Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 65 Arti sebuah sahabat


__ADS_3

Shofi buru-buru masuk kedalam rumah lalu menutup pintu kembali. Shofi menyadarkan punggungnya di daun pintu yang baru Shofi tutup.


Untung saja Amira tahu kalau ia sedang di hukum dan pasti akan pulang telat.


"Apa kamu menyukai Fatih?"


Deg ...


Shofi terperanjat ketika Amira tiba-tiba muncul di hadapannya.


Amira memang sendari tadi melihat interaksi Shofi dan Fatih. Walau Amira tidak terlalu jelas mendengar percakapan mereka berdua. Namun, Amira bisa menyimpulkan kalau adik sepupu nya mulai jatuh cinta pada Shofi. Terlihat dari cara Fatih memandang Shofi yang berbeda.


"Apa yang kamu bicarakan, maaf aku pulang terlambat!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Jawab pertanyaan ku dengan jujur Filosofi Alin!"


Ucap Amira tegas menekan nama panjang Shofi di akhir kalimat nya. Untung saja kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam kamar atau mungkin sudah tidur.


"Aku tak bisa melakukan itu!"


Ucap Shofi berat dengan sebuah hembusan nafas berkali-kali seakan menandakan bahwa Shofi memang berat melakukan itu.


Amira menautkan kedua alisnya bingung dengan jawaban Shofi. Kenapa Shofi terlihat gelisah dan gusar seakan ada kecemasan yang begitu hebat.


"Kenapa?"


"Aku tak bisa!"


"Apa kamu terlanjur membenci?"


Shofi menggeleng lemah lalu detik berikutnya mengangguk. Membuat Amira jadi bertambah bingung di buatnya.


"Lalu?"


Shofi menjatuhkan tubuhnya sambil menyandarkan punggungnya di daun pintu.


Amira berjalan melakukan hal yang sama dengan kaki ber selonjor ke depan.


"Apa kamu masih tak mau berbagi denganku?"


"Bukan itu! aku hanya tak mau menyakitinya suatu hari nanti!"


"Kenapa?"


Shofi berkali-kali mengatur emosi yang bergejolak di dalam diri nya. Panggilan yang Fatih sematkan terlalu mengusik pikirannya. Kenapa juga Fatih malah memanggil dengan panggilan itu.


"Bukankah kamu tahu, aku begitu banyak rahasia! aku tak mau mencintai nya dan aku berharap dia juga tidak melakukannya!"


Walau kenyataan nya aku sudah jatuh dalam pesonanya.


Lanjut Shofi dalam hati menundukkan kepala dengan perasaan masih gusar.


"Kenapa seperti itu, aku tahu siapa sepupu ku. Dia tak akan mudah melepaskan mu, apalagi kalau Fatih sudah jatuh cinta padamu!"

__ADS_1


"Itulah yang aku takutkan, Ra. Aku takut dia akan kecewa!"


"Kenapa harus takut dan kecewa!"


"Aku tahu bagaimana sakitnya di tinggalkan, dan meninggalkan. dua hal yang sama-sama sakit!"


Deg ...


Amira terdiam dengan jawaban Shofi yang begitu dalam bahkan Amira sendiri bisa merasakannya. Apalagi jika saling mencintai namun tak bisa saling memiliki pada akhirnya salah satunya harus lera di tinggalkan atau memilih meninggalkan.


"Jangan bilang kamu akan pergi!"


Shofi mengangguk lemah, setidaknya Shofi lebih awal memberi tahu Amira. Supaya di saat telah tiba waktunya Amira tak akan kecewa dan sedih.


"Kenapa?"


Kini Amira semakin serius bahkan sambil memegang kedua bahu Shofi hingga Shofi menghadap Amira.


Amira tertegun melihat bola mata Shofi yang memerah seakan sudah lama menahan kesakitan, rindu, marah dan dendam menjadi satu.


"Kamu tahu, kedua orang tuaku pergi karena pembunuhan bukan perampokan. Suatu hari nanti aku harus pergi menyesaikan dendam ini dan merebut apa yang seharusnya aku miliki. Banyak tugas yang harus aku lakukan, dan itu sudah menungguku. Berkas-berkas dan data-data yang selama ini aku perlihatkan itu semua data dan berkas perusahaan Daddy!"


"Tempatku bukan disini, aku harus pergi merebut dan menjaga apa yang sudah Daddy bangun!"


Amira melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Shofi dengan perasaan antara terkejut dan juga Shok.


Terkejut karena selama ini ternyata Shofi sedang mengerjakan sesuatu yang berat. Dan Shok saat mengetahui fakta sebenarnya kematian kedua orang tua Shofi.


"Bagaimana kalau itu sudah terlambat!"


"Aku tak mau menyakitinya!"


"Jangan bilang kalau kamu!"


Shofi mengangguk lemah dengan setetes air mata yang jatuh. Sendari tadi Shofi menahannya. Namun, nyatanya lagi-lagi Shofi terlalu lemah untuk tak menunjukannya.


Tak apa Shofi menunjukan kelemahannya di depan Amira. Toh, Amira bukan hanya sekedar sahabatnya tapi ia juga saudara bagi Shofi.


Amira menarik Shofi kedalam pelukannya, Rasanya kenapa begitu menyakitkan.


Kini Amira faham apa yang sedang di alami Shofi. Ternyata kisahnya tak serapuh kisah Shofi. Sakitnya tak sesakit hati Shofi. Amira bisa merasakannya tanpa harus di jelaskan lagi.


Pasti berat berada di posisi Shofi saat ini, tanggung jawab sedang menantinya atau Shofi harus tetap diam dengan cintanya.


Itu pasti tidak mudah di lakukan, dan Shofi sudah merencanakan kepergiannya.


Bagaimana kalau Fatih sudah jatuh dan apa yang akan Fatih lakukan. Apa ia akan berjuang atau malah memilih melepaskan. Membiarkan Shofi pergi suatu saat nanti.


Harusnya itu tidak terjadi, kenapa Fatih juga masuk dalam kehidupan Shofi. Andai saja Fatih tak baik, tak melindunginya dan tak berbuat lebih. Mungkin Shofi akan memilih tetap membenci. Namun, sialnya rasa itu menerobos masuk tanpa permisi dari sang pemilik hati.


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Tetap membuat Fatih membenci hingga rasa itu tak akan hadir sama sekali!"

__ADS_1


"Bagaimana kalau sebaliknya?"


"Aku tak bisa menyembuhkan lukanya!"


Lilir Shofi mengepalkan kedua tangannya. Kenapa kisah nya jadi serumit ini. Andai saja Shofi tak bertemu Fatih mungkin keadaan ini tak akan pernah terjadi. Namun, nyatanya ini sudah terjadi dan Shofi harus siap menghadapinya.


"Jangan pernah tanya kemana aku akan pergi suatu hari nanti!"


Amira menangkupkan kembali bibirnya ketika Shofi sudah lebih dulu menyela pertanyaannya.


"Biarkan begini, aku janji. Ketika aku pergi, suatu saat nanti aku akan menemui kamu dan Bunga!"


"Baiklah, aku tak akan pernah bertanya kemana kamu akan pergi!"


"Hari ini sudah begitu berat kamu jalani, ayo kita istirahat!"


Ucap Amira mengulurkan tangan, dengan senang hati Shofi meraihnya. Mereka berjalan ke lantai dua guna mengistirahatkan hati, pikiran dan badannya.


Hari ini memang cukup berat bagi Shofi apalagi permintaan Fatih tadi yang ingin berteman dengannya. Itu artinya Fatih sudah tak membencinya lagi. Namun, pertemanan malah membuat Shofi semakin takut. Shofi memilih lebih baik Fatih tetap membenci dan Shofi akan berusaha menerima kebencian itu. Dari pada Shofi melihat kekecewaan yang akan jauh lebih menyakitinya dan berat untuk Shofi melangkah pergi.


Shofi nampak gusar sulit memejamkan kedua matanya. Bahkan sendari tadi Shofi terus bergerak ke kanan ke kiri mencari posisi nyaman.


Amira kembali membuka kedua matanya merasakan pergerakan dari tadi.


"Apa kamu susah tidur?"


"Maaf, aku mengganggumu!"


"Aku harus berbuat apa supaya kamu tidak gusar?"


"Gak tahu, entah kenapa tiba-tiba hatiku gelisah!"


"Tidurlah, besok kita sekolah!"


Ucap Amira menarik Shofi kedalam dekapannya.


Amira bak seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Sejatinya Amira memang seperti Melati mempunyai hati bak malaikat dan juga cengeng. Walau di luar Amira akan menjadi sosok Jek yang cuek dan ketus.


Amira terus mengusap-usap punggung Shofi berharap Shofi akan tenang.


"Terimakasih!"


"Hm!"


Perlahan kedua mata Shofi mulai terpejam. Usapan lembut tangan Amira di punggungnya membuat Shofi mulai tenang bahkan Shofi langsung terlelap. Begitupun Amira menyusul Shofi seiring usapannya yang mulia melemah.


Indah sekali pemandangan malam ini melihat dua orang asing yang di pertemukan dalam sekejap namun bisa saling mengerti satu sama lain. Bukankah itu indah di sebut dalam sebuah persahabatan.


Persahabatan bukan di nilai dari kita lama atau sebentar berteman dengan seseorang. Namun, seberapa teman itu saling mengerti satu sama lain.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2