
Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🤗
Singkat kata setelah berbincang dengan Bu Cipto, Vey langsung pulang. Perjalanan ke rumah cukup lama karena harus membeli berlembar-lembar kertas manila warna warni, plester, lem, staples, kuas baru, dua easel karena easel lamanya patah saat dia gunakan untuk menulis. Setibanya di halaman, dia cukup terkejut mendapati Abimana terduduk macam patung di granit teras. Padahal, ada Kala yang sedang duduk di ayunan. Vey tak tahu apa yang telah Abimana dan Kala bicarakan.
"Onni? Ditunggu Pak Abi. Tadi aku datang Pak Abi sudah di situ."
"La, tolong kamu ke dalam."
"Oooh, he.em."
Vey menunjuk motornya. "Itu barang-barangnya kamu angkat ke dalam."
Kala menurut.
"Perlu bantuan?" Abimana bersekedap.
"Nggak usah, Mas." Vey agak ketus menjawab.
Vey agak mendekat. Menatap Abimana dengan berani. Dia tak mungkin sungkan.
Lalu, Abimana pun menengadahkan tangannya. "Mana cincinnya?"
Vey terngiang pesan Bu Cipto. Kenapa memberikan cincin itu kini menjadi berat? Namun, dia telanjur mengatakan iya. Cincin itu harus kembali karena yang memberikan memintanya. Dia mengambilnya dari dompet.
"Ini?"
"Oke."
Dalam sekejap, hatinya tergerak untuk memahami jenis ekspresi apakah yang kini Abimana tunjukkan. Vey menatap Abimana lebih berani tanpa melangkah lebih dekat.
"Kenapa wajahmu tetap datar seperti itu? Bagaimana bisa perempuan ngerti apa maksud kamu kalau kamu saja nggak pandai mengisyaratkan keinginan dalam ekspresi, Mas. Setidaknya kalau kamu suka, tersenyumlah. Kalau marah, tunjukkan kalau kamu sedang marah. Ketika aku ingin menyimpulkan bahwa kamu sekarang sedang tidak menginginkan aku lagi, apa aku keliru?"
"Eh ..."
"Kenapa?"
"Bukannya tadi kamu ngirim bunga, ya? Eh ... gini maksudku ... aku sebetulnya nggak yakin juga kalau itu dari kamu. Tapi, ada pesan lebih baik aku menyimpan cincin itu."
"Oh, itu."
"Oh bagaimana?"
"Nggak apa-apa."
"Tanganku kok gatel pengen nabok Mas Abi, ya?" batinnya.
Abimana berdiri. Tiba-tiba uluk salam pamit pergi.
"Harusnya dia menjelaskan. Hufffft."
Kala berdiri di tengah pintu. Memandang Vey yang masih menatap Mas Abi menyalakan motor.
"Kira-kira Onni curiga nggak, ya, sama buket tadi?" batin Kala.
"Buket kok ada dua?"
"Satunya dari Mas Abi paling. Aneh aja. Kata Niar dia bukan tipikal laki-laki romantis, tapi kok ngirim bunga. Aku tanyakan, dia cuma jawab oh. Ternyata dia itu menyebalkan, La. Aku, sih, seneng kamu jadinya nikah dengan Gus Omar." Vey ngacir.
__ADS_1
Kala pura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dia hanya penasaran, siapa yang memberikan buket lainnya itu.
"Terus yang satunya?"
"Enggak tahu, La. Cuman aku mikir ... itu yang ngasih seperti Kafil. Entahlah. Perasaanku ngomong begitu."
"Tapi, bukannya dia terlibat kasus dan didakwa sebagai pengguna narkoba?"
"Kata Akbar emang begitu. Halah, ya udahlah entahlah." Vey berusaha mengabaikan. Enggan memikirkan kedua buket itu.
Sekitar satu jam kemudian.
"Suara motor siapa itu, La?"
Kala meletakkan guntingnya. "Biar aku lihat." Dia bangkit.
Bebeberapa detik dia kembali. Memberitahukan sebelum Vey bertanya lagi. "Pak Abi."
"Ngapain lagiii?" tanyanya kesal.
Kala menggeleng. "Aku nggak nanya. Aku suruh duduk aja."
Vey menghela napas. Lalu, beranjak. Sedangkan Kala kembali duduk mengerjakan pesanan souvenir.
Vey menghampiri. Memamerkan air muka sedikit sebal. Sekaligus mengetes reaksi Abimana, bagaimana setelah melihatnya demikian. Duduk.
