
Jangan lupa berdoa. Bismillah. 😊
Nurmaya dan Abimana kini telah sah menjadi suami istri. Lihatlah wajahnya! Wajah Nurmaya yang memesona kini tak ada pendarnya. Seharusnya dia teramat bahagia telah mendapatkan suami, yang baginya terlalu sempurna. Sebanding untuk menggantikan cinta terdahulu yang telah raib oleh waktu. Begitu pula wajah Abimana yang tak ada gairahnya. Mereka sama-sama diam seolah-olah tak ada ikatan. Mereka mengisi luang selama perjalanan dengan berzikir di dalam hati. Mereka kini menuju kediaman Abimana untuk merayakan acara unduh mantu.
Mobil melaju dengan kecepatan biasa. Sedari tadi mendahului tiga elf rombongan warga desa, tetangga dan saudara Nurmaya. Abimana menyalakan musik klasik arab. Kesukaannya ketika masih kuliah di Mesir dulu. Suasana menjadi tak begitu sunyi meskipun idealnya dia dan Nurmaya bisa bertukar cerita. Enggan.
Sedangkan, Nurmaya sungkan. Dia tak pandai membuka tema percakapan jika bersama pria sedingin Abimana. Pandangannya menghambur ke seberang jalan. Relung hatinya berbicara, berharap kemesraan di antara dirinya dan Abimana. Itu sah dan lumrah untuk didapatkannya. Sayang sekali, malam tadi Abimana tak sempat mengesahkannya menjadi seorang istri.
"Kamu kalau ngantuk tidur aja."
Nurmaya menoleh cepat. "Ooh, enggeh, Kang. Aku nggak ngantuk kok." Lantas kembali menatap jalan. Sudut bibirnya tertarik. Ya setidaknya Abimana sudah memperhatikannya.
Jika ditanya, apakah begitu mudah bagi seorang Nurmaya untuk menerima Abimana? Tidak. Setelah seseorang yang dicintainya telah mengikrarkan cinta kepada perempuan lain, tak ada cara lain untuk membuktikan pengabdiannya, melainkan dengan mengiyakan permintaan sang guru--Gus Omar. Dia punya cara yang lain untuk membuktikan cintanya kepada seseorang, cinta kepada guru ataupun pasangan.
"Aku minta meskipun kita sudah menikah, kamu setiap hari ikut aku ke pondok. Nggak usah kerja, kamu cukup bantuin Ibuk di warung. Itu aja nanti kamu sudah repot."
"Inggih, Kang." Suara itu keluar begitu lembut.
Tancap gas. Jalanan lumayan sepi.
"Aku takut kalau Kang Abi ngebut." Nurmaya terpaksa memberitahu. Kakinya sudah kedinginan.
Abimana tak merespons, tapi laju berubah pelan.
Unduh mantu rampung tepat pukul setengah dua belas siang. Rombongan pulang, sedangkan Nurmaya akan tinggal bersama mertuanya. Dia duduk di depan menunggu para tamu, tidak tahu Abimana sedang ada di mana.
"Niar, Kang Abi ke mana?"
Niar menoleh ketika melahap sepiring nasi rames.
"Gak tahu. Di belakang kali."
Nurmaya manggut-manggut. Pandangannya kembali ke arah depan.
Niar memperhatikan Nurmaya dari samping. "Emang Mbak Yaya ini sebaik apa, sih? Kok Mas Abi jadinya nikah sama dia? Kelihatannya terlalu lembek gitu. Apalagi aku tipe yang pecicilan gini. Gak singkron, aaah. Seru nggak, sih, diajak ngobrol? Kayaknya seruan Kak Vey. Hmm." Niar segera mengalihkan pandangan tatkala Nurmaya memergoki dirinya.
Nurmaya hanya melempar senyum.
"Nah, tuh kan dia cuma diem aja. Harusnya hanya. Terlalu anggun," batinnya lagi. Dia memilih bangkit karena merasa diabaikan.
Kemudian, Niar kembali ke luar ketika menelepon seseorang.
📞"Mbak, udah sampek belum?"
📞"Udah. Baru aja nyampek depan, Niar. Kamu di mana?"
📞"Aku di teras ini. Cepetan ke sini, Mbak. Aku kangen."
📞"Oke."
Nurmaya hanya mengamati. Menerka siapa yang tengah ditelepon Niar. Sungkan bertanya meski Niar adik iparnya sendiri.
Perempuan itu tiba di depan. Menghamburkan senyum semringah ke arah Niar. Niar pun membentangkan kedua tangannya. Menyambut.
"Mbak Na, loh kok sendirian? Kak Kala mana?"
"Dia, kan, di pesantren. Datangnya, ya, sama suaminyalah."
