Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 14 ”Dua Perhiasan”


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah..😘


Nurmaya berseru senang. Mengagumi suasana sekitar rumah Kala yang teduh. Tanah yang berumput dan penuh daun-daun berjatuhan membuat sekeliling terasa menyejukkan. Anginnya juga semilir, menggoyang-goyangkan bunga anggrek ungu yang baru mekar kemarin sore. Dia menghitung sukulen yang tergantung di teras—ada delapan pot dan tumbuh subur.


“Halaman segini luasnya siapa yang nyapu, La?”


“Jadwal dong. Kalau Onni masak, berarti aku. Sebaliknya, deh. Hari ini Onni yang masak. Tapi, aku nyapunya ntar sore,” jawab Kala seraya melepas sepatu dan kaus kakinya. Dia membawanya ke dalam.


“Ayo, Ya. Jangan bengong di situ.”


“Di sini kok enak,” jawab Nurmaya yang tengah mendongak.


Matanya mengedar. Mencari letak sapu dan cikrak. Keduanya teronggok di sebelah pintu bagasi. Dia mengambilnya, lalu menyapukan halaman tanpa sepengetahuan Kala.


Namun, Kala langsung berseru dari dalam. Mencegah. Dia merebut sapu itu, lalu meletakkannya di tempat semula.


“Belum solat, kan? Solat dulu, ah. Kamu jadi imamnya.”


“Nggak mau kalau jadi imamnya. Kamu yang punya rumah.”


“Kamu yang lebih pinter, Ya. Udah ayo! Disuruh masuk sama Onni.”


“Onni-mu ngapain?” Nurmaya menurut. Membiarkan tangannya ditarik Kala.


“Melukis. Pulang dari sekolah jam setengah satu tadi. Solat langsung ngerjain pesenan. Pre order max empat belas hari. Jadi harus cepet-cepet dikerjain karena kalau pas pesenan tiga gitu lumayan.” Kala mendudukkan Nurmaya di kursi sofa model lawas. Menyuruhnya agar tidak ke mana-mana.


“Katanya solat?”


“Iya, Ya, bentar. Kita makan siang dulu,” jawab Kala sembari berlalu ke dapur.


Vey berceletuk, “La, buatin telur goreng. Lauk kita tadi pagi habis. Dua aja. Aku sudah makan tadi di warung.”


“Oke.”


Kala kembali ke ruang tamu.


“Ya, salat dulu aja, ya. Aku mau bikin omelette bentar. Aku ternyata mens.”


“Oooh, iya.” Nurmaya bangkit. Mengikuti arah langkah Kala.

__ADS_1


Kala menunjuk pintu dekat wastafel. Dia menyuruh Nurmaya ke sana, memakai sandal jepit miliknya, dan menyuruh Nurmaya menyalakan tombol sanyo yang menggantung di sebelah pintu kamar mandi jika air di bak habis.


“Anggap rumah sendiri, Ya.” Vey bangkit. Bersalaman dengan Nurmaya.


“Aku Vey.”


“On-ni Vey.” Nurmaya mengeja. Meniru cara Kala memanggil.


Vey tertawa. “Nggak pantes kamu manggil gitu. Yang lain saja, Ya. Ya udah buruan salat. Baru istirahat.”


“Iya, Mbak.” Itulah panggilan terluwes bagi Nurmaya. Dia berjalan dengan sedikit menunduk menuju pintu yang menghubungkan kamar mandi.


Vey kembali fokus pada lukisannya, sedangkan Kala sedang membuat telur dadar untuk dirinya dan Nurmaya.


“Onni, telur persediaan kita tinggal lima biji. Bulan ini kita belum belanja lagi,” katanya sembari mengaduk telur bersama bumbu yang telah diiris-iris. Lalu, dia menaburkan potongan sosis.


Minyak telah panas. Kala menuangkannya setengah. Ceeesssss! Dia buru-buru mengambil spatula.


“Iya. Akhir pekan kita beli. Habis kita menghitung jumlah pemasukan dan pengeluaran kita bulan kemarin.”


Kala hanya mengacungkan jempolnya.


“Nggak ada cowok. Lepas aja gapapa,” ucap Kala. Dia kembali menuangkan telur kocok yang separuhnya.


“Eh, itu di dekat kamarku tempat salatnya. Kamarku yang ada tulisannya HKA.” Kala menunjuk.


