Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 97 "Pertanyaan Niar"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah.


Terima kasih sudah setia membaca. Sudah sabar. Sudah ikhlas baca kisah ini. Insyaallah tidak lama lagi EMAS DAN BERLIAN akan tamat. 🙏🙏 Terima kasih sudah mendoakan kesehatan dan kesuksesan saya.


🌷🌷🌷🌷


"Paman, please jangan diulangi lagi. Aku ngerti umurku sudah tua. Kelewat dewasa. Aku juga ngerti dan paham sudah ada beberapa pria yang Paman tawari, tapi mereka maunya yang muda. Paman mau mengulangi semua perkataan itu? Yang suuuudah berulang kali aku dengarkan."


"Lalu, Paman harus bagaimana lagi?" Suara Paman Gani menegaskan.


"Ya Paman tidak perlu menjodohkan aku dengan siapa-siapa lagi. Jujur aku malu Paman. Seperti barang yang tidak laku. Setiap ada yang Paman tawari, ujung-ujungnya mereka tidak mau. Alasannya beragam. Dari yang paling sering aku dengar, mereka tidak mau tinggal di sini karena mereka laki-laki. Yang jauh lebih berhak. Terus, mereka minder karena finansialku lebih mapan. Paman, maaf, ini bukan jaman ibu kita kartini. Aku bosen mendengar alasan itu-itu melulu." Vey kehabisan kata-kata.


Budhe Atun menyentuh pundak kanan Vey, berkata, "Nana, Budhe dan Paman hanya khawatir."


"Makasih, Budhe. Makasih banget. Vey butuh waktu."


"Sampai kapan kamu ingin nyendiri?"


"Sampai aku benar-benar siap. Kalau perlu, Paman harus memastikan dulu kalau dia siap menerima aku dan tinggal di sini. Karena Paman sendiri juga tahu banget, aku tidak mungkin meninggalkan rumah wasiat Papa dan Mama. Selamanya aku nggak ingin pernah melakukan itu."


"Na, dulu kamu ..."


"Itu dulu, Budhe. Beda dengan sekarang. Menempati rumah itu sudah jadi kewajibanku sepenuhnya. Aku pulang, Paman. Maaf sudah terlalu kekanak-kanakan. Maaf."


Sembari menahan gemetar di bibir, Vey beringsut pergi. Lantas membiarkan getarnya semakin hebat ketika air matanya berhasil lolos. Hanya beberapa detik, lalu dia mengusapnya seketika.


"Usia tiga satu bukan cuma untuk tangis-tangisan aja," gumamnya menegarkan diri.


"Mbak Na?" panggil seseorang yang seketika bangkit setelah melihatnya mendekat.


"Tumben bisa ke sini?"


"Itu ada Mas di mobil, Mbak."


"Nggak diajak ke sini sekalian?"


"Nggak mau katanya."


"Kenapa?"


"Nggak tahu tuh. Sudah aku ajak kok."


"Ya udah masuk aja. Lagi nggak repot ini."


"Tadinya aku kira Mbak Nana nggak ada di rumah lo. Mbak Nana tumben nggak masuk sekolah?"


"Izin aku. Masuk dulu!" Vey mendahului langkah.

__ADS_1


"Gimana-gimana? Ada sesuatu?" Vey menyilangkan kakinya.


Niar mengulum bibir. Menggeleng.


"Aku emang hanya pengen mampir. Awalnya mau ngetes Mas Abi kirain mau mampir. Tapi, enggak."


"Dia dan Nurmaya kira-kira gimana?"


"Mas Abi tidak akan menikah lagi sebelum Mbak Yaya nikah."


"Kenapa mereka nggak balikan aja?"


"Kurang tahu, sih, Mbak. Tapi, kalau aku pikir-pikir, itu bisa karena Mas Abi memang pengen ngasih space. Lebih dari itu Mas Abi pengen membiarkan Mbak Yaya hidup bahagia. Ada kemungkinannya begitu, kan, ya?"


"Bisa jadi."


"Betewe Mbak Na sakit? Kok mukanya kaya sayu lebih ke pucet gitu, Mbak?"


"Iya ini agak nggak enak badan. Aku izin nggak masuk tiga hari. Itung-itung rehat." Vey tertawa kecil.


"Iya, Mbak. Lagian Mbak Na sibuk terus juga. Sakitnya jadi berkah. Sakit biasa atau ada keluhan?"


"Kemarin periksa katanya gejala tipes."


"Ya Allah, Mbak. Mbak Na itu, kan, tinggal sendirian. Kalau pas siang sampai sore begini bener ada temennya. Tapi pas malem gimana? Istirahat lo, Mbak Na. Pengen banget bisa nginep di sini. Tapi, nggak mungkin lagi kayaknya."


