Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 40 "Beberapa Petunjuk"


__ADS_3

"Ya gobloknya di situ. Harusnya dia cerita dari awal sama gue. Rumahnya pakai dijual juga. Itu artinya dia serius akan meninggalkan Indo. Terus gue sama dia kelanjutannya gimana?"


Miftha menatap Maya. "Gini aja. Kita anterin kamu pulang. Kamu aku bonceng. Biar Maya motoran sendiri."


Tak ada derai tangis. Air matanya hanya menitik setetes demi setetes. Dia fokus menghakimi kesalahan Kafil yang tidak mau terbuka dengannya sejak awal. Namun, dia harus menurut pada dua temannya yang memaksanya pulang. Berdalih kasihan pada Kala yang sendirian di rumah.


Mereka pun pulang.


"Sudah. Makasih, ya, May, Mif. Mau mampir dulu."


"Lain waktu, Vey. Kamu yang kuat." Miftha mengelus pundak Vey.


"Aku kuat kok. Tenang aja," katanya kemudian. Tersenyum hambar.


"Ya sudah kita pamit, ya. Assalamualaikum." Maya mewakili.


Kala menyembul di garasi. Dia bersiaga membukakan pintu begitu mendengar ada bising motor, kemudian berhenti di depan rumah. Dia memperhatikan wajah kusut Vey, tapi dia menahan tanya.


"Onni, aku pikir tadi Onni bakalan nge-chat dulu. Aku tungguin nggak ada. Aku belum sempat bikin mie."


"Ini aku beli nasgor. Kita makan." Vey melepas sandal. Masuk ke pintu samping tembusan ruang tamu.


Kala di belakangnya menutup pintu, lalu menguncinya.


"Sudah selesai?"


"Sudah. Jadi Onni tinggal nyelesain lettering sama sketsanya."


Vey meletakkan nasi gorengnya di meja. Kala yang kemudian mengambil dua piring, menuangkan nasi goreng itu di sana. Sekalian menyajikannya ke depan Vey yang bersiap melanjutkan sketsa yang tertunda tadi. Sebetulnya dia ingin merebah saja. Menenangkan hati dan pikiran. Dia baru bisa beristirahat setelah lewat pukul dua belas malam.


Begitu juga Kala. Ba'da magrib tadi tak ada murajaah dan mengerjakan tugas sekolah. Dia berencana melakukannya besok pagi. Tapi, ternyata dia harus memasak sebelum berangkat sekolah. Dia pun beranjak murajaah setengah juz dan mengerjakan tugas mata pelajaran quran hadis sampai dia mendengar Vey ringkas-ringkas barang, lalu masuk kamar. Tanda kalau hari sudah sangat larut.


Vey cepat-cepat memejamkan mata. Tak kuat menahan kantuk. Biarlah nama Kafil hilang sejenak dalam lelapnya. Tapi, nama itu justru terbawa hingga ke alam mimpi. Dia terbangun tiba-tiba. Mengucap istigfar tiga kali. Ternyata masih pukul setengah empat pagi.

__ADS_1


Tak ada suara apa-apa. Kala belum bangun karena juga jarang salat tahajud. Malah-malah Vey yang terlalu capek dengan pekerjaannya dan urusan sekolah. Vey berusaha memejamkan mata lagi, tapi tak bisa. Dia mengalihkan perhatian, mengecek pesannya untuk Kafil. Akun Kafil benar-benar sudah dinonaktifkan. Semakin tak ada jejak dan dia tidak akan bisa mendapatkan informasi apa-apa, kecuali dari Maya, Zezee, ataupun Akbar.


Vey bangkit. Dia ingin membangunkan Kala, tapi kasihan. Dia mengerti kalau tugas Kala sebagai penghafal pun tak mudah.


"Jika aku tahu penyebab sakitnya Mama dia, aku tahu kejadian yang sebenarnya kenapa kantor Papanya sampai ditutup, sepertinya aku bisa merangkai kebenarannya. Zezee dan Maya harus bantuin aku. Ya Allah, apa aku memang benar harus bersiap kehilangan Kafil?" Perasaan itu berubah tak tentu.


Sudah lama Vey tak membaca Alquran. Tak seperti Kala yang membacanya dengan istiqamah setiap hari. Dia ke kamar mandi. Membiarkan pintu kamarnya terbuka. Lalu, kembali dalam keadaan suci--sekalian mandi pagi.


Justru karena dengung lirih Vey mengaji, Kala terbangun beberapa menit kemudian. Sudah pukul empat. Wajah Gus Omar malah tiba-tiba membayangi.


"Apa jadinya kalau Onni malah berjodoh dengan beliau? Ya Allah, ringankan masalah Onni."


