
Jangan lupa berdoa. Bismillah. ๐
Malam tiba. Kala mencari kesibukan sejak magrib tadi. Selain menemani tamu, setelahnya dia ke kamar untuk membuka kado-kado yang telah dibawakan oleh Mela, Ruma, dan kerabat-kerabatnya. Dan, baru saja dia usai menemani keluarga Syarif yang datang membawakan parsel dan kado. Mereka pulang, dia kembali ke kamar. Merenungi siapa yang sudah memberikan mukena tadi.
"Mungkinkah ini dari Syarif? Tapi, emang aku kan juga ngundang dia. Pasti Kakaknya ya sudah ngasih tahu, kan, ya," batin Kala.
Deg! Pundak Kala terangkat. Dia menoleh ke samping.
"Kok kaget? Lagi ngapain?" Gus Omar pun duduk bersila.
"Kaget. Mboten ini saya hanya ..."
"Hanya apa?" Gus Omar meraih mukena di tangan Kala. Lalu, bertanya lagi, "dari?"
Kala menggeleng.
"Kok nggak tahu?"
"Dari Mela. Tapi, dia juga nggak tahu. Yang jelas ini dikasihkan ke saya. Begitu."
"Ya udah. Minta tolong dong, Dek, sisirin rambutku!"
"Hmm?" Kala sedikit terkejut.
"Oh, iya Gus Omar kan sayang banget sama rambutnya. Dua minggu sekali beliau nyalon," batinnya seraya bangkit mengambil sisir.
Gus Omar sudah menggerai rambut panjangnya.
"Sepertinya aku kok kalah rapi, ya?" Kala membatin lagi.
"Sini, Dek! Itu sisirnya sakit nggak? Punya kamu sendiri?"
"Nggeh, Gus. Tapi, ngapunten agak kotor."
"Iya wis gapapa." Gus Omar memberi isyarat agar Kala segera menyirisir rambutnya.
Dan ketika Kala mendekat, aroma rambut itu menguar cepat. Menerobos lorong hidung miliknya. Wangi sekali. Maskulin.
"Kalau boleh tahu, njenengan pakai shampoo apa?" Kala mulai menyisir. "Kalau sakit, njenengan bilang!"
"Shampoo dari salon. Nggak tahu apa."
"Njenengan tidak pernah ganti, Gus?"
"Pernah. Menurutku ini yang paling wangi. Nanti kamu juga pakai shampoo punya Mas aja."
"Haa? Mboten usah. Mboten. Saya ada kok. Saya belinya mesti rentengan. Beli sebulan sekali saya."
"Begitu?"
"Enggeh."
"Nanti tiap aku ke salon, kamu ikut saja, Dek. Aku jadwalkan spa dan perawatan rambut. Rambut kamu panjang, kan, tadi? Aku lihat ketika kamu mau masuk kamar mandi tadi."
"Duh," batin Kala.
"Kamu panjangkan rambutmu! Oke?" Gus Omar menoleh. Mencubit pipi Kala.
"Gus, saya tidak biasa ke salon. Tidak pernah malah."
Gus Omar hanya diam. Karenanya, Kala tak melanjutkan kalimat.
Beberapa menit Kala menyisir, lalu menguncir dengan sangat hati-hati. Ini pengalaman pertamanya menyentuh rambut laki-laki dan langsung diminta menyisirkannya. Dia hanya sungkan dan khawatir Gus Omar tidak puas dengan caranya melayani.
"Sampun (sudah)." Kala mengamatinya di cermin.
"Oke sip."
__ADS_1
"Ngapunten tidak rapi."
"Nggak apa-apa."
Gus Omar membalikkan posisi duduk. Mendudukkan Kala di kedua pahanya tanpa aba-aba. "Kamu sudah capek?"
"Duh." Kala menyeringai.
"Sudah capek?"
"Belum kok." Kala sungguh tidak merasa nyaman. Niat hati ingin beranjak. Khawatir ada orang yang tiba-tiba muncul di seberang pintu.
"Kemungkinan tamunya masih banyak." Gus Omar melingkarkan kedua tangan ke pinggang Kala. Sampai antara kedua tangannya dan Kala saling bertautan.
"Kalau belum, coba ikutin kataku!"
Kala mengangguk.
Sebelumnya Gus Omar meminta Kala duduk di tepi ranjang. Menyuruh menengadahkan tangan.
^^^"ุงูููููฐููู ูู ุจูุงุฑููู ูููู ูููู ุฃููููููู"^^^
Kala menirukan.
^^^"ููุจูุงุฑููู ููููู ู ููููู"^^^
Kala menirukan lagi.
^^^"ููุงุฑูุฒููููููู ู ูููููู ู ููุงุฑูุฒูููููู ู ู ููููู"^^^
Kala menirukan, tapi ada satu harakat yang keliru. Lantas, dibetulkan.
^^^"ุงูููููฐููู ูู ุงุฌูู ูุนู ุจูููููููุง ู ูุง ุฌูู ูุนูุชู ุฅูููู ุฎูููุฑู "^^^
Karena kepanjangan, Kala keliru menirukan. Lalu, Gus Omar memotong diktenya.
