Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 101 Aib yang terkuak


__ADS_3

Hari yang di lalui keluarga Al-biru begitu sulit. Namun, mereka tidak juga terus terpuruk dalam kesedihan.


Mereka berusaha bangkit melakukan aktivitas seperti biasanya.


Tak terasa, tujuh hari usai kepergian Oma Adelia.


Kini Uncle Smith dan keluarganya balik ke Jerman. Begitupun dengan Fandi dan Dinda, karena ada pekerjaan yang tak bisa mereka tinggalkan.


Farhan juga mulai menjalankan aktivitas nya kembali. Begitupun dengan yang lainnya. Walau kesedihan masih terlihat jelas di sorot mata mereka.


Begitupun dengan Shofi, walau bukan siapa-siapa namun Shofi sudah menganggap Oma Adelia sebagai Omanya sendiri. Apalagi Shofi baru tahu, kalau Oma Adelia adalah Oma nya Fatih dan Aurora.


Sungguh dunia ini begitu sempit hingga orang-orang saling berhubungan.


Sudah lewat kesedihan kini keluarga yang di tinggalkan bangkit kembali menjalani aktivitas.


Seperti biasa Queen akan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak nya. Apalagi kedua anaknya sedang mengikuti ujian.


Jika Fatih sedang menghadapi ujian kelulusan sedang Aurora ujian kenaikan kelas.


Namun, pagi ini wajah Queen nampak berbeda dari hari biasanya. Terlihat pucat dan lemas. Entah karena lelah mengurus suami dan putrinya yang masih bersedih atau karena Queen jarang makan.


"Habiskan sarapannya sayang,"


Ucap Queen sambil mengelus kepala Aurora.


"Bun, wajah bunda kok pucat. Bunda sakit?"


Ucap Fatih yang baru duduk di kursinya. Farhan langsung melirik sang istri dengan mata memicing.


"Sayang!"


"Aku gak apa bee,"


"Sayang!"


Queen menghembuskan nafas berat lalu mendekati sang suami.


Farhan menyuruh sang istri duduk di sampingnya.


"Kakak, anterin adek ke sekolah. Mang Diman nanti akan ikut ke rumah sakit,"


"Baik Pah!"


Fatih mengangguk patuh, sesudah sarapan Fatih langsung mengantar sang adik ke sekolahnya dulu.


Seperti biasa Fatih akan mengelus puncak kepala sang adik ketika akan pergi.


"Yang rajin belajarnya, pulang nanti kakak jemput lagi!"


"Hm,"


Fatih kembali melajukan motornya menuju sekolahnya.


Kali ini Fatih tak menyapa Shofi bahkan melewatinya membuat Shofi merasa ada yang aneh.


Biasanya Fatih akan menyapanya atau sekedar jahil padanya. Tapi, kali ini terlihat berbeda.


Namun, Shofi tak mau ambil pusing, toh nanti juga Fatih akan kembali menyapanya. Shofi langsung masuk saja ke ruang di mana khusus untuk ujian Nasional.


Kini Shofi dan Amira tak satu ruangan, Shofi satu ruangan saja sama Bunga dan Amelia.


Ya, Amelia masih masuk sekolah setelah kejadian delapan hari lalu. Namun, Amira, Shofi dan Bunga tak mengungkit masalah yang di alami Amelia. Bahkan ketiganya menutup rapat aib Amelia. Hingga sampai Amelia masih bisa mengikuti ujian Nasional.


Mungkin, kalau saja Amelia ketahuan hamil di luar nikah sudah pasti Amelia tidak akan bisa mengikuti ujian Nasional, bahkan mungkin akan langsung di DO.


Hari ini hari terakhir kelas XII mengikuti ujian Nasional. Dan mungkin mereka tinggal menunggu hari ke lulusan saja.


Namun, di saat semuanya sudah usai. Dan, kelas XII sudah pada keluar dari ruang ujian. Gemuruh anak-anak memancing kelas XII untuk mendekat ke arah Mading.


Tatapan sinis dan jijik terlihat jelas di mata para anak-anak ketika Shofi keluar kelas.


Namun, Shofi masa bodo tak peduli akan hal itu. Shofi malah langsung pergi bersama Bunga menuju kantin di mana Amira menunggu di sana.

__ADS_1


Tapi, tidak dengan Amelia yang merasa tak enak akan perasaannya. Bahkan Amelia merasakan bahwa tatapan sinis anak-anak mengarah pada dirinya.


"Dasar murahan,"


"Ihh ... tak tahu malu!"


"Harusnya jal**g tak sekolah di sini!"


Deg ...


Amelia mengepalkan kedua tangannya ketika kata-kata menjijikan itu terlontar padanya. Bahkan Amelia menatap tajam anak-anak yang berani menghakiminya.


"Apa maksud kalian hah, jangan sembarangan menuduh orang!"


Bentak Amelia mulai ketakutan, apa yang selama ini dia takutkan terjadi.


"Cih, dasar jal"**g, sangat menjijikan sekaki!"


"Loe, di gilir sama siapa sampai loe hamil!"


