
Tak terasa sudah tiga hari Amira di rawat di rumah sakit. Kini keadaannya mulai lebih baik dari sebelumnya. Amira tidak lagi menjerit dan menangis. Namun, Amira menjadi lebih banyak diam.
Setiap hari Shofi akan selalu menjaga Amira di rumah sakit bersama Tante Melati. Kalau Bunga tak bisa setiap hari ia ke rumah sakit karena Bunga juga punya tanggung jawab mengurus suaminya. Apalagi di hari libur ini Raja melarang Bunga ke mana-mana karena hari itu hari mereka berdua menghabiskan waktu.
"Nak, lebih baik kamu pulang dulu istirahat, Amira biar Tante yang jaga!"
Ucap Melati lembut membuat Shofi menggelengkan kepala.
"Gak apa Tante, lebih baik Tante saja yang pulang. Tante juga belum istirahat dan belum makan dari kemaren, nanti sakit. Bagaimana kalau Amira bangun melihat keadaan Tante sakit, Amira pasti sedih!"
Melati membenarkan ucapan Shofi, Amira pasti bertambah sedih jika melihat ia rapuh.
"Ya sudah, Tante pulang dulu. Tolong titip Amira ya, nak!"
"Siap Tante!"
Melati tersenyum sangat bahagia kerena putrinya mempunyai teman yang sangat baik.
Tak lama Tante Melati pulang Amira membuka kedua matanya. Sebenarnya sendari tadi Amira sudah bangun namun Amira mengurungkan niatnya ketika mendengar percakapan Shofi dan sang mama. Amira jadi merasa bersalah karena sudah membuat sang mama khawatir akan keadaannya. Amira putuskan ia akan berusaha kuat dan tak terlihat lemah.
"Amira kamu sudah bangun?"
Amira tersenyum melihat perhatian Shofi, kejadian tiga hari lalu yang menimpanya tidak membuat Amira menyalahkan Shofi. Karena itu murni kesalahannya yang tak bisa melawan. Walau awalnya memang Amira yang memancing ke marahan Aditya, namun Amira juga merasa lega karena sudah bisa meluapkan ketidak suka an nya hingga membuat Aditya menunjukan siapa dirinya sebenarnya.
Sudah lama memang Amira memergoki Aditya bercumbu dengan adik kelas atau satu kelas dengannya. Bahkan terakhir Amira melihat ketika Aditya bercumbu dengan Amelia. Itulah kenapa Amira selalu menatap tak suka tepatnya jijik jika Aditya mendekatinya bahkan bersikap manis padanya.
Bahkan kelakuan Aditya ada yang Amira rekam untuk jaga-jaga suatu hari nanti jika Aditya terus mengusiknya.
Amira bersyukur karena Shofi tepat waktu datang dan seseorang itu.
Amira merasa ragu untuk menanyakan hal itu pada Shofi. Apa kah yang menolongnya Shofi doang atau ada orang lain lagi.
"Hey, kenapa bengong. Apa yang kamu rasakan?"
Tanya Shofi sambil memegang tangan Amira lembut.
"Apa yang menolongku kamu seorang atau ada orang lain?"
Pada akhirnya Amira memberanikan bertanya. Amira tidak selemah itu untuk kembali bangkit dari rasa takutnya.
"Aku dan kak Alam!"
Deg ...
Amira terdiam dengan jantung berdetak tak karuan. Jadi benar apa yang dia lihat bahwa om Alamnya sudah kembali. Tapi, kenapa om Alam tak menjenguknya selama ia ada di rumah sakit.
"Kenapa! apa ada yang sakit!"
"Tidak!"
"Maafkan aku, aku yang membuat kamu seperti ini. Andai aku tak pergi kamu tak akan mengalami hal seperti ini!"
Sesal Shofi tak tahu harus berbuat apa selain meminta maaf.
"Hey, aku tak selemah itu!"
Ucap Amira berusaha menerima semuanya walau jujur Amira mengingatnya saja membuat tubuhnya kembali bergetar.
"Kak Alam, apa dia om ku?"
__ADS_1
Tanya Amira memastikan, Amira berharap ini bukan mimpi tapi nyata.
"Iya, dia om kamu. Aku juga terkejut baru kemaren mengetahui kalau orang yang mencari kamu adalah om kamu, adik Tante Queen!"
"Mencari aku!"
Gugup Amira, ada rasa bahagia di hatinya mendengar kalau om nya mencari dirinya.
