
Rasa lelah tak bisa Shofi sembunyikan lagi. Semua ini gara-gara Fatih, si manusia purba.
Bahkan baju Shofi berantakan, Shofi langsung mandi saja karena merasa tak enak. Badannya begitu sangat sangat lengket apa lagi tadi kena air bakso.
Shofi merendamkan tubuhnya di dalam bathtub. Aroma terapi begitu menenangkan membuat Shofi sedikit merasa rileks. Bahkan Shofi sampai tak sadar ia ketiduran. Apalagi mungkin karena Shofi kurang tidur datang kesekolah langsung di hukum dan di kerjain Fatih pula.
Sungguh hari ini benar-benar hari penderitaan bagi Shofi. Entah apa yang akan Fatih lakukan jika Shofi sudah menjadi babu nya.
Namun, Fatih lupa satu hal, Shofi tidak akan mudah menuruti perintah Fatih jika Fatih menyuruhnya di luar batas wajar.
Shofi akan melawannya walau Shofi harus menjadi musuh Fatih.
Entah sudah berapa lama Shofi berendam, sambil tidur. Rasanya kini badan Shofi segar kembali. Shofi menyudahi mandinya lalu memakai pakaian santai.
Krukk ...
Shofi memegang perutnya yang sudah sangat lapar. Bahkan cacing-cacing di perutnya sudah pada demo.
Seperti biasa di rumah Shofi begitu banyak penjagaan ketat. Bahkan di setiap sudut rumahnya ada. Namun, penjagaan itu seperti bukan penjagaan karena bodyguard Shofi tidak memakai pakaian formal melainkan pakaian biasa selayaknya orang bersih-bersih. Ya, mereka menyamar karena tak mau mengundang kecurigaan orang. Ada juga yang berperan menjadi saudara Shofi jika ke luar rumah.
Shofi menuruni anak tangga satu persatu sambil mencebikkan bibirnya melihat Shofi seperti tawanan rumah saja.
"Sudah bangun, hm!"
Deg ...
Shofi menghentikan langkahnya dengan perasaan kesal mendengar suara yang Shofi kenal. Walau begitu Shofi sangat mengkhawatirkan kan nya.
"Kakak!"
Pekik Shofi berlari ke arah Davit yang merentangkan kedua tangannya.
Shofi berhambur ke dalam pelukan Davit dengan keras sampai membuat Davit terhuyung ke belakang.
"Anak nakal!"
Plak ...
"Kakak tuh yang nakal, adek sendiri di tinggal sendiri!"
Ketus Shofi sambil memukul lengan kekar sang kakak. Davit meringis tertahan ketika luka tembak Shofi pukul. Davit yakin, lukanya akan basah kembali.
"Ok .. ok maafkan kakak,"
Kruk ...
Davit menautkan kedua alisnya mendengar suara ajaib itu.
Kruk ...
Ha ...
Davit tertawa melihat wajah sang adik yang memerah.
"Kamu lapar?"
Shofi hanya mengangguk saja, karena memang perutnya sudah keroncongan.
__ADS_1
"Baiklah, sebagai permintaan maaf kakak. Kakak akan masakin buat kamu!"
"Ye, beneran kak!"
"Ayo!"
Davit langsung menarik lengan Shofi menuju dapur. Davit menyuruh Shofi duduk saja sedangkan Davit mulai mencari bahan makanan yang akan di masak hari ini.
Sesudah bahan makanan Davit ambil lalu Davit memulai masaknya.
Sedang Shofi sibuk dengan ponselnya sambil memakan buah untuk mengganjal perutnya yang sudah kelaparan. Sesekali Davit melirik Shofi yang sedang sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sedang Shofi lakukan, tak biasanya Shofi sibuk dengan ponselnya.
Tapi, Davit tak mau ambil pusing. Mungkin Shofi sedang bermain game atau apalah untuk mengusir rasa bosannya menunggu ia masak.
"Masakan ala Chef Davit sudah jadi!"
Teriak Davit membuat nasi goreng, telor ceplok berikut toping-topingnya. Di atas nasi goreng itu begitu banyak campurannya. Dari mulai telor, sosis, sayuran berikut daging. Nasinya cuma sedikit terlihat banyak dengan toping nya. Itu nasi goreng ke sukaan Shofi yang suka sedikit nasi namun banyak temannya. Terutama sayuran.
"Wow, sepertinya lezat!"
Puji Shofi menatap napsu pada nasi goreng di hadapannya.
"Kok bikin satu, kakak gak makan?"
"Kakak sudah kenyang, kamu makan saja ya. Kakak mau mandi dulu gerah!"
"Ok!"