"Ada apa?"
Tak banyak bicara, Abimana meletakkan kotak merah di meja.
Abimana diam.
"Ambil saja! Aku sudah bilang cincin itu kegedean juga. Nganggur di sini."
Abimana mengambil kotak cincin itu. Membukakan. Memperlihatkan isinya.
"Hee?"
"Katamu kegedean. Tuh dicoba masih kegedean nggak?"
"Jadi, dia ngambil cincinnya cuma buat ditukar aja? Bener-bener nggak ketebak, ya, ini orang," batin Vey.
"Sengaja aku pilihkan yang modelnya nggak seperti kemarin. Menurutku kurang bagus. Mendingan kamu pakai yang seperti itu. Kata karyawannya sudah yang paling sederhana itu."
"Terus?"
"Kamu bawa lagi."
"Bunga itu beneran dari Mas Abi?"
"Bunga? Oh ... itu iya aku."
"Bisa romantis," gumam Vey lirih.
"Apa? Romantis?"
"Enggak. Salah denger."
__ADS_1
"Romantis itu harus melihat sikon dan siapa objeknya."
Vey memperhatikan cincin itu. "Jadi, maksud Mas Abi yang sebenarnya itu apa?"
"Harusnya aku yang tanya."
"Nanya apa?"
"Nggak jadi."
"Kok nggak jadi?" Suara Vey agak meninggi.
Keduanya diam. Kala dan partner kerja Vey pun mendadak tak berisik.
"Sepertinya aku harus ngomong langsung ke kamu, Mas."
"Ya ngomong saja."
"Bahwa sekarang aku masih punya hubungan yang harus diselesaikan. Jujur aku belum punya menerima cincin ini jika aku belum bisa bertemu dengan Kafil lagi."
"Mantan kekasihmu?"
Vey mengangguk.
"Lebih baik aku ngomong daripada aku membawa cincin ini tanpa ada kepastian." Vey menatap Abimana lebih dalam. "Aku juga nggak pengen, Mas, membuat orang tuamu sangat berharap. Padahal, aku nggak bisa ngasih kepastian apa-apa."
"Wajahnya masih datar juga?" batin Vey.
Vey melanjutkan. "Jadi, lebih baik cincin ini kamu simpan saja." Dia menggeser kotak itu.
Abimana menatap dua buket bunga di depannya.
"Bunga ini dari dia?"
"Entahlah."
"Kamu yakin tak ingin menyimpan cincin ini?"
"Mas, aku takut. Aku nggak bisa ngasih kepastian kalau hatiku sendiri aja masih gamang. Aku dilema. Aku dihantui oleh keinginanku sendiri. Lebih baik aku selesaikan urusanku dulu, baru aku bisa saguh ke orang. Ngerti, kan, posisiku sekarang?"
"Jadi, cincin ini benar kamu kembalikan?"
***
Dua malam yang lalu, sebelum Abimana ke rumah Vey untuk mengambil cincin itu, Abimana kembali mendapatkan panggilan Gus Omar. Mereka berdua duduk sembari menyeduh kopi susu buatan Gus Omar sendiri. Juga seraya menikmati alunan musik balasik ekstrakurikuler santri putra di aula utama pesantren--persiapan menyambut pernikahan bukan Syawal esok.
Setelah mereka berdua membicarakan soal dana kelanjutan pembangunan LBB Najah, persiapan haflah akhirussanah yang akan digelar beberapa hari lagi, dan kegiatan kampus STAI Mahbubah pada tahun ajaran baru beberapa bulan ke depan, Gus Omar membuka topik pembicaraan perihal kelanjutan hubungan Abimana dan Vey.
"Saya sudah melamar, Gus. Kami belum merencanakan apa-apa setelah jadi lamaran itu. Pasalnya kami juga sibuk sendiri-sendiri."
"Tapi, kalian sudah fix bener akan nikah?"
"Nana belum bisa saguh. Cincin itu masih ditangguhkan."
"Kang, sejak awal aku lebih suka kamu gandeng dengan Nurmaya. Coba kamu pikirkan lagi!
"Jika ada perempuan yang lebih siap dan layak, Mas Abi lebih baik sama yang lain. Kondisiku sekarang sedang tidak memungkinkan untuk mengiyakan lamaranmu, Mas. Kuharap Mas Abi nggak nunggu. Jalani saja. Nggak perlu ada komitmen dan saling menunggu. Aku khawatir aku yang akan mengecewakan."
__ADS_1