
“Gimana kamu jadi ke rumah aku? Bisa nggak?”
“Maafin, ya, Kala. Belum bisa. Sopirnya mungkin sebentar lagi jemput. Allah belum rido aku ke rumah kamu.”
Kala menatap Abimana yang sedang mengangkat telepon dari seseorang. Tak lama kemudian, Abimana berjalan ke arahnya.
“Gus Omar mau bicara.”
Nurmaya terbengong sekejap. Tangannya bergetar menyongsong handphone Abimana.
”Enggeh, assalamualaikum, Gus?”
”Supirnya nggak bisa jemput, Nduk. Masih aku ajak ke luar kota. Abi sudah tak suruh manggil sopir yang lain kalau ada. Kalau nggak, yo kamu tunggu sampai datang. Jangan nekat pulang ke pondok sendirian. Paham?”
”Hmm.. Inggeh, Gus. Berarti saya di sini sampai nanti?”
”Kalau sopir lain nggak datang.”
”Enggeh, Gus. Terima kasih banyak.”
”Kalau mau jajan bilang saja sama Abi. Puasa nggak kamu?”
”Mm...Mboten, Gus.”
”Ok.”
Sambungan pun terputus.
“Terima kasih, Kang.”
“Gus Omar ke Tuban. Sowan ke mubaligh acara haul besok.”
“Oooo.” Nurmaya mengangguk.
“Kang Abi pulang sekarang atau nunggu sopir juga?”
“Aku ada jam setelah dzuhur. Aku tinggal berani?”
“Berani kok, Kang.”
“Oke.” Abimana pun mengeluarkan dompetnya. Memberikan selembar uang lima puluh ribu.
“Tidak usah, Kang.”
“Pesan Gus Omar begitu. Jangan ditolak.”
“Tidak usah, Kang. Bener. Saya tidak harus jajan.”
“Kamu butuh makan siang.” Abimana memaksa.
“Bener, Ya. Makan siang penting. Nggak makan jadi kurusan,” kata Ruma.
Nurmaya menerimanya dengan malu-malu. Pemandangannya justru terlihat seperti istri yang mendapatkan jatah dari suami atau malah anak kecil yang akan ditinggal orang tuanya.
Para siswa menempati posisinya masing-masing. Bergerumbul di depan panggung, duduk-duduk di stand, menata kursi di bawah pohon, menggelar karpet di depan kelas. Pembawa acara pentas seni bersiap naik ke panggung. Semua siswa bertepuk tangan dan bersuit-suit. Beberapa siswa berteriak-teriak tidak keruan mendapati model MAN Pasuruan sedang beraksi di atas panggung dengan kemampuannya membawakan acara.
Nurmaya duduk di sebelah Kala. Mendekap sempol yang belum juga dimakan.
“Aku temenin makan, Ya.” Kala menggigit sempol yang baru diangkatnya dari wajan.
Nurmaya mengikutinya.
Abimana pamitan sekali lagi. Menyuruh Nurmaya hati-hati di luar pesantren. Jika ada apa-apa, dia meminta agar Kala segera meneleponnya.
“Kamu beneran tidak apa-apa di sini. Suasananya nggak kaya di pondok lo, Ya.”
Nurmaya tersenyum. “Ya nggak apa-apa, La. Gus Omar kok yang minta aku tetap di sini. Beliau yang ingin aku ikut. Katanya, biar jadi obat rindu. Aku kan dulu pernah pengen sekolah di MAN.”
“Alhamdulillah.”
__ADS_1
“Kala, di sini ada program tahfiz juga?”
“Ada. Khusus anak unggulan agama.”
“Kamu kelas apa?”
“Aku unggulan agama.”
Nurmaya memperhatikan Kala baik-baik. “Kamu hafalan juga, La?”
“Ya itu program wajib.”
“Semoga lancar.”
“Aamiin.”
“Target khatam kapan?”
“Dua tahun lagi insyaallah.”
“Kuliah nyambi hafalan kamu?”
“Insyaallah. Doakan pokoknya, Ya.”
“Kamu hebat, La. Kerja sendiri, biaya sekolah sendiri, kuliah, hafalan. Nggak nyangka kamu sehebat itu.”
“Kamu juga luar biasa, Ya. Bisa mondok.”
“Yang penting aku tunggu kamu dua hari lagi, ya, La. Pengen banget bisa ngaji bareng sama kamu.”
“Aku usahakan aku bisa datang sama Onni. Ya udah tadi katanya mau puisi kamu mau aku bacain. Kamu ngomong, aku ketik di HP aja.”
Sembari mendengarkan penampilan kelas dua belas dari jurusan IPA, Kala menulis satu demi satu kalimat yang didikte Nurmaya.
Empat puluh menit kemudian. Tiba giliran Kala yang meminta tampil lebih dulu sebelum Mela dan Ruma drama. Musik pengiring mulai dimainkan. Sebetulnya Kala tak begitu pandai membaca karya dalam musikalisasi puisi. Dia hanya berniat ingin membuat Nurmaya bergembira.
Kala menenangkan diri.
Angin bertiup sepi, Kasih...
Angin berbisik rindu, Sayang...
Aku bergumam...
Langit menyatakan cintanya dengan hujan...
Pohon menyatakan cintanya dengan tasbih...
Aku menyatakan cintaku dengan puisi...
Mataku adalah matamu...
Telingaku pun telingamu...
Maka, kita ialah sama...
Aku dan kamu...
Untukmu, GSO...
Kala tersenyum. Pandangannya mencari pencipta puisi.
