Filosofi Alin

Filosofi Alin
Extra prat


__ADS_3

Bukankah seorang laki-laki itu makhluk yang paling kuat. Jauh dari kata menitikkan air mata.


Tapi, bukankah sekuat-kuatnya laki-laki ada titik di mana ia rapuh. Saking rapuhnya bahkan sampai menitikkan air mata.


Itulah yang yang Fatih alami, kepergian Shofi benar-benar membawa luka yang sangat menyakitkan.


Cinta nya, yang belum merajut harus tenggelam oleh kepergian. Dan Fatih tak bisa mencegahnya.


Fatih menatap nanar pesawat yang dimana di dalamnya ada sang kekasih.


Harusnya Fatih kuat untuk semuanya, bukankah ini jalan yang terbaik untuk mereka berdua.


Farhan dan Queen hanya bisa menatap nanar putra nya. Tak pernah mereka melihat putranya se terpuruk itu.


"Bee, apa kita biarkan saja Fatih menyusul!"


"Tidak!"


Jawab tegas Farhan, menatap sang putra yang berdiri diam memandang lapangan lepas di mana pesawat yang di tumpangi Shofi sudah landas.


"Tapi Queen tak tega melihatnya, lihatlah dia seolah bukan putra kita!"


"Biarkan saja Fatih merasakan rasa sakit itu. Agar Fatih tumbuh semakin kuat, bee yakin putra kita tak selemah itu!"


Ucap Farhan tegas, membuat Queen menghela nafas berat.


Farhan memutuskan meninggalkan Fatih seorang diri di bandara.


Fatih mungkin butuh sendiri guna menenangkan pikirannya.


Bahkan sampai sore Fatih masih setia di sana berharap Shofi kembali. Namun, itu hanya sia-sia belakang. Nyatanya Shofi sampai sekarang tak kembali, ia benar-benar pergi.


Fatih berjalan lunglai menuju tempat parkir. Fatih meninggalkan bandara dengan perasaan hancur.


Bahkan Fatih seolah hilang kesadaran, tatapannya begitu kosong dengan hati bergemuruh hebat.


Fatih entah sadar atau tidak, ia mengendarai motor sport nya begitu kencang. Bahkan sampai melawan arah dan menyelip tak beraturan membuat pengendara lain memberikan protes lewat klakson. Bahkan aksi Fatih mengundang polisi mengejarnya.


Di ujung pertigaan jalan dari arah berlawanan ada mobil boks yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Tid ... tid ...


Bisingnya suara klakson membuat Fatih langsung tersadar dengan apa yang dia lakukan. Fatih membulatkan kedua matanya melihat mobil boks melaju kencang. Dengan perasaan panik. Fatih membelokan motornya cepat, namun sayang dari arah belakang mobil boks sebuah mobil Jeff menyelip hingga ...


Brak ...


Kecelakaan tak bisa di hindari lagi. Fatih terpelanting dengan motornya ke pembatas jalan. Kepala Fatih terbentur cukup keras ke trotoar jalan hingga darah berceceran.


Tiga motor polisi yang mengejar Fatih terkejut akan kejadian yang terlalu cepat mereka lihat di depan matanya. Bahkan, salah satu polisi jika dia tak cepat menghindar pasti tergusur oleh motor Fatih.


Jalanan seketika macet total, apalagi kejadiannya tepat dekat sebuah pertigaan.


Polisi langsung mengamankan lalu lintas, polisi lainnya segera menghubungi ambulan. Apalagi orang yang mengendarai mobil yang bertabrakan dengan Fatih mereka juga mendapatkan luka walau lukanya tak separah luka Fatih.


Bahkan pengendara lain banyak yang memposting hingga kecelakaan itu langsung menyebar luas hingga masuk trending di tv. Apalagi, tepat seorang wartawan yang sedang lewat di sana.


.


Sedangkan di kediaman Al-biru, sendari tadi hati Queen sangat gelisah sekali memikirkan putra pertama nya.

__ADS_1


Tak henti-hentinya sendari tadi menelepon sang putra, namun nomornya malah tidak aktif. Membuat Queen kian cemas, takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


Aurora nampak menautkan kedua alisnya melihat sang bunda yang terlihat cemas.


Hingga suara panggilan membuat Aurora teralihkan.


"Papa!"


Gumam Aurora merasa aneh, tak biasanya sang papa menelepon dirinya. Aurora langsung mengangkat telepon sang papa.


