
Begitu erat Shofi memeluk Davit, rasanya Shofi tak mau berjauhan. Karena ini kali pertama Davit meninggalkan Shofi sendirian jauh di Negara orang.
Davit pun membalas pelukan sang adik yang sudah terguncang karena tangis.
Lama mereka saling berpelukan membuat Davit mengepalkan kedua tangannya mendengar isak pilu Shofi. Namun ini yang terbaik dari pada Davit membawa Shofi.
Davit berharap rencananya tidak gagal dan ia akan tenang jika nanti Shofi baik-baik saja.
"Berjanji lah, kamu harus kuat!"
Ucap Davit sambil mengelus rambut Shofi dengan sayang. Shofi sesekali mengusap ingusnya yang keluar dengan baju Davit membuat Davit terkekeh saja melihat tingkah adik kecilnya.
"Kakak pergi!"
Davit benar-benar pergi meninggalkannya. Shofi ingin berlari kencang mengejar sang kakak. Namun, kakinya seakan sulit bergerak bahkan Shofi tak berpindah sedikitpun. Bagaimana Shofi bisa mengejar Davit jika tangannya di cengkal oleh Fatih.
Ya, Fatih menahan tangan Shofi erat agar Shofi tak mengejar Davit.
"Lepas, aku ingin mengejar kakak!"
Berontak Shofi tak peduli orang-orang melihat dirinya. Fatih menarik Shofi kedalam pelukannya memeluk erat sekaan Fatih memberi kekuatan pada Shofi.
Shofi sendiri hanya bisa menangis sambil memukul-mukul dada bidang Fatih. Dan, tentu Fatih membiarkannya.
Lama mereka dalam posisi itu, hingga Shofi lelah sendiri.
Merasa Shofi tak menangis lagi, perlahan Fatih melerai pelukannya. Lalu Fatih mengajak Shofi duduk.
Fatih dengan wajah datarnya membenahi rambut Shofi yang berantakan. Lalu menghapus sisa-sisa air mata Shofi dengan kedua ibu jarinya.
"Minumlah!"
Fatih memberikan botol air mineral pada Shofi yang sudah Fatih buka kan. Shofi mengambilnya dan meminumnya karena memang Shofi butuh itu.
Shofi melirik Fatih yang sedang menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. Sulit bagi Shofi memahami sikap Fatih. Bagi Shofi Fatih orang yang sulit Shofi tebak. Di setiap harinya Shofi banyak sekali melihat kejutan-kejutan yang Fatih tunjukan.
Sikapnya yang seenaknya menyiksa orang dan menghinanya bukan berarti Fatih kejam dan jahat. Namun, Shofi baru menyadari setiap kata yang Fatih keluarkan.
Gue benci orang lemah!
Kata itu bukan sebuah hinaan atau amarah. Namun, sebuah kalimah yang menunjukan. Bangkitlah jangan pernah jadi orang lemah. Itulah yang baru Shofi sadari, ternyata Fatih gak seburuk itu. Justru dari Fatih Shofi bisa kuat dan melawan. Mungkin itu yang Fatih inginkan juga pada yang lain. Fatih seakan menunjukan jangan pernah terlihat lemah jika di tindas. Bangkit dan lawannya semampu yang di bisa. Karena kamu akan menemukan ke kuatan kamu sendiri di sana.
"Gue tahu, gue ganteng!"
Uhuk ... uhuk ...
Shofi tersedak minuman ketika ketahuan sedang memerhatikan Fatih. Bahkan sampai wajah Shofi memerah karena malu. Namun, Shofi orang yang sudah sangat Ahli dalam mengendalikan emosi.
"Pede amat, si amat juga gak pede!"
"Si amat kan jelek, gue ganteng!"
"Ganteng dari mana, loe itu manusia purba!"
__ADS_1
"Gue bukan manusia purba, Cupu!!!"
"Gue juga bukan cupu!"
"Loe itu cupu, terbukti karena loe lemah!"
"Loe juga manusia purba, terbukti suka mem buli!"
Mereka terus berdebat sengit tak ada yang mau mengalah. Bahkan tatapan mereka dua-duanya begitu tajam menghunus satu sama lain.
Perdebatan mereka malah mengundang pengunjung lain. Para pengunjung malah tersenyum ada juga yang terkekeh melihat sepasang muda sedang berantem. Bagi mereka Fatih dan Shofi pasangan yang sangat lucu dan unik.
Bahkan panggilan sayang mereka juga cukup unik.
Shofi dan Fatih menghentikan perdebatannya lalu terdiam saling tatap. Kemudian, keduanya serempak menoleh ke depan.
Deg ...
Fatih dan Shofi terkejut melihat orang-orang malah memerhatikan mereka bahkan mereka menatap kagum pada dirinya dan tersenyum-senyum gemas.