Vey masih sangat penasaran. Tadi pagi usai tiba di sekolah, dia memasang pamflet close order sementara untuk lukisan dan sketsa. Itu supaya dia bisa lebih fokus mencari jawaban masalahnya saat ini. Sepulang sekolah, dia kembali ke kantor papanya Kafil. Dan, suasananya memang tetap seperti semalam.


Dia hanya bisa mengorek keterangan dari beberapa tukang becak yang mangkal tak jauh dari depan gerbang. Salah satu tukang becak itu kebetulan membawa koran. Dia mendapatkan pinjaman koran tersebut. Dia terduduk fokus di trotoar. Dia tidak menemukan berita yang dicarinya.


"Pak, kantornya ini ditutup mulai kapan, ya?"


"Baru tiga hari yang lalu, Mbak."


"Kemarin ada, Mbak. Hari ini memang ndak ono."


Tukang becak satunya menambah, "Di channel televisi lokal kemarin diberitakan. Ndak lihat?"


Vey tidak sempat menonton televisi. Hampir tidak pernah. Televisinya nganggur berbulan-bulan.


"Memang beritanya bagaimana, Pak?"


Jawabannya pun sama seperti yang dijelaskan bakul nasi goreng semalam.


"Sempat heboh. Puluhan karyawan terpaksa diberhentikan."


Vey melanjutkan dalam hati, "Otomatis Papanya Kafil butuh uang banyak. Itulah kenapa rumahnya sampai dijual. Meskipun karyawannya nggak sampai empat puluh orang, tapi menurutku nggak cukup. Benar kata Maya, keadaan Kafil sekarang pasti lagi genting banget. Mana Mamanya juga sakit. Ya Allaaaah."

__ADS_1


"Lalu, di mana Papanya Kafil sekarang? Jadi buronan atau tertangkap?" batinnya.


"Direkturnya sudah ditangkap, Pak?" Vey masih di posisi yang sama.


"Belum. Sebentar tak ingat-ingat dulu...kabur ke Malaysia, Mbak."


"Tapi, kan, sebetulnya yang salah itu bukan direkturnya, Pak. Kenapa harus kabur?"


"Lha ya soal itu Bapak apa paham."


"Tapi, kalau tidak bersalah dan hanya dimintai keterangan, seharusnya Papanya Kafil tidak perlu kabur. Papanya cukup bertanggung jawab sebagai pimpinan. Itu artinya mereka punya masalah lain dan mereka tidak ingin berhubungan dengan polisi. Dugaanku itu mungkin saja. Astagfirullah, semoga saja prasangkaku ini nggak kejauhan, Ya Allah."


Sayang sekali Vey tidak pernah berhubungan dengan orang-orang kantor Papanya Kafil. Dia hanya pernah beberapa kali datang, tapi tidak begitu banyak berinteraksi. Dia mendadak ingat.


"Kayaknya aku pernah di-chat sekali sama orang kantor." Vey lekas mengambil handphone-nya. Dia mengembalikan koran itu pada tulang becak.


Vey memeriksanya berulang-ulang. Khawatir tidak teliti. Masalahnya dia tidak menyimpan nomor itu. Dan, saking banyaknya nomor costumer yang tidak dia simpan. Dia berusaha sangat teliti dengan mengabaikan suasana sekitar. Tiga kali dia men-scroll layar ke atas bawah, lalu berdecak. Berharap masih ada cara untuk mencari tahu. Dia ingat sekali waktu itu pernah mendapatkan pesan pribadi dari nomor pribadi orang kantor. Dan, dia juga belum pernah membersihkan semua pesan washap-nya.


"Harusnya ada, tapi..." Vey bergumam.


"Coba ke radar Bromo, Mbak!"


"Jauh banget, Pak. Bisa sejam dari sini."


"Yo kalo memang penting. Ada urusan apa memangnya?"


"Ada masalah pribadi, Pak. Bapak bisa bantu saya? Bapak punya kenalan siapa saja yang bekerja di kantor ini. Ada nggak?"


"Anakku itu ya sebenere pernah kerja di sini. Tapi, habis selesai training keluar. Soal info-info apa ya tahu, Mbak?"


"Bisa jadi tahu, Pak. Anak Bapak mungkin masih sering berkomunikasi sama karyawan yang lain. Rumah Bapak di mana?"


Bapak itu lekas memberitahu. Begitu juga Vey seketika berangkat menuju lokasi.

__ADS_1


Nggantung lagi, kan? Oke aku demen sekali menggantung orang..🙈🙈🙈🙈🙈😁😁😁😁🙏 Selamat menebak. Makasih komentarnya, Man Teman. Dukungan dan antusiasnya..❤️❤️ Sampai sejauh ini tebakannya belum ada yg bener..😅😅


__ADS_2