"Hallo pah,"


"Sayang dengarkan papa, jangan kasih tahu bunda. Kak Fatih mengalami kecelakaan, kakak sudah di bawa ke rumah sakit. Tolong tenangkan Bunda, sebelum papa menjemput kalian!"


"Pah ... papa ..,"


Tut .. Tut ...


Farhan langsung mematikan teleponnya, membuat Aurora terkejut. Benarkah sang kakak mengalami kecelakaan, bagaimana bisa.


Aurora sekuat tenaga menahan tangis agar tak mengundang perhatian sang Bunda.


Jika langsung di kasih tahu, Aurora takut terjadi sesuatu pada sang Bunda. Apalagi sang Bunda sedang hamil, Aurora takut malah membuat sang Bunda shok.


Berkali-kali Aurora membuang nafas kasar, berkali-kali juga Aurora mengambil nafas. Sebelum Aurora mendekati sang Bunda.


"Bunda!"


Sapa Aurora menahan kesesakan di dadanya, Aurora harus kuat.


"Iya sayang, kenapa?"


"Bunda hanya teringat kakak, di telepon gak di angkat-angkat!"


Cemas Queen, benar-benar merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada putranya.


"Mungkin kakak butuh sendiri Bun, Bunda jangan khawatir. Kasihan Dede baby, pasti dia ikut sedih!"


Queen tersentak kaget mendengar penuturan putri Cantik nya. Kenapa Queen lupa jika ia sedang hamil, dan ia malah melupakan kandungannya sendiri.


"Mending bunda makan, dari tadi siang bunda belum makan, ini sudah sore loh, jika papa tahu bunda belum makan pasti papa akan marah sama Rora!"


Queen tersenyum tipis mendengar perhatian sang putri. Ya, Queen harus makan, ada baby yang harus ia jaga dalam kandungannya.


"Rora, suapin ya!"


Queen mengangguk saja, membuat Aurora tersenyum tipis.


Tak lama, terdengar suara mobil pertanda bahwa Farhan sudah pulang.


Queen beranjak guna menyambut kedatangan sang suami.


"Bee,"


Queen tersenyum menyambut kedatangan sang suami. Farhan seperti biasa mengecup puncak kepala sang istri.


"Kenapa belum siap-siap?"


Tanya Farhan seolah mengingatkan akan sesuatu.

__ADS_1


"Bee, besok saja ya jenguk pak Lukman nya!"


"Gak bisa gitu sayang, Daniel sudah menunggu, apalagi katanya pak Lukman sakitnya patah!"


"Ya sudah, Queen ganti baju dulu!"


Farhan mengangguk, lalu Farhan melirik putri cantiknya yang duduk di meja makan.


Mata Aurora berkaca-kaca menatap sendu sang papa. Aurora berlari berhambur memeluk sang papa.


"Jangan menangis sayang, jangan sampai Bunda tahu. Sabar ya!"


Farhan berusaha kuat demi menguatkan anak dan istrinya.


Aurora buru-buru menghapus air matanya ketika sang Bunda sudah kembali.


Mereka berangkat menuju rumah sakit Bunda Husna.


Farhan menggenggam erat lengan sang istri, dimana mereka sudah dekat ruangan Fatih.


Queen merasa ada yang aneh, kenapa melihat ada polisi. Dan beberapa anak buah suaminya.


Pikiran Queen sudah tidak-tidak, seiring berjalannya dia keruang di mana ada beberapa penjaga.


"Bagaimana keadaan pak Lukman?"


Tanya Queen pada Daniel, Daniel hanya diam saja seolah tak sanggup untuk mengatakannya.


"Bee,"


Ujar Queen cemas menatap sang suami, seolah meminta ke jelasan.


"Sayang apapun yang terjadi, sabar ya!"


"Ini ada apa sebenarnya bee, jangan buat Queen bingung!"


"Masuk lah,"


Bukannya menjawab Farhan malah menyuruh Queen masuk. Dengan ragu, Queen masuk ke ruang ICU.


Deg ...


Seketika tubuh Queen menegang dengan mata memerah. Menatap putranya yang terbujur kaku di atas brankar.


Beberapa selang dan kabel menempel di kepala dan tubuh sang putra.


Bibir Queen gemetar dengan mata mulai mengembun. Seolah apa yang ia lihat hanya sebuah mimpi.


"P-putra ku!"


Bruk ...


Queen tak sadarkan diri di pelukan sang suami, sedang Aurora sendari tadi sudah menangis.


Bersambung ...


Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....


__ADS_1


__ADS_2