Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 21 Si gadis Cupu bukan Cuhu!


__ADS_3

Ke tidak masukan Fatih di kelas rasanya menjadi nyaman dan tentram. Namun, kelas juga serasa tak berwarna jika tak ada yang jahil bukan.


Kerena hidup sesekali butuh hiburan diri, namun jangan sampai salah. Seperti yang sering Fatih lakukan, yang ada malah meresahkan sekolah.


Fatih sudah tidak sabar ingin segera masuk sekolah dan membalas perbuatan Shofi. Namun kondisi Fatih yang belum membaik membuat Fatih harus sabar dulu.


Walau luka di wajah Fatih sudah membaik dan robekan di bibir sudah kering tetap saja masih ada sisa memar yang sedikit mengurangi ketampanan Fatih.


Walau Fatih sudah di perbolehkan pulang, namun Queen melarang Fatih masuk sekolah. Queen menyuruh Fatih istirahat dulu beberapa hari sampai memar di wajahnya hilang.


Karena Fatih di rawat oleh dokter ahli membuat luka Fatih cepat pulih. Apalagi Queen terus memerhatikan sang putra.


Jika Fatih sedang bersantai malas di kursi malas bibir kolam renang.


Berbeda dengan ketiga sahabat nya yang sedang pusing mengerjakan soal yang di berikan guru. Ya, hari ini ada ulangan lisan. Bahkan ketiga sahabat Fatih paling terakhir istirahat. Bahkan di beri hukuman menulis lembaran pelajaran yang tertinggal.


Bagaimana tidak pusing wong mereka jarang nulis. Dan, sialnya lagi pak Anwar menjadi mandor mereka mencatat. Membuat ketiga teman Fatih kesal karena tangan mereka sudah pegal sendari tadi.


Sedangkan Amira dan Bunga berada di dalam perpustakaan di mana Amira terus belajar dengan giat karena sebentar lagi akan mengikuti olimpiade tingkat nasional. Sedangkan Shofi dia pergi ke kantin guna membeli minuman. Karena gak enak kan belajar tanpa minum.


Bruk ...


Shofi yang berjalan memegang minuman bertabrakan dengan seseorang membuat minumannya tumpah membasahi baju yang di kenakan orang tersebut.


"Kau!"


Deg ...


Shofi terkejut jika korban minumannya adalah Amelia orang yang selalu ingin dia hindari.


"Berani sekali loe mengotori baju gue,"


"Ma-maaf saya gak sengaja!"


"Makannya jalan pakai mata jangan pakai kaki!"


Bukan kah jalan memang pakai kaki, kalau mata ya melihat! batin Shofi.


Bentak Amelia menatap tajam gadis cupu di depannya.


"Lihat, sepatu mahal gue juga jadi kotor."


Shofi semakin gemetar karena dari tadi mendapat bentakan Mulu. Shofi gak suka di bentak Shofi gak suka di suruh-suruh.


"Bersihkan sekarang, juga!"


"Ta .."


"Cepat,"


Shofi mengepalkan kedua tangannya lalu berjongkok membersihkan sepatu putih Amelia dengan tisu. Untung saja Shofi selalu membawa tisu di kantong jas nya.


Ini ketiga kalinya, maka jangan harap kalian melihat kelemahan ku lagi!


"Su-sudah!"


Ucap Shofi Lilir sambil berdiri kembali.

__ADS_1


"Lumayan juga, loe cocok jadi babu."


Hina Amelia tersenyum seringai sambil mencengkram dagu Shofi. Amelia mengisyaratkan pada temannya untuk menyeret Shofi.


"Ka-kalian mau apa!"


Lilir Shofi memberontak ketika tangannya di tarik paksa membuat Shofi terseret mengikuti langkah teman Amelia.


"Kalian semua keluar dari sini!"


Perintah Amelia pada anak-anak yang berada di dalam toilet. Hingga di dalam toilet hanya ada Shofi, Amelia dan ketiga temannya.


Amelia menyeringai menatap Shofi penuh kebencian. Entah apa masalahnya, padahal Shofi tak berbuat apa-apa. Tapi, bagi Amelia Shofi sebuah kesalahan. Karena gara-gara Shofi Fatih di hukum.


"Kalian mau apa kan aku hiks ...,"


Lilir Shofi gemetar melihat Amelia mendekat sambil membawa gunting. Shofi tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya di kunci oleh Rima dan Mira.


"Aku mohon lepaskan, tolong ... tolong ..,"


"Percuma loe minta tolong, gak akan ada yang dengar!"


"Tolong, ku mohon siapapun di luar tolong ..,"


Berontak Shofi berusaha melepaskan cengkeraman Rima san Mira di tangannya.


Plak ...


Shofi terdiam ketika kembali mendapat tamparan ke tiga kalinya oleh Amelia. Bahkan sampai kaca mata yang dia pakai terjatuh akibat saking kerasnya tamparan tersebut.


Rahang Shofi mengeras dengan mata memerah. Menatap tajam pada Amelia.


Deg ...


"Loe, berani menatap gue!"


Bentak Amelia mencengkram erat dagu Shofi. Amelia meraih rambut Shofi yang di kuncir kuda siap untuk di potong.


Hi .. hi ...


Shofi terkekeh dengan air mata yang keluar. Kekeh an itu seperti ancaman yang berbahaya.


Amelia sampai mundur melihat Shofi malah tertawa. Dengan tatapan masih sama, seakan tak ada lagi tatapan polos penuh ketakutan.


Sudah cukup Shofi di perlakukan seenaknya. Kini giliran Shofi menunjukan siapa dia. Maka jangan berani-berani membangunkan singa yang sedang tidur. Karena jika sudah bangun kalian akan tahu akibatnya.


Maafkan Shofi kak,


Bruk ...


Awwss ...


Jerit Mira dan Rima bertubrukan ketika Shofi menghempaskan kedua tangannya ke depan. Bahkan kedua manusia itu langsung terjatuh.


Amelia dan Sindi membelalakkan kedua mata nya melihat apa yang terjadi pada ke dua sahabatnya.


"Kau!"

__ADS_1


"Apa!"


Ucap Dingin Shofi sambil membenahi jasnya dengan santai.


"Beraninya kau melukai mereka!"


Tak ...


Bugh ...


Amelia menyerang Shofi dengan gunting di tangannya. Namun dengan mudah Shofi menangkisnya dan malah meninju hidung Amelia sampai mengeluarkan darah.


Akhhh ...


Amelia mengeram kesakitan sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


Kini Shofi menatap pada Sindi yang akan menyerangnya. Namun, Sindi malah diam gemetar melihat tatapan Shofi yang menakutkan.


"Sudah cukup satu Minggu ini gue diam. Tapi loe loe loe dan loe selalu cari masalah!"


Tunjuk Shofi dingin dengan aura kelam.


"Jika tangan loe sekali lagi berani menampar gue, maka gue tidak akan menjamin tangan loe masih utuh!"


Ancam Shofi tersenyum tipis. Lalu dengan santai Shofi mengambil kaca mata bulatnya yang tadi terjatuh dan memakaikan nya kembali.


Lalu Shofi keluar dari toilet ber jalan sambil menunduk. Seolah tak terjadi apa-apa dan Shofi masih si gadis cupu bukan suhu.


Sedangkan di dalam toilet Amelia dan ketiga temannya masih shok dengan apa yang terjadi barusan. Mereka seakan sedang mimpi bertemu macan betina. Bahkan Shofi bicara loe gue dengan lantang tanpa ketakutan. Dan tak ada kata aku dan kamu.


Benarkah itu si gadis cupu, kenapa dengan sekejap bisa berubah. Apa dia mempunyai kepribadian ganda!


"Mel, loe gak apa?"


"Ah ... sialan!!"


Prang ...


Jerit Amelia membanting gunting yang dia pegang.


Amelia masih tak menyangka jika si cupu berubah jadi suhu dalam hitungan detik. Amelia juga masih mengingat tatapan berbeda dari Shofi, tatapan itu begitu menakutkan.


Jika tangan loe sekali lagi berani menampar gue, maka gue tidak akan menjamin tangan loe masih utuh!


Akhhh ...


Amelia kembali menjerit seperti orang crazy ketika ucapan Shofi kembali terngiang di ingatannya.


Tangan Amelia mengepal kuat dengan mata memerah menahan amarah, kesal dan malu bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak malu jika dia harus di kalahkan oleh si cupu dengan satu kali tangkisan.


"Cupu! gue akan balas perbuatan loe, sialan!!"


Maki Amelia dengan nafas naik turun, kemarahannya tak bisa di tahan lagi. Begitupun dengan ketiga sahabat Amelia menggeram kesal dan masih shok juga dengan apa yang terjadi pada mereka.


Tanpa mereka sadari, sendari tadi ada seseorang yang melihat semuanya. Orang itu tersenyum tipis sambil pergi meninggalkan tempat itu.


Menarik ...

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2