Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 70 Rumah sakit


__ADS_3

Brak ...


Amira dan Melati terkejut ketika pintu rumah di tutup sangat kencang. Amira ingin protes dengan tingkah Shofi yang tiba-tiba. Namun, urung ketika melihat Shofi menangis dengan tangan di perban.


"Temani dia, mungkin Shofi butuh kamu!"


"Baik, mah."


Amira langsung menyusul Shofi dengan pikiran bertanya-tanya. Ada apa dengan Shofi, apa Fatih menyakiti Shofi lagi. Setahu Amira Shofi sedang menghindari pulang bareng Fatih. Apa terjadi sesuatu pada Shofi. Kenapa juga tangannya di perban.


Perlahan Amira membuka pintu dan matanya langsung berpusat pada gadis yang sedang berjongkok di sudut tempat tidur dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Kedua bahunya bergetar menandakan bahwa gadis itu sedang menangis.


Amira mendekat lalu duduk di samping Shofi. Amira hanya diam karena tahu Shofi pasti butuh waktu. Amira hanya diam saja jadi pendengar isakan pilu Shofi. Amira yakin Shofi pasti akan menceritakan semuanya padanya.


Tak lama isakan Shofi mulai mengecil dan getaran bahunya juga mulai reda pertanda Shofi mulai tenang.


Shofi mendongak bak anak kecil dengan mata satunya dan hidung kembang kempis.


Amira merentangkan kedua tangannya supaya memudahkan Shofi masuk kedalam pelukannya. Dan, benar saja Shofi berlaga bak anak kecil langsung berhambur kedalam pelukan Amira. Sudah hampir empat bulan Shofi tinggal bersama Amira. Membuat Amira sedikit tahu sikap dan kebiasaan Shofi saat sedih.


Shofi hanya butuh di temani dalam diam dan sebuah pelukan hangat. Karena itu Shofi akan merasa aman dan nyaman. Seperti apa yang Shofi lakukan pada kedua orang tuanya.


Jika langsung di tanya, Shofi sampai kapan pun akan tetap diam tak akan mau terbuka.


"Aku tak mau menyakitinya ...,"


"Aku tak mau menyakitinya!"


Ucap Shofi paru dengan nafas tercekat. Setelah Davit pergi kini hanya Amira dan Bunga yang bisa membuat Shofi nyaman.


Shofi terus saja mengoceh dengan suara serak pilunya. Hanya 'aku tak mau menyakitinya' kata itulah yang terus Shofi ucapkan.


Sekarang Amira paham apa yang sebenarnya terjadi pada Shofi.


Fatih pasti sudah mengakui perasaannya. Karena Amira tahu bagaimana sikap sepupu nya itu. Fatih akan selalu jujur apa yang dia rasakan suka atau tidak suka. Walau terkadang harus menyakiti orang lain atau menyenangkan.


"Fatih akan mengerti!"


"Tapi dia akan kecewa!"


Amira terdiam, memang benar apa yang di katakan Shofi. Fatih pasti akan kecewa jika tahu ia akan pergi.


Bahkan sampai saat ini Shofi tak memberi tahu dia kemana Shofi akan pergi. Shofi melarang akan hal itu.


"Berapa lagi waktu kamu?"


"Tujuh bulan!"


"Tak bisa kan menciptakan waktu indah kalian berdua dalam waktu itu!"

__ADS_1


"Itu akan semakin menyakitkan jika di lakukan, dia pasti akan membenci!"


Amira kembali diam, kenapa hubungan selalu rumit oleh keadaan. Tak bisakah langsung bersatu kalau memang saling suka.


Namun tak semudah itu bagi Shofi, dia harus benar-benar merasakan sakit dua-duanya. Sakit meninggalkan luka dan sakit membawa luka.


"Dia harus tetap membenci ku, jangan menyukaiku!"


"Tapi aku tak yakin kamu bisa melakukannya. Kamu pun tahu siapa Fatih!"


Kini giliran Shofi yang terdiam, andai saja dirinya juga tak mempunyai rasa mungkin semua ini tak akan terjadi. Shofi harus membentengi hatinya agar tidak jatuh semakin dalam.


"Ini yang aku takutkan!"


Lilir Shofi, kenapa jadi begini. Kenapa pula Fatih cepat mengatakannya. Tak bisakah di pendam saja. Cukup jadi teman baik jangan lebih.


"Shofi!"


"Hm,"


"Tangan mu berdarah lagi!"


Shofi seketika langsung melepaskan pelukannya. Dan, benar saja perbannya kembali memerah artinya lukanya mengeluarkan darah kembali.


