
"Iya makanya kamu duduk sini!"
Vey duduk kembali sembari mencomel, "Tapi, aku nggak mau, ya, membahas insecurenya Mas Abi. M-A-L-E-S."
"Iya iya."
Vey tampak menikmati pandangan Abimana.
"Gimana gimana? Mau yang sini, sini, atau di sini? Atau semuanya?" ujarnya dengan mengulumkan bibir. Dia bersikap begitu genit.
"Ya Allah, Ya Kariiim." Abimana menggeleng-geleng. Tersenyum lebar. Vey membuatnya malu.
"Mas, biasa gitu mukanya? Nggak pengen, ya? Aku hitung sampai tiga nii. Satu ... dua ... ti ... ti ... Maaaas?" Matanya melolot di akhir kalimat.
"Tiga."
"Ya sudah." Vey bangkit. Mengembalikan piring kotor.
Vey lama tak kembali ke kamar.
"Naaa?" panggil Abimana dari kamar.
Merasa tak mendapatkan jawaban, dia bangkit mencari. Dia pun berpapasan dengan Budhe Atun.
"Nana ada di mana, Budhe?"
"Lagi mandi."
"Malam-malam begini mandi?"
"Ya wajar to, Abi. Memang kamu nggak suka kalau malam ini Nana terlihat cantik, wangi, hmm?" Budhe Atun ikut-ikutan menggoda.
"Tapi, mandinya lama banget, Dhe."
"Tanya itu dia masih ngapa. Ya sudah Budhe mau pulang sebentar naruh sayur."
Abimana ke dapur. Berdiri di pintu.
"Na, masih lama?"
"Masih."
"Masih ngapain kamu?"
"Luluran," teriak Vey.
Abimana menghela napas.
"Sabar, Mas. Aku nggak lama."
Abimana kembali.
"Mas Abi?" panggil Vey manja. Dia mendekat sembari mengibaskan piyamanya yang bau parfum laundry.
"Enak nggak?"
"Enggak."
"Beneran? Enak kok."
"Terlalu menyengat."
"Serius?"
__ADS_1
Abimana mengangguk.
"Aku ganti, deh."
Abimana menarik piyama Vey.
"Kamu nggak perlu ngapa-ngapain. Udah temenin aku di sini saja itu sudah cukup. Kamu tenang aja, aku bukan tipikal laki-laki yang suka perempuan yang ini itu. Aku justru nggak suka kalau kamu kebanyakan ***** bengek begini. Jadilah Nana yang seperti dulu."
Vey pun duduk. Menatap lebih dalam. "Makasih, Mas. Aku udah lama kangen Papa. Semoga hadir kamu di rumah ini, bisa mengingatkanku tentang akhirat. Kamu bisa gantikan kasih sayang Papaku yang udah lama nggak aku dapatkan. Sejak aku ditinggalkan Papa dan Mama, yang ada di pikiranku, gimana caranya aku bisa mandiri. Gimana caranya aku tetap bisa hidup enak di dunia ini tanpa harus melibatkan orang lain walaupun aku perempuan. Awalnya kupikir setelah mendampingi Kala sampai lulus MAN, tugasku sudah selesai, ternyata enggak, sih. Aku semakin terdorong untuk meningkatkan popularitas diriku. Mas, ingatkan aku kalau aku melampaui batas. Aku sadar aku terbiasa melakukannya sendirian. Aku sering merasa mampu. Aku mandiri, tapi aku nggak ingin lupa kalau aku sudah punya kamu. Ingatkan aku, ya?"
Abimana menyentuh rambut Vey. "Jika rambut ini, mata ini, hidung ini, pipi ini, bibir ini, dagu ini adalah milikku, maka aku akan merawatnya dengan baik seseorang yang memiliki semua itu. Yaitu kamu. Kita doa sama-sama. Semoga aku bisa menjaga muruahmu sebagai seorang istri dan sebaliknya. Dan satu hal, aku juga berterimakasih sebab kamu sudah mau menerima kekuranganku."
"He.em sama-sama."
Percakapan itu pun berakhir. Bermula dari Vey yang tiba-tiba merasakan denyar-denyar tak biasa. Yang membuatnya harus menggelepar dalam gegar.
***
"Mas, aku nggak pernah lo ikut-ikutan acara religi beginian? Takut nggak bisa ngimbangin bicara."
"Biasa saja. Diam lebih aman."
"Mereka, kan, orang religius semuanya. Sereligus-religiusnya aku, aku nggak selembut mereka. Aku lebih suka mode pecicilan. Aku tunggu di luar saja, deh."
"Jangan. Nggak sopan. Kita telanjur masuk."
