Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 39 "Bakul Nasi Goreng"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🤗


"Kalau boleh tahu siapa yang membeli?"


"Maaf, Mbak. Ummu tidak tahu. Kenapa tidak bertanya langsung ke Kafil?"


"Kami belum bisa berkomunikasi."


"Menurut Ummu, mungkin keadaan dia sekarang sedang genting. Ada sesuatu yang lebih penting."


Vey teringat bagaimana sikapnya akhir-akhir ini. Jujur dia merasa bersalah. Bingung harus bagaimana. Dia pamit pulang.


Di depan rumah Kafil, dia segera menghubungi Maya.


📞"May, barusan aku tanya tetangganya Kafil, dia bilang ibunya Kafil mendadak sakit jantung. What's wrong, May? Aku nggak ngerti kenapa ini bisa terjadi." Nada Vey tak beraturan.


📞"Oke oke. Tenang dulu. Kamu sekarang di depan rumah Kafil, kan?"


📞"Iya."


📞"Aku akan datang sama Miftha. Jangan ke mana-mana. Atau, kamu cari warung atau gimana gitu, aku akan menyusul."


📞"Ke warung pinggir jalan aja."


Maya mengiyakan.


Vey menatap rumah Kafil sekali lagi. "Kaf, benarkah kamu akan menjual rumah ini? Sepahamku usaha Papamu cukup banyak. Haruskah rumah pun dijual?"


Vey berjongkok sembari bersandar di pagar. Dia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.


"Kamu akan meninggalkan Indonesia, Kaf?"


Dia menatap layar handphone sejenak. Mengirim pesan ke semua media sosial Kafil.


"Mamamu sakit apa?" Begitulah pesan singkatnya.


"Kenapa Kafil begini? Niat baiknya tidak ingin membebaniku malah bikin aku jadi kaya gini." Dia sebal.


Sejurus dia beranjak. Lalu, melenggang pergi ke arah barat. Lupa kalau Maya dan Miftha akan menemuinya.


Wussshhhh! Vey menarik gas motor dengan kecepatan tinggi. Saat ini, dia hanya ingin menuruti kata hatinya. Jika perjalanan yang seharusnya ditempuh sekitar setengah jam, dua puluh kemudian dia tiba di depan kantor papanya Kafil. Belum juga dia turun dari motor, dia sudah tercengang melihat tulisan di depan pagar.


"Ditutup? Ada apa, sih, ini? Kasus? Bangkrut? Kenapa ini, Ya Allah."


Dia segera turun. Mencari seseorang yang sekiranya bisa ditanya. Dia mendapati penjual nasi goreng di seberang jalan. Dia naik motornya lagi, menyeberang. Demi bertanya, dia pun rela antre dan pesan nasi goreng sekalian.


Handphone-nya berdering. Dia mengangkat sembari menjauh dari rombong (gerobak).

__ADS_1


📞"He, di mana kamu? Katamu di warung pinggir jalan? Pap dong! Warung yang mana?"


📞"Alihkan ke video!"


Dia mengusap ke atas layar handphone-nya.


📞"Di mana ini?"


📞"Depan kantor Papanya Kafil. Aku shareloc."


Miftha tercengang. Vey mematikan panggilan tanpa izin. Dia mengirim posisinya sekarang.


Pembeli sebelumnya sudah pergi.


"Pedes, Neng?"


"Pedes. Dua, Bang."


Vey tak membawa jaket. Malam ini cuacanya tak bersahabat. Dingin. Tak ada kelap-kelip bintang.


"Bang, kantor itu kenapa ditutup, ya?"


"Sampeyan orang ketiga yang nanya itu, Neng."


"Jadi, beritanya sudah menyebar?"


"Sepertinya begitu. Kantor sekaligus pabriknya ditutup. Katanya, ya, pabriknya sedang diinvestigasi intel dan polisi. Terus akhirnya ketahuan kalau produk yang dijual di sana tidak aman dipakai."


"Bahaya untuk kesehatan, Mbak. Ada yang bilang tadi itu karena ulah orang dalam. Tapi, yang terserat lah yo jelas sekalian direkturnya. Kasihan, Mbak. Pabrik ini masih sekitar empat tahun belum ada, tapi sudah ditutup karena ulah orang yang iri. Atau itu, Mbak...anu...orang yang iri itu ingin mengambil alih kepemimpinan."


Vey hanya bisa menangkap pernyataan demi pernyataan yang masih opini itu dengan bertubi-tubi pertanyaan.


"Tapi, kalau Papa Kafil terbukti tidak bersalah, apa pabrik masih bisa beroperasi? Tapi, kenapa harus sampai rumah pun dijual?" batinnya.