Ketus adik kelas Amelia yang memang tak menyukai Amelia sama sekali. Bahkan dia sangat membencinya.


"Loe, jangan asal bicara hah,"


"Idih, emang kenyataan begitu, sudah ketahuan malah ngeles dasar jal**g!"


"Kau!"


Deg ...


Amelia diam membeku ketika adik kelasnya melempar beberapa lembar Poto USG padanya. Dan beberapa salinan hasil pemeriksaan bahwa Amelia di nyatakan hamil.


Umpatan menjijikan terus di lontarkan anak-anak membuat Amelia mengepalkan kedua tangannya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca melihat semua itu.


Amelia berlari dengan rasa malu, amarah yang membuncah di dadanya.


"Mel, loe kenapa?"


"Semua orang sudah tahu ... mereka sudah tahu ...,"


Ucap Amelia gemetar kini merasa ketakutan.


Mira langsung mengambil Poto yang ada di tangan Amelia, seketika Mira dan Rima melebarkan kedua matanya tak percaya.


"Bedebah, siapa yang menyebarkan ini semua!"


Umpat Rima tak terima melihat bukti kehamilan sahabatnya.


"Kalian gak menyebarkan ini semua kan hiks .. hiks ...,"


"Mel, apa loe gila. Mana mungkin kita melakukan ini semua. Apa ada orang yang tahu selain kita!"


Kesal Mira karena Amelia seolah menuduh mereka yang melakukan ini semua. Sedangkan Sindi hanya diam saja menenangkan Amelia.


Seketika tangan Amelia mengepal erat, dengan rahang mengeras. Amelia tahu siapa orangnya.


Dengan cepat Amelia pergi membuat ketiga sahabat terkejut. Lalu langsung mengikuti kemana Amelia pergi.


Brak ...


"Kau apa-apa hah,"


Bentak Amira terkejut akan kedatangan Amelia yang tiba-tiba sambil membanting tas hingga minuman mereka tumpah.


"Sudah puas kalian hah, hancurkan hidup gue!"


"Gue pikir kalian baik, ternyata sama saja!"


"Kalian mau balas gue dengan cara ini!"


"Loe apa- an sih, datang marah-marah gak jelas!"


"Kalian kan yang menyebarkan poto-poto ini!"

__ADS_1


Deg ...


Amira, Shofi dan Bunga terkejut melihat lembaran Poto yang Amelia lempar ke hadapan mereka.


"Mel, kam--"


Plak ...


Amira dan Bunga membulatkan kedua matanya ketika Amelia akan menampar dirinya namun kalah cepat dengan Shofi.


Amelia memegang pipinya yang panas akibat tamparan yang Shofi layangkan.


"Loe sudah gila hah, kami tak pernah melakukan yang loe tuduhkan. Kami saja terkejut!"


Bentak Shofi menatap tajam Amelia, hingga mereka malah semakin saling tatap tajam penuh kebencian.


"Bohong!!!"


Jerit Amelia prustasi, membuat Shofi terkejut akan amarah Amelia yang tak terkendali, jiwanya terguncang.


"Hanya kalian yang tahu, loe masih dendam kan sama gue dan loe benci juga sama gue hingga kalian menghancurkan gue!"


"Gue benci kalian, kalian harus membayar semuanya, Ahhhkk ...!"


Bruk ...


Amelia tersungkur ketika Fatih tiba-tiba mendorongnya. Fatih menatap tajam Amelia yang akan menyerang Shofi.


Tidak sampai di situ Fatih menyiram wajah Amelia berharap Amelia sadar dengan apa yang ia lakukan.


"Apa yang loe lakukan, sikap loe yang seperti ini malah membuat orang-orang semakin yakin kalau berita itu benar!"


Amira semakin menangis pilu ketika mendapat bentakan dari Fatih. Amelia lupa kalau Fatih tidak tahu apa-apa. Bagaimana jika Fatih tahu, dia pasti akan membencinya.


Tidak!


Amelia tidak mau itu terjadi.


Namun, tatapan jijik dari semua orang membuat Amelia tak bisa berpikir jernih.


"Katakan pada semuanya, kalau berita itu bohong!"


"Jangan pernah menyalahkan orang lain, apalagi kalau loe sampai menyentuh saudara gue!"


Deg ...


Bersambung ..


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


Pengumuman ....


Ini Caver buat cerita Amira dan Alam


..



.


.


Jika dua manusia saling mencintai, namun sayang mereka tak bisa bersatu.


Bukan karena perbedaan kasta atau tahta. Namun, mereka seperti Zat Heterogen, seperti air dan pasir.


Walaupun bisa bersatu, tapi Amira dan Alam tetap saudara yang tak bisa menjadi sepasang kekasih.


Apalagi hubungan mereka menjadi pertentangan antara dua keluarga besar. Bagaimana mungkin, Jek merestui hubungan putrinya dengan anak pamannya sendiri.


Bisakah Amira dan Alam saling berjuang walau harus menyakiti cinta lain!


Atau saling mengikhlaskan!!!

__ADS_1


__ADS_2