"Iya, waktu itu aku pergi ke atap dan memutuskan kembali karena aku takut kamu dan Bunga mencari aku. Ketika Aku menuruni tangga kak Alam naik. Dia bertanya apakah aku bertemu dengan kamu atau tidak! bahkan kak Alam juga bilang kalau kamu pergi karena mencari temannya. Di situ aku langsung kaget karena aku yakin kamu sedang mencari ku. Lalu aku dan kak Alam langsung mempunyai firasat tak enak. Dan entah kenapa aku ingin sekali mencari kamu ke arah toilet terus aku mendengar suara teriakan kamu."
Shofi menghentikan ceritanya sejenak sambil menarik nafas dalam.
"Sesaat aku terpaku melihat amarah kak Alam bahkan dia sampai mendobrak pintu. Tatapannya itu sangat mengerikan sama seperti manusia purba!"
Ucap Shofi menjadi kesal di akhir ceritanya membuat Amira malah terkekeh.
"Kenapa tertawa!"
"Habis kamu lucu, kayanya kamu kesel banget sama Fatih!"
"Bukan kesel lagi, aku benci manusia purba. Rasanya aku ingin mencincangnya!"
"Emang berani!"
Bukan Amira yang bicara namun Fatih tiba-tiba masuk sambil menatap Shofi tajam.
Glek ...
Shofi menelan ludahnya kasar melihat tatapan mengerikan Fatih. Bahkan dengan susah payah Shofi berusaha bernafas.
Amira terkekeh melihat tingkah Shofi yang kikuk. Namun, senyum Amira lenyap ketika melihat sosok gagah yang baru masuk.
"Loe mau cincang gue, sebelum itu terjadi maka gue yang lebih dulu cincang tubuh loe!"
Shofi langsung membekam mulutnya ketika salah bicara.
"Loe! ikut gue!"
Fatih menarik tangan Shofi membuat Shofi terhuyung ke depan.
"Amira tolong aku!!"
Teriak Shofi ketika Fatih sudah berhasil menariknya keluar.
Kini di dalam tinggal Amira dan Alam yang saling diam.
"Om,"
"Ra,"
Ucap Alam dan Amira barengan membuat keduanya kembali diam. Hanya ada keheningan di antara mereka.
Entah ada apa dengan Amira dan Alam di antara mereka seperti ada sesuatu yang tak bisa mereka ungkapkan.
Alam mendekat dengan wajah datarnya, lalu duduk di kursi yang sudah tersedia.
"Kenapa baru kembali?"
"Bagaimana keadaan kamu?"
__ADS_1
Bukannya menjawab Alam malah balik bertanya membuat Amira menunduk.
"Saya rasa kamu sudah baik-baik saja!"
Amira mengangkat kepalanya berusaha menatap laki-laki di depannya. Yang semakin terlihat dingin tak tersentuh.
"Ya,"
"Dapat salam dari mama dan Daddy!"
"Kapan kakek dan nenek kembali?"
"Mungkin masih lama!"
"Kenapa om berubah!"
Lilir Amira merasa asing dengan Alam yang tak seperti dulu lagi. Bahkan Alam yang ada di hadapan nya sekarang seperti bukan Alam yang dulu.
"Tidak ada yang berubah!"
"Apa om tak menyayangiku lagi!"
Hening ...
Tak ada jawaban dari Alam, hanya helaan nafas berat yang terdengar.
"Sayang, kamu sama seperti Fatih!"
"Kenapa om selalu jawab seperti itu!"
"Kamu kan masih keponakan saya, sama seperti Fatih!"
"Tapi Rara bukan Fatih, kita terhalang!"
"Cukup Rara, tolong jangan seperti ini,"
"Tapi Rara sayang om sebagai wanita bukan keponakan!"
"Kamu masih kecil, mengerti apa tentang cinta!"
"Rara sudah besar!"
"Cukup!"
Sentak Alam membuat Amira langsung terdiam. Om Nya memang benar-benar sudah berubah. Om nya tidak seperti dulu, sekarang dia sangat jauh.
Alam merasa bersalah karena sudah membentak Amira. Namun, Amira selalu memancingnya.
"Ra, maafkan om. Om tak bermaksud membentak kamu."
"Om jahat, apa salahnya Rara mencintai om. Rara yakin om juga suka sama Rara,"
Tanpa mereka sadari sendari tadi Melati mendengarkan percakapan putrinya. Bahkan Melati sampai menutup mulutnya mendengar pengakuan putrinya. Bagaimana mungkin putri ya mencintai omnya sendiri.
Sejak kapan?
Pertanyaan itu muncul di benak Melati, bukankah mereka berjauhan. Bahkan mereka terpisah empat tahun lamanya ketika Amira baru kelas tiga SMP.
Buru-buru Melati menepis pikiran buruknya, Melati mencoba berpikir mungkin itu hanya cinta monyet saja.
__ADS_1
Bersambung ..
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....