Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 7 Menjalankan hukuman


__ADS_3

Fatih hanya bisa cemberut menjalankan hukuman yang sang Bunda berikan. Bahkan Fatih harus bangun pagi-pagi buta karena harus menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Jangan sampai dia telat bertemu seseorang sebelum masuk ke dalam kelas.


Entah siapa orang yang selalu Fatih temui sebelum dia benar-benar masuk ke sekolah dan mengakibatkan Fatih telat. Dan, anehnya jika Fatih ke sekolah tidak membawa motor maka pulangnya motor Fatih sudah terparkir di tempatnya.


Berkali-kali Fatih terlambat datang membuat pak Didi. Tukang penjaga gerbang hanya bisa menghela nafas berat. Karena ada saja alasan yang Fatih lakukan agar dia masuk. Dan, tentunya di bantu ke tiga temannya.


Desak desuk anak-anak membicarakan kalau salah satu teman sekolahnya tidak masuk. Katanya ia pindah sekolah karena tak kuat terus di buli oleh Fatih.


Entah angin dari mana hari ini Fatih tidak terlambat. Fatih mendengar dengan jelas kalau ada anak yang pindah sekolah. Sudah Fatih tebak, itu pasti Rijal yang pindah.


Seketika Fatih tersenyum mendengarnya karena di kelas tak ada lagi orang cupu kaya Rijal. Orang seperti itu membuat Fatih sakit mata melihatnya.


Fatih memang benar-benar, sudah tak waras. Dia malah senang Rijal keluar dari sekolah.


Rijal adalah orang ke dua puluh yang keluar dari sekolah gara-gara Fatih di tahun ini. Namun, tak ada satupun guru yang protes. Bahkan dari dulu harusnya Fatih sudah di keluarkan. Namun, lagi-lagi kekuasaan Farhan yang membuat kepala sekolah bungkam.


"Bagus lah si cupu itu keluar, berarti dia masih punya harga diri!"


Ucap Fatih terbahak-bahak bersama ketiga temannya. Di mana mereka berempat ada di dalam kelas tidak ikut istirahat. Karena jika lapar mereka akan menyuruh siapa saja yang melintas kelasnya. Dan, menyuruh seenaknya.


Brak ...


Tawa mereka berhenti ketika meja mereka di gebrak. Membuat ketiga teman Fatih diam, sedang Fatih terlihat santai saja.


"Loe, ngancam Rijal kan?"


Ucap Amira tanpa basa basi menatap tajam pada adik sepupunya.


"Kalau si cupu itu keluar ya bagus, apa masalahnya!"


"Kau!!"


Amira begitu kesal karena kelakuan adik sepupunya yang kurang ajar. Selalu saja seenak jidatnya.


"Kau selalu saja begitu, Rijal keluar siapa yang akan jadi partner gue ikutan olimpiade!"


Plak ...


Kesal Amira mengepalkan tangannya sambil meninju dada Fatih. Membuat Fatih berbatuk.


"Ya cari yang lain, gampang kan!"


"Kau, Fatih!!!"


Amira menarik-narik rambut Fatih membuat Fatih meringis. Namun ketiga sahabat Fatih hanya diam tak berani ikut campur urusan dua saudara somplak itu. Ini nih jika Amira si pendiam berubah jadi macan.


"Amira, apa-apa an sih lepas!"

__ADS_1


"Gue gak akan lepas sebelum loe, kembalikan Rijal ke sekolah!"


"Isstt, lepas!"


Fatih bisa saja mendorong Amira, namun Fatih tidak melakukannya. Walau tukang buli tapi Fatih selalu menjaga saudara-saudara nya.


Bruk ...


Amira terjatuh membuat Bunga dan ketiga sahabat Fatih terkejut. Bahkan Amira sampai meringis kesakitan akibat punggungnya terbentur meja.


"Kau!"


Bukan Fatih yang mendorong Amira tapi Amelia yang tiba-tiba datang dan menarik Amira lalu mendorongnya. Amelia tak terima idolanya di perlakukan seperti itu.


"Fatih, my baby kamu gak apa-apa kan?"


"Lepas!"


Bentak Fatih menatap tajam pada Amelia yang sedang merapihkan rambutnya yang acak-acakan. Bukannya jadi jelek, Fatih malah terlihat Coll.


Amelia tersentak kaget mendengar bentakan Fatih. Membuat Amelia mundur, ketakutan melihat tatapan tajam Fatih. Tapi, detik kemudian Amelia bisa mengendalikan rasa takutnya dengan percaya diri.