Davit langsung meninggalkan Shofi menuju kamarnya. Sudah masuk kamar Davit langsung membuka jas nya. Untung saja jas yang di kenakan Davit warna hitam jadi Shofi tidak bisa melihat ada luka.
Huh ...
Jangan sampai Shofi tahu akan hal ini.
Sedangkan Shofi dengan antengnya makan sambil terus menatap layar ponselnya. Entah apa yang sedang Shofi lihat.
"Cih, ternyata dia seorang hiperseks!"
Gumam Shofi tak jelas karena dia sedang mengunyah.
Ya, Shofi sibuk menatap ponsel bukan untuk main game atau update sosial media. Namun, Shofi sedang melihat berita yang melingkup saudara tirinya. Dan begitu terkejutnya ketika Shofi sedang meretas data-data keluarga tirinya itu. Di mana pesannya akan nyambung pada ponsel Shofi.
Diam-diam ternyata Shofi sedang mencari tahu siapa orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan kedua orang tuanya.
Karena waktu kejadian itu lampu di matikan berbarengan hujan deras, Guntur dan petir bersahutan. Membuat Shofi sedikit sulit mengingat siapa wajah-wajah yang ada di sana. Shofi berusaha mengingat ketika orang-orang yang membunuh kedua orang tuanya terkena pantulan dari cahaya petir.
Bagaimana Shofi tidak trauma coba jika kejadian itu begitu menyakitkan. Bahkan Shofi melihat jelas pembunuhan itu bukan hanya kedua orang tuanya saja melainkan juga dengan para maid di sana.
Hanya Shofi yang selamat waktu itu karena Shofi sedang main bersama pengasuhnya. Di mana Shofi tak sengaja memasuki ruang rahasia sang Daddy. Di mana di dalamnya terdapat banyak komputer dan beberapa sambungan cctv.
Deg ..
Shofi langsung menghentikan kunyahannya ketika mengingat sesuatu. Sesuatu yang sudah lama hilang. Dan, itu akan menjadi senjata untuk membalas perbuatan orang-orang keji itu.
"Aku ingat!"
"Apa yang ingat!"
__ADS_1
Ucap Davit tiba-tiba membuat Shofi terkejut. Hampir saja Shofi tersedak.
"Apa yang ingat!"
Ulang Davit menatap sang adik bingung.
"Pembunuhan dad and mom!"
Deg ...
Tubuh Davit menegang mendengar penuturan Shofi. Mengingat itu membuat Davit mengepalkan kedua tangannya. Karena waktu kejadian itu Davit sedang di tugaskan sang Daddy ke Indonesia.
"Sejak kapan?"
Tanya Davit serius sambil duduk di samping Shofi.
"Entahlah kak, tapi ingatan itu tiba-tiba muncul ketika Shofi sakit kepala!"
Jawab Shofi jujur karena memang awal mula Shofi mengingat waktu dirinya sakit.
"Apa yang kamu ingat, siapa orang-orang yang terlibat?"
"Gresela, Stephen dan ...,"
"Dan!"
"Aku tak bisa mengingatnya kak, orang itu membelakangi posisi Shofi bersembunyi!"
Davit mengepalkan kedua tangannya kuat, apa yang di maksud Shofi adalah dia. Jika iya maka Shofi benar-benar dalam bahaya.
"Cctv, ada cctv di ruang rahasia dad, kita harus kembali!"
Ucap Shofi cepat membuat Davit sedikit terkejut. Ruang rahasia, sepertinya Davit belum mengetahui hal itu.
"Aku mengingat kejadian itu kak, walau mereka menghancurkan semuanya namun ada cctv yang tak mereka tahu! Shofi tahu dimana ruangan itu."
"Tapi kita belum bisa kembali!"
Ucap Davit tegas membuat Shofi menautkan kedua alisnya bingung. Kenapa harus di tunda, bukankah bukti kejahatan mereka sudah Shofi ingat kenapa harus di tunda.
"Kenapa kak, kita harus membalas perbuatan mereka!"
"Belum saatnya!"
"Kenapa!"
"Karena kamu harus cukup kuat menghadapi mereka. Ada saatnya kita berjauhan, dan di saat kamu jauh dari kakak. Kamu kuat menghadapi mereka!"
Deg ....
Shofi tertegun, ya Shofi melupakan pakta itu. Karena yang Shofi hadapi orang-orang licik maka Shofi benar-benar harus cukup kuat melawan mereka semua.
"Kita akan kembali ketika usia kamu tujuh belas tahun, di mana penyerahan semua aset Damaresh!"
"Tahun depan!"
"Ya, jadi berlatihlah, kakak rasa satu tahu cukup untuk kamu berlatih. Ingat! di dalam tubuh kamu mengalir darah Damaresh!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....