
Jangan lupa berdoa. Bismillah.. ☺
Vey memeriksa handphone-nya yang bergetar. Pesan masuk.
“Pulang jam berapa?”
^^^“Malem banget. Untungnya besok aku cuma ngajar 2 jp, Kaf . Aku berangkat.”^^^
^^^“Eh, katanya kamu ada acara juga malam ini?”^^^
“Hanya makan malam doang. Kamu hati-hati. Nitip doa.”
^^^“Doa apa?”^^^
“Biar kita berjodoh, Na.”
^^^“Halah. Kata-katamu basi.”^^^
“Bye. Assalamualaikum?”
^^^“Waalaikumussalam.”^^^
Lima menit kemudian. Handphone Vey sudah masuk tas. Dia tak membaca pesan yang masuk setelah itu.
Vey dan Kala berangkat setelah selesai membersihkan rumah, memasak, dan menyelesaikan satu sketsa yang besok harus dikirim ke Magelang. Seperti biasanya, Vey menyuruh Kala membonceng saat perjalanan berangkat. Sedangkan, Vey lebih suka membonceng saat perjalanan pulangnya nanti. Berangkatlah mereka saat jarum panjang menunjuk angka empat.
Suara sound system-nya menggelegar, menyambut dari kejauhan. Dari jarak setengah kilo, ada santri-santri putra berpakaian serba putih sedang berjaga-jaga. Mengarahkan semua jamaah agar memarkir kendaraan di tempat yang sudah disediakan. Kala mengikuti para pengendara motor yang berbelok ke arah selatan, sedangkan mobil, truk, dan elf belok ke utara.
Motor berderet-deret memenuhi kelengangan jalan raya. Menuju tempat parkir yang cukup luas. Cukuplah untuk menampung sekitar dua ratus motor. Kabarnya, tempat itu masih bagian dari wilayah pondok yang nantinya akan dibangun penginapan dan resto. Diperuntukkan kepada para wali santri dan para peziarah yang singgah ke makam bu nyai sepuh. Kala dan Vey sempat mendengarkan celoteh emak-emak yang baru saja turun dari motor, parkir di sebelahnya.
“Kita kok nggak pakek putih-putih, La?” Vey memadankan model dan warna pakaiannya dengan yang dipakai emak-emak di sampingnya. Dia yang sekarang memakai celana komprang dan tunik longgar ukuran L—pakaian satu stel warna grey. Ditambah pasmina hitam yang hanya disampirkan di pundak kanan kiri—seperti kebiasaannya.
“Nggak papa, Onni. Aku malah gamisan item gini.” Kala justru memakai pakaian serba hitam dan kerudung instan ukuran XL warna abu-abu cenderung hitam.
Mereka berdua pun membuntut emak-emak yang berjalan mendahului. Tepat di samping para santri pondok putra, Kala teringat sesuatu. Dengan gelagat sungkan, dia meminta tolong kepada salah satu santri untuk memberitahukan kedatangannya pada Nurmaya.
__ADS_1
“Nurmaya atau Yaya abdi ndalem kesepuhan.”
“Ya, Mbak. Siap. Aku sampaikan.”
“Satu lati sebentar...enaknya ambil posisi di mana, ya, supaya Mbak Yaya bisa gampang ketemunya. Ini jamaahnya banyak sekali. Punten merepotkan.”
“Coba aku antarkan! Ayo ikut aku, Mbak. Mari!”
Vey dan Kala menurut saja. Pasrah akan dibawa ke mana. Kala hanya khawatir jika nanti Nurmaya kesulitan menemukannya. Sedangkan, siang itu dia sudah berkata akan merayakan haul bersamanya.
Mereka berdua berjalan melewati trotoar. Terus mengekori langkah cepat santri putra itu. Saat belok ke halaman pesantren, halaman benar-benar telah dipenuhi oleh ratusan jamaah dari berbagai kota dan provinsi. Santri putra itu sempat bingung akan mengarahkan mereka ke mana. Berkali-kali dia memutarkan pandangan. Melongok lebih jauh, barangkali di depan masih ada tempat. Karena, kebiasaan jamaah yang lebih suka menempati bagian belakang dan membiarkan depan kosong.
Santri itu menoleh ke belakang. Menunjuk depan rumah kayu. “Itu ndalem kesepuhan. Ada terpal yang masih kosong. Kalian enak jika ingin bertemu Mbak Yaya. Masih muat untuk enam jamaah itu. Mari ke sana!”
Mereka berdua diajak melipir ke pinggir. Menginjaki sandal-sandal para jamaah yang berantakan. Menyibak ranting-ranting pohon mangga yang melengkung landai.
“Silakan sajadahnya digelar di sini. Aku panggilkan Mbak Yaya.”
