
Lucky membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.
Dengan sangat berat hati Shofi keluar mobil. Shofi mengedarkan pandangannya ke depan pintu masuk bandara Soekarno Hatta.
Inikah kisahnya sampai di sini.
"Shofi!"
Shofi tersenyum kecut melihat kedua sahabatnya melambaikan tangan.
Bunga dan Amira sudah berada di bandara sepuluh menit sebelum Shofi sampai.
Perpisahan yang tak di harapkan namun terjadi. Semua ini terjadi dan Shofi begitu lemah tak bisa sekedar melawan.
Ada tanggung jawab besar yang menanti membuat Shofi benar-benar harus pergi.
Rindu!
Satu kata mungkin akan menjadi kehausan sendiri bagi Shofi.
Satu setengah tahun, Shofi berada di Indonesia. Negara dengan sejuta candi dan pemandangan yang sangat indah, Shofi menyukainya.
Apalagi Shofi mendapatkan sahabat yang menerima ia apa adanya. Sebuah keluarga yang dengan baik hati merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangannya.
Namun, ada hati yang harus Shofi sakiti, dan ia juga sakit akan hal itu.
Pelukan hangat kedua sahabatnya membuat Shofi tak bisa tak menitikkan air mata.
Bunga dan Amira, mereka dua manusia yang mengenalkan Shofi apa arti sahabat.
Di ujung sana, keluarga Prayoga dan Al-biru ada, turut mengantar kepergiannya. Begitupun ada Amelia yang turut hadir, karena pak Anwar yang mengajaknya.
"Jangan menangis, kalian membuat ku lemah!"
Lilir Shofi mengeratkan pelukannya, begitu pun Bunga dan Amira semakin mengeratkan pelukannya. Mereka pasti akan sangat sangat merindukan momen bertiga. Namun, Bunga dan Amira harus lera melepaskan satu sahabatnya.
"Baiklah, kita tak akan menangis hiks ..,"
Ucap Bunga terisak membuat Amira mentoyor Bunga. Katanya tak menangis tapi malah semakin terisak.
"Katanya tak akan menangis, terus ini apa!"
"Hiks .., maaf ini hanya air mata!"
Shofi malah terkekeh dengan candaan Bunga, walau air matanya masih terus mengalir.
Bunga dan Amira menggandeng Shofi menuju keluarganya berada.
"Baik-baik di sana nak, jangan lupa tengok kami di sini jika ada waktu!"
Ucap Mama Melati memeluk lembut Shofi yang sudah di anggap putrinya sendiri.
"Terimakasih mah, atas kebaikan mama dan ayah Jek. Shofi pasti akan merindukan kalian,"
Lilir Shofi menahan supaya tak menangis lagi. Shofi harus kuat jika ia benar-benar akan pergi.
"Tan,"
"Bunda sayang, panggil Bunda!"
Tegas Queen membuat Shofi langsung berhambur memeluk Queen.
"Di manapun kamu berada, tetap baik-baik ya di sana!"
"Iya Bun, bunda juga!"
"Kakak cantik!"
Isak Aurora memeluk erat Shofi, sungguh Aurora sudah sangat sayang sekali dengan Shofi. Tapi, kenapa Shofi malah pergi.
__ADS_1
"Jangan nangis, mau jadi kakak juga. Malu sama Dede baby!"
Canda Shofi mengusap puncak kepala Aurora.
"Maaf!"
Shofi tersenyum manis melihat ada Amelia juga yang turut hadir mengantarnya.
"Aku mau, jika suatu hari nanti kita ketemu. Keponakanku sudah besar, rawatlah dia dengan penuh kasih sayang seperti kamu menginginkan kasih sayang itu!"
Amelia menangis di pelukan Shofi, Amelia tak menyangka ternyata Shofi semudah itu memaafkan dirinya. Sungguh, Amelia merasa malu akan kelakuan nya dulu, bahkan sampai tega menampar Shofi.
"Aku akan menjaganya, dia akan kuat seperti aunty nya!"
Yakin Amelia sangat merasa lega dan ada kehangatan di dalam hatinya ia bisa mengenal Shofi.
Semuanya Shofi sudah pamit dan berpelukan. Namun, Shofi merasa ada yang kurang.
Fatih!
Ya, satu nama itu tidak ada orangnya di antara Rangga, Raja dan Moreo juga yang turut hadir.
Shofi menghela nafas berat, bukankah ini keinginannya. Menginginkan Fatih tak datang agar dia bisa pergi tanpa merasa takut.
Tapi, kenapa sekarang Shofi malah menginginkan kehadiran Fatih berada untuk terakhir kalinya.
Shofi mengedarkan pandangannya, namun sosok itu tak ada. Sepertinya ini lebih baik.
"Nona muda ayo!"
Ucap Lucky menyuruh Shofi untuk segera masuk ke ruang check-in. Shofi mengangguk sambil mengambil tas nya.
"Tunggu!"
Shofi menghentikan langkahnya ketika suara yang Shofi sangat kenal terdengar di Indra pendengarannya.