"It's oke. Aku sudah biasa begini. Aku juga jarang sakit kok. Doain aja aku biar cepat sembuh. Mungkin ini pas lagi dalam keadaan dropnya lumayan. Untungnya nggak sampai rawat inap."


"Ya bolehlah."


"Seandainya suatu saat hari nanti Mas Abi ada keinginan untuk melamar Mbak Na gimana? Entah tahun berapa."


"Emang mungkin?"


Niar meringis. "Hehe. Enggak tahu, sih. Karena balik dengan Mbak Yaya, kemungkinannya tipis. Berdasarkan penerawanganku, Mas Abi itu sebetulnya hatinya lagi kesepian. Makanya, hari-harinya itu kelihatan kaya sendu. Walaupun aktifitasnya sudah biasa ngobrol dengan tetangga, ngajarin anak-anak les."


"Aku juga nggak tahu, Niar."


"Kalau iya dan Mbak Na tidak merasa gimana-gimana, aku pengen ikut usaha dikit-dikit ngasih rangsangan ke Mas Abi. Aku pancing-pancing gitu. Ini nggak maksud apa-apa, Mbak. Jauh perasaanku mengatakan, aku sayang sama Mbak Na. Aku merasa nyaman dan deket banget. Aku percaya Mbak Na orang yang bener-bener baik. Di mataku, Mbak Na perfect."


"Aku belum bisa ngasih jawaban."


"Gitu, ya, Mbak?"


"Aku lagi butuh space. Nggak ingin memikirkan urusan nikah dulu, Niar." Vey teringat apa yang baru saja terjadi. Penolakan-penolakan yang sudah dia terima.


"Maaf, ya, Mbak."

__ADS_1


"Iya gapapa kok. Kamu, kan, juga cuma mengusahakan yang terbaik untuk Mas Abi. Kamu bener. Nggak salah sebagai adik yang peduli dengan kakaknya. Aku sendiri sudah lebih kaya pasrah juga. Supaya aku lebih fokus dengan apa yang aku jalani sekarang."


Niar terlihat hanya mengulum bibirnya. Tak ada kalimat yang bisa diutarakannya. Antara kasihan, bingung, dan menyetujui keputusan Vey.


Vey meringis. Menyentuh perutnya.


"Mbak, are you okey?"


"Ini kok tiba-tiba perutku sakit banget banget." Suara Vey terbata-bata.


"Mbak, Mbak?" Niar mulai kegupuhan. Dia mendekat.


"Aku bantu ke kamar, Mbak. Ayo!"


Saat Vey hendak beranjak, kontan dia terduduk kembali. Dia menggeleng.


"Sakit banget, ya?"


"Tadinya enggak." Kini suaranya mulai seperti orang sesak napas.


"Aku minta Mas Jamal ke sini, ya. Kita periksa."


"Coba kamu ke rumah Budheku aja. Rumahnya belakang sana. Pagar putih tembok cream. Depan rumah ada rambatan suruh." Vey menunjuk.


Niar keluar terburu-buru.


Dua partner kerjanya datang menghampiri. "Kenapa, Mbak?"


"Perutku sakit banget. Pengen muntah."


Dua perempuan itu membantu Vey keluar rumah.


Vey pun memuntahkan isi perutnya dua kali. Lalu, dibantu duduk.


Terdengar suara Budhe Atun dan Niar yang sama-sama kegupuhan. Suaranya mendekat.


"Biyuh, lha ini malah muntah. Pamanku gak ada, Na. Piye ini periksa pakai kendaraan siapa?"


"Manggil mantri ke sini, Dhe. Pak Pramono biasanya ke rumah orang-orang, kan?" kata Vey lemas. Lalu, muntah lagi.


"Dhe Tun, tadi aku ke sini sama Mas. Pakai mobil. Mobilnya insyaallah muat kalau memang Mbak Na harus diperiksakan, pakai mobil Mas saja bagaimana?"


"Ya bisa bisa. Ini soale Paman Gani belum pulang. Tidak ada kendaraan. Maaf lo Budhe merepotkan."


"Kalau begitu kita bantu Mbak Na."


"Mobilnya suruh masuk aja," ujar Vey kemudian.

__ADS_1


"Oh iya." Niar mengeluarkan ponselnya, lalu meminta Jamal ke halaman rumah Vey.


Tak lama kemudian Jamal keluar, tapi tidak dengan Abimana yang hanya menyaksikan dari dalam mobil. Dia tampak menghentikan aktivitasnya membaca kitab di handphone.


__ADS_2