__ADS_1
"Looh." Niar menatap belas. Lalu, memeluk.
"Kenapa kamu?"
"Nggak apa. Pengen aja. Keren, sih, Mbak Nana mau datang. Sendirian pula. Ya aku kira Kak Kala itu bakalan dateng nemenin Mbak."
"Nggaklah. Biasa aja. Aku juga berani datang sendirian."
Niar berbisik, "Mbak, itu Kakak iparku lagi duduk sendirian."
"Emang Masmu ke mana?"
"Gak tahu. Ngumpet kali."
"Ada-ada kamu ini. Yaya nggak kamu temani?"
"Ngobrol sama Mbak Nana lebih enak. Lebih seru."
"Nggak boleh ngomong gitu."
"Aku cucur, Mbak."
"Mbak Vey?" panggil Nurmaya. Senyumnya melebar meski sedikit dipaksakan.
Vey memberi senyum tipis.
Mereka berjabat tangan. Vey mendahului tanya, "Di mana Mas Abi?"
"Kurang tahu. Apa mungkin tidur, Mbak. Sebentar aku cari di dalam."
"Eh, nggak. Nggak usah, Ya. Aku ke sini sekadar ingin tahu kabar kalian. Mas Abi nggak ada yang nggak masalah. Duduk aja." Vey duduk. Diikuti Niar.
"Emm ... bisnis alhamdulillah lancar. Semuanya bertambah baik. Fine." Vey melepas senyum lebar.
"Semoga makin lancar, Mbak."
"Aamiin. Makasih lo. Kamu sendiri apa planning kamu setelah ini?"
"Aku ... aku hanya bantu-bantu Ibuk, Mbak. Sesuai permintaan Kang Abi. Aku juga masih akan ke pondok setiap hari." Nurmaya berkata apa adanya. Jujur sebetulnya dia sungkan berbicara dengan Vey semacam ini.
Tak berselang lama Abimana muncul dari jalan raya. Jalan kaki.
"Baru dari mana, sih, Mas?"
"Pengen tahu aja kamu, Cil."
"Entah karena kamu nggak sadar, gagal fokus, atau sengaja mengabaikanku," batin Vey. Pandangannya tegas mengarah kepada Abimana. Dia menahan tanya.
"Kang, dicari Mbak Nana." Justru Nurmaya yang mengingatkan.
"Iya. Sorry aku ada keperluan bentar. Silakan dinikmati!" Abimana hanya memandang Vey sekelebat.
"Ternyata nggak berubah. Oke. Jadi, aku emang nggak guna datang ke sini," batinnya. Vey melepas napas. Beranjak.
"Ya udah aku pamit, Ya."
Nurmaya dan Niar juga beranjak.
__ADS_1
"Lo lo Mbak Nana kok buru-buru, sih? Pengen ngobrol banyak, Mbak." Niar merajuk. Memegang lengan Vey.
"Kamu main aja ke rumah, Niar. Kita bisa leluasa. Aku sendirian kok. Kamu juga bisa nginep. Kalau kamu mau. Aku pulang." Vey mengelus lengan Niar.
"Mbak Nana hati-hati."
"Samawa. Until jannah forever."
"Aamiin. Terima kasih doanya, Mbak."
Vey mengedip.
"Kapan-kapan aku nginep, Mbak."
"Aku tunggu. Bye. Assalamualaikum?"
Niar menjawab lirih.
Nurmaya menyusul Abimana ke kamar.
"Kang, lagi repot banget?"
Abimana sibuk menggerakkan jari ke layar smartphone-nya.
"Kayaknya repot," batin Nurmaya.
Sejurus Abimana menatapnya. "Ada apa, Ya?"
"Harusnya tadi Kang Abi ngajak ngobrol Mbak Nana."
"Ngobrol? Emangnya kamu nggak cemburu?"
Nurmaya kebingungan menjawab.
"Nggak usah ngomongin Nana. Kita sudah menikah." Abimana menegaskan. Pandangannya yang seketika menciutkan nyali Nurmaya untuk berbicara lagi.
"Inggih, Kang."
"Sekali lagi aku nggak ingin kamu dengar ngomongin dia."
Nurmaya mengangguk.
"Kenapa? Kenapa, Kang? Ada apa dengan njenengan dan Mbak Nana? Kalian punya masalah yang belum selesai?" batin Nurmaya.
"Yaya?"
"Dalem, Kang?" Nurmaya menoleh cepat.
"Aku minta maaf."
"Nggih. Kang Abi tidak salah kok."
Abimana melempar senyum tipis.
"Kamu dan Nana, jagalah hubungan baik kalian."
"Insyaallah, Kang."
__ADS_1
"Dekatlah dengan Kala."
"Insyaallah aku akan melakukan itu, Kang."