
Vey menunda pekerjaannya. Dia bergeming menunggui Kala terbangun. Dia kepikiran ingin melihat isi handphone Kala. Dia merogoh handphone itu dari bawah guling. Chat teratas dengan Syarif dan grupnya dengan Ruma dan Mela, bukan dengan Gus Omar. Dia mengira Kala sempat berkomunikasi dengan Abimana. Padahal, sebetulnya Kala sama sekali tidak pernah melakukannya. Semakin ke bawah, pesan-pesan itu tidak ada yang penting.
Vey lanjut membuka galeri. Memeriksa satu per satu folder. Dia langsung memeriksa folder kedua, screenshoots. Lantas menemukan satu screenshoot yang membuatnya tercengang, dari akun insagrem Abimana. Di sana tampak Abimana sedang meng-upload gambar dirinya yang hanya tampak separuh--ketika di warung siang itu. Ditambah dengan caption bahasa arab yang pernah Abimana kirimkan padanya malam itu. Dia ingat meski tidak tahu apa artinya.
"Ternyata...ternyata ini penyebabnya, La." Karena sibuk memikir Kafil, Vey sampai tidak bisa memahami gelagat Abimana akhir-akhir ini. Yang ternyata itu menjadi tanda keseriusan Abimana sebelum meminangnya. Dari situlah dia baru mengerti. Perasaan bersalah menyusup perlahan-lahan, mencari relung terdalam.
"Ya Allah..."
Vey mengambil handphone-nya sendiri. Hendak menelepon Abimana.
"Oh, dia belum sampek rumah pasti."
Akhirnya Vey mengirim pesan. Mengirimkan screenshoot feed Abimana.
^^^"Mas, seharusnya kamu nggak kaya gini."^^^
Dia merasa tidak perlu basa-basi. Tak perlu berpikir panjang memikirkan perasaan Abimana yang mengharapkannya. Dia berani meminta penjelasan jika tidak mengerti dan berani memarahi jika memang seharusnya tidak sepantasnya Abimana lakukan.
Dia tak menunggu pesan itu terbalas. Dia kembali membuka semua folder galeri Kala hingga tandas. Tak ada yang menjadi petunjuk selain screenshoot feed Abimana tadi.
Pesan masuk dari Syarif. Vey hampir membukanya.
Sembari menunggu, Vey bergegas salat isya terlebih dahulu. Lanjut menyiapkan sisa obat dan makanan jika Kala terbangun. Usai itu, dia memperhatikan suasana sekitarnya. Lalu, menghela napas berat.
"Semoga bulan ini ada banyak pesenan juga." Vey menatap rumahnya.
Rumah warisan yang sudah mulai terlihat usang. Cat tembok mulai pudar--sudah empat tahun tidak dicat lagi, sofa ruang tamu juga sudah bolong beberapa sisi, dan warna kayu harus diplitur juga. Tiba-tiba terbersit untuk merenovasi dan mendekor ulang semua perabotannya.
"Pasti butuh biaya banyak. Kalau seandainya Kala jadi nikah, semua kebutuhan kuliahnya akan ditanggung sama Gus Omar. Aku bakalan hidup sendiri di sini. Berarti aku harus nyari partner kerja. Siapa, ya?"
Dia juga kepikiran ingin mengembangkan usahanya, menambahkan jasa dekorasi menggunakan paper flowers. Setidaknya butuh tiga sampai empat partner kerja. Lagi-lagi siapa kiranya yang bisa menggantikan Kala? Yang siap bekerja lembur.
"Kalau aku ngomongin ini sama Kala, ntar dia tersinggung." Vey berpikir akan merekrut orang diam-diam. Dia duduk sembari memikirkannya. Mencari sosok-sosok perempuan di desanya yang sepertinya pantas dan berminat.
Vey berjingkat. Handphone-nya bergetar.
๐"Halo, Mas?"
๐"Assalamualaikum, Na?"
๐"Waalaikumussalam. Sudah baca pesanku?"
๐"Sudah. Kamu maunya bagaimana?"
๐"Mas Abi hapus feed itu. Kala tahu gara-gara itu."
๐"Lalu, apa masalahnya jika dia ngerti?"
๐"Ya...mmm...pokoknya lebih baik kamu hapus. Sorry. Aku harap kamu nggak nanya apa alasanku."
__ADS_1
๐"Oke. Terus apalagi?"
๐"Kenapa, Mas?"
๐"Kenapa gimana, Na?"
๐"Kenapa harus aku?"
๐"Aku juga nggak tahu, Na."
๐"Ya pastinya kamu punya alasan."
๐"Lebih baik kamu nggak perlu ngerti."
๐"Ya aku harus ngerti."
๐"Apa gunanya?"
Vey hanya penasaran tanpa bisa memaparkan apa alasan yang sebenarnya karena itu menyangkut privasi Kala.
"Seharusnya aku emang nggak perlu ngerti. Penting atau nggak alasan itu, aku akan tetap berhadapan dengan perasaan Kala."
๐"Kamu tidak perlu memaksakan sesuatu yang itu tidak menjadi kehendakmu. Aku tunggu kamu sampai siap. Aku ngerti kamu juga punya masa lalu."
Vey mengira dengan dirinya bertindak berani, itu akan membuat Abimana mundur perlahan-lahan. Ternyata tidak dari pernyataan terakhirnya.