Sampai nasi gorengnya pun jadi, Maya dan Miftha belum tiba. Vey menunggu. Dia memeriksa pesan yang dikirimkannya untuk Kafil. Nihil jawaban.


"Sepertinya Kafil benar-benar ingin mengabaikan. Mamanya sakit, rumah dijual, kantor ditutup karena kasus. Akun saudaranya sudah aku follow belum, ya?"


Dia membuka insagrem. "Loh, ini kenapa kok akun Kafil nggak ada?" Dia berniat untuk mencari akun saudara Kafil lewat akun Kafil.


"Baru tadi loh. Tadi masih ada akunnya." Vey kebingungan. Semakin curiga.


"Ini yang kena masalah siapa kok Kafil ikut-ikutan kaya melarikan diri? Kalau yang bersalah bukan Papanya Kafil, kenapa harus sampai segitunya?"


Vey lupa nama akun insagrem saudara Kafil karena belum pernah mem-follow. Dia terus berburu informasi sampai lewat akun bisnis Kafil, Jan Resto. Sayangnya, tidak ada tanda-tanda. Dia menghela napas panjang.


Bermenit-menit dia termenung sampai penjual nasi goreng menyuruhnya duduk bersamanya di karpet yang sudah digelar. Tak ada pembeli.

__ADS_1


"Malam ini sepi, Neng," katanya.


"Mau hujan kayanya, Bang."


"Emang susah kalau cuacanya begini. Padahal, cocok pas dingin makan yang anget-anget."


Vey tersenyum kaku. Menatap seberang jalan. Kembali memikirkan apa yang harus dia lakukan. Jangan-jangan masih ada sesuatu yang dia lupakan seperti dia lupa menghubungi saudara Kafil sejak kemarin-kemarin.


Miftha dan Maya mendadak berhenti di depannya. Vey berjingkat. Maka, tepat setelah mereka berdua turun dari motor, rintik-rintik membasahi jalan raya. Dari bawah cahaya lampu jalan, terlihat hujan turun semakin deras.


"Kita berteduh di mana?" tanya Maya.


"Di sana ada musala, Mbak."


"Oh, iya, Bang. Makasih," balas Vey.


Vey menjadi petunjuk arah.


Pukul 19.45 WIB.


"Gimana-gimana?" Miftha bertanya lebih dulu.


Vey menceritakan semuanya dari awal sampai Miftha dan Maya benar-benar mengerti kronologis kejadiannya. Hingga mereka berdua paham betul kondisinya saat ini. Dia juga menunjukkan foto yang dia ambil tadi--potret depan kantor papanya Kaf.


"Kamu sudah menghubungi? Nyari tahu dari semua medsos keluarga Kafil?" tanya Miftha.


"Barusan sudah. Akun Kafil sepertinya dinonaktifkan semuanya. Kecuali akun bisnisnya. Akun keluarganya aku nggak pernah follow. Kemarin-kemarin aku lupa. Sekarang berhubung akun Kafil sudah nggak bisa aku detect, ya aku nggak dapat info apa-apa."


Maya menengahi kebingungan Vey. "Gini. Gini, ya, Vey. Tadi aku benar-benar memohon sama Akbar. Aku suruh dia jujur sejujur-jujurnya."


"Dia mau jujur?"


"Ya pokoknya aku maksa banget. Padahal, kita nggak deket. Dia sekarang otewe persiapan akad temennya. Awalnya dia ngaku itu akad nikah Kafil. Busyet, aku nggak percaya dong. Aku introgasi terus sampai dia mau ngaku. Dia di Malaysia jenguk ortunya Kafil. Mama Kafil sakit parah. Jantung koroner. Cuma masalahnya ada sesuatu yang gawat." Maya menjeda perkataannya dengan memandang Vey lekat-lekat.


"Kafil akan kembali ke negaranya."


Deg! Seluruh tubuh Vey mendadak lemas tak berdaya. Miftha memegang erat kedua tangannya.


"May, sumpah. Sumpaaah." Vey geleng-geleng. Dadanya menguap. Terdesak rasa sakit hebat. Dia memejam mata dan mengepalkan tangan.


"Kafil, kamu goblok, Kaf. Goblok."


"Vey, Vey, tolong kontrol emosi kamu." Miftha menahan. Berbisik.


Vey hanya menggerak-gerakkan tangannya tanpa mampu berkata.


"Sudah. Sudah. Ada kita di sini. Jangan tumbang, Vey. Please, kamu harus kuat! Aku nggak pernah lihat Vey selemah ini," bujuk Miftha.

__ADS_1


"Nggak habis pikir aja, May, Mif. Goblok banget, sih, dia."


"Masalahnya kita nggak tahu sesulit apa keadaan Kafil sekarang."


__ADS_2