Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 100 Pergi untuk selamanya


__ADS_3

Kita tidak akan tahu akhir dari sebuah kisah seseorang.


Menjadi baik-baik saja itu tidak lah mudah. Sudah beberapa tahun memendam rasa sakit seorang diri dengan alasan tak mau merepotkan.


Pantas saja selama ini Oma Adelia kekeh ingin tinggal di Jerman. Nyatanya ingin menyembunyikan semuanya dari keluarganya.


Jika sudah begini siapa yang harus di salahkan. Apa Farhan, sebagai putra yang tak bisa menjaga mama nya sendiri sampai tidak tahu keadaan sang mama selama ini.


Kini hanya tinggal penyesalan dan duka yang tak bisa di hindari.


Tepat, hari ini Oma Adelia menghembuskan nafas terakhirnya.


Jangan di tanya, bagaimana kesedihan Farhan. Bahkan Farhan tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya diam dengan tatapan kosong.


Kenapa semuanya terjadi, kenapa Farhan tak tahu hal itu. Siapa yang harus di salahkan atas hal ini.


Padahal Oma Adelia sudah selesai melakukan operasi tomor yang menyerang otaknya. Operasi itu berhasil dan Oma Adelia pagi-pagi sempat sadar dan berbincang dengan putra, menantu dan cucu-cucunya.


Terakhir Oma Adelia menghembuskan nafas ketika bicara dengan Shofi. Gadis kecil yang dulu selalu datang menemaninya dan bercerita apa yang di alaminya.


Gadis kecil yang selalu menjadi penguat dirinya di kala rapuh. Menjadi tawa di kala sedih. Menjadi teman di kala sendiri. Menjadi penyemangat untuk Oma Adelia bangkit di sisa hidupnya.


Oma Adelia hanya tak ingin merepotkan putra, menantu dan cucunya saja. Untuk itu Oma Adelia memilih tinggal di Jerman seorang diri. Sambil mengenang fosil-fosil kenangan manis bersama sang suami dulu.


Tak ada yang perlu di salahkan, semuanya sudah takdir. Tak ada yang salah dalam kepergian Oma Adelia.


Oma Adelia di makamkan di samping makam sang ayah. Kini Farhan tak punya kedua orang tua. Sungguh menyakitkan perjalanan Farhan di dunia ini.


Bahkan setelah selesai pemakaman, Farhan masih tetap bungkam. Dia mengurung dirinya di kamar.


Suasana yang harusnya bahagia kini malah menjadi kesedihan dan pukulan keras bagi semuanya.


Farhan masih tak menyangka, sang mama menyembunyikan penyakitnya selama delapan tahun lamanya. Dan, bodohnya Farhan tak mengetahui itu sama sekali.


Faham ingin marah, namun pada siapa. Pasti anak buahnya juga di sana di tekan untuk bungkam. Kenapa Farhan tak menyadari akan hal itu. Harusnya Farhan sadar, ketika sang mama mulai jarang pulang ke Indonesia.


Namun, penyesalan hanya lah penyesalan, toh semuanya tak akan ada bisa yang mencegahnya. Karena semua sudah di garis takdirkan.


Fandi dan Dinda yang mendengar Oma Adelia pergi langsung terbang ke Indonesia. Begitupun dengan Riko dan keluarganya Al-biru yang ada di Jerman.


Dalam kepergian satu orang semua keluarga berkumpul di mansion Al-biru.


Semuanya nampak terlihat sedih, walau ada perbincangan. Namun, perbincangan itu tak sehangat dulu.


Kini hari mulai gelap, namun semua orang tak ada satupun yang menghabiskan makanan di meja makan. Semuanya terbengkalai, begitu saja seolah rasa di lidah mereka sudah hilang.

__ADS_1


Angga, murni, Jek, Melati, Dan Amira udah pulang dari kediaman Al-biru. Tinggal, Daniel, Alexa, Dinda, Fandi dan Uncle Smith dan keluarganya yang ada di kediaman Al-biru.


Tentu, uncle Smith dan istrinya begitu terkejut akan kabar kepergian Oma Adelia. Kakak mereka satu-satunya lagi, tapi kini dia telah pergi.


Begitupun Alexa dan Aielin yang tak menyangka akan kepergian aunty nya.


Tak pernah sekalipun Queen melihat suaminya se terpuruk ini. Sungguh hati Queen sangat sakit melihat suaminya sendari kemaren tetap bungkam tak bicara sama sekali dengan dirinya.


Bahkan dari kemaren sang suami belum mengisi perutnya. Queen takut, sang suami malah jatuh sakit.


Queen keluar kamar guna mengambil makan dan minum untuk sang suami. Setidaknya sang suami harus makan walau sedikit.


Di dapur ada Dinda yang sedang menyiapkan makan untuk Aurora, karena cucunya itu terus mengurung diri menyalahkan dirinya atas kepergian Oma Adelia.


"Mah ..,"


Panggil Queen Lilir, menatap sang mamah dengan mata berkaca-kaca.


Dinda menarik Queen kedalam pelukannya. Jatuh sudah air mata Queen di pelukan sang mama.


"Jangan menangis sayang, urus suamimu, jangan sampai dia jatuh sakit,"


Queen mengangguk pelan.


"Bagaimana dengan putriku, mah?"


Queen mengangguk lalu membawa nampan yang di atasnya ada sepiring nasi dan lauk pauk nya dengan segelas air putih.


Queen menghela nafas berat melihat suaminya masih duduk di kursi menghadap ke luar jendela.


"Bee .,"


Panggil Queen lembut sambil mendekat. Queen berdiri tepat di belakang sang suami. Queen mengelus-elus dagu sang suami dari arah belakang. Lalu Queen mengangkatnya sedikit hingga Farhan mendongak.


Cup ...


Queen melabuhkan kecupan di kening sang suami. Kecupan lembut penuh kasih sayang.


"Perut Queen sakit!"


Bisik Queen sambil sedikit merintih, membuat Farhan langsung menarik sang istri lalu mendudukkannya di atas pangkuannya.


Tanpa bicara Farhan langsung mengelus perut sang istri dengan lembut membuat Queen menelusup kan kepalanya di leher sang suami.


Kenapa Queen malah merasa nyaman di elus sang suami. Harusnya Queen membujuk sang suami makan.

__ADS_1


Kruk ...


Farhan menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar suara perut sang istri berbunyi. Membuat Queen semakin mempererat pelukannya. Queen merutuki kebodohannya, kenapa sekarang malah Queen yang terlihat lapar.


"Sayang ..,"


"Hm,"


"Lapar?"


Farhan menghembuskan nafas berat, Farhan tahu sebenarnya sang istri membawa makanan ke kamar untuk dirinya. Namun, kenapa sang istri malah yang terlihat lapar.


Aaaa ....


"Bee, itu nasi buat bee bukan untuk Queen,"


"Bee tahu, tapi sayang yang lebih membutuhkan dari pada bee!"


Aaaa ...


Queen menerima suapan dari sang suami, namun Queen juga gantian menyuapi sang suami. Awalnya Farhan tidak mau, namun Queen merajuk tak mau makan jika Farhan tak makan.


Al hasil mereka berdua jadi makan saling suap menyuapi.


Queen menangkup wajah sang suami.


"Queen tahu, di sini bee yang paling sedih di antara yang lain. Namun, jika bee jatuh sakit maka Queen orang pertama yang sakit. Ikhlas kan ya, mama pasti sudah tenang di alam sana!"


"Semuanya begitu cepat!"


"Jangan menyalahkan diri sendiri, mama sudah menjelaskan semuanya. Queen yakin, mama juga akan sedih jika bee terus begini. Ikhlaskan ya!"


Farhan menarik sang istri ke dalam pelukannya. Farhan menyusupkan kepalanya di tengkuk leher sang istri.


Queen menepuk-nepuk pelan punggung sang suami. Berharap sang suami tenang.


Semuanya sudah terjadi, dan tak akan bisa di ulang lagi.


Oma Adelia pergi meninggalkan lukanya sendiri. Hanya dia yang merasakannya, di setiap rasa sakit itu.


Namun, Oma Adelia begitu hebat, dia masih bisa bertahan di setiap detik rasa sakitnya. Demi bertemu dengan cucu tercintanya.


Berkumpul di acara ulang tahun Aurora, hingga mempertemukan Oma Adelia dengan Shofi, si gadis Malaikat nya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...


__ADS_2