Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 71 "Rencana dengan Niar"


__ADS_3

^^^"Assalamualaikum, Pak Abi?"^^^


Kala mengirim DM karena dirinya tak menyimpan nomor whasapp Abimana.


"Ruma, Mel, kalian tunggu di sini aja. Aku mau ke kelas Niar. Siapa tahu dia belum pulang."


"Oke," jawab Mela.


Kala berjalan ke utara. Masuk lorong kelas sepuluh MIPA. Dia berhenti di depan pintu kelas MIPA 2. Tampaknya kelas sudah kosong. Dia melongok. Masih ada dua orang yang tertinggal di kelas.


"Niar sudah pulang?"


"Ekstra."


"Ikut ekstra apa dia?"


"Kalau nggak KIR, ya, pramuka."


"Oke. Makasih."


Kala berlari. Mengajak Mela dan Ruma ke ruangan KIR yang ada di lantai dua.


"Mel, kamu cek Niar di lapangan. Ada apa nggak itu dia."


Mela menurut. Sementara, Kala dan Ruma ke atas. Sayang sekali mereka bertiga tidak menemukan Niar.


"Ya sudah lain kali aja. Mau ke warung Pak Abi kok jauh banget."


Mereka memutuskan pulang. Berpisah di perempatan jalan. Kala melambaikan tangannya. Kadangkala dia merasa akan berpisah dalam waktu yang lama.


Sembari mengayuh, Kala berkata dalam batinnya, "Ujian SNMPTN udah lewat. Jalur SBMPTN nanti aku jelas nggak bisa ikut. Aku nggak bisa ikut seleksi PTN. Aku gagal kuliah di IAIN Pasuruan. Aku nggak bisa kuliah kaya Onni di sana. Padahal, Mela dan Ruma kayaknya diterima di IAIN Pasuruan. Tapi, alhamdulillah masih bisa kuliah. Daripada enggak."


Awalnya mereka bertiga punya tujuan yang berbeda-beda. Lalu, Mela dan Ruma mantap memutuskan kuliah di kota sendiri. Beralasan lebih dekat dengan rumah dan agar bisa tetap bersama-sama dengan Kala. Sayangnya, Kala diminta Gus Omar supaya kuliah di STAI Mahbubah saja.


Gedung STAI yang pembangunannya sudah selesai dua tahun lalu itu sempat menganggur setahun lamanya. Karena menunggu seleksi dosen dari santri ma'had aliy, santri alumni yang sudah lulus pasca sarjana, juga masyarakat umum yang berminat mendaftarkan diri. Tiga alumni yang sudah menjadi doktor pun berhasil diterima. Semua santri ma'had aliy senior yang wajib mengikuti seleksi, empat puluh lima santri siap menjadi dosen, termasuk Abimana. Sisanya dari pendaftaran yang dibuka untuk masyarakat umum dengan syarat dan ketentuan berlaku.


Setelah perekrutan pengajar, pengesahan gedung, dan semua urusan yang berkaitan sudah rampung, baru di tahun 2023 inilah STAI Mahbubah siap menerima mahasiswa, baik dari santri sendiri atau umum. Dari fakultas FEBI, FTIK, DAN FUAD yang ada, masing-masing jurusan sudah mendapatkan mahasiswa. Dan, Kala telah terdaftar di fakultas FUAD jurusan Psikologi Islam. Pada pemilihan jurusan ini, dia enggan menuruti permintaan Gus Omar yang sebetulnya mengarahkannya di tiga jurusan pilihan, Bahasa dan Sastra Adab, Aqidah dan Filsafat Islam, atau di Ilmu Alquran dan Tafsir. Dari enam jurusan yang ada, Gus Omar menyarankan itu. Namun menurutnya, untuk jurusan itu dia bisa belajar pada Gus Omar nanti setelah sudah menikah.


Setibanya di rumah, Kala fokus memperhatikan sepasang sepatu berserakan.


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam.

__ADS_1


"Kok kaya suaranya Niar."


"Onni??"


Kala berjalan menuju dapur. "Niar? Sudah lama? Nggak ikut ekstra?"


"Hehe. Aku bolos. Sekali aja. Biasanya aku rajin dan teladan kok. Mbak Nana masih salat, Kak. Aku suruh jagain."


