Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 92 I love you, my brother!


__ADS_3

Semua mata tertuju pada pintu yang di buka kasar bahkan sampai pak Anwar terkejut dan menjatuhkan spidolnya.


Deg ...


Amira dan Bunga terpaku melihat seseorang di depan pintu. Yang tersenyum ke arahnya dengan nafas naik turun.


Amira dan Bunga berkali-kali mengucek matanya. Apa mereka salah lihat atau tidak, tapi tetap saja sosok itu nyata ada di depan pintu.


"Maaf pak, mengagetkan bapak!"


Sesal Shofi sambil mengambilkan spidol pak Anwar.


"Bukan nya kamu ...,"


"Saya tidak jadi pindah pak, tanggung!"


"Ngapain kamu berdiri di sini!"


"Saya telat harus di hukum!"


Ucap Shofi membuat pak Anwar tersenyum tipis. Pak Anwar suka murid yang tanggung jawab.


Shofi berdiri di depan kelas dengan mengangkat satu kakinya. Shofi tersenyum pada pada kedua sahabatnya yang masih bengong melihat kehadiran dirinya.


Lalu tatapan Shofi teralih pada Fatih yang malah tidur.


Rangga dari tadi menepuk pundak Fatih yang malah tertidur. Membuat Fatih kesal karena tidurnya di ganggu.


"Apaan sih, ganggu saja!"


Sentak Fatih dengan suara beratnya menyingkirkan lengan Rangga.


"Fatih, lihat ke depan!"


"Malas!"


"Ada Shofi!"


"Jangan ngawur!"


"Beneran!"


Srek ...


Dengan kesal Rangga memutar kepala Fatih hingga menatap ke depan.


Deg ..


Fatih membulatkan kedua matanya melihat siapa yang ada di depan sana. Jantung Fatih terpacu lebih cepat dari biasanya. Bahkan semakin cepat ketika Shofi tersenyum manis padanya. Sungguh, Fatih seakan tersihir dengan senyuman manis Shofi.


Bahkan anak-anak lain juga ikut terkagum-kagum karena baru kali ini mereka melihat senyuman Shofi.


Fatih yang tersadar bahwa banyak yang mengagumi senyuman Shofi menjadi cemberut membuat Shofi yang ada di depan menautkan kedua alisnya melihat perubahan wajah Fatih.


Apa dia tak senang aku gak jadi pergi!


Batin Shofi kecewa dengan reaksi Fatih, Shofi pikir Fatih akan senang melihatnya kembali.


Seketika senyuman Shofi lenyap begitu saja kembali memasang wajah datar seperti biasanya.


Ketika Shofi tak tersenyum, Fatih baru melihat kembali ke arahnya. Ketika mata mereka beradu kembali membuat Shofi kembali tersenyum. Tapi Fatih malah memalingkan wajah, dan menatap tajam anak-anak yang melihat Shofi.

__ADS_1


Shofi kembali di buat bingung dengan Rekasi Fatih, hingga Shofi mengikuti kemana arah pandang Fatih.


Kini Shofi mengerti kenapa Fatih jadi cemberut, karena dirinya. Shofi hanya mengulum senyum saja melihat tingkah kekanak-kanakan Fatih.


"Shofi duduk lah!"


Perintah pak Anwar kemudian membuat Shofi menoleh.


"Eh, bukannya belum selesai pak!"


"Sepuluh menit cukup, sisanya bapak toleransi karena kamu tak jadi pindah!"


"Ah, terimakasih pak!"


Ucap Shofi sumringah, langsung berlari duduk ke kursinya. Shofi tersenyum ke arah Amira dan Bunga.


"Kamu gak jadi pindah, bukankah!"


"Sutt, nanti aku ceritakan!"


Ucap Shofi dengan senyum mengembang. Entah ada apa dengan Shofi kenapa bibirnya terus tersenyum seperti dia sedang bahagia saja.


Amira dan Bunga mengangguk saja tak sabar mendengar cerita dari Shofi.


Bukankah Davit keras, jika satu perintah harus di patuhi. Tapi, kenapa Shofi masih berada di Indonesia.


Flash back ...


pukul 05:30


Pagi-pagi buta, Davit dan Angel sudah bersiap akan keberangkatannya. Karena jam enam pagi Davit harus segera berangkat ke bandara. Karena jam 07:30 jadwal penerbangan.


Davit memilih jadwal pagi karena ada urusan mendadak di kantor ketika kemaren Lucky melaporkan.


Awalnya Davit mengetuk pintu namun tak kunjung di buka juga. Mau tak mau Davit terpaksa masuk karena takut terjadi apa-apa pada Shofi.


Deg ...


Angel dan Davit tertegun melihat sang adik yang masih tidur. Yang membuat Davit miris Shofi tidak tidur di kasur dengan benar. Melainkan tidur di lantai dengan kepala menyandar ke bibir ranjang sambil memegang ponsel.


Davit mengambil ponsel sang adik yang kebetulan Shofi tak menggunakan pasport.