Nurmaya mengangguk.


Sepuluh menit kemudian.


Kala sengaja tak meletakkan nasi, piring, sayur, dan lauknya di meja makan. Dia membawanya ke ruang tamu agar bisa lebih leluasa bercanda dengan Nurmaya. Nurmaya bisa jadi sungkan bicara banyak jika ada Vey. Dia yang sudah duduk manis di kursi, melambai Nurmaya yang langsung menoleh ke arah ruang tamu.


“Yaya, jangan bilang kamu masih kenyang, ya. Karena peraturannya, siapa pun yang main ke rumah harus makan.”


Nurmaya masih terdiam setelah tersenyum tipis. Menoleh ke samping kirinya melihat beberapa piala yang terpajang di sana.


“Aku boleh lihat pialamu?”


“Boleh. Itu punya Onni juga kok.” Kala mengambil nasi.

__ADS_1


Dia bangkit. Menghitung jumlah piala yang ternyata lebih dari dua puluh. Diam-diam dia mengagumi sosok teman yang begitu lama tak dia jumpa. Habibati Kala Anjani yang ternyata punya satu medali mengaji tartil, lima piala lomba tahfiz lima juz dan sepuluh juz porseni tingkat provinsi, satu piala besar hasil lomba memasak antar desa se-kabupaten tahun 2018, dua piala juara dua lomba pidato tingkat kabupaten, lima cerdas cermat tingkat kabupaten, dan dua belas sisanya adalah milik Vey.


Dulu, Vey juga amat berprestasi. Mulai dari lomba renang, panjat tebing, perkemahan, memasak bersama Kala, dan kebanyakan lomba menggambar dan melukis. Sayangnya sejak semester akhir, dia sudah berhenti mengikuti perlombaan-perlombaan. Dia fokus mengerjakan bisnisnya demi menyambung hidup.


Nurmaya tak berhenti menggumamkan kata masyaallah.


“Aku beruntung ketemu kamu hari ini, La.”


Kala menunjuk piring. Menyuruh Nurmaya supaya segera mengikuti dirinya yang sudah makan—padahal sebetulnya dia sudah makan siang di sekolah. Berat badan lima puluh lima tak membuat dirinya merasa harus mempersalahkan pola makannya yang kadang bisa empat kali dalam sehari.


“Kamu kenapa kok disuruh masak di ndalem kesepuhan?” Kala sambil mengunyah.


Nurmaya masih berdiri.


“Dua tahun terakhir Abah sepuh sakit. Ning Bulqis menantunya tak bisa memasak makanan khusus. Jadi, dulu kita dites. Aku terpilih.”


Nurmaya kembali menatap piala-piala itu.


“Kamu nggak ngajarin anak-anak desa ngaji?”


“Hehe. Nggak. Udah ada TPQ kok. Anak-anak pada kw sana. Aku juga nggak mungkin merekomendasikan diri, kan, Ya. Lagipula kalau misalnya mereka butuh, pasti akan ke sini kok. Aneh juga, kan, kalau seandainya tiba-tiba aku muncul di tengah-tengah mereka seakan-akan ingin menunjukkan diri.”


“Pasti orang-orang udah kenal kamu. Kamu pinter ngaji.”


Kala menghentikan makannya sejenak. “Ada juga yang nggak suka sama aku dan Onni. Nggak tahu kenapa. Makanya, aku dan Onni jarang muncul. Kita emang fokus sama kegiatan kita yang sudah cukup menyibukkan ini. Haduh, kalau pas lagi rame, kita bisa tidur sampek jam dua, jam setengah tiga.”


“Tapi, eman-eman Kala kalau ilmu ngaji kamu nggak ditasarufkan?”


“Diamalkan gitu maksud kamu?”


“Iya. Kamu kan bisa pegang HP tiap hari. Buka aja les privat ngaji di rumah. Pasti ada yang minat kok.”


“Iya juga. Anak-anak sekarang lebih suka ngaji privat. Les sekolah privat sekalian ngajinya. Tapi, aku harus dibacarakan dulu sama Onni.”


“Jangan lupa soal haul-nya Bu Nyai.”


Tak lama kemudian ada yang mengucap salam.


Kala terbengong sembari menjawab. Nurmaya melongokkan wajahnya. Dia mendadak khawatir.

__ADS_1


__ADS_2