“Terima kasih.”
“Ada untungnya kamu ketemu sama Yaya.”
“Onni, aku nderes bentar. Sambil nunggu Yaya datang.” Kala mengeluarkan Alquran kecilnya.
Vey mengambil smartphone-nya. Bermain ficibook dan insagrem sebentar. Memposting hasil karya dan hasil pesanannya yang baru ke dua media sosial itu.
“Kalau nikah biaya enam juta cukup kali, ya, kalau dibikin sesederhana mungkin. Paling murah kalau akadnya di KUA. Tapi, kok nikah di KUA. Hmm...harus siap budget tujuh juta ini. Kurang, deh, kayakhya,” batinnya.
Vey membuka aplikasi pencatat keuangan. Memeriksa kembali hasil kalkukasi bulan ini.
“Pengeluaran bulan ini hampir empat juga sekalian sama uang sekolah Kala, listrik, dan air, sama semuanya. Uang gaji udah kalap buat beli kebutuhan rumah, terus pendapatan bersih bulan ini cuma sejuta delapan ratus. Oke gapapa. Masuk saldo. Tabungan nikahku udah cukup sih. Tapi, biaya kuliah Kala bentar lagi bakalan banyak. Empat juta lebih. Mm...moga-moga bulan depan makin rame pesenannya. Semoga juga sehat terus. Biar bisa kerja terus.”
Capek memang. Vey menampung berapa pun jumlah pesanan. Hanya saja yang tertulis di caption postingannya, pre order selambat-lambatnya sampai tiga belas hari—khusus untuk lukisan. Lettering dan sketsa pre oder hingga lima hari. Sedangkan, mahar, hampers, buket bisa langsung dikerjakan.
Vey kembali memposting iklan baru. Sekarang sedang musimnya pernikahan. Dia membuka diskon up to 25 persen selama bulan Oktober dan November. Harapannya agar semakin banyak pembeli. Saat ini followers insagremnya sudah lebih dari 100k, sedangkan jumlah likers-nya masuk angka tiga ribu. Sebanding dengan usahanya merajut usaha ini bertahun-tahun lalu. Terbersit keinginan untuk membeli kamera DSLR. Sebetulnya lumayan kalau hasil karyanya terlihat lebih menawan di foto. Sayangnya kamera itu terlalu mahal.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Yaya muncul dari depan mengagetkan Vey dan Kala yang tengah sibuk.
“Heh, dari mana kamu tadi?”
“Dari pintu samping.”
“Aman nggak kamu di sini? Dicariin nggak?”
“Udah banyak yang pegang urusan dapur. Tukang masaknya juga ada. Sebentar aku mau mandi bentar aja. Masih bauk.”
Kala memerhatikan wajah lusut Nurmaya. Juga peluhnya yang lelan-pelan meluncur ke pipi. Dia mengangguk kemudian.
Nurmaya kembali saat tiba-tiba ada puluhan jamaah datang bersamaan memenuhi tempat kosong paling belakang—di luar juga sudah penuh. Kali ini, dia memakai tunik putih sepenjang betis garis-garis abu-abu dengan bawahan sarung batik madura.
“Aku pengen nyoba sarungan, tapi nggak bisa, Ya.” Kala urung melepaskan pandangannya dari fashion Nurmaya yang menurutnya begitu anggun.
“Ini sarung bahan primisima. Lebih enak, tapi nggak selemes kalau pas kita pakai gloyor.”
“Dimulai jam berapa?” tanya Vey.
Nurmaya membalas tatap. “Kira-kira jam lima, Mbak.”
“Loh, kalian kok nggak bawa apa-apa?”
“Ya cuma butuh mukena, kan?”
“Itu makanan. Bentar kalau gitu.” Dia bangkit ke arah ndalem kesepuhan.
Kurang dari sepuluh menit dia kembali. Membawa dua kotak sterofoam dan dua gelas air mineral.
Dia memberikannya pada Kala dan Vey. “Harusnya kalian dapat ini di depan.”
Mereka bertiga bergeming sebentar. Mengisi kediaman dengan memandang ke sembarang arah. Pandangan Vey hanya menyapu sebentar ke arah panggung, lalu kembali fokus ke layar handphone-nya. Kala termangu, melamatkan pandangannya ke pintu utama ndalem yang hanya terlihat dari samping—teringat pertemuannya dengan Abimana. Dan, Nurmaya melantukan bait-bait Fatihah dan doa untuk almaghfurllah bu nyai.
Kala dan Nurmaya menoleh, menatap bersamaan. Nurmaya memulai kata, “Kemarin Gus Omar nanyain kamu.”
__ADS_1
“Kenapa ditanyain?” Nadanya biasa.