Kala mengikuti.
^^^"ุฅูุฐูุง ููุฑููููุชู ุฅูููู ุฎูููุฑู"^^^
Gus Omar mengusapkan telapak tangan ke wajah. Kala mengikuti.
^^^"Doa tadi lengkapnya begini. ุงูููููฐููู ูู ุจูุงุฑููู ูููู ูููู ุฃููููููู ููุงุฑูุฒููููููู ู ูููููู ู ููุงุฑูุฒูููููู ู ู ููููู. ุงูููููฐููู ูู ุงุฌูู ูุนู ุจูููููููุง ู ูุง ุฌูู ูุนูุชู ุฅูููู ุฎูููุฑู ููููุฑูููู ุจูููููููุง ุฅูุฐูุง ููุฑููููุชู ุฅูููู^^^
^^^ุฎูููุฑู. Itu doa meminta keberkahan dalam rumah tangga."^^^
"Ya Allah, walaupun sampai di titik kami sudah menjadi suami istri, dan aku belum bisa leluasa kepadanya, semoga dia bisa memahamiku. Aku akan sedikit demi sedikit belajar menjadi istri seperti yang diharapkannya. Semoga aku mampu," batin Kala saat mengusap wajah.
"Kalau sudah capek, mending kamu istirahat. Biar aku yang ke depan."
"Belum kok, Mas. Nanti saya dicariin."
Gus Omar bangkit. "Nanti jamaah isya kita jamaah di kamar aja."
"Enggeh, Mas."
Gus Omar tersenyum.
Kala merebah. Tersenyum sendiri. "Emang bener juga kata Ruma. Gus Omar emang cakep. Pantesan Nurmaya juga suka." Sudut bibirnya otomatis tertarik ketika lagi-lagi wajah semringah itu membayangi.
Setengah jam kemudian.
"Dek?" Gus Omar memanggil dari luar.
"Deeek?" Melongok di bingkai pintu.
"Loh?" Dia mendapati Kala sudah tertidur pulas. Miring ke kanan menghadap pintu.
__ADS_1
"Ketiduran apa gimana." Mendekat.
Meski Gus Omar berniat membangunkan, akhirnya dia mengurungkan. Sempat memagut sekali. Lalu, menyelimuti dan memagut lagi.
"Barakallah, Istriku," bisiknya.
Kala terbangun dalam posisi yang masih sama. Mengerjap-ngerjap, lalu menoleh. "Loh kok?" Sejurus menoleh ke arah jam dinding.
"Kukira masih jam sepuluh, udah jam empat ternyata." Dia mengusap wajah. Enggan bangkit. Dia hanya fokus melihat Gus Omar sudah terpekur di atas sajadah sembari menghitung bilangan zikir menggunakan tasbihnya. Dia membiarkan Gus Omar tetap khusyuk hingga dirinya tertidur kembali.
Azan subuh membangunkan. Tak hanya lantunan azan, Kala mendengar lirih Gus Omar membaca Alquran. Gus Omar menoleh kepadanya.
"Bangun terus mandi! Habis ini kita jalan-jalan pagi. Biar seger."
"Kok ..."
Gus Omar menutup Alqurannya. Bangkit. "Aku sengaja nggak membangunkan kamu."
Kala berusaha duduk. "Kenapa?"
"Kamu haid."
Kontan Kala membelalak. "Kok bisa tahu? Jangan-jangan ..." Dia menggigit bibir.
"Mandi. Spreinya biar aku yang mengganti."
"Ngapunten, memangnya kotor kena apa, Mas?"
"Itu coba kamu lihat!"
Kala menggeser duduk. Mencari di mana najisnya. Seketika dia meringis sekaligus malu. Menutupi najis itu dengan selimut.
"Aku bocor. Malu-maluin," batinnya. "Tapi, huffftttt. Agak lega. Tapi, kayaknya aku lagi nyeri haid ini. Tumben agak sakit. Biasanya nggak terlalu," batinnya.
Ketimbang membiarkan Gus Omar yang membereskannya, Kala bergegas mengambil sprei baru dari lemari kecil di sudut kamar.
"Biar aku yang mengganti."
"Mboten. Saya aja."
Gus Omar tak memaksa.
Kala hanya tidak merasa enak hati.
"Njenengan salat aja."
"Ya udah. Aku salat, kamu mandi. Aku bawa body spray di koper kalau kamu mau."
"Kan parfum laki-laki?"
"Cocok aja di perempuan. Wanginya seger itu." Gus Omar mengambilkan, lalu menyuruh Kala membawanya ke kamar mandi.
Kala menggotong bed cover-nya ke kamar mandi. Dia menahan nyeri perutnya. Sesekali meringis.
"La?"
"Onni?"
Vey memperhatikan sejenak.
"Ngapain jalanmu begitu?"
"Eh, enggak. Ini aku lagi nyeri haid. Lumayan kerasa."
"Ow. Onni mau ke kamar mandi?"
"Enggak. Mau nyuci baju."
__ADS_1
"Bentar lagi aku nggak tinggal lagi di sini. Apa aku minta tolong Mela sama Ruma aja, ya?" Kala berjalan ke kamar mandi.