
Di sepanjang jalan Shofi hanya diam, gadis itu tak bersuara. Biasanya Shofi akan mengoceh sepanjang jalan. Dan, bahkan sampai telinga supirnya panas. Tapi, kali ini Shofi diam, entah apa yang sedang Shofi pikirkan membuat sang supir merasa ada yang kurang.
Namun, sang supir tidak berani bertanya karena sudah tahu bagaimana watak nona mudanya.
Seketika lamunan Queen buyar ketika ekor matanya tak sengaja melihat sebuah mobil yang sedang di hadang oleh beberapa orang bermotor.
"Keluar, serahkan gadis itu!"
Teriak salah satu orang yang ada di motor turun menggedor pintu mobil.
"Non, ini bagaimana,"
Ucap mang Diman panik melihat orang-orang menyeramkan terus menggedor pintu mobil.
"Mang Diman tenang saja,"
"Tapi non, mereka menginginkan non."
Gagap mang Diman semakin ketakutan pasalnya dia tidak bisa bela diri. Apalagi usianya sudah tua.
"Biar Aurora yang keluar,"
"Ja ..."
Mang Diman tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika nona muda sudah lebih dulu membuka pintu mobil. Mang Diman pun ikut keluar di mana langsung di hadang.
"Kalian menginginkan saya bukan?"
"Iya, ikut kami!"
"Baiklah, tapi saya mohon lepaskan supir saya!"
"Non, jangan. Mereka orang jahat!"
Teriak mang Diman, namun Aurora merasa tak takut sama sekali. Gadis berseragam SMP itu terlihat santai. Seolah sudah biasa menghadapi situasi seperti ini.
Sedangkan orang yang akan menculik Aurora tersenyum seringai. Sangat menyukai gadis pemberani. Bahkan gadis kecil ini memilih ikut suka rela dari pada melihat supirnya dalam bahaya.
"Lepaskan pak tua itu!"
Perintah salah satu orang yang sedang mencengkal lengan Aurora.
"Aurora gak apa, mamang masuk mobil dan pulang duluan!"
Perintah Aurora menatap tajam pada mang Diman. Entah ada apa dengan bocah itu, malah menyuruh supirnya pergi. Membuat para preman sangat suka akan nyali gadis kecil ini. Keturunan Al-biru memang tidak di ragukan lagi.
"Tapi non,"
"Mamang tahu kan apa yang harus mamang lakukan,"
Tegas Aurora membuat mang Diman hanya mengangguk pasrah saja.
Tapi tidak dengan para preman yang merasa curiga dengan ucapan Aurora. Bagaimana mungkin gadis ini malah menyuruh supirnya pulang sedang nyawa dia dalam bahaya.
"Kakak-kakak boleh saya memastikan supir saya pergi di akhir hidup saya!"
Dengan bodohnya para preman itu mengangguk karena yakin gadis kecil ini akan menurut dan tidak akan berani macam-macam.
Aurora tersenyum tipis melihat mobil mang Diman melaju. Dalam hati Aurora menghitung sambil melihat situasi.
*Satu ...
Dua ...
Tiga* ...
Akhhh ....
Jerit salah satu preman yang memegang tangan Aurora menjerit kesakitan. Bagaimana tidak sakit jika Aurora menendang burung dalam sangkarnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Aurora langsung berlari kencang membuat para preman mengupat.
Ke empat preman langsung mengejar Aurora tanpa mempedulikan temannya yang mengaduh sakit.
Cerdik!
Batin Shofi tersenyum seringai melihat gadis berseragam SMP terus berlari kencang melewatinya.
Shofi berdiri menghadang para preman yang mengejar Aurora. Tepatnya mereka bukan preman, tapi para berandalan atau sebuah komplotan geng motor. Terlihat dari jaket yang mereka kenakan, Shofi faham itu.
"Minggir, jangan ikut campur gadis cupu!"
Bentak para berandalan itu, sangat marah ketika jalannya di hadang. Bahkan yang menghadang anak bau kencur lagi.
"Kalian menginginkan adik kecil ini, maka langkahi dulu .."
Ucap Shofi sombong membuat para berandalan itu berang. Hingga tanpa banyak omong mereka menghajar Shofi. Karena waktu mereka tidak banyak.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
Ke empat berandalan itu tersungkur membuat Shofi tertawa puas. Bagaimana tidak puas jika bodyguard nya yang menghajar para berandalan itu. Tepatnya supir Shofi yang berubah jadi Hercules.
"Oh sitt,"
Geram para berandalan itu langsung bangkit menyerang bodyguard. Namun salah satu dari mereka terjatuh ketika dengan sengaja kaki Shofi menghadangnya. Dan, itu membuat berandalan itu semakin mengeram kesal.
