
Dan benar saja, memasuki ujian semester ganjil membuat Fatih tak bisa mendekati Shofi.
Karena Shofi, Amira dan Bunga sedang sibuk belajar.
Waktu istirahat mereka bukan di gunakan untuk makan namun pergi ke perpustakaan untuk belajar supaya di saat ujian ada gambaran.
Fatih tak berani menggangu karena takut membuat Shofi malah menjauh darinya.
Sudah cukup kejadian di Danau membuat Fatih paham apa yang di inginkan Shofi, mengerti.
Ya, Fatih menangkap sebuah gambaran yang sangat menyakitkan yang Shofi alami. Namun, Fatih tak bisa menebak apa yang di alami Shofi.
Tapi, Fatih bisa merasakan itu bahwa ada kesakitan di dalamnya. Ucapan Shofi bagai benang kusut yang sulit Fatih luruskan.
Namun, Fatih mencoba mengerti bahwa mungkin Shofi butuh sendiri, kebebasan.
Jika keadaan ini sulit bagi Fatih mengontrol dirinya agar tidak menggangu Shofi. Berbeda dengan Shofi yang sangat santai dan menikmati waktu yang kian kurun.
Shofi bukan hanya di sibukkan dalam ujian sekolah namun juga berkas-berkas yang Davit kirim tak pernah usai membuat Shofi harus bisa membagi waktu.
Terakhir Shofi mendapat kabar bahwa sang pengacara di tekan oleh ibu tirinya. Namun, Shofi menyuruh sang kakak untuk memasukan anak buahnya menyusup ke mansion Damaresh. Dan, mengikuti petunjuk-petunjuk yang Shofi sebutkan.
Di mana Shofi memberi tahu sang kakak letak ruang rahasia itu.
Kunci masuknya yang tak lain sebuah tombol yang ada di patung macan. Di sana akan terbuka sebuah lorong menuju ruang bawah tanah yang ada di bawah ruang keluarga.
Davit yang mendengar itu tercengang. Selama ini ia tak tahu bahwa Daddy angkatnya mempunyai ruang rahasia.
Setelah mendapatkan chip itu dengan mudah Davit membalikan situasi dengan cara halus. Jika ibu tiri dan kakak tiri nya menggunakan kelicikan maka Shofi menggunakan kecerdasan.
Target sekarang adalah uncle nya dulu bukan ibu atau kakak tiri nya. Karena dia adalah otak di balik semuanya.
Walaupun berjauhan namun, rencana tetap berjalan. Shofi hanya tinggal menunggu instruksi dari sang kakak dan kapan tiba dia harus kembali.
Namun, satu yang Shofi ingin tahu, apa alasan uncle nya melakukan ini semua. Bukankah dia adik kandung sang Daddy tapi kenapa dia bisa sekejam itu. Menghabisi tanpa berbelas kasih.
Teka teki itu belum bisa Shofi pecahkan dan kepada siapa Shofi bertanya. Bahkan Shofi tidak tahu siapa teman dekat sang Daddy.
Karena Shofi dulu selalu sibuk dengan dunianya sendiri ketika ada tamu-tamu sang Daddy berkunjung. Bahkan Shofi selalu enggan ketika di ajak kesebuah acara apapun. Sejatinya Shofi tak suka di ekspos.
Namun kini Shofi ingin tahu, siapa saja teman dan rekan kerja sang Daddy dulu. Minggu kemaren Shofi meminta datanya pada Davit namun sampai sekarang Davit belum memberikannya.
Entah ada apa yang terjadi di sana tak biasanya Davit telat memberi data itu. Mungkin di sana Shofi bisa menyelidiki satu persatu teman atau rekan kerja sang Daddy dan menanyakan hubungan mereka.
Shofi yakin, salah satu di antar mereka semua ada yang tahu perselisihan apa antara sang Daddy dan uncle nya.
Dari pada memikirkan itu semua Shofi kembali dulu menyelesaikan tugas sekolahnya.
Dan, Shofi bersyukur Fatih mengerti keadaan dirinya yang ingin fokus tak mau di ganggu. Karena jika Fatih mendekat terus Shofi tak bisa konsentrasi dan mungkin kesehatan jantungnya akan semakin parah.
Hari ini hari di mana ujian terakhir semester ganjil. Ada waktu libur semester dan sang kakak memberi tahu bahwa akan ada orang kepercayaan nya datang. Dan anehnya, sang kakak memberi tahu untuk tidak percaya sama siapapun kecuali dengan keluarga Al-biru dan Prayoga.
Shofi ingin bertanya namun sang kakak keburu mematikan teleponnya.
Ada rasa aneh di hati Shofi kenapa sang kakak bisa banget percaya pada keluarga Amira dan Fatih.
Jika sang kakak percaya dengan dua keluarga besar ini berarti salah satu dari mereka memiliki hubungan dekat dengan sang Daddy.
__ADS_1
Memikirkan itu semua membuat Shofi pusing.
"Kenapa bengong!"
Tanya Bunga sambil duduk di hadapanku. Tak lama Amira juga ikut duduk sambil meletakan minuman di depan kami.
Karena ujian sudah selesai jadi mereka bertiga ke kantin untuk sekedar me refresh otak supaya seger.
"Ra, kamu tahu gak, apa ayah Jek punya rekan bisnis di luar negri atau teman gitu?"
Tanya Shofi tiba-tiba, sepertinya Shofi harus mengulik terlebih dahulu tentang keluarga Amira.
Amira menautkan kedua alisnya bingung kenapa tiba-tiba Shofi bertanya seperti itu. Amira sedikit berpikir dan mengingat-ingat apakah sang ayah mempunyai rekan kerja atau teman di luar negri.
"Setahu ku, kalau teman gak ada. Wong ayah temannya orang Indonesia semua.Tapi, ada salah satu teman ayah yang menetap di luar negri, Singapure,"
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu!"
"Gak, kalau partner kerja?"
"Kalau partner kerja aku kurang tahu, tapi kalau gak salah sih ada. Cuma aku lupa gitu!"
"Ada apa sih, tumben tanya-tanya gitu?"
"Gak, cuma aku penasaran saja!"
"Tanya aja sama Fatih, mungkin dia tahu. Soalnya Fatih tuh yang sering ikut menghadiri acara-acara kantor!"
"Isst, kenapa jadi kesitu sih!"
Rengek Shofi dengan jantung berdetak tak karuan.
"Tapi jangan Manusia purba kali!"
"Jangan apa!"
Deg ...
Shofi terkejut ketika mendapati Fatih sudah ada di sampingnya.
Amira dan Bunga malah terkekeh melihat keterkejutan Shofi. Karena memang sendari tadi Amira dan Bunga sudah tahu kalau Fatih mendekat.
"Jangan apa?"
Ucap Fatih mengulang pertanyaannya.
"Istt, kau ini mengagetkanku saja!"
"Sorry!"
Amira dan Bunga beranjak pergi ketika melihat instruksi dari Fatih agar memberi ruang bagi dia dan Shofi.
"Kalian mau kemana?"
"Sudah duduk di sini!"
Cegah Fatih menahan bahu Shofi yang akan ikut beranjak.
__ADS_1
"Apa an sih!"
Ketus Shofi menyingkirkan tangan Fatih dari pundaknya.
"Apa loe gak merindukan gue?"
Deg ..
Shofi terkejut dengan pertanyaan Fatih yang sungguh sulit Shofi jawab.
"Sudah satu Minggu gue gak nyamperin loe, apa loe tak rindu!"
"Kenapa ke situ sih, jangan tanya yang kamu sudah tahu jawabannya!"
Fatih menghela nafas berat, kenapa sesulit ini meluluhkan hati wanita. Sungguh ini lebih sulit dari pada Fatih mengerjakan laporan keuangan kantor.
Melihat mood Shofi kurang bagus, lebih baik Fatih mengalihkan pembicaraan dari pada Shofi kembali kesal.
"Ok, tapi loe pulang bareng gue ya?"
"Gak!"
"Hey, gue gak suka penolakan!"
"Aku gak suka di perintah!"
"Kau!"
"Apa!"
Dua manusia itu malah bersitegang dengan tatapan tajam dari keduanya.
Anak-anak yang ada di kantin menatap ke arah Fatih dan Shofi.
Sungguh aneh hubungan mereka, kadang kala terlihat romantis, kadang kala terlihat saling menjahili dan kadang kala terlihat seperti musuh, seperti saat ini.
Namun keadaan Shofi dan Fatih tetap saja membuat Amelia kesal.
"Pulang sama gue!"
"Gak, isstt, kau ini pemaksa!"
"Pulang sama gue atau gue kempes in mobil Amira!"
"Tetap gak!"
"Ya sudah, gue kempes in mobilnya!"
"Ok ... ok .. aku pulang sama kamu!"
"Yes!"
"Nyebelin!"
Kesal Shofi menghentak-hentakan sepatunya meninggalkan Fatih menuju kelas di mana tasnya berada dan tentu Shofi meminta izin pada Amira dulu.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....