
Jangan lupa baca doa... Bismillah 🤗
Vey mematut diri di kaca.
"La, pantes nggak ini? Atau, aku pakai rok aja, La?"
Kala belum keluar kamar.
"Kala?"
"Bentar. Lagi pakai sarung," teriaknya.
"Apa? Sarung?" Vey mengerutkan dahinya. Dia pun menghampiri Kala. Penasaran sarung bagaimana yang Kala maksud.
Vey melebarkan pintu. Melongokkan kepalanya. "Serius pakai sarung? Awas mlorot."
"Aku masih lihat tutorial ini..makanya."
"Ya Allah, repot amat kamu, La. Pakai rok aja. Aku juga mau ganti rok. Kok nggak pede ke pondok celanaan begini."
Vey ke kamarnya. Mengubah penampilan. Mengganti rok dan jilbab.
Berulang kali Kala memastikan sarungnya tidak melorot. Tapi, ternyata tak semudah yang ada di tutorial. Sampai akhirnya dia pun menyerah. Mempertimbangkan kemungkinan daripada tiba-tiba melorot di tengah jalan. Lalu, dia mengambil rok plisketnya warna hitam.
Vey kembali berdiri di tengah pintu. Dia menunjukkan rok levisnya, warna biru pudar. Tapi, Kala hanya melirik dan belum menanggapi. Dia masih repot menautkan jilbabnya dengan jarum pentul sekaligus membetulkan ujung bergo jilbabnya yang belum rapi.
Awalnya Syarif menawarkan diri untuk menemani, tapi Kala tetap menolaknya dengan alasan ada Vey yang pasti mau menemaninya. Padahal, dia hanya tidak ingin dilihat kurang sopan, datang ke pesantren bersama pria yang bukan mahramnya. Setidaknya dia tahu apa yang harus dilakukannya nanti dan Syarif sudah sedikit membimbingnya.
Perjalanannya membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh menit. Kurang setengah jam lagi azan magrib. Kala tak bisa berangkat awal karena harus bolak-balik mengantarkan pesanan. Dengan wajah sedikit panik, dia mencoba mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
Vey menoleh. Dia melihat ada santri laki-laki yang bersepeda motor, lalu turun saat hendak memasuki gerbang. Dia pun berbisik, "Turun, La. Santrinya pada turun itu. Nggak sopan."
"Ohhhh." Kala buru-buru menuruni motornya.
"Aku kok bingung kita harus ke mana dulu, ya, Onni."
Vey berjalan ke depan. Lalu, berhenti setelah beberapa langkah melewati garis gerbang. Dia mendekati salah satu santri putra yang usianya masih SMP.
"Dek, rumahnya Gus Omar sebelah mana?"
Kemudian, Vey kembali mengedarkan pandangan sebentar. Santri putra itu menyuruhnya menatap ke sudut timur sebelah jalan menuju utara. Vey mengangguk-ngangguk. Dia pun diberitahu agar segera ke sana karena Gus Malik akan keluar pesantren setelah magrib. Dia pun mengucapkan terima kasih setelah santri itu pamit menyisih. Dia menoleh ke belakang. Menyuruh Kala mendekat.
Kala memarkir motor di sebelah barat, di bawah kanopi, di tempat yang bertuliskan parkir khusus tamu. Dia mensejajari langkah Vey yang menyerong ke kiri.
Berhubung ini masih pertama kalinya mereka masuk ke pesantren, Vey dan Kala terlihat begitu kikuk. Takut salah. Terutama Kala yang tidak berani uluk salak meskipun Vey sudah mendorong-dorongnya. Vey membuang pandang. Mengabaikan sikap Kala yang ngeyel. Sampai akhirnya ada sosok laki-laki berambut gondrong sepundak keluar mempersilakan mereka masuk. Kala hanya membatin, mungkin dialah yang dimaksud Gus Omar.
Kala dan Vey masuk dengan menunduk-nunduk.
"Kang, Kang?"
Seperti jin dalam botol, yang dipanggil kang itu langsung menyembul dari balik pintu sebelah kanan. Menatap Kala sebentar sebelum akhirnya langsung menjatuhkan dengkul sembari mendekat ke arah Gus Omar.
"Kang, tolong dibuatkan minum!"
__ADS_1
Dia mengangguk.
Kala sedikit melirik gerak-gerik santri yang membuatnya terpana dalam sekejap. Dia hanya takjub pada keindahan akhlak yang baru saja dilihatnya itu. Dia belum pernah menjumpai orang yang bersikap demikian, kecuali di pesantren ini. Diam-diam dia pun mulai penasaran dengan nama pria itu. Namun, dia harus kembali fokus pada Gus Omar yang sudah memperhatikannya.
Vey menyenggol lengan Kala pelan-pelan. Sayangnya, Kala memang sengaja tak segera berbicara karena dia masih bingung cara memulai percakapan yang paling sopan.
"Mmm...sebelumnya saya dan Mbak minta maaf telah mengganggu waktu panjenengan, Gus. Seperti...seperti yang saya kata...katakan kemarin, saya ingin kembali mengulang maksud dan tujuan saya ke sini. Bulan Oktober, sekolah kami mengadakan milad. Sesuai dengan kesepakatan teman-teman OSIM dan guru, kami meminta dengan sangat hormat kesediaan panjenengan untuk menghadiri acara kami pada hari Senin, tanggal sepuluh oktober. Jam sembilan pagi."