"Kau!"
Tunjuk berandalan itu menatap nyalang Shofi yang dengan santai membenarkan letak kaca matanya.
Bugh ...
Akhhh ...
Jerit salah satu berandalan yang menyerang Shofi. Alih-alih Shofi yang kena, malah berandalan itu yang terjungkal oleh tendangan bar-bar Shofi. Bahkan tendangan Shofi tepat di area terlarangnya.
Rasanya terasa ngilu-ngilu sedap, dan akhh ... sangat menyakitkan bahkan berandalan itu rasanya tak bisa berdiri lagi.
Shofi tak perlu repot-repot menyingkirkan para berandalan jalanan itu. Satu kali depak saja sudah terjungkal bagai mana dengan bodyguard Shofi yang menghajar ketiga berandalan itu.
"Beraninya sama anak kecil, siapa bos kalian hah!"
Bentak Shofi menggelegar membuat satu berandalan yang di kunci pergerakannya oleh sang bodyguard mengerang kesakitan.
Shofi melihat jaket yang di pakai berandalan itu. Di sana tertera nama sebuah geng Rebel.
Aurora yang melihat aksi Shofi dan bodyguard hanya melongo. Melongo karena tak percaya dengan penampilan Shofi.
"Adek baik-baik saja?"
Tanya Shofi menghampiri Aurora ketika Shofi menyuruh bodyguard nya melepas para berandalan itu.
"Saya baik-baik saja, kakak keren!"
Kekeh Aurora sambil memberi dua jempolnya.
Shofi hanya menggelengkan kepala saja, begitupun sang bodyguard. Karena gadis yang mereka tolong sangat aneh, tak ada rasa takut sama sekali di diri gadis itu.
"Adek tahu siapa mereka?"
"Tahu! mereka musuh kakak saya,"
Dengan entengnya Aurora berkata membuat Shofi tak habis pikir dengan bocah SMP ini.
__ADS_1
"Adek, nekad sekali. Bagaimana kalau mereka berhasil membawa adek?"
"Saya gak takut kak, karena kakak saya pasti menyelamatkan saya,"
"Semakin itu!"
"Hm,"
Shofi lagi-lagi menggelengkan kepala melihat jam tangan yang di tunjukan gadis itu. Pantas saja gadis ini percaya diri karena jam tangannya terdapat layar GPS di sana. Bahkan terlihat sekali bahwa sebentar lagi seseorang pasti datang.
Shofi membawa Aurora ke pinggi jalan dan mendudukkannya di kursi yang ada di trotoar jalan.
"Tunggu disini, kakak mau ambil minum. Kamu pasti haus,"
Aurora hanya mengangguk saja karena memang dia kehausan.
Shofi berjalan menuju mobilnya di mana sang bodyguard sudah ada di kursi kemudi.
"Ada minum gak pak?"
Tanya Shofi pada bodyguard nya.
Sang bodyguard langsung memberikan sebotol air mineral pada Shofi.
"Aurora!"
Deg ...
Seketika tubuh Shofi menegang mendengar suara yang begitu familiar.
Shofi melirik ke belakang memastikan sesuatu, seketika matanya melotot tak percaya.
"Dek, kamu gak apa-apa kan. Ada yang lecet gak?"
Tanya Fatih begitu panik, Fatih membuka balik badan sang adik takut ada yang lecet. Jika saja Fatih menemukan lecet sedikitpun di badan sang adik. Fatih bersumpah akan membalas siapa yang akan menculik adiknya.
Fatih yang tadi baru saja sampai rumah, langsung terkejut melihat notifikasi di ponselnya. Di mana nada itu nada bahaya.
Tanpa mendengarkan ceramah sang Bunda Fatih langsung berlari masuk pada mobil sang Bunda dan membawanya.
"Adek gak apa, ada kakak cantik dan om gagah yang nolongin!"
"Kakak cantik! om gagah!"
Belo Fatih mengulang ucapan sang adik.
"Iya, kakak cantik ada di mobil,"
Sontak saja Fatih langsung mengikuti arah telunjuk sang adik.
Shofi langsung berbalik ketika Fatih melihat ke arahnya.
"Pak jalan!"
"Tapi non, minumnya!"
"Cepet jalan!"
"Kakak!"
Teriak Aurora karena mobil itu melaju membuat Aurora kecewa.
Fatih merasa heran, kenapa orang yang menolong adiknya malah pergi. Ketika dia dan sang adik mendekat. Dan, sialnya Fatih tidak tahu flat nomor mobil yang di gunakan orang yang menolong Aurora.
Pantas saja, berani! ternyata dia adiknya!
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah Komen, dan Vote Terimakasih .
__ADS_1