"Jam segini masih salat? Haduuh."


"Iya soalnya tadi mengerjakan pesanan dadakan."


"Udah makan belum?"


"Belum. Tadi Mbak Nana udah nawarin aku, tapi aku belum pengen, Kak."


"Bisa ngomong bentar nggak?"


"Apaan, Kak?"


"Di ayunan aja. Bentar aku mau ganti baju dulu sama cuci muka."


Niar keluar. Lima menit kemudian Kala menyusul. Mereka berdua duduk di ayunan yang bersebelahan.


"Wah, nikah muda dong. Berat pasti."


"Udah itu nggak usah dipikirin. Yang jelas setelah aku nikah, aku akan diboyong ke rumah suamiku. Onni di rumah sendiri. Ya kalau sekarang, sih, sebetulnya lebih rame karena ada partner kerja. Cuma kalau malem dan pagi, kan, Onni sendiri."


"Kak Kala nyuruh aku nemenin?"


"Pak Abi."


"Masalahnya juga itu, Kak. Mas Abi sekarang juga sibuk ngurus LBB. Belum urusan di pesantren. Kan dia jadi orang kepercayaan Gus Omar."


"Iya aku ngerti. Tapi, Bapak dan Ibumu apa nggak menyarankan supaya mereka cepetan nikah aja?"


"Kayaknya Mbak Nana juga harus ngasih kepastian, deh, Kak."


"Iya juga. Tapi, menurutku jika Pak Abi mau sedikit lebih memperlihatkan kesungguhannya, mau ngejar Onni, aku yakin Onni bakalan lebih berani juga. Onni udah nggak ada masalah sama mantannya. Emang kalian pas berdua ngobrol gitu, Onni nggak pernah nyinggung gimana langkah dia ke depannya?"


"Kita lebih sering bercanda."


"Menurutku lo, ya. Onni itu sebetulnya udah mau membuka hatinya untuk Pak Abi. Bisa kamu nilailah dari responsnya gimana pas kalian membicarakan Pak Abi."

__ADS_1


"Ayah dan Ibuku pernah, sih, nyuruh Pak Abi membicarakan kembali soal lamaran. Aku juga udah berulang kali ngejekin Mas. Tapi, kebayang, kan, Kak gimana datarnya itu muka Mas Abi. Cuek bebek."


"Aduh, kita deketin mereka berdua aja gimana?"


"Bisa, sih."


"Kalaupun mereka nikahnya nggak cepet, lebih baik ada kepastian. Aku nanti minta nomor kamu sama nomor Pak Abi, ya. Sekarang aku merasa harus ikut campur. Sebetulnya ya aku mau terlalu masuk ke dalam urusan mereka. Karena mereka sudah dewasa. Tapi, berhubung pernikahanku sebentar lagi, aku jadi mikir. Niar, orang tua harus ikut andil. Aku minta tolong Onni setengah didesak, ya. Niar Pak Abi dan Onni sama-sama mikir."


"Oke. Aku usahakan ngomong ke Ibuk. Kalau dibilangin Ibuk, Mas biasanya lebih manut."


Kala mengangguk.


Tak lama kemudian datang seorang kurir. Mengantarkan paketan atas nama Vey.


"Dari siapa, Pak?"


"Dari Gondang Wetan."


"Kan itu rumahnya Yaya," pikirnya.


"Makasih, Pak."


Kurir itu pergi.


"Dari siapa, Kak?"


"Dari Gondang Wetan. Pengirimnya Barli. Barli siapa, ya?"


Vey berdiri di tengah pintu. Hendak menyuruh Kala dan Niar makan siang.


Kala mendekat. "Onni, ada paketan. Tapi, kok dari Barli. Emang Barli siapa?"


"Barli? Nggak punya temen nama Barli tuh." Vey menerima paketan itu.


Dia membukanya di teras.


"Apa isinya?" Kala penasaran.


"Foto, gantungan kunci, dan pashmina."


"Tempat ini?" Vey memandangi selembar foto ukuran 4R itu.


Selamat menunaikan ibadah puasa 20 Ramadhan 1443 H. Terima kasih semuanya. Selalu setia dengan Vey dan Kala.. Nantikan terus kisahnya..❤️❤️🙏😁🤗😀😊

__ADS_1


__ADS_2