"Kenapa bisa mendapatkan luka seperti ini?"


"Apa yang Fatih lakukan sampai kamu seperti ini?"


Marah Amira membuat Shofi menggeleng. Ini bukan salah Fatih, ini hanya sebuah kecelakaan. Dan, kecelakaan ini membuat Fatih berkata jujur.


"Kami di serang oleh anak-anak Rebel, musuh manusia purba itu!"


Amira langsung membekam mulutnya tak percaya. Dan Amira kembali melotot baru menyadari dahi Shofi juga di perban.


Amira langsung berlari memanggil sang mama untuk mengatasi masalah Shofi karena Amira memang kurang tahu dan takut salah tindakan.


Melati terkejut mendengar cerita putrinya bahwa Shofi terluka.


"Ya, tuhan nak. Kita harus kembali ke rumah sakit. Jahitan ini harus segera di benarkan!"


Shofi merasa bersalah karena sudah membuat orang lain khawatir. Andai saja tadi Shofi tak bertindak gegabah. Luka jahitannya tidak akan berdarah lagi.


Ya, tadi Shofi meluapkan amarahnya dengan meninju dinding. Padahal tadi Shofi tak merasakan apa-apa kenapa sekarang jadi terasa perih.


Untung saja, rumah Amira tidak terlalu jauh dengan rumah sakit jadi Shofi bisa langsung di tangani setelah Melati mengurus semuanya.


Ah, rasanya Shofi ingin menangis sejadi-jadinya nya. Andai saja ia waktu di Bali bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka pasti Shofi tak akan pindah dan tak akan juga bertemu Fatih.


"Jangan banyak bergerak, takutnya lukanya akan kembali cidera. Mungkin putri ibu akan sedikit demam karena pengaruh obat bius yang di berikan kembali. Jika demam, berikan obat yang ini. Kalau tidak berikan yang ini saja supaya tidak terlalu berdenyut ketika obat biusnya hilang!"

__ADS_1


Jelas dokter membuat Melati mengangguk saja. Begitupun Amira yang menerima resep dari dokter dan dia yang mengambilnya. Sedang sang mama dan Shofi menunggu di mobil saja.


"Kak Rara,"


Amira langsung berbalik mendengar suara orang yang memanggilnya. Amira tersenyum tahu siapa orang yang memanggilnya.


Namun, senyuman Amira seketika hilang melihat siapa orang yang sedang menggandeng Aurora.


"Kakak sakit juga?"


Tanya Aurora polos melihat kantong obat yang Amira pegang.


"Bukan kakak yang sakit, tapi teman kakak!"


"Kakak cantik itu sakit?"


"Iya, kenapa Rora bisa di sini. Siapa yang sakit?"


Buru-buru Amira mengalihkan pembicaraannya sebelum Aurora bertanya jauh.


"Om yang sakit!"


"Om!"


Ulang Amira langsung menatap laki-laki gagah di hadapannya yang memasang wajah datar. Tak ada ekspresi apapun dari wajahnya.


"Iya, tadi Rora meminta di temani om jalan-jalan. Tapi, dari tadi om memegang kepalanya terus dan mengaduh. Jadi Rora memaksa om ke rumah sakit deh. Walau, awalnya om gak mau, tapi Rora merengek supaya om mau di periksa!"


Jelas Aurora membuat Amira seketika menjadi khawatir. Mungkin tadi Amira tak mau memandang laki-laki di hadapannya karena masih kesal dengan kejadian di rumah sakit.


Tapi mendengar laki-laki yang Amira cintai, membuat Amira menjadi khawatir juga.


"Om ..,"


"Rora ayo pergi, nanti Bunda marah jika kita belum pulang!"


Amira menatap sendu punggung laki-laki yang selalu ketus padanya. Dulu Alam tak sedingin dan seketika itu padanya. Dulu Alam juga memperlakukan Amira seperti Alam memperlakukan Aurora dan Fatih. Walau mereka berbeda tiga tahun tapi Alam sudah mampir menjadi om yang baik walau usianya sangat muda.


Jangan melebihi batas. Saya tak mau jika uncle dan aunty tahu. Bahwa cucunya menyukai omnya sendiri.


Bagaimana perasaan mereka, mereka pasti akan terluka!


Ucapan itu masih terngiang di telinga Amira. Apa salahnya dia menyukai putra nenek dan kakek nya sendiri. Toh, dalam agama mereka bisa menikah.


Tapi, kenapa Alam begitu jahat padanya. Bukankah dia juga menyayanginya. Tapi, kenapa sekarang berbeda.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2