Kesukaan Nurmaya pada puisi, semuanya bermula ketika dia sering mendengarkan Gus Omar mengajarkan kitab mantiq kepada beberapa santri diniyah kelas tsanawiyah di ndalem kesepuhan. Saat itu, dia mengintip dengan sengaja ketika Gus Omar membuat salah satu syi’ir yang dibuat dengan bahar rojaz. Sayangnya, dia tak bersedia namanya disebut sebagai penulis puisi yang Kala bacakan tadi.
Semua siswa bertepuk tangan. Begitu pula pembawa acara yang seketika menyerukan kata indah.
Kala turun menyita perhatian Syarif yang mencoba mengajaknya bicara, tapi dia mengabaikan. Dia segera menghampiri Nurmaya sembari berkata, “Ini luar biasa.”
“Siapa GSO?”
__ADS_1
Nurmaya hanya tersenyum dan menggeleng.
“Idola kamu?”
“Menurut kamu, La?”
“Nggak tahulah.”
“Nanti aku ceritakan, La. Kira-kira nanti kamu pulang jam berapa?”
“Jam berapa, ya, Ya? Mmm....” Kala terdiam sebentar.
“Habis pentas ini selesai, sih, udah boleh pulang. Cuman pasti banyak anak-anak yang nunggu stand. Beli apa gitu. Kenapa, Ya? Kelamaan nunggu?”
“Enggak kok. Nggak apa-apa.”
“Kamu pengen main ke rumahku?”
“Hehe. Iya. Mumpung diminta nunggu sampai sopir. Sepertinya masih lama.”
“Kalau dicari gimana? Pas sopirnya datang, tapi kamunya nggak ada. Gimana? Aku gapapa kalau kamu mau main. Cuma kamunya nanti bakalan jadi masalah apa nggak, Ya?”
“Insyaallah nggak.” Sebetulnya Nurmaya tak terlalu yakin. Tapi, dia begitu ingin silaturahmi ke rumah Kala. Tiba-tiba dia berpikir ingin memanfaatkan momen langka ini. Lagipula Gus Omar sudah memberinya izin untuk tidak pulang sendirian.
“Oke. Ya udah nanti habis selesai. Kita langsung cuss. Insyaallah jam satu selesai. Nggak ada salat jamaah zuhur kok untuk hari ini. Salatnya di rumah aja.”
“Nanti aku bonceng, La.”
“Yakin mau bonceng aku pas lagi sarungan gini?”
“Yakin.”
“Nggak takut melorot?”
“Mana mungkin melorot. Udah siset banget. Aman. Aku juga bisa naik sepeda. Biasanya kalau keluar disuruh beli apa gitu sama Ning Bulqis, aku dipinjami sepeda pondok.”
“Oh, gitu siap.”
Bel pulang sekolah melenguh lantang.
Kala dan Nurmaya berjalan beriringan. Berhenti di depan stannya. Dia berpamitan pada Ruma dan Mela yang bersedia menjaga stand sampai sore.
“Nanti yang malem biar Jojo, Bani, Galih, sama siapa gitu,” ucap Kala sembari bersalaman pada mereka berdua. Nurmaya mengikuti.
“Eh, mana bisa mereka masak ginian?”
“Bisa. Kamu ajarin mereka, Mel. Ya udah sory nggak bisa nemenin. Mumpung Yaya mau ke rumah aku. Assalamualaikum, Ges?”
“Yok. Wa’alaikumussalam,” jawab Mela mewakili.
Kala menyuruh Nurmaya menunggunya di depan gerbang. Dia pamit ingin mengambil sepedanya di parkiran lantai dua.
Nurmaya pun berjalan sendirian seperti orang asing. Setelah apa yang terjadi hari ini, dia semakin mengagumi sosok Gus Omar. Meski tak banyak bertegur sapa, tapi perlakuan Gus Omar padanya memang begitu baik. Sampai-sampai dia diberikan uang saku agar bisa membeli jajan. Ya walaupun, uang itu masih utuh. Mela, Ruma, dan Kala terus membelikannya sesuatu, termasuk makan siang.
Suara sepeda yang cukup usang membuatnya menoleh. Kala memberinya senyuman.
“Aku aja yang mbonceng.”
“Aku, La. Aku pengen nyoba. Aku bisa.”
Kala pun menyerahkan sepedanya. Nurmaya menuntunnya beberapa langkah. Lalu, menyuruh Kala segera naik setelah dia memosisikan sarungnya tidak akan nyrimpeti.
“Eh, bentar.” Kala turun lagi. Meletakkan tas ranselnya ke keranjang.
“Ayo, Ya.”
Nurmaya mengucap basmalah lirih sebelum akhirnya memedal sepedanya pelan-pelan.
Di tengah jalan mereka bercanda hingga terpingkal-pingkal. Nurmaya menceritakan kelakuan santri nakal yang pernah dihukum di pondok putri. Termasuk kenakalannya sewaktu pertama mondok dulu. Mendengar celotehnya yang tak berhenti-berhenti, membuat Kala sampai sakit perut. Dan, tak kalah serunya lagi ketika Kala mencoba mengimbangi cerita Nurmaya dengan guyonan teman-teman sekelasnya. Termasuk sikap Mela yang bar-bar di kelas. Itu benar-benar membuat Nurmaya sampai lepas kendali. Sepedanya mendadak oleng. Dan, bukannya mengaduh. Keduanya justru terbahak-bahak di pinggir jalan. Menyita perhatian orang-orang yang lewat.
__ADS_1
“Udah, ya. Nanti kita nggak sampai rumah kalau gini terus,” kata Kala kelemasan.
Nurmaya menelan ludah. Kembali berdiri. Lalu, menggandeng Kala sampai tiba di rumah.