Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 83 "Unduh Mantu"


__ADS_3

Ini kali pertamanya Kala jalan-jalan bersama suami. Walaupun sedikit merasa aneh, tapi dia melihat Gus Omar sangat antusias menyapa warga desa, yang sebagiannya sudah dikenal ketika diundang ceramah beberapa bulan yang lalu.


"Setelah khatam punya target apa lagi?"


"Menjadi istri salehah mungkin. Mmm ..." Kala tidak terlalu yakin.


Gus Omar tersenyum. "Perempuan itu berpotensi besar untuk menjadi orang serba bisa. Itu bukan cita-cita, tapi kewajiban."


"Ke Jogja?"


"Iya ya waktu itu kamu minta ke Jogja. Hampir lupa."


Mereka berdua berjalan, berpapasan dengan bakul sayur yang biasa keliling di desa.


"Pengen makan nopo, Mas?"


"Apa aja."


Kala memilihkan sayur bayam, wortel, dan kecambah.


"Nanti saya buatin tempe mendoan, sayurnya bayam aja. Purun (mau)?"


"Iya. Itu ... kamu pengen ke Jogja sudah lama, Dek?"


"Itu ... tapi njenengan jangan marah, ya. Semenjak sahabat saya yang cowok tiba-tiba pindah sekolah, saya belum bertemu lagi. Bahkan, belum sempat mengucapkan salam perpisahan. Katanya, sekolah di Jogja."


"Jadi?"


Kala meminta bakul sayurnya untuk membungkus.


"Jadi ... nggeh bukannya saya ke sana hanya semata-mata ingin bertemu dia tidak, Mas. Barangkali kalau takdir kita masih bisa bertemu. Njenengan jangan marah saya jujur seperti ini."


"Ya lebih baik emang jujur dari awal. Bisa diatur. Tapi, nanti sekalian kita sowan ke Pesantren Daris."


"Darul Islamiyyah?"


"Tahu kamu?"


"Itu, kan, pesantren besar dan tua di Jawa Tengah. Nggeh, kan?"


"Iya. Santri terbaiknya akan langsung dikirim ke Tarim, Mesir, dan Sudan."

__ADS_1


"Keren, nggeh?"


"Iya begitulah."


"Tapi, kalau semisal nanti saya tidak bisa ketemu Syarif tidak apa-apa. Itu pun saya berangkat karena njenengan sudah oke. Kalau tidak, nggeh saya tidak berangkat."


"Iya. Hari Jumat insyaallah kita langsung ke sana."


***


Pesta pernikahan berlangsung meriah. Diiringi musik-musik salawat klasik. Aroma bukhur dan mawar segar menguar ke seluruh ruangan. Menambah kesakralan acara sampai tandas di siang ini. Ramai lengang tamu undangan dan para santri silih berganti menempati aula utama pesantren.


Usai mengganti gaun yang ketiga, acara diisi dengan kajian ceramah berkaitan dengan wawasan tentang rumah tangga islami. Diharapkan itu akan menjadi pengetahuan untuk kedua mempelai dan seluruh santri putra dan putri.


"Bocah-bocah harus ngerti. Sampeyan semuanya ini saya beritahu kapan waktu yang pas, yang utama untuk berbulan madu. Hayo sampeyan sudah ada yang tahu?"


Para santri kompak mengatakan belum. Lebih tepatnya sengaja mengatakan itu supaya dijelaskan lebih gamblang. Karena mayoritas santri akan menyukai bab pernikahan semacam ini.


"Syaikh Ibnu Yamun mengatakan kalau honey moon atau madu bulan, itu lebih diutamakan di awal atau akhir bulan?


Kalau ada yang tahu, nanti saya carikan jodoh. Ada yang tahu?"


Para santri kompak berseru riang. Berbisik satu sama lain. Salah satu santri putri pemberani mengacungkan jari. Semua menoleh dan menyusullah teriakan. Bukan hanya santri itu yang tertawa, Kala dan Gus Omar tak berhenti tersenyum menyaksikan gelagat santri putri yang malu-malu berani.


"Saya Silfi dari Mojo Kediri."


Beberapa santri putra berteriak, "Tayyib jiddan."


