Filosofi Alin

Filosofi Alin
105 Ke Bogor


__ADS_3

Tanggal 31 Januari hari dimana ulang tahun Queen yang ke tiga puluh tujuh tahun dan hadirnya malaikat kecil di rahimnya.


So, siapa para reader di sini yang tanggal ulang tahunnya sama, Happy birthday ya!


Sungguh ini kado terindah yang Queen dapatkan.


Queen pikir anak-anak tak menyukai kehadiran adik kecilnya. Apa lagi Aurora pernah bilang tak mau punya adik. Tapi, lihatlah kejutan ini sangat-sangat membuat Queen terharu.


Bahkan semuanya ada di cafe ini, kenapa Queen tidak menyadari itu.


Padahal sang ayah dan ibu sambungnya ada tepat duduk di belakang Queen, Angga dan Murni. Begitupun dengan yang lainnya.


Dan, kesalnya lagi, Queen tidak tahu bahwa sendari tadi suaminya sudah terhubung Vidio call dengan sang mama dan sang Daddy, Dinda dan Fandi yang ada di Jerman.


"Happy birthday my beautiful sister and welcome my niece!"


Alam memeluk sang kakak dengan sayang sambil mencium kening Queen. Kakak satu-satunya yang tercantik di hidup Alam. Bahkan Alam juga mencium perut Queen yang masih datar. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan.


Begitupun Jek dan Murni ada di sana, namun Queen tak menyangka ternyata cafe itu sudah di booking oleh sang suami dan yang ada di cafe itu ternyata karyawan-karyawan sang suami sendiri.


"Happy birthday my sweet sister,"


Ucap Jek memeluk adik tirinya yang dulu selalu membuat Jek marah.


"Selamat sayang, Ah kau memang putri ayah yang tercantik. Terimakasih sudah memberikan ayah cucu lagi!"


Ucap Angga memeluk putri tercintanya, sambil berkali-kali Angga mencium puncak kepala Queen.


Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan. Dinda dan Fandi hanya bisa meneteskan air mata karena tak bisa pulang ke tanah air. Namun, doa mereka menyertai putri tercinta nya.


Jika semuanya sedang menangis haru akan kebahagiaan yang datang tapi tidak dengan seorang gadis yang duduk manis di salah satu kursi.


Sendari Fatih dan Aurora menyanyi Shofi memegang dadanya yang sangat sesak. Kerinduan akan kedua orang tuanya membuat Shofi tak sanggup lagi bernafas.


Andai, kedua orang tuanya masih hidup mungkin Shofi juga akan sebahagia Fatih. Yang selalu menatap Queen penuh cinta dan kasih sayang.


Namun, Shofi hanya bisa menahan karena tak mungkin mengacaukan acara bahagia orang lain.


"Alles Gute zum Geburtstag Tante,"


"Terimakasih sayang,"


Queen memeluk Shofi lembut sambil tersenyum manis. Sedang Fatih menautkan kedua alisnya ketika Shofi mengucapkan selamat ulang tahun pada sang bunda bukan menggunakan bahasa Inggris melainkan bahasa Jerman.


Semua orang duduk di kursi mejanya masing-masing. Ketika Queen berdiri akan memotong kue ulang tahun yang begitu sangat cantik, dimana lilinnya bukan angka usia Queen melainkan seorang ibu hamil. Di mana Farhan tentu yang menyiapkan semua itu.


Sungguh pemandangan yang sangat indah ketika Queen memberikan suapan pertama pada sang ayah dan ibu sambungnya. Harusnya yang mendapatkan itu Dinda, namun karena Dinda tidak ada, maka teralih pada Angga dan Murni. Karena bagi Queen kedua orang tualah yang pertama yang harus mendapatkannya. Kerena mereka, Queen ada di dunia ini dan karena mereka juga telah