"Ini buat kamu!"
"Terimakasih!"
Ucap Shofi mengambil sebuah kado dari tangan Amelia.
"Bukanya nanti saja, semoga kamu suka. Itu sebagai kenang-kenangan dari a-aku!"
Shofi mengangguk sambil berusaha tersenyum. Padahal yang Shofi harapkan adalah Fatih. Namun, nyatanya Fatih benar-benar menuruti keinginannya.
"Aku pergi!"
"Hati-hati!"
Grep ...
Shofi menghentikan langkahnya lagi ketika tangannya di tahan. Shofi menghela nafas berat.
"Ada ap--"
Deg ...
Shofi menghentikan ucapannya ketika melihat siapa orang yang menahan tangannya. Shofi pikir itu Amelia, ternyata salah.
"Kenapa tak menungguku, apa kamu benar-benar menginginkan aku tak datang!"
Shofi terdiam seakan sulit untuk bicara. Mendengar suara lembut Fatih, apalagi menggunakan bahasa aku kamu bukan loe gue lagi.
Rasanya Shofi ingin berhambur ke dalam pelukan Fatih. Namun, otak cerdasnya mencegah. Jangan sampai Shofi berbuat hal bodoh yang akan membuat dirinya semakin sulit pergi. Shofi harus kuat, dia pasti bisa.
Amelia melangkah mundur begitu pun dengan yang lain. Memberikan ruang untuk sepasang remaja itu. Bahkan Farhan pun tak bisa mencegah, karena apa yang ia takutkan ternyata terjadi.
Fatih menarik Shofi kedalam pelukannya, Shofi bisa merasakan debaran jantung Fatih yang terpacu hebat. Sama seperti debaran jantung dirinya.
__ADS_1
Shofi memejamkan kedua matanya dengan air mata yang keluar. Sungguh ini sangat menyakitkan.
Dua insan itu saling berpelukan seolah berat untuk saling melepas. Namun, Fatih mengerti, ia tak bisa egois meminta Shofi untuk tinggal.
Shofi buru-buru menghapus air matanya tak ingin terlihat lemah. Jangan sampai kelemahannya membuat Fatih juga ikut berat.
"Aku menyayangimu!"
"Aku tahu!"
"Kenapa cinta ini sangat menyakitkan! katakan apa kamu benar-benar menyukaiku, Philo!"
"Ya, aku menyayangimu!"
Fatih kembali menarik Shofi ke dalam pelukannya. Rasanya Fatih ingin egois meminta Shofi untuk tinggal. Tapi, Fatih tak seberani itu untuk mengatakannya.
"Aku mencintaimu, tolong jaga hatimu untukku!"
"Aku tak bisa janji!"
"Kenapa?"
"Kita tak tahu, kedepannya bagaimana. Aku malah takut kamu yang akan melupakanku!"
Entah kenapa kepergian ini membuat Shofi merasa gelisah.
"Aku mencintaimu, itu tak akan pernah terjadi. Walaupun begitu, tapi aku yakin Philo ku akan mengembalikan semuanya!"
"Aku juga mencintaimu, tapi maaf. Cinta yang ku miliki tak bisa ku genggam, kita berbeda. Aku harus pergi!"
Lilir Shofi sekuat tenaga menahan air mata agar tak jatuh kembali.
Cup ...
Sebuah kecupan Fatih daratkan di kening Shofi. Membuat Shofi memejamkan kedua matanya. Merasakan kehangatan bibir Fatih di keningnya.
"Pergilah!"
Shofi mengangguk lalu berjalan menuju ruang check-in.
"Aku akan menunggu!"
Teriak Fatih membuat Shofi kembali menghentikan langkahnya sambil berbalik lalu menggeleng kepala kuat.
"Jangan! ku mohon jangan halangi langkahku dengan penantian mu!"
Mohon Shofi tak mau ada sebuah janji yang terikat. Karena Shofi tak tahu bagaimana kehidupan ia kedepannya di sana.
"Baiklah!"
"Tapi satu yang harus kamu ingat! Jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, aku tak akan melepaskan mu!"
Filosofi Alin Damaresh, terus berjalan lurus tanpa menoleh lagi ke belakang, dengan linangan air mata yang tak usai berhenti.
Bukankah ini jalan yang Shofi pilih, harusnya Shofi kuat. Filosofi Cintanya tak seindah Filosofi namanya. Yang penuh makna keindahan cinta yang luas.
King Fatih Al-biru, hanya bisa mengepalkan tangannya kuat. Melihat punggung Shofi yang menghilang di telan kerumunan.
Kisah cinta mereka tak semulus yang di bayangkan, mereka harus berpisah dan membuat keduanya sama-sama terluka. Namun, tak ada satupun yang mengalah, mereka tak bisa bersama karena sang kekasih harus pergi meninggalkan luka.
Ada sebuah tanggung jawab besar yang membuat Philo nya Fatih pergi.
Tamat ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
Jangan lupa tunggu kisah Amira dan Alam ya di Novel Heterogen (seperti Air dan Pasir)
__ADS_1