
Brum ... Brum ...
Suara motor dan sorak orang-orang saling bersahutan memecah malam sunyi.
Setiap pembalap sudah siap di posisinya masing-masing.
Begitupun Fatih dan Axel sudah siap saling pandang dengan tatapan permusuhan. Kali ini sangat seru karena yang turun ketua dari kelompok geng motor.
Ada lima pembalap termasuk Fatih dan Axel, ini balapan tentang harga diri bukan cuma uang saja yang akan mereka dapatkan.
Selembar kain telah di jatuhkan tanda bahwa permainan di mulai. Para pembalap butuh tiga kali putaran untuk menentukan siapa pemenangnya dan hadiah kali ini tak tanggung-tanggung karena pada ketua geng mereka yang turun.
Moreo yang menjadi ketua pengawalan Fatih bersama anak buah lainnya. Di mana mereka sudah berada di posisi masing masing.
Fatih memacu motor nya dengan santai, namun sangat sulit di terobos. Axel menggeram kesal ketika Fatih jadi memimpin permainan. Namun, benar saja. Otak licik memang akan selalu licik demi mendapatkan apa yang dia mau.
Kali ini putaran terakhir di mana ketiga pembalap lain terjatuh akibat kelicikan Axel.
Axel tersenyum memerintahkan anak buahnya bertindak lewat earphone yang terhubung. Namun, ketika melewati tikungan satu tak terjadi apa-apa pada Fatih membuat Axel menggeram kesal.
Kenapa tidak bereaksi, bentak Axel pada anak buahnya yang terhubung. Namun tak ada sahutan yang ada sambungannya terputus.
"Dasar gak becus!"
Bentak Axel menggeram kesal kembali fokus mengejar Fatih.
Fatih tersenyum tipis ketika melewati tikungan ke dua di mana ada laser yang terlihat pertanda semua baik-baik saja.
"Cih, kau memang pengecut tetap pengecut!"
Sinis Fatih langsung menambah kecepatan lajunya di mana tinggal satu tikungan lagi.
Di depan sana sudah terdengar sorak gempita para anak-anak motor, ada juga yang membawa pasangannya.
"Wow, King!"
Sorak anak-anak memecah keheningan malam. Fatih tak bisa di lawan apa lagi di lawan sama orang licik. Kelicikan sampai kapanpun tak akan pernah merobohkan kecerdikan.
"Sial!"
Geram Axel ketika dia harus kalah lagi dari Fatih. Axel menatap tak suka pada Fatih yang memenangkan permainan malam ini.
"Lo banci akan tetap banci, pengecut!"
Ledek Fatih menunjuk Axel membuat Axel menggeram. Anak buah Axel akan menyerang namun di cegah oleh Axel karena ini bukan waktu yang pas adu jotos. Karena Axel yakin dia akan kalah oleh Fatih apalagi sekarang ada anak-anak motor lain.
"Mana Moreo, kenapa belum kembali!"
"Gue di sini!"
Teriak Moreo muncul dari belakang kerumunan.
"Thanks bro!"
__ADS_1
Ucap Fatih memeluk Moreo jantan, mereka saling berpelukan merayakan kemenangan Fatih. Bahkan Fatih sampai di angkat-angkat.
"Turunkan gue!"
Anak-anak menurunkan Fatih ketika sudah sampai di markas. Mereka merayakan kemenangan ketua mereka dengan makan-makan dan minuman non alkohol. Karena Fatih melarang keras anggotanya meminum minuman tak sehat itu apalagi sampai memakai narkoba.
"Rangga!"
Rangga langsung menangkap uang gepokan yang Fatih lempar sambil tersenyum.
"Wow!"
Rangga mencium uang hasil kemenangan Fatih. Lalu mengeluarkannya.
"Bagi rata, dan sisanya loe tahu kan apa yang harus loe lakukan!"
"Asiap king!"
Rangga langsung menghitung uang tersebut. Sedang anggota Fatih ada empat puluh orang dan setiap wilayah di tempatkan sembilan orang dengan ketua masing-masing yang di pimpin oleh Raja, Rangga dan Moreo berikut Fatih sendiri.
"King, anak-anak mendapat bagian lima juta dan ini sisa lima puluh juta lagi!"
"Ok, Raja, bagian loe sisanya!"