"Fatih gue cuma mau nolong loe, dari dia."


Tunjuk Amelia pada Amira yang meringis berusaha berdiri di bantu Bunga.


Sentak Fatih membuat Amelia terhuyung tapi ketiga temannya siap menahan tubuh Amelia.


"Loe gak apa kan?"


Tanya Fatih cemas berusaha membantu namun Amira menepis tangan Fatih.


"Semuanya gara-gara loe,"


Kesal Amira berusaha berjalan, namun Fatih langsung menggendong Amira tanpa mempedulikan teriakan Amira. Amira terus memberontak sebentar karena punggungnya semakin sakit ketika Amira memberontak.


Fatih langsung membawa Amira ke UKS di ikuti oleh ketiga sahabatnya dan Bunga.


"Fatih, ihhh ... ngeselin!"


Rengek Amelia cemburu ketika Fatih menggendong Amira tanpa peduli dirinya yang perhatian.


"Apa sebenarnya hubungan mereka!"


Kesal Amelia mengepalkan kedua tangannya. Karena kesal, dari dulu Fatih selalu melindungi Amira.


Satu sekolah memang tidak tahu, jika Fatih dan Amira sepupu an. Kecuali para guru dan sahabat Fatih, begitu juga dengan Bunga.

__ADS_1


Semua murid terkejut melihat seorang Fatih menggendong Amira melewati mereka. Banyak anak-anak yang berbisik-bisik mengenai hubungan mereka.


Ada yang sinis dan iri melihat Fatih memperlakukan Amira berbeda. Ada juga yang mendukung, kalau mereka cocok.


Berita Amira di gendong terdengar ke telinga seseorang. Dengan cepat dia langsung berlari ke ruang UKS. Namun, dia tidak di perbolehkan masuk karena Rangga, Raja dan Moreo menjaga di pintu UKS. Hanya Bunga saja yang di perbolehkan masuk.


"Minggir, saya harus mengambil beberapa perlengkapan untuk latihan penanganan pertama?"


"Maaf kak, tolong tunggu sebentar. Jika teman kami selesai di periksa kakak boleh masuk,"


Ucap Rangga sopan pada kakak kelasnya tepatnya dia ketua OSIS.


"Siapa yang sakit?"


Sial, mereka tidak buka mulut!


Aditya menahan rasa kesalnya, karena adik kelas ini. Orang-orang yang berani melawannya. Aditya bisa saja menggunakan ke kekuasaannya namun Aditya tahu tidak akan mempan untuk adik kelas berandalan ini. Yang ada muka tampannya akan bonyok di tangan Fatih.


Karena pernah satu kali Aditya di hajar oleh Fatih ketika Aditya mendekati Amira. Kejadian itu satu tahun lalu ketika Fatih dan Amira menjadi anak baru. Sebelum ada Fatih, Aditya adalah idola sekolah itu. Apalagi Aditya adalah ketua tim basket membuat namanya selalu di puja-puja oleh anak-anak cewe.


Namun, kini ke popularitas an nya tergeser oleh seorang King Fatih Al-biru. Hingga sampai sekarang, apalagi ketika Aditya kalah dalam bermain basket bersama Fatih, One on One.


"Gimana dok, keadaan dia?"


"Kamu jangan cemas, Tidak ada luka berat. Memar di punggung dan sikutnya sekitar tiga atau empat akan hilang."


"Tulangnya gimana dok?"


Tanya Fatih lagi dengan nada cemas membuat seorang dokter khusus di sekolah itu menyerngit bingung. Pasalnya siapa yang tidak kenal Fatih, kenapa sekarang dia terlihat cemas, pikir dokter itu bingung. Biasanya Fatih tak akan pernah peduli pada orang lain.


"Tulangnya juga baik-baik saja, benturannya gak cukup keras. Jadi aman!"


"Terimakasih dok,"


Apa! terimakasih! apa gak salah.


Karena masih banyak yang harus di lakukan, sang dokter langsung pergi ke balik sebelahnya di mana masih ada tiga siswi yang sakit belum dia periksa.


"Gue antar pulang ya?"


"Gak usah, semua ini gara-gara loe. Jika sampai gue gak ikut olimpiade loe harus tanggung jawab."


"Olimpiade lagi olimpiade lagi!"


Fatih menjadi kesal karena Amira masih membahas olimpiade. Yang menurut Fatih ingin cari muka saja agar bisa terkenal pintar.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2