"Itu maksudnya acara sarasehan gitu to Mbak?"
"Enggeh, Gus. Temanya Alquran dan literasi. Nggeh seperti ngaji ngopi begitu, Gus. Ngobrol santai dengan semua siswa." Kala menahan rasa sungkan. Tapi, dia pun tetap berusaha mengeluarkan keberaniannya.
"Ya ya..." Gus Omar terdiam sejenak. Mempertimbangkannya.
"Gus Omar ini guru bukan ya? Kok Syarif gak ngomong apa-apa? Mau nanya kok sungkan ya. Hmmm," batin Kala.
"Gini aja, ya, Mbak, ya. Tak usahakan bisa. Hmm...tapi kalau misalnya saya nggak bisa, gampanglah nanti tak cari badal."
"Oh begitu, nggeh, Gus."
"Aku kalau diminta acara-acara gini, jawabanku pesti begitu, Mbak. Kadang ada acara dadakan. Kebetulan di minggu itu, pondok lagi ada acara. Tapi, aku usahakan. Dah gampang gitu saja."
"Beliau kayak sudah berumur? Berapa usianya?" Kala mendadak kepo. Dia hanya tiba-tiba terfokus pada gaya bicara Gus Omar dan penampilannya. Rambut gondrong sepundak, wajah tanpa kumis dan jenggot, bibir tebal, kulitnya kuning langsat, tubuhnya kekar, mata bulat, dan gaya fashion yang metroseksual.
"Ada lagi, Mbak?"
"Kang Abi? Tehnya kok lama, Kang?" teriak Gus Omar.
"Nah, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku ke dalam dulu."
"Ngapunten, Gus, sebentar..."
Gus Omar tak jadi beranjak.
"Ngapunten, untuk biodata njenengan?"
"Woh, itu biar aku kirim nanti aja. Atau, kapan-kapan aku diingatkan sebelum tanggal sepuluh. Ngoten nggeh? Aku tinggal dulu. Monggo dinikmati minum dan jajannya."
"Kang, temani mereka sampai selesai minum," bisik Gus Omar pada Abimana.
Dan seperti yang dipesankan Gus Omar, Abimana pun duduk di depan Vey dan Kala.
Vey ingin segera beranjak. Sayangnya, sirup itu masih sangat panas.
"Mbaknya masih SMA?"
Kala tak jadi menyentuh gelas. Dia menarik tangannya ke pangkuan.
"Iya," jawabnya ragu. Bingung mau menambahkan panggilan apa. Kang terasa janggal, mas lebih aneh, dan kalau pak rasa-rasanya tidak cocok dengan pemandangan yang dilihatnya tadi.
"Kalau Mbaknya ini?" Abimana menatap Vey.
"Saya Kakak perempuannya Kala."
__ADS_1
"Mohon maaf kalau Gus Omar tidak bisa menemani lama-lama. Mau ada acara dan mengantarkan keponakan berobat."
Dari kalimat kedua itulah Kala tertarik untuk bertanya. "Sakit apa, Pak?" Dan tak sengaja, panggilan paklah yang akhirnya keluar.
"Demam tinggi."
Kala hanya mengangguk. Tidak tahu harus bertanya apa lagi. Semuanya diam. Apalagi, Vey yang segan berbicara sejak tadi. Kala pun kembali mengurungkan pertanyaan meskipun tiba-tiba ingin bertanya.
"Kalau punya saudara atau siapa bisa dipondokkan di sini, Mbak. Santrinya banyak. Ada yayasannya. Kebetulan saya ngajar di sini."
"Tapi, ini sudah lewat tahun ajaran baru, Pak?"
"Ada tiga program di pesantren ini. Santri yang sekolah dan mondok, mondok sambil hafalan, atau mondok fokus kitab."
"Bagus, ya."
"Seandainya Ibu dan Ayah masih ada," batin Kala.
Vey mengajak Kala untuk meminum tehnya yang sudah tak tampak beruap.
Sejurus kemudian mereka pamit.
"Terima kasih, Pak Abi.. Pak Abimana, nggeh? Bener?"
"Iya. Abimana."
"Baik. Terima kasih banyak, Pak. Salam kami untuk Gus Omar atas jamuannya." Kala memberi senyum tipis sebelum dia melenggang.
"Insyaallah saya sampaikan."
Kala terbengong. Memperhatikan sandalnya.
"Perasaan tadi nggak gini?" Posisi sandalnya sudah terbalik dan berjejer rapi dengan milik Vey.
Di perjalanan.
"Onni, tadi diem mulu."
"Habisnya aku mau ngomong apa, La? Yang urusan kamu."
Smartphone Vey berdering.
📞"Halo, assalamualaikum, Vey?"
📞"Wa'alaikumussalam. Hmm?"
📞"Kapan-kapan kita liburan bareng."
📞"Berapa orang?"
📞"Sepuluh orang."
📞"Oke aku lihat jadwal dulu ntar aku kasih kabar. Aku nggak bisa liburan lama-lama kalau. Kasihan Adikku. Harus aku selesaikan pesanan orang-orang."
__ADS_1