau kejadian tadi malam memang telah membuatnya merasa seperti melepaskan beban berat, yang dalam beberapa pekan dia bawa sendiri.
Usai memasak rawon, Vey menggoreng krupuk. Sesekali dia menoleh mencari Kala. Yang ternyata sedang duduk termangu di kursi depan televisi. Dari sini dia mencoba mengerti. Makanya, dia juga tidak menyuruh Kala sama sekali, baik memasak ataupun melakukan pekerjaan rumah. Dia membiarkan Kala merapalkan beberapa ayat sembari tersedu-sedu. Kadang berhenti karena suara isak yang lebih mendominasi. Jika dipaksa, suara itu akan bergetar hebat. Semakin lama dia semakin tak tega. Tapi jujur, dia juga bingung harus bagaimana melihat Kala sesedih itu.
"La, sarapan dulu gih!" suruhnya lirih.
Kala menggeleng. Malah menenggelamkan wajahnya dalam dekapan kedua tangannya.
Vey tak memaksa. Dia sudah meletakkan dengan rapi kuah rawon, krupuk, piring, dan kecambahnya di meja. Dia pergi ke ruang lukisan. Kembali memandangi lukisan dirinya dan Kala yang tersenyum semringah itu.
"Maaf, Pa, Ma. Akhir-akhir ini aku sama Kala kurang bahagia. Papa sama Mama di sana yang bahagia, ya. Jangan pernah sedih lihat kita seperti ini." Lantas dia berdoa mengirimkan doa fatihah.
Vey mengamati belas lukisannya. "Aku nggak nyangka bisa hidup tanpa orang tua sampai sejauh ini. Aku nggak tahu apa yang mereka doakan dulu sampai kita bisa sekuat ini. Yang pernah merasakan pasti tahu bagaimana sulitnya hidup tanpa orang tua. Lebih karena kita sering merindukan belaian kasih mereka, itu terkadang rasanya sesak banget. Takdir udah begini, jadi mau gimana lagi. Aku juga mau ngomong, Ma. Anak kesayangan Mama sedang dilamar seseorang. Namanya Gus Omar..." Kalimatnya terputus karena dia melihat sedu-sedan Kala--berdiri di tengah bingkai pintu.
"La? Sudah makan?"
Kala menggeleng.
"Jika air mata adalah kunci membuka surga, biarkanlah aku menangis, Ya Allah," batin Kala.
Vey tidak tahan. Dia menyisih, memilih makan lebih dulu sebelum kuahnya dingin.
Ketika berangkat sekolah pun yang biasanya Kala berpamitan dengannya, pagi ini Kala membiarkannya menyapu lantai. Hanya setelah beberapa langkah kemudian, Kala mengucapkan salam sebelum menaiki sepedanya.
Selesai menyapu, Vey pun bersiap berangkat. Dia mengernyit ketika mendapati panggilan tidak terjawab.
"Zezee?"
Vey menelepon balik.
📞"Kenapa, Zee?"
__ADS_1
📞"Lu mau tahu alasan kenapa Kafil harus pergi ke Malaysia?"
📞"Tahu. Orang tuanya sakit, kan?"
📞"Ya itu bukan alasan yang sebenarnya. Ayok kita ketemu. Kita omongin ini langsung. Pulang ngajar jam berapa kamu?"
📞"Setengah dua."
📞"Oke. Aku tunggu jam dua di Caffe Magic dekat kantor Papanya Kafil."
📞"Nggak bisa diomongin sekarang?"
📞"Nggak. Penting, Vey. Kita harus ketemu langsung."
📞"Aku penasaran, Zee. Kamu bikin aku nggak tenang."
📞"Oke sorry. Ya udah mending kamu fokus ngajar dulu. Nanti aku kabarin lagi, oke?"
📞"Ya. Makasih, Zee."
Zezee menutup telepon setelah salam.
"Zezee mau ngomongin apa?" batinnya sembari mengangkat tas ranselnya.
Justru Vey yang datang lebih dulu. Di kafe yang berjarak satu kilo dari kantor Kafil. Hanya saja dia sempat bertanya-tanya kenapa ada banyak wartawan yang berkerumun di depan gerbang. Tak sempat berhenti untuk mencari tahu karena dia mengira Zezee sudah sampai di lokasi.
Sembari menunggu, dia mencoba insagrem Gus Omar.
"Pria rambut panjang lurus sebahu. Kadang dikucir, kadang enggak. Masih kelihatan muda. Hmmm... apa aku nyoba DM aja, ya. Kali aja dibales."
^^^"Assalamualaikum, Gus. Saya Onni-nya Kala. Boleh saya menanyakan sesuatu? Masih berkaitan dengan pertemuan semalam." Send.^^^
Vey tak menunggu pesan itu segera dibalas karena orang seperti Gus Omar tak mungkin membalas cepat, pikirnya.
Sepuluh menit dia menunggu. Perasaannya gusar. Mengira Zezee sedang tidak baik-baik saja di jalan. Akhirnya dia mencoba menghubungi.
Zezee mengangkat.
📞"Bentar. Aku lagi ngobrol serius sama Si Akbar. Bentar, Vey bentar. Udah sampek di tempat?"
__ADS_1
📞"Udah."
📞"Tunggu. Sorry urgent." Zezee menutup tanpa permisi.