"Memangnya Mas Abi sering ikut acara begini?"
"Sering, tapi kalau untuk acara di sini masih sekali. Kalau bukan Gus Omar yang mengajak, aku nggak bisa ke sini. Ini kita undangannya VIP. Duduknya di kursi depan itu, tuh. Ini acara perdananya pesantren. Katanya, sih." Abimana menunjuk.
"Eh, enggak. Enggak mau, Mas. Maaf Mas Abi mendingan aku duduk di belakang saja ketimbang harus kaya batu di depan. Sumpah." Vey mendadak gugup.
"Na, relaks saja."
"Ini Kala mana juga? Aku mau cari dia, Mas."
Vey merogoh tasnya.
📞"La? Assalamualaikum? Di mana kamu? Ketemu bentar, yok!"
📞"Aku sudah duduk di depan, Onni. Kalau sudah sampai, langsung duduk di depan aja. Baris kiri buat cewek. Onni di mana?" Kala menoleh ke belakang.
📞"Onni, lihat depan. Aku melambaikan tangan."
Telepon langsung dimatikan.
Vey terpaksa menikmati acara besar penutupan MTQ Nasional di Pesantren Manbaus Salam Blitar ini di kursi deretan kedua, bersebelahan dengan Kala.
"Itu qoriknya siapa?"
"Aku nggak kenal juga, sih. Tapi, kalau nggak salah dengar tadi namanya Ning Indadzil 'Arsyi Makin. Qari' Internasional. Tadi prestasinya sempat dibacakan, pernah jadi terbaik di MTQ Internasional Qatar dan Rusia."
"Bagus banget. Keren."
"Masyaallah banget. Moga aja nanti kita bisa foto bareng beliau, Onni. Moga-moga ketularan berkahnya juga."
"Ya ya."
"Denger-denger Bu Nyainya sini masih muda lo."
"Siapa namanya?"
"Ranaa Hafizah. Tadi alhamdulillah aku sempat sungkem."
__ADS_1
"Muda? Seusia kamu, La?"
"Atasnya Onni dikit insyaallah. Dari face kira-kira segitu. Alhamdulillah aku seneng banget bisa hadir ngalap barakah di acara seperti ini. Sebetulnya ini itu lebih ke acara silaturahmi akbar kuyaha, nawaning, dan gawagis se-Jatim."
"Nggak ngerti, La. Ngomong apa kamu?"
"Kuyaha itu maksudnya pada kiai, nawaning itu para ning, dan gawagis itu para gus."
"Owwwh. Ya emang tulisannya penutupan MTQ dan silaturahmi akbar, kan?"
"Kok tiba-tiba perutku mules, ya?" batin Vey. Dia merintih sedikit.
"Kenapa, Onni? Kebelet?"
"Tiba-tiba mules. Juga kembung."
"Tipes kumat lagi?"
"Nggak tahu."
"Waduuh. Sopan nggak, ya, kalau misalnya Onni melipir keluar bentar?"
"Nggak tahu. Kamu yang lebih pengalaman, La." Vey tidak tahan.
"Duh, rasanya malah ada kaya mau muntah," batin Vey lagi.
"Ya sudahlah. Aku antarkan ke kamar mandi, yuk!"
Mereka berdua terpaksa menunduk-nunduk keluar dari kursi VIP.
"Ajenge dateng pundi, Ning?" tanya salah seorang santri putri yang sedang siaga.
(Mau ke mana, Ning?)
"Ke toilet."
"Medal mriki." Santri itu mengarahkan.
(Lewat sini)
"Loh, kok Mas Abi berdiri di situ kenapa?" gumam Vey.
"Mana?"
"Itu." Vey menunjuk dengan dagunya.
"Coba tanyain!"
"Mas Abi ngapain di sini?" Vey refleks langsung bertanya.
Ketika orang itu menoleh, dia pun terkesiap.
"Njenengan salah orang." Pria itu langsung berpindah tempat.
"Eh, dari belakang kok mirip, ya, La. Dan kebetulan baju dan sarungnya juga samaan."
Kala mengangguk.
Lalu, terdengar langkah mendekat dan memanggil, "Gus Ibban, ngapunten dipanggil Ning Tsaniya."
"Ternyata gus juga, Onni. Gus Ibban. Aku nggak kenal, sih."
Vey ke kamar mandi. Begitu membuka pintu, dia memuntahkan makanan yang sudah masuk sebelum perjalanan.
__ADS_1
"Aku biasanya emang mabuk. Duh, pasti jelas mabuk ini. Ada ada aja. Padahal tadi nggak kerasa apa-apa."
Pintu dibuka.