
Lagi-lagi Abimana teringat percakapan di malam itu. Dilematis. Kini dia menyadari bahwa dirinya tengah dihadapkan dengan dua perempuan yang sama-sama tersakiti. Lebih sakit mana, menjadi Nurmaya yang harus menyaksikan pernikahan sahabat dengan orang yang dicintai atau menjadi Vey yang ditinggalkan secara sepihak setelah bertahun-tahun menjalin hubungan? Untuk mengukur kedalaman sakit itu, sebagai seorang laki-laki dirinya tak akan mampu menyelaminya.
"Sepurane. Bukan apa-apa. Kemarin aku ngomong dengan Nurmaya langsung. Dia mau menerima tawaranku."
"Kok bisa, Gus?" Jelas Abimana cukup kaget mendengar itu. Dia tahu persis bahwa Nurmaya hanya mencintai satu laki-laki yaitu Gus Omar. Untuk membuat Gus Omar mengerti, sayang sekali dia tidak akan mungkin memberitahukan perihal itu. Dia sudah berjanji sesuai permintaan Nurmaya.
"Nurmaya, kan, orangnya manut. Dia gadis baik. Tidak ada salahnya kalau memang Nana tidak bisa saguh apa-apa ke kamu, kamu bisa mencoba taarufan dengan dia."
"Apa njenengan dhawuh (berkata) akan mengenalkannya dengan saya?"
"Iya. Dengan catatan kamu memang mau menerima dirinya apa adanya. Nurmaya pemalu. Menurutku, wajar dia ngomong kaya gitu."
"Sebaiknya saya bicara langsung dengan Nurmaya, Gus. Saya penasaran."
"Ya, oke. Silakan kalian ngobrol. Masalah nanti penyampaiannya dengan orang tua Nurmaya gampang. Aku harap kamu pertimbangkan ini baik-baik, Kang.
"Gus, ngapunten saya tidak bisa janji."
"Lagipula, sepertinya Nana tidak menyukai kamu. Emang bukan masalah. Tapi jika dia belum juga memberikan kepastian, kamu pertimbangkan tawaranku ini."
"Enggeh, Gus."
Malam itu juga Abimana mencari cara agar bisa menyampaikan pesan kepada Nurmaya. Karena dengan mengirim surat tidak terlalu memungkinkan, dia memilih menghubungi Nurmaya lewat telepon pondok putra. Beralasan ingin menyampaikan pesan dari Gus Omar.
📞"Ya, ini kamu bukan?"
📞"Ada apa, Kang?"
📞"Aku perlu bicara serius dengan kamu."
Seperti biasa Nurmaya akan mengeluarkan suara khasnya yang lembut.
📞"Soal apa, ya, Kang?" Nurmaya pun berbisik. "Ini saya ditunggu muraqibah."
📞"Besok ketemuan di warung Pak Joyo."
📞"Tapi, Kang? Itu rame."
📞"Nggak apa-apa."
Percakapan itu berlangsung cepat. Tidak memungkinkan diperpanjang. Yang jelas Abimana tahu apa yang harus dilakukannya supaya Nurmaya tidak sampai mendapatkan hukuman. Lagipula Gus Omar sudah memberinya izin berbicara langsung dengan Nurmaya.
***
Demi bertemu Abimana, Nurmaya berusaha sebisanya untuk menyelinap keluar. Bagi seorang abdi ndalem memang tidak akan sulit. Kalau pun dirinya keluar dari gerbang pun, tidak akan ada yang bertanya apa yang akan dilakukannya di luar sana. Meski begitu, tetap saja dirinya merasa khawatir. Hari sudah siang, dia nyelonong keluar dari gerbang dengan menuntun sepedanya. Jika saja warungnya buka pagi hari, dia akan lebih mudah keluar dengan alasan membeli sayur.
Nurmaya harus mengayuh sepeda sampai dua puluh menit. Panas. Punggungnya sedikit kuyup karena terik yang menyengat. Dia menuruni sepedanya sembari mengusap peluh di pelipis. Menoleh ke kanan kiri. Lalu, menyeberang.
Di depan warung yang belum begitu ramai karena baru buka, dia enggan masuk. Dia menunggu Abimana datang. Dia duduk di trotoar, di bawah pohon trembesi. Satu per satu motor yang lewat, dia pastikan bahwa salah satu di antaranya adalah Abimana. Sepuluh menit dia menunggu. Dia hampir mengeluh. Takut kalau dicari.
Seseorang dari seberang melambaikan tangan sekali.
__ADS_1
"Itu Kang Abi." Nurmaya bangkit.
Abimana memarkir motor. "Ya, maaf maaf. Aku telat. Nunggu berapa menit?" Dengan gaya khasnya yang santai, dia meminta Nurmaya memilihkan tempat duduk.
Tak sengaja Nurmaya menoleh.
"Kang, Kang, ada muraqibah. Gawat, Kang." Nurmaya kontan berlari ke dalam warung.
Abimana menoleh ke seberang. Lalu, ikut masuk ke warung. Dia memesan dua mangkuk soto dan es jeruk.
"Sebetulnya ada apa, Kang?"
Abimana menata kakinya. Bersila.
"Dengan bertemu seperti ini, bukannya terlalu berisiko, nggeh?"
"Ndalem rame, Ya. Nggak mungkin juga kita bertemu di ndalem. Sungkan. Tenang saja Gus Omar sudah mengizinkan kita ketemu. Aku janji kamu boleh langsung pulang setelah aku mendengar jawabanmu."
"Apa, nggeh, Kang?"
"Kukira Gus Omar akan berhenti menjodohkan kita. Ternyata nggak. Ya, boleh tahu apa alasan kamu menerima?"
"Saya hanyalah abdi ndalem, Kang. Setelah saya pikir-pikir, jika saya menikah, orang tua saya juga akan lebih ringan bebannya."
"Tapi, kamu tahu, kan, laki-laki itu aku?"
"Kang, saya sadar diri kok. Benar-benar sadar diri."
"Saya bukan memandang siapa yang akan dikenalkan pada saya. Yang saya pikir hanya itu tadi, orang tua saya, Kang. Ngapuntene, Kang. Ngapunten. Nggak bermaksud lebih. Saya sadar diri." Pandangan Nurmaya kian tenggelam.
Abimana mengusap wajahnya. Menyangga dagunya. Berpikir sejenak. Dia sadar telah salah berbicara. Dia pun mengamati Nurmaya. Ujung jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja.
"Aku minta maaf, Ya."
"Kang, sekali lagi saya minta tolong Gus Omar jangan sampai tahu soal perasaan saya."
"Iya. Kamu nggak usah khawatir kalau soal itu. Bagaimana keadaan keluargamu?"
"Alhamdulillah Bapak dan Mamak sehat."
"Kamu punya adik?"
"Punya, Gus. Tiga."
"Semua sekolah?"
"Satunya putus sekolah. SMP lulus langsung bantuin jualan. Yang dua kembar. Masih dua tahun."
Dengan beberapa pertanyaan, setidaknya Abimana sudah memperoleh informasi terkait keadaan keluarga Nurmaya. Dia membetulkan. Tak ada yang salah dengan keinginan Nurmaya untuk menikah karena ingin meringankan beban orang tua.
"Aku minta alamat rumahmu."
__ADS_1
"Buat apa, Kang?"
"Hafal, kan?"
Nurmaya mengangguk.
Abimana mengeluarkan handphone. Meminta Nurmaya mendiktenya.
"Syukran."
Usai makan, Nurmaya buru-buru pamit pulang lebih dulu. Padahal, makanannya sudah masih separuh. Keluar tak izin membuatnya tak akan merasa tenang.
"Kalau ada muraqibah yang nanya, nggak usah takut. Gampang nanti aku handle."
Nurmaya mengangguk pelan. Tapi, kalaupun seandainya muraqibah tadi benar-benar mengetahuinya masuk warung dengan Abimana, dia akan tetap menerima hukuman yang semestinya. Dia pun melenggang pergi. Mengayuh sepedanya pelan-pelan agar tidak terlalu kelelahan.
***
Abimana mengulangi kembali pertanyaannya, "Kamu serius ingin mengembalikan cincin ini?"
Vey memandang kedua bola mata lawan bicaranya. Menerjemahkan tatapan Abimana. Menganalisa hingga dirinya dapat menyimpulkan ke dalam satu kalimat yang berbeda dengan biasanya. Matanya mengandung isyarat tertentu. Meski tampak ragu untuk mengikhtisarkan, dia cukup yakin kalau sepasang mata itu tengah menunjukkan ketegasan.
"Lebih baik seperti itu, Mas." Kali keduanya, Vey merasa telah mengucapkan kata-kata yang seharusnya ditahan.
Abimana mengangguk.
"Semoga ini yang terbaik, Na."
Vey membatu. Akalnya seketika menyangkal ketika hatinya ingin menahan Abimana yang hendak pamit pulang.
"Kenapa?" tanya Vey dalam hati.
Sebelum Abimana memutar motor, dia sempat menatap Vey yang berdiri dengan tatapan sayu.
"Onni?"
Vey tak mendengar.
Kala menyentuh pundak Vey. "Onni, ngapain melamun gitu?"
"La, sebelum semuanya terlambat. Aku minta kamu kerjakan dulu semuanya dulu. Aku mau keluar."
"Mau ke mana?"
Vey ngacir ke dalam mengambil kunci, jaket, dan tas.
"Mau ke mana?" Kala menatap Vey yang sudah menaiki motor. "Ngejar Pak Abi?"
"Nggak."
Dengan kecepatan di atas rata-rata, dia menyalip mobil-mobil dari arah kanan. Bias tatapan Abimana yang masih tertinggal di ingatannya, membuatnya menarik gas lebih kuat.
__ADS_1
Motor berhenti. Dia mendapati rumah Kafil yang dulu sudah dihuni oleh pemilik baru.