๐"Jika ada perempuan yang lebih siap dan layak, Mas Abi lebih baik sama yang lain. Kondisiku sekarang sedang tidak memungkinkan untuk mengiyakan lamaranmu, Mas. Kuharap Mas Abi nggak nunggu. Jalani saja. Nggak perlu ada komitmen dan saling menunggu. Aku khawatir aku yang akan mengecewakan." Vey sadar seharusnya dia tidak berkata seperti itu. Tapi, dia telanjur bicara. Justru kalimat itulah yang dia ucapakan sejujur-jujurnya.
๐"Makasih, Mas."
๐"Sama-sama."
Vey mengulur napas panjang. Namun, entah kenapa rasanya dia sedikit menyesal setelah mengatakan itu. Dia terlalu berterus-terang pada pria yang tak ia mengerti tabiatnya.
"Aku harap dia nggak tersinggung atau marah." Dia mencoba menyakini itu.
Kala terbangun. Berdiri, lalu berjalan merambat.
"La?" Vey bergegas membantu. Dia mendudukkan Kala di kursi meja makan.
"Kita makan bareng." Vey berpura-pura tidak mengerti.
"Tadi ngomongin apa?" Kala enggan menyendok. Malah memperhatikan Vey yang mendahului makan.
"Hmm?" Vey mengunyah. Kontan memelankan gerakan mulutnya.
"Pak Abi sama Onni tadi ngobrol apa?"
"Enggak. Ya cuma ngobrol biasa aja."
__ADS_1
"Ooh." Dalam hati Kala menyesalkan jawaban itu. Kenapa Vey tidak jujur saja padanya. Cepat atau lambat, berita itu pasti akan sampai ke telinga semua keluarga kalaupun seandainya dirinya tak mengerti sebelumnya.
Vey mengalihkan pembicaraan. "La, kapan-kapan kita renov rumah kita, ya. Anggap aja persiapan lebaran. Dicicil sekarang. Kalau mepet lebaran nanti..."
Kala menyahut, "Mepet dengan pernikahanku?"
Vey tak jadi menyendok. "Enggak bukan itu. Kita biasanya, kan, ngeluarin duit banyak kalau lebaran. Amplop dan sebagianya."
"Ya, tapi aku benar juga, kan, Onni. Lebaran mungkin kita udah nggak serumah lagi," ucapnya tak bersemangat.
Vey menebak, tak bersemangat karena menyinggung soal Abimana atau perpisahan yang akan mereka lalui nanti.
Kala tak dapat mengontrol air matanya. Lirih isaknya menjadi berulang-ulang setelah air matanya menderas.
"La, jangan gini." Vey merasa bersalah.
Kala menelan ludahnya. Menahan tangisnya hingga wajahnya bersemu merah.
"Kapan Onni nikah sama Pak Abi?" Sembari sesenggukan.
"Nggak ngomongin pernikahan, La." Vey masih bernada pelan.
"Terus?"
"Ya ngobrol biasa."
"Aku tahu kok. Aku udah ngerti semuanya."
"Iya, tapi aku nggak ngerti, La. Sumpah. Aku jujur."
"Onni emang nggak pernah bohong, tapi sering juga merahasiakan sesuatu dari aku."
"Ya Allah, kenapa momennya seakan-akan begitu pas dan rapi. Pak Abi datang di saat Onni baru kehilangan Bang Kafil, dan supaya aku tidak mengharapkan Pak Abi, Engkau menghadirkan Gus Omar untukku. Ya Allaaaah." Kala kembali tergugu. Lebih parau.
Vey tak menangis. Tapi, dia amat merasa bersalah.
"La, sumpah aku udah nggak bisa ngomong lagi. Aku nggak ngerti kenapa Pak Abi melakukan itu. Dia nggak mau jawab aku tanya. Aku juga nggak ngerti kapan dia mulai suka. Tapi, yang jelas dia juga malah nggak ngerti apa-apa soal perasaan kamu. Aku dekat dengan dia akhir-akhir ini bukan karena aku suka. Aku anggap dia temen, La. Kalaupun seandainya takdir kita berjodoh, nasibku seperti kamu. Kita sama-sama menikah dengan orang yang tidak kita harapkan. Nggak pernah terbayang di pikiran kita sebelumnya. Iya kan?"
"Iya bener. Tapi, nggak sama juga, Onni. Gus Omar tidak menyukai Onni, tapi aku..."
"Terus aku harus gimana?" Vey menantang. "Oke, deh. Kamu saja yang menentukan. Atau, lebih baik kita sama-sama meninggalkan mereka biar adil?"
"Ya Allah, aku nggak mungkin juga bersikap egois. Tapi, Engkau tahu persis bagaimana perasaanku, Ya Rabb," batin Kala.
Selamat menjalankan ibadah puasa 6 dan 7 ramadhan 1443 H esok hari. Tetep semangat dan semoga akan ada kabar bahagia setelah hari raya esok. Aamiin. Makasih semuanya. โค๏ธ๐ฅณ๐ฅณ๐ฅณ๐ฅณ๐๐ฅ
Yg belum follow
FB aku : Kuni Umdatun
__ADS_1
Ig: kuniumdatun_cuncun
pasti aku follback ๐๐