Davit terdiam melihat hal pertama yang Davit lihat. Yaitu Poto Fatih yang di ambil Shofi secara diam-diam terbukti dari Poto Fatih yang tak beraturan namun terlihat bagus ketika Shofi memotretnya.


Angel yang melihat suaminya diam ikut melihat apa yang sedang Davit lihat.


Kini Angel faham kenapa Shofi masih belum bangun. Mungkin Shofi semalaman tak bisa tidur dan hanya melihat Poto itu hingga membuat Shofi tidur. Bahkan masih terlihat jelas mata Shofi yang sedikit bengkak sepertinya Shofi menangis semalaman.


Walau wallpaper ponsel Shofi kedua orang tuanya namun dalam isi galeri hanya Poto Fatih yang memenuhi file itu.


"Honey, apa sebaiknya biarkan adik di Indonesia sampai hari resepsi pernikahan temannya,"


"Tidak bisa!"


"Hanya sekitar lima bulan saja!"


Bujuk Angel merasa iba melihat adiknya yang harus berpisah sebelum memulai.


"Tapi Shofi di sana banyak yang harus dia lakukan!"


"Tidak bisakah Honey yang meng handel nya dulu, lihatlah apa honey tak kasihan!"

__ADS_1


"Adek pasti berat selama ini menjalani hari-hari nya. Biarkan dia merasa kan sedikit kebahagiaan dulu bersama orang yang adek sukai."


Davit melirik sang adik yang masih nampak pulas dalam tidurnya. Bahkan obrolan mereka tak sedikitpun mengusik ketenangan tidur Shofi.


"Honey,"


"Baiklah!"


Pasrah Davit membuat Angel tersenyum lamu menghadiahi Davit sebuah kecupan.


"Kau memang suamiku yang pengertian!"


Puji Angel membuat Davit hanya mendengus saja.


"Ayo kita berangkat, nanti terlambat!"


Ucap Davit, setelah mengecup kening Shofi yang masih tidur dan meletakan kembali ponsel Shofi di tangannya.


Tak lama dari kepergian Davit dan Angel, perlahan kedua bulu mata lentik Shofi mengerjap. Pertanda sebentar lagi sang empu akan bangun.


Dan benar saja, kedua mata Shofi perlahan terbuka. Shofi langsung memegang lehernya yang kaku dan sedikit nyeri akibat tidurnya yang tak teratur.


"Jam berapa sekarang ..,"


Lilir Shofi sambil mengambil ponselnya yang terjatuh.


Seketika Shofi membulatkan kedua matanya


ketika melihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul 06:20 tandanya Shofi kesiangan.


"Oh, ya ampun, kenapa kakak gak bangunin aku sih!"


Gerutu Shofi sambil berdiri lalu berlari keluar, mencari sang kakak.


"Kakak .. Schwager ...!!"


Teriak Shofi tapi tak ada satupun yang menyahut. Bahkan kamarnya juga sudah kosong membuat Shofi panik. Shofi langsung mencari nomor sang kakak.


Shofi akan menelepon, urung ketika melihat sebuah pesan suara.


Maaf, kakak gak tega bangunin kamu. Sepertinya kamu tak bisa ikut kakak hari ini.


Kakak memberi izin kamu tinggal di Indonesia sampai acara resepsi pernikahan Bunga. Manfaatkan waktu lima bulan itu untuk mencari kebahagiaan kamu sendiri.


Kakak tak mau kamu meninggalkan hati yang luka tanpa di obati. Sembuhkan lah, dan bicara baik-baik. Jika sudah waktu tiba semoga kamu sudah bisa mengobati lukanya. Dan ketika kamu kembali, pastikan dia benar-benar melepaskan kamu, tanpa patah.


Ingat! kakak dan Schwager selalu memantau kamu. Jangan pulang malam jika main, jangan telat makan dan jangan lup juga kerjakan file-file yang kakak kirim lewat email.


Kakak sayang kamu, kakak tunggu di sini kepulangan kamu. Jangan kecewakan kakak, belajar lah bertanggung jawab dalam mengambil keputusan dan jangan jadikan cinta sebagai penghalang kewajiban lain.


Sudah dulu ya, ada telepon masuk. Eh, satu lagi. Kakak menepatkan lima penjaga di rumah dan nanti ada bibi yang akan menyiapkan kebutuhan kamu. Ajaklah Amira dan Bunga menginap, jika takut. Tapi, jangan pernah masukan teman laki-laki ke dalam rumah.


Dah, kakak sayang kamu.


Shofi meneteskan air mata mendengar pesan suara dari sang kakak. Ada rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu. Akan kasih sayang sang kakak yang begitu besar walau dia bukan adik kandungannya sendiri. Dan, bahagia ketika sang kakak tahu akan perasaannya namun tak menuntut ataupun melarang. Justru Davit memberikan waktu pada dirinya untuk tetap bersama.


"I love you, my brother!"


Flash back on


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ..


__ADS_2