Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 18 Penyelamatan


__ADS_3

"Kak, Shofi sudah sembuh. Shofi ingin pulang!"


Rengek Shofi pada sang kakak. Shofi memang sempat sakit dan harus di larikan ke rumah sakit.


Padahal Shofi hanya sakit kepala saja tapi sang kakak memaksanya ke rumah sakit dan harus di rawat. Bagaimana tidak kesal coba, bahkan Davit tak mengizinkan Shofi masuk sekolah dulu.


Dan, bagaimana murkanya Davit ketika melihat pipi adiknya bengkak karena tamparan. Davit ingin membalasnya tapi Shofi sama sekali tak mengatakan siapa pelakunya.


"Kamu boleh pulang, tapi katakan dulu siapa yang melukai kamu!"


"Kakak! kakak yang melukai Shofi,"


"Jika saja kakak tak menyuruh Shofi seperti ini. Shofi gak akan terluka, ini salah kakak semua salah kakak hiks ...,"


Bentak Shofi kesal dengan kelakuan kakak nya.


Deg ...


Davit terdiam mendengar unek-unek Shofi. Yang di katakan Shofi memang benar. Andai saja dia tak menyuruh Shofi terlihat lemah pasti adiknya tak akan terluka.


Tanpa bicara Davit keluar ruangan rawat sang adik dengan ekspresi dingin.


Mom, dad maafkan Davit yang sudah gagal menjaga Shofi!


Batin Davit mengepalkan kedua tangannya. Davit tahu sang adik ingin ke bebasan. Namun Davit takut jika Shofi menunjukan jati dirinya dia malah mudah di ketahui oleh orang-orang suruhan kakak tirinya.


"Bawa nona muda pulang! katakan tetap di rumah,"


"Baik tuan,"


Sang bodyguard langsung masuk ke ruang rawat Shofi. Hatinya terenyuh melihat nona muda terisak.


"Non, tuan memperbolehkan non pulang. Tapi, non harus tetap di rumah!"


Shofi langsung berbalik menatap sang bodyguard.


"Di mana kakak?"


"Tuan, pergi. Beliau ada urusan!"


"Cih,"


Shofi mengerucutkan bibirnya kesal. Jika sudah bertengkar begini sang kakak pasti akan pergi dan kembali ketika suasana sudah hangat kembali.


Akhirnya ...


Batin Shofi senang karena dia bisa keluar dari rumah sakit. Dua hari berada di rumah sakit membuat Shofi bukannya sembuh malah semakin sakit.


Dua mobil mengawal Shofi, Shofi benar-benar di jaga ketat. Shofi seakan berlian yang takut tergores sedikitpun.


Shofi tersenyum karena dia akhirnya bisa menghirup udara segar. Berada di rumah sakit membuat Shofi sesak nafas saja. Apalagi bau obat-obatan membuat kepala Shofi bukannya sembuh malah semakin menjadi.


"Pak berhenti!"


Pekik Shofi membuat sang bodyguard langsung menghentikan mobilnya.


Shofi menyipitkan kedua matanya dengan kening mengerut. Melihat seseorang sedang di keroyok.

__ADS_1


Bukankah itu!


Shofi membelalakkan matanya ketika menyadari kalau yang dia lihat si Fatih orang yang selalu cari masalah dengannya. Awalnya Shofi masa bodo karena melihat Fatih bisa mengimbangi perlawanan. Namun, Shofi mengurungkan niatnya meninggalkan tempat itu. Ketika ada lawannya yang curang menyerang dari belakang.


Melihat Fatih tak berdaya membuat Shofi kasihan. Tapi, detik berikutnya masa bodo. Hingga Shofi terus berperang dengan akal sehatnya.


Para bodyguard hanya diam saja, enggan menolong karena nona mereka juga diam.


"Pak tolong teman saya!"


Pekik Shofi melihat Fatih akan di bunuh. Membuat Shofi langsung mengepalkan kedua tangannya. Bayangan menyakitkan itu muncul ketika Shofi kembali menyaksikan pembunuhan.


Dor ...


Suara tembakan membuat Axel langsung berbalik. Axel terkejut melihat orang berpakaian hitam mengacungkan senjata.


"Pergi atau peluruh ini bersarang di dada kalian!"


Axel langsung mengisyaratkan pada teman-teman untuk kabur. Meninggalkan Fatih yang sudah tak berdaya. Bahkan Fatih sulit melihat siapa orang yang menolongnya.


Fatih hanya melihat seseorang berlari ke arahnya. Dan detik kemudian hanya ada kegelapan yang Fatih rasakan.


"Oh my good, Fatih!"