"Dek, mengalah saja sama pacarnya!"
"Iya, kalian uhhh ... unyu banget!!!"
"So Sweet!!!"
"Gemes ... gemes ..."
Fatih dan Shofi bergidik ngeri mendengar tanggapan orang-orang mereka kembali saling pandang.
Teriak Fatih dan Shofi barengan.
"Kami tidak pacaran!"
"Iya, benar!"
"Tapi kalian so sweet, gemess ..,"
Sahut ibu-ibu gemuk menatap gemes pada keduanya. Fatih menarik tangan Shofi kabur, ketika ibu-ibu gemuk itu ingin mencubit pipinya.
"Ey .. dek, mau kemana!"
Fatih dan Shofi terus saja berlari tanpa mempedulikan teriakan orang-orang yang menatap mereka gemes.
Huh .. huh ...
Fatih dan Shofi ngos-ngosan dengan nafas ter segal. Sungguh mereka tak menyangka akan di kejar-kejar oleh ibu-ibu.
Merasa aman Fatih mengajak Shofi duduk. Peluh membanjiri pelipis Shofi terlihat jelas kalau Shofi sangat cape dari tadi terus lari.
"Wait, di sini. Sebentar!"
Fatih langsung melesat pergi tanpa menunggu jawaban Shofi. Shofi hanya mendengus saja karena Fatih pergi begitu saja. Mana Shofi gak tahu Dufan lagi, apalagi banyak orang yang gak Shofi kenal. Dengan bodohnya Shofi duduk saja tanpa tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
Shofi menengok ke kanan ke kiri banyak orang yang lalu lalang entah mau ke mana bahkan rela sampai ngantri. Karena Shofi baru pertama kali ke Dufan jadi Shofi gak tahu Dufan itu tempat apa.
Lama Shofi menunggu sampai dua puluh menit tapi Fatih tak kunjung kembali membuat Shofi menjadi cemas.
Mau pergi dari tempat itu tapi takut, takut Shofi malah nyasar dan malah entah kemana.
Dengan terpaksa Shofi tetap duduk saja di sana dengan lelahnya menunggu Fatih kembali. Bahkan sampai beberapa kali Shofi mengupat.
"Eh, adek yang tadi. Kita ketemu lagi!"
Celetuk ibu-ibu gemuk sambil mencolek dagu Shofi membuat Shofi terkejut dan membulatkan kedua matanya. Kenapa harus bertemu lagi ibu-ibu gemuk itu.
"So sweet banget sih kalian. Yang satu nunggu di sini yang satu berjuang antri di sana!"
Shofi menautkan kedua alisnya tak mengerti akan ucapan ibu gemuk itu. Shofi mau bertanya maksudnya apa, namun urung ketika ibu gemuk itu pergi karena anaknya dari tadi merengek ingin naik bianglala.
"Menunggu, antri!"
Gumam Shofi masih tak mengerti apa yang di maksud ibu tadi .
"Nih, minum!"
Ucap Fatih tiba-tiba sambil menyodorkan sebotol Fruit tea pada Shofi.
Shofi langsung mengambilnya karena memang dia sedang kehausan bahkan hampir sekarat karena kesal menunggu Fatih.
Deg ...
Shofi terdiam seakan mengerti sesuatu, Shofi menatap botol Fruit tea yang baru saja ia minum lalu menatap Fatih yang terlihat lelah bahkan rambutnya acak-acakan. Entah apa yang terjadi pada Fatih.
Fatih pun ikut duduk lalu meminum minumannya dengan rakus. Fatih juga memberikan bungkus MCD pada Shofi.
"Gue tahu, bukan hanya haus loe juga lapar!"
Cetus Fatih langsung memberikan sebungkus MCD pada Shofi. Lalu Fatih juga memakan makanan nya sendiri.
Entah apa yang harus Shofi lakukan saat ini. Yang pasti ia begitu terkejut saja dengan sikap Fatih yang dingin nan ketus namun Fatih juga perhatian. Fatih seakan tahu apa yang Shofi butuhkan.
"Makan, jangan lihatin gue. Gue tahu, gue tampan!"
Shofi mencebikkan bibirnya mendengar kata arogan Fatih. Rasanya Shofi ingin mencabik-cabik mulut Fatih yang pede itu.
Karena tak mau berdebat lagi, Shofi memilih makan saja karena memang perutnya sangat kelaparan. Apalagi ini udah sore di mana perut Shofi sudah minta di isi.
Sudah selesai makan, Fatih langsung membuang sisa bungkus nya ke tempat sampah begitupun juga dengan bekas Shofi.
"Terimakasih!"
"Mau coba permainan Jig-Zag?"
Deg ...
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....