Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 90 "Doa Suami"


__ADS_3

Gus Omar masih terdiam. Lalu, beranjak mengambil handuk.


Deg! Debar itu semakin merajalela. Kala langsung meradu ke bawah selimut setelah pintu kamar mandi tertutup rapat.


"Iiiiih, ngapain sih aku tadi. Ngapain juga aku begini. Heran aku. Aduuuuuh." Dia bergumam di bawah selimut.


"Mana badanku getar semua. Oh, tidaaaaak. Tapi, aku harus tenang. Rileks. Rileks, Kala. Satu ... dua ... tiga. Huuufffft. Huffffft." Dia menghirup dan melepaskan napas berkali-kali. Sampai yang kelima dia baru merasakan tenang. Namun, ketika suara kran itu mati. Jantungnya kembali berpacu. Dia beranjak dari ranjang dan langsung bersembunyi di kolong tempat tidur.


"Aman aman. Di sini pasti aman."


Pintu kamar mandi dibuka. Wangi body spray yang sama menguar begitu kuat. Menindih bau ruangan ber-AC. Kala baru menyadari kalau dirinya pun sudah menyemprotkan terlalu banyak.


"Pasti strong banget baunya. Haduuuuh," batinnya.


Di kolong, Kala hanya mendengar suara langkah-langkah lirih. Entah sedang apa Gus Omar sekarang. Dia berpikir sekaligus berharap Gus Omar tidak akan menemukannya. Sejurus dia menyadari. Bukankah bersikap seperti itu justru bertambah kekanak-kanakan? Telanjur. Dia meringkukkan tubuhnya.


Gelap. Lengannya digigit nyamuk. Garuk-garuk. Meringis.


"Iiiiih. Nyamuk ngapain kamu." Dia menepuk lengannya. Tak sadar suaranya telah menyadarkan seseorang.


Bergeming. Sunyi. Kala mengira Gus Omar sedang di luar kamar. Dia mencoba memeriksa. Menyingkap seprei tempat tidur yang menjuntai ke lantai.


Dan ...


"Hwaaaaaaa."


Deg! Jantung Kala melompat seketika. Gerak tubuhnya mundur dengan cepat.


"Ngapain di sini?"


Kala menggeleng sembari meringis.


"Pengen yang gelap-gelap, ya?"


Kala menggeleng.


Gus Omar justru kemudian ikut masuk. Merebah di bawah kolong.


"Di atas, Gus. Ampun (jangan) di bawah. Banyak nyamuknya."


"Digigit?"


"Enggeh."


"Nyamuk kurang ajar sekali berani gigit kamu. Aku aja belum dibolehin gigit kok. Mana nyamuknya? Mana mana?"


Kala tersenyum simpul. Tersipu. Hilang berkata-kata.


"Kalau kamu pengennya tidur di sini, aku ikut."


"Eh, mboten. Tidurnya di atas saja."


"Gelap-gelapan enak kayaknya."


Sampai keesokan harinya mereka pada akhirnya benar-benar tidur di kolong tempat tidur tanpa penerangan. Dan sepanjang lelap itu mereka saling memberikan kehangatan. Bertukar tatap, napas, dan degup jantung yang tak perlu ditafsirkan kembali.


Terbangunlah mereka. Lalu, berpindah tempat. Kala mengambil air di gelas sebab tiba-tiba kehausan. Gus Omar pun berganti mengambil gelas itu saat setelah diletakkan di meja. Dia mencari bekas bibir yang telah tertinggal. Bahkan, tak enggan untuk menukarkan salivanya di sana.


"Kenapa ngajak di atas hmmm?" Gus Omar meminta Kala agar lebih mendekat padanya.


"Di bawah banyak nyamuk."


"Kan aku nyamuknya. Yang gigitin kamu semalaman."


Kala refleks tertawa lirih.

__ADS_1


"Pengen salat atau balik tidur?"


"Njenengan?"


"Ngikut kamu aja."


"Saya yang ikut."


"Bener?"


"Enggeh."


"Aku pengennya itu."


Kala mengernyit. "Apa?"


"Itu."


"Apa lo?"


"Itu. Masak nggak ngerti?"


Kala menggeleng sembari menerka.


"Itu, Dek."


"Apa, sih?" batinnya kemudian.


"Apa, Gus? Coba njenengan bilang yang jelas."


Gus Omar justru tersenyum. Menggeleng.


"Ya udah kita tidur lagi."


"Allahummaj'allaki zaujatas salihah. Jadilah kamu perempuan hebat, Istriku." Gus Omar menyibakkan anakan rambut yang berserakan di wajah dan di leher Kala. Lalu, memagut kemerahannya agak lama.


Usai Kala benar-benar terlelap, Gus Omar pun bangkit. Mengulangi wudu, lalu menggelar sajadah. Lama gerak tangannya berputar-putar mengendalikan butiran tasbih. Hampir satu jam dia terduduk, khidmat terpekur. Memanjatkan kembali doa-doa lama dan mensyukuri nikmat Yang Mahakuasa. Lantas mengusap wajah, lalu mendekati Kala. Dia kembali membersamai dalam peraduan. Tak lupa meniupkan doa-doa di ubun-ubun Kala. Mengecup kedua mata, kedua pipi, dan hidung dengan bergantian. Menyelanya dengan doa-doa yang diajarkan.


Mengecup mata kiri dengan memulainya dari yang sebelah kanan seraya berdoa dalam hati, allahumma innaa fatahnaa laka fathammbiiinaa.


اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ


Lalu, kedua pipi bergantian dari sebelah kanan. Sambil membaca dalam batin, Ya Kariimu Ya Rahmaanu Ya Rahiimu Ya Allah.


Kemudian, mengecup hidung dan berdoa, farauhuw waraihaanuw wa jannatu na'iim.


فَرَوْحٌ وَّرَيْحَانٌ ەۙ وَّجَنَّتُ نَعِيْمٍ


Lantas Gus Omar menambahkan kecupan pada yang ngolan-olan yang berdasarkan konon katanya itu menandakan leher milik perempuan yang romantis, ceria, dan baik hati. Dia pun berdoa, allahu nuurun samaawati wal ardl.


اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ


Terakhir, dia menambahkan pagutannya ke arah dagu dengan berdoa, nuuru habiibil iimaan min 'ibaadikash shalihiin.


نُوْرُ حَبِيْبِ الإِيْمَانِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ


Sejurus kemudian Kala menggeliat pelan. Menghela napas panjang. Gus Omar tersenyum melihat perubahan wajah itu yang menjadi lucu.


"Aku akan berusaha membuatmu bangga karena menikah denganku, Cah Manis. Itu janjiku pada Tuhanku. Tidurlah dengan baik. Nanti bangunlah dalam keadaan sehat lahir dan batinmu," batinnya. Lantas memeluk dengan erat.


Gus Omar pun menyusul tidur.


Namun, Kala yang kemudian bangun terlebih dahulu. Dia tak lekas membangunkan sebab melihat lelap Gus Omar yang sangat pulas dengan dengkuran lirih. Lima belas menit sebelum habis waktu subuh, setelah dia menyiapkan baju, celana, dan minyak wangi, dia menyentuh pipi Gus Omar.


"Mas, monggo bangun dulu. Subuhnya sudah mau habis. Ayo!"

__ADS_1


Mata itu pun kontan terjaga. Seperti orang yang terkejut.


"Subuhnya mau habis."


"Kamu makan subuhnya?"


Kala tertawa lirih. "Duh, Ya Allah. Ayo bangun dulu!" Dia menawarkan kedua tangannya untuk mengulurkan bantuan.


"Mana pipi?"


Kala menyisihkan rambutnya di balik telinga. Memasang pipi kanan.


"Satunya?"


Lantas memasang pipi kiri.


"Itu yang merah?"


Kala memejamkan mata.


"Sudah. Oke kalau begini jadi semangat empat lima."


Kala pun membatin, "Seriusan, ya, Gus Omar itu udah empat puluh tahun? Beneran kaya masih dua lima. Jiwa muda banget."


Pagi yang sama. Suasananya masih menggembirakan seperti hari kemarin. Mereka memulai pagi dengan sarapan di atas balkon. Menikmati sebaran pemandangan dari ketinggian.


"Agak adem, ya, Mas."


"Aku enggak."


"Njenengan gitu belum mandi. Padahal sudah saya siapkan baju dan semuanya."


"Sudah. Tadi sudah mandi sewaktu kamu masih ngorok."


"Saya tidur mboten ngorok kok."


"Yakin?"


"Enggeh lo. Saya tidur nggak ngorok, Gus."


"Iya iya."


"Tapi masak njenengan beneran sudah mandi tadi?"


"Sudah."


"Ooowww."


"Tapi bohong." Gus Omar melepaskan senyumannya.


"Iiih, njenengan nakal."


"Kamu yang nakal."


"Njenengan."


"Kamu, Dek."


"Njenengan. Pokoknya njenengan."


"Ya sudah kita sama-sama nakal."


"Hehe." Kala menggigit sendok sembari meringis.


Nb: doa termaktub dalam kitab Fathul Izzar karya Abdullah Fauzi.

__ADS_1


__ADS_2