Pekik Shofi terkejut melihat wajah Fatih yang babak belur. Bahkan baju seragam sekolahnya banyak bercak darah.


"Pak, bawa teman saya ke rumah sakit!"


"Baik non,"


Walau Shofi tak suka pada Fatih tapi melihat Fatih seperti ini dia merasa kasihan.


Tak henti-hentinya Shofi melirik Fatih yang sudah tak sadarkan diri. Hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah sakit tempat tadi Shofi di rawat.


Shofi memilih diam saja di mobil tak mau keluar. Membiarkan para bodyguard nya mengurus Fatih. Bukan Shofi tak mau tapi Shofi tak mau sampai Fatih tahu kalau dia menolongnya.


"Bagaimana pak?"


Tanya Shofi cepat ketika pra bodyguard kembali.


"Sudah di tangani dokter, non jangan khawatir. Kami juga sudah memberi tahu pihak keluarganya."


"Syukurlah,"


Gumam Shofi merasa lega, kemudian Shofi menyuruh bodyguard nya langsung pulang saja. Yang terpenting Fatih sudah berada di rumah sakit.


Sang bodyguard hanya mengangguk saja tanpa bertanya kenapa nona muda tak ikut ke dalam.


.


Kediaman Al-biru ...


Queen membelalakkan kedua matanya ketika mendapat kabar kalau putranya ada di rumah sakit.


Walau Queen masih marah pada putranya tapi mendengar putranya masuk rumah sakit membuat Queen sangat khawatir.


Dengan cepat Queen pergi ke rumah sakit dan tak lupa memberi tahu suaminya. Begitupun Queen memberi tahu mang Diman supaya langsung membawa Aurora ke rumah sakit.

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu lakukan nak,"


Gumam Queen cemas, dia membawa mobilnya sendiri.


Sesampai di rumah sakit Queen langsung menanyakan di mana ruang putranya.


Rasa cemas seorang ibu tak bisa Queen sembunyikan lagi. Apakah putranya berantem lagi atau bagaimana Queen tidak tahu. Belum selesai masalah satu, datang lagi masalah baru. Entah apa yang di inginkan putranya membuat Queen marah gemes-gemes gitu.


"Anda yang menolong putra saya?"


Ucap Queen ketika sudah sampai ada seorang laki-laki berbadan kekar berada di depan ruang putranya.


"Iya nyonya, maaf saya tadi memberi tahu memakai ponsel putra anda. Ini tasnya!"


Salah satu bodyguard Shofi yang menyamar menyerahkan tas Fatih pada Queen.


"Terimakasih banyak pak, sudah menolong putra saya. Emmz, boleh ceritakan kenapa putra saya bisa masuk rumah sakit?"


"Maaf nyonya, tadi saya sedang lewat dan melihat anak-anak muda mengeroyok putra anda hingga pingsan. Jadi saya langsung membawanya ke sini!"


Queen menghela nafas berat mengerti apa yang terjadi pada putranya.


"Silahkan nyonya bisa masuk, putra anda mungkin sebentar lagi siuman!"


"Sekali lagi terimakasih pak,"


Ucap Queen tulus membuat sang bodyguard hanya tersenyum kaku saja. Lalu sang bodyguard pamit undur di saat Farhan datang.


Deg ...


Queen membekam mulutnya tak percaya melihat keadaan sang putra yang mengenaskan. Begitupun Farhan hanya bisa menghela nafas berat sambil memeluk sang istri dari samping.


"Bee, lihatlah putra kita. Bagaimana mungkin keadaannya seperti ini!"


Lilir Queen sudah terisak di pelukan Farhan.


"Kita harus melapor polisi, siapa yang berani melukai Fatih ku!"


"Sayang, ini urusan anak remaja. Biarkan Fatih yang menyelesaikan urusannya."


Tegas Farhan bijak, walau bagaimanapun kasus ini tak boleh membawa-bawa pihak yang berwajib. Farhan memberi kesempatan pada putranya untuk menjadi lelaki tangguh karena mungkin suatu hari nanti kejadian ini pasti akan terulang kembali dan Fatih sudah siap itu.


"Tapi bee,"


"Sayang, kita pernah muda dulu. Jadi biarkan anak kita menyelesaikan masalahnya sendiri!"


Tegas Farhan tak mau di bantah. Queen hanya mengangguk pasrah saja. Toh, ucapan sang suami ada benarnya juga.


"Sayang bangunlah, jangan buat bunda cemas!"


Lilir Queen menggigit bibir bawahnya sambil mengelus rambut Fatih.


Sudut bibirnya robek dengan beberapa memar di pipi dan pelipis. Bahkan punggung tangan Fatih juga terdapat luka.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2