Ucap Fatih membuat Raja langsung mengangguk dan beranjak mengambil uang itu. Raja langsung mengisyaratkan pada anak-anak lain untuk mengikutinya.
Sedang anak-anak sisanya Fatih menyuruh mereka pulang terlebih dahulu.
Kini tinggal Rangga dan Moreo yang ada di markas berikut Fatih.
"Aistt,"
Kesal Moreo kumat lagi Fatih memanggilnya meong. Mereka bertiga keluar dari markas dan bersiap pulang.
Ketiga sahabat itu saling kejar kejaran motor di jalanan yang sangat sepi. Apa lagi ini memang sudah sangat larut.
Cittt ...
Fatih mengerem mendadak ketika ada seseorang yang menyebrang. Hampir saja orang itu tertabrak kalau Fatih tidak mengerem motornya.
Fatih menyipitkan kedua matanya melihat orang itu berlumuran darah. Sambil memegang lengannya yang terus mengucur darah.
"Cari, jangan sampai lolos!"
"Habisi dia!"
Fatih mendengar suara-suara yang mendekat, sepertinya orang yang akan tertabrak sama Fatih orang yang sedang di kejar-kejar.
"Hey, anak muda lepaskan bajingan itu kalau kalian ingin selamat!"
Bentak orang berpakaian serba hitam dengan segerombolan orang datang.
"Tih, gimana ini. Kita gak mungkin melawan mereka yang membawa senjata api!"
__ADS_1
Bisik Rangga pada Fatih. Fatih terdiam santai sambil melirik pada orang yang sudah sangat sekarat di sampingnya lalu tatapan Fatih kembali ke orang-orang berpakaian hitam itu.
"Cih, kalau kalian mau ambil saja sendiri!"
Ketus Fatih sambil naik ke atas motornya, tanpa peduli pada seseorang yang menatapnya permohonan.
Orang-orang berpakaian serba hitam langsung mendekat.
Duar ...
"Naik!"
Teriak Fatih membuat seseorang tersebut langsung naik ke atas motor Fatih.
"Oh, sit. Anak berandalan itu!"
Bentak ketua orang-orang berpakaian hitam itu dimana anak-anak ingusan itu berhasil mengelabuinya dengan petasan. Untung saja Rangga selalu membawa senjata itu yang bukan sembarang petasan. Di mana petasan itu akan mengeluarkan asap ketika meledak tidak berbahaya namun berbahaya pada mata.
Fatih terus memacu motornya dengan hati-hati karena takut orang yang dia tolong terjatuh. Sedang Rangga dan Moreo berada di sisi kanan kiri motor Fatih menjaga takut-takut orang-orang tersebut mengejar mereka.
Untung saja rumah Moreo kosong jadi aman mereka membawa orang tersebut ke sana.
"Siapa anda, kenapa orang-orang itu ingin membunuh anda. Gue yakin anda bukan orang sembarangan,"
Gumam Fatih ketika meletakan seseorang itu di atas ranjang ruang tamu.
Fatih mengamati orang tersebut yang sudah pingsan. Orang tersebut mendapatkan dua luka tembak, di lengan dan bahunya. Untung saja pelurunya tidak mengenai dada.
"Apa yang harus kita lakukan, siapa orang ini!"
Ucap Rangga baru masuk rumah ketika mengamati kalau mereka aman. Sedang Moreo menelepon Raja supaya cepat ke rumahnya.
"Kita harus mengeluarkan peluruh nya!"
"Bagaimana caranya!"
"Siapkan gunting, pisau dapur dan kain."
Dengan cepat Rangga mencari ke dapur karena Rangga sudah biasa di rumah Moreo. Selayaknya rumah sendiri.
Moreo meringis ketika melihat Fatih mencoba mengeluarkan peluruh tersebut. Sedang Rangga biasa saja.
"Cari tahu, dari mana asal peluruh ini!"
Ucap Fatih memberikan dua peluru tersebut pada Rangga. Fatih mencuci kedua tangannya ketika sudah selesai mengeluarkan dua peluruh tersebut dan menutup luka itu dengan bahan dan obat yang ada.
"Siapa orang ini, kenapa mereka ingin menghabisinya?"
Tanya Moreo duduk di samping Fatih yang sedang menatap orang tersebut.
"Gue gak tahu, tapi sepertinya dia orang penting!"
"Kita tunggu saja sampai dia siuman!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih ...