
"Emmzz ..."
Gumaman kecil terdengar di bibir seksi Shofi, perlahan bulu mata lentik Shofi mengerjap-ngerjap gemas.
Shofi merasakan kepalanya cukup pusing, ruangan serba putih itulah pertama kali yang Shofi lihat.
"Aku di mana?"
"UKS!"
Deg ...
Shofi langsung melirik kearah sumber suara.
Fatih sedang berdiri dengan tangan menyilang di dadanya. Menatap tajam ke arah Shofi yang baru bangun.
Fatih kesal karena harus menunggu Shofi selama dua jam lamanya. Pada akhirnya bangun juga, Fatih kira Shofi mati.
Woy, siapa yang nyuruh Fatih jaga Shofi. Author yakin Shofi gak mau di jaga Fatih bahkan meminta pun Shofi gak mau.
Shofi lebih baik di jaga sama Amira dan Bunga saja dari pada sama manusia purba satu ini.
"Apa yang terjadi! kemana Amira dan Bunga?"
Tanya Shofi mencoba duduk.
"Sudah pulang!"
"What!!"
Shofi melotot tak percaya mendengar ucapan cuek Fatih. Shofi benar-benar kesal dengan apa yang Fatih lakukan.
Bagaimana mungkin Amira dan Bunga pulang, apa Fatih mengusirnya. Jika Amira dan Bunga tidak menjaga ku, lalu apa manusia purba ini yang menjaga ku, tidak mungkin! batin Shofi menggeleng-gelengkan kepala.
"Loe kenapa?"
"Aku mau pulang!"
Lilir Shofi bergetar, percuma berdebat juga dengan Fatih. Apalagi sekarang Shofi gak ada tenaga. Dan, semua ini gara-gara manusia purba.
"Makan!"
Ucap Fatih memberikan kantung keresek di hadapan Shofi. Shofi menatap kantung itu dengan perasaan campur aduk.
"Gak mau, aku mau pulang!"
Tolak Shofi halus berusaha berdiri, namun Fatih menahan kedua bahunya.
"Makan atau gue suapin!"
Ancam Fatih menatap tajam pada bola mata Shofi.
Shofi menghela nafas berat, menghadapi Fatih memang bukan dengan cara kekerasan juga. Shofi berusaha menurut, sepertinya Fatih akan suka jika dia menurut bukan melawan.
Ya, Shofi sudah sedikit paham akan karakter Fatih yang sangat keras tak mau di bantah.
Dengan terpaksa Shofi makan, nasi goreng yang Fatih berikan. Apalagi perut dia memang masih sedikit perih dan Shofi butuh asupan.
Kemana ponsel ku!
Batin Shofi di sela kunyahannya. Shofi ingin tahu jam berapa sekarang. Kenapa terasa sepi sekali. Shofi mengingat-ingat di mana ponselnya.
Huh ...
Shofi menghela nafas berat berkali-kali ketika mengingat bahwa ponselnya masih berada dalam tas nya. Dan, tas itu ada di kantin.
Fatih langsung melirik Shofi yang menghela nafas cukup jelas di Indra pendengaran Fatih.
"Ini baru di mulai, loe sudah selemah ini. Bagaimana dengan dua puluh sembilan hari lagi!"
Cibir Fatih menatap remeh pada Shofi, Shofi hanya bisa mengepalkan kedua tangannya saja.
__ADS_1
Kenapa Fatih suka sekali menyiksa dan mengejeknya, Shofi benci itu.
Ya, perjanjian Shofi menjadi babu selama satu bulan. Dan, Shofi gak boleh protes apapun yang Fatih perintahkan.
Entah apa yang sedang Shofi rencanakan, kenapa Shofi mau saja. Padahal itu malah membuat dirinya berada dalam masalah besar.
"Terimakasih!"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Shofi. Shofi benar-benar tak mau berdebat hari ini, Shofi mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri.
"Mau kemana?"
"Pulang!"
Fatih tak menanggapi, hanya diam saja melihat Shofi berjalan kearah pintu luar. Fatih mengikutinya dari belakang.
Cklek ...
Cklek ...
Shofi membuka pintu namun pintunya di kunci. Perasaan cemas mulai menghampiri Shofi.
"Kenapa di kunci, apa kau yang melakukannya?!"
Kesal Shofi menahan amarah menatap tajam Fatih yang terlihat santai saja.
"Loe yang lemah, masa buka pintu saja gak becus!"
Ketus Fatih berjalan ke arah pintu dan menyingkirkan Shofi yang menghalangi jalannya.
Cklek ... Cklek ... Cklek ...
"Oh sittt,"
Brak ...
Umpat Fatih sambil menendang pintu uks, ternyata benar. Pintu ini di kunci dari luar.
"Loe jangan sembarangan nuduh, gue gak tahu."
Geram Fatih menatap tajam Shofi, Fatih paling benci di salahkan jika dia tak melakukan kesalahan apapun.
"Jangan bohong, dari tadi loe yang ada di sini. Masa loe gak tahu!"
Shofi balik menatap tajam Fatih dengan perasaan marah dan Benci.
"Gue gak mengunci pintu!"
"Bohong!"
"Gue gak bohong!"
"Gue gak percaya, loe sengaja kan!"
"Terserah loe, gue gak tahu apa-apa!"
"Apa masalah loe, loe selalu saja bikin hidup gue susah. Perasaan gue gak pernah ada salah sama loe!"
"Diam! gue bilang bukan gue cupu! loe mau percaya atau gak gue gak peduli!"
"I Hate you!"
Teriak Shofi di hadapan muka Fatih. Dari tadi mereka malah berdebat bukan malah cari solusi untuk bisa keluar.
Fatih meninggalkan Shofi dan kembali masuk kedalam. Fatih lebih baik merebahkan kembali tubuhnya di tempat tadi Shofi pingsan.
Ya, sebenarnya dari tadi Fatih ketiduran sambil duduk di kursi yang tersedia di sana. Fatih terbangun karena mendengar gumaman Shofi.
Shofi terus berusaha membuka pintu dengan cara apapun. Bahkan Shofi menggedor-gedor pintu meminta tolong. Namun, gak ada yang mendengarkan teriakan Shofi sama sekali. Apalagi suasana sekolah memang sudah sepi.
Percuma, sekeras apapun Shofi berteriak dan menggedor-gedor pintu. Pintu itu tak akan terbuka. Entah siapa yang mengunci mereka berdua di sini. Entah penjaga sekolah atau ada orang yang iseng.
__ADS_1
Dor ... Dor ...
"Siapapun di luar, tolong ... tolong buka pintunya!"
Teriak Shofi mulai melemah, apalagi tenaganya tidak cukup kuat. Shofi juga tak berani meminta bantuan Fatih setelah perdebatan tadi.
"Jika bukan manusia purba, lalu siapa yang mengunci pintu!"
Lilir Shofi sudah sangat frustasi, terkurung dalam ruangan bersama Fatih membuat Shofi seakan mimpi buruk.
Sedangkan di luar cuaca mulai mendung seakan menandakan bahwa akan segera hujan.
Duarr ...
"Akhhh!"
Jerit Shofi terkejut ketika mendengar suara Guntur saling bersahutan sampai mati lampu. Untung saja hari masih sore jadi tidak terlalu gelap. Tapi, tetap saja cuaca seperti ini sangat menakutkan.
Perlahan rintikan mulai turun menyapa rerumputan yang sedang kehausan.
Ctassa ...
Duarrr ...
Suara petir dan Guntur terdengar membuat Shofi terpaku seakan Dejavu dengan suatu keadaan.
Tiba-tiba tubuh Shofi bergetar dengan keringat mulai bercucuran. Kepingan-kepingan puzzle mulai berkeliaran membuat kepala Shofi seakan mau pecah saja.
"Akhh !!! tidak mom dad!!!"
Jerit Shofi membuat Fatih langsung terbangun dari tidurnya. Fatih terkejut mendengar teriakan Shofi.
"Cupu loe kenapa! dimana loe!"
Ucap Fatih berusaha mencari Shofi karena cukup gelap.
Ctass ..
Suara petir membuat Fatih terpaku di tempat melihat pemandangan di sudut pintu.
Ya, Shofi sedang ketakutan sambil menutup telinganya bahkan air matanya sudah berlinang. Fatih melihat itu dari tamparan cahaya kilat yang menyambar.
Bayangan-bayangan menyakitkan kembali muncul membuat Shofi sangat ketakutan. Nyatanya Shofi masih lemah dia lemah dan lemah.
"Hey, loe kenapa!"
"Tidak!!! mom dad, jangan ... mom tidak ... tidak!!!"
Fatih begitu terkejut melihat ke histeris an Shofi bahkan Fatih juga langsung mundur saking terkejutnya.
"Mom dad jangan tinggalkan Philo, tidak!!"
Jeritan itu sama dengan jeritan Shofi empat tahun lalu.
Grep ...
Entah ada kebaikan dari mana Fatih menarik Shofi dalam pelukannya.
"Jangan takut! ada gue di sini, jangan takut!"
Ucap Fatih tercekat ketika Shofi mengeratkan pelukannya. Seakan Shofi mengatakan takut sangat takut jangan tinggalkan ia.
"Sutt, jangan takut. Di sini ada gue!"
Fatih hanya bisa menenangkan seperti Fatih menenangkan Aurora ketika ketakutan.
"Kak dia pembunuh! dia pembunuh, mom dad!"
Deg ...
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...