"Jamilah."


Mubalig menoleh ke arah mereka. Mengayunkan tangan. "Sebentar. Sabar sabar. Tenang nanti kalau jawabannya benar, saya jodohkan sampeyan dengan Mbak Silfi yang manis itu."


Santri putra itu tergelak.


"Gimana, Mbak Silfi, jawabannya kapan?"


"Di awal bulan."


"Jaaaan sip." Mubalig langsung menatap kedua mempelai. "Gus Omar, monggo santrinya njenengan langsung diijab saja."


Hampir seluruh santri terbahak bersama.

__ADS_1


"Oke. Silakan duduk, Mbak Silfi. Jadi memang benar. Bulan madu baiknya di awal bu-lan daripada diakhir bulan. Dengan begitu, bisa diharapkan bagi kemuliaan anak yang akan lahir ketika bertambahnya bulan. Jadi, pesan saya untuk Gus Omar dan Ning Kala sabar dulu. Menurut pendapat lain, Imam Qozwani Rahimahullah, bulan madu sunnah dilaksanakan di bulan sya-wal. Jadi, sudah cocok ini. Sebentar lagi awal bulan dan masih syawal."


Kala tersipu.


Kajian selesai, santri-santri dipersilakan berfoto bersama mempelai. Terutama santri senior yang sudah lama mengabdi, yang sudah seperti bagian dari keluarga sendiri.


Menikah memang melelahkan. Banyak tamu yang harus dilayani. Mempelai sudah berkali-kali foto hingga pukul sepuluh malam. Dengan sedikit menahan kantuk, Kala melipir ke teras. Mengabaikan sebentar keramaian suasana di bawah tenda.


"Mbak Kala sakit?" tanya Nurmaya.


"Kamu, La? Enggak ini cuman agak mual. Kena angin malam mungkin."


"Aku ambilkan teh hangat mau?"


"Nggak. Nggak usah. Itu di depan ada teh panas di termos. Kamu nikahnya seminggu lagi, kan?"


"Insyaallah. Mohon doanya, Mbak. Mohon didoakan dengan tulus."


"Yang terbayang sekarang justru Onni," batin Kala.


"Iya moga lancar, Ya."


Mela dan Ruma mendekati Kala dari arah depan. Memeluk bergantian.


"Pokoknya selamat. Selamat menempuh hidup baru, di rumah baru dengan suasana baru, dua status baru, dan jangan lupa kabari kita, ya, Bestie. Kalau misalnya ada kabar bahagia apa gitu," ucap Ruma.


"Kalian berdua, aku makasih banget kalian menyempatkan datang walaupun sudah malem begini. Hati-hati. Sebelumnya aku mau titip pesan dulu. Jagain Onni, ya. Kalau kalian longgar dan pas ada kerja lembur, kalian nginep aja. Aku nggak pengen Onni kesepian terus."


"Iya ya. Kasihan Onni. Harusnya jadi nikah sama Pak Abi," kata Ruma.


Kala memberi isyarat dengan jari telunjuk. Memberitahu kalau Nurmaya masih di belakangnya. Dan, Nurmaya memang sempat mendengar sebelum pergi ke dalam rumah.


Jarum jam bergeser. Sound system dan sebagian lampu dimatikan. Gus Omar menggendong Kala hingga ke peraduan. Namun, tak akan ada wisuda malam ini. Dia tahu sedang menikah dengan gadis seperti apa. Dan, dia tidak akan buru-buru soal itu. Dia cenderung berencana akan menikmati masa-masa awal pernikahan seperti orang yang masih pacaran. Karena yang terpenting ialah cinta antara mereka berdua. Bagaimana cinta itu nantinya akan bisa tumbuh dengan tanpa paksaan.


Sebagai pria, Gus Omar paham bahwa setiap perempuan akan selalu memberikan segalanya setelah hatinya mengatakan dirinya telah mencintai. Semua membutuhkan proses.


Mencintai,


adalah perjalanan menaiki bukit dan menuruni lembah.


Mengarungi samudra dan menyelami dasarnya.

__ADS_1


Menunggu pagi hingga datangnya senja.


Seni menenun benang.


__ADS_2