Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 76 Benang merah


__ADS_3

Hari Minggu ...


Hari yang di nanti Shofi, di mana Shofi akan bertemu dengan seseorang kepercayaan sang kakak.


Davit memberikan petunjuk pada Shofi kemana Shofi harus pergi.


Shofi meminta izin seperti biasa pada Tante Melati dan Jek pergi keluar. Awalnya mereka berdua tak mengizinkan Shofi pergi sendiri dan menyuruh keluar dengan Amira. Namun, dengan halus Shofi menolak karena permintaan sang kakak harus pergi sendiri.


Jek tak mengizinkan begitu saja, Shofi boleh keluar dengan syarat pergi dengan bodyguard kepercayaan nya.


Mau tak mau Shofi harus mengiyakan dari pada tidak keluar sama sekali.


Sepertinya keluarga Prayoga dan Al-biru menjaga ketat keberadaan dirinya.


Sepertinya Shofi butuh sentuhan titik akhir untuk bisa memecahkan rasa penasarannya.


Dan, itu Farhan papa Fatih. Ya, Shofi harus mencari tahu dari Farhan.


Sebentar lagi Shofi mempunyai data itu, dan ia bisa tahu semuanya.


Shofi datang ke taman mini, taman yang begitu luas. Begitu banyak orang di sana dari mulai yang muda sampai yang tua.


Ternyata sang kakak pintar sekali mencari tempat pertemuan agar tidak terlalu mencolok.


Di tempat keramaian siapa yang tahu bahwa Shofi sedang melakukan penyamaran.


Shofi terus berjalan seperti yang di arahkan sang kakak. Hingga mata Shofi menatap sosok laki-laki yang sedang duduk di sebuah kursi dengan koran di tangannya.


"Permisi, boleh saya duduk!"


Laki-laki berwajah datar itu hanya mengangguk lalu matanya fokus kembali pada koran di tangannya. Di sampingnya ada sebuah paper bag besar. Isinya seperti sebuah jaket hangat.


"Semuanya ada di dalam paper bag itu, langsung kembali ke keluarga itu. Jangan kemana-mana dulu!"


Suara pelan namun cukup jelas Shofi dengar. Shofi menatap laki-laki dingin itu berjalan meninggalkannya.


Shofi langsung mengambil paper bag itu dan pura-pura mengejar laki-laki dingin itu. Seolah Shofi sedang mengembalikan barang orang yang tertinggal.


"Pak, jalan!"


Shofi langsung memerintahkan bodyguard Jek untuk segera pergi dari sana.


Shofi langsung membuka topi, kaca mata dan masker yang ia gunakan. Lalu Shofi mengambil paper bag dan mengeluarkan isinya.


Ada dua map di dalam sana, sepertinya Shofi harus segera sampai ke rumah Amira.


Sesudah sampai Shofi langsung masuk ke dalam kamar. Di mana ada Amira yang sedang tiduran.


Amira langsung bangun ketika mendapati Shofi sudah pulang.


"Apa sudah dapat!"


"Ra, bisa bantu aku untuk mencari data-data orang di sini. Perusahaan mereka berada di mana dan di bidang apa!"


Ucap Shofi langsung membuka laptop nya. Dan melihat nama-nama yang tercantum di sana.


Ada banyak nama dalam berkas itu, namun Shofi tidak menemukan hal yang aneh. Kebanyakan itu dapat nama-nama yang sudah tidak bekerja sama lagi dengan sang Daddy.

__ADS_1


Tinggal tersisa satu berkas lagi dan Shofi belum menemukan apa yang dia mau.


Shofi membuka berkas satunya lagi,


"Kita makan dulu yuk, dari tadi kita sudah bekerja keras tapi belum dapat apa yang kamu inginkan?"


Ucap Amira membuat Shofi urung melihat satu data itu. Shofi ingin menolak namun tak enak.


"Ya sudah, kita makan dulu!"


Amira tersenyum bahagia karena Shofi mau makan. Pasalnya Amira memang tidak lapar, namun Shofi yang sejak tadi pagi belum sarapan dan juga melewatkan makan siang. Amira tak mau Shofi malah sakit karena terlalu fokus pada pekerjaannya.


"Sedang buat apa tan?"


Tanya Shofi melihat Tante Melati sedang sibuk di dapur.


"Kau ini, sudah berapa kali mama bilang. Panggil mama jangan Tante, mama jadi merasa orang asing!"


Ketus Melati membuat Shofi nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sungguh keluarga ini sangat baik padanya.


"Iya mah, oh om Jek kemana?"


"Ayah Shofi, ayah!"


Kini Amira yang protes membuat Shofi lagi-lagi tersenyum kikuk.


"Ayah lagi di garasi, biasa merawat istri keduanya,"


Shofi dan Amira tertawa melihat kejengkelan mama Melati. Istri kedu yang di maksud mama Melati adalah motor legendaris Jek waktu dulu balapan.


Jek memang tak memberi tahu pada putrinya siapa dirinya sendiri. Untung saja Amira kelakuannya tak mewarisi Jek. Jika begitu, sepertinya Jek harus siap pusing dalam penjagaan putrinya seperti apa yang Farhan lakukan pada Fatih.


"Siap mah,"


Melati menghentikan mengunyel adonan kue lalu menatap Shofi yang sedang makan dengan Amira.


"Mama tidak tahu permasalahan apa yang sedang kamu hadapi. Mama berharap kamu bisa dengan cepat mengatasinya!"


Shofi tersenyum kikuk dengan rasa bersalah. Shofi memang tak banyak bercerita tentang apa yang dia alami. Namun, Shofi sendiri masih mencari jawaban tentang dua keluarga yang sang kakak percayai akan dirinya.


Semua ini masih menjadi teka teki bagi Shofi, bahkan Amira juga tak tahu seperti apa masa muda ayah Jek.


Shofi pernah mencoba meretas sistem data keluarga Prayoga dan Al-biru. Namun, hasilnya nihil. Shofi kesulitan masuk, karena data dua keluarga ini seperti di lindungi oleh orang ahli.


"Iya mah, kalian orang baik semoga Shofi tak membahayakan keluarga ini!"


"Keluarga ini akan baik-baik saja!"


Shofi langsung mengalihkan tatapannya pada ayah Jek.


"Lakukan apapun yang kamu mau, tapi ingat keluar harus bersama bodyguard tadi!"


"Baik yah,"


Amira hanya diam saja bingung dengan pembahasan ini. Sungguh bibir Amira sudah gatal ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, sayangnya Shofi sudah melarang dirinya bertanya kalau tidak dia akan pergi.


Sesudah makan Shofi kembali ke kamar bersama Amira.

__ADS_1


"Sudah, jangan cemberut begitu. Aku janji, suatu hari nanti aku akan ceritakan semuanya!"


Ucap Shofi faham apa Yang ada di kepala Amira.


Shofi kembali duduk di kursi meja belajar sambil menghidupkan laptop nya kembali. Begitupun Amira menghidupkan laptop nya sendiri sambil duduk di atas shopa.


Shofi membuka satu map lagi yang belum di periksa. Beberapa lembar Shofi serahkan pada Amira.


Shofi mulia mengetik nama beserta profil perusahaan nama tersebut.


Ada sebagian nama dan perusahaan yang masih bekerja sama namun belum ada hal yang mencurigakan dari data yang Shofi sudah temukan.


Nama dan perusahaan itu aman tak ada hal yang aneh.


"Shofi?"


"Iya,"


"Kok di sini ada nama om Farhan ya!"


Deg ...


Shofi langsung menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard. Lalu langsung berbalik menghadap Amira.


"Masa!"


"Ini beneran, kamu lihat deh!"


Shofi langsung menghampiri Amira dan melihat berkas yang Amira pegang.


"Mr. Farhan Al-biru!"


Gumam Shofi membaca satu nama di berkas itu.


"Apa perusahaan om Farhan yang bekerja sama dengan perusahaan Daddy kamu!"


"Kita lihat benar apa tidak!"


"Tidak!"


Cegah Shofi membuat Amira bingung.


"Lebih baik aku bertemu langsung dengannya, itu lebih baik dari pada aku harus mencari datanya yang tak mungkin aku dapatkan!"


"Aku ikut!"


"Tidak, kamu tetap di rumah. Please, kini belum saatnya!"


Amira hanya mengangguk pasrah saja, sebenarnya Amira penasaran kenapa Shofi ingin tahu teman dan siapa saja orang yang bekerja sama dengan sang Daddy.


Dengan cepat Shofi langsung menyambar tas nya dan memasukan berkas itu.


Kini sepertinya Shofi mulai menemukan benang merah. Kenapa sang kakak menitipkan dia di dua keluarga besar ini.


Sebentar lagi Shofi akan tahu semuanya. Namun, ketidak sabaran itu membuat Shofi tak bisa berpikir jernih. Dia pergi tidak dengan bodyguard ayah Jek tapi malah memesan taxi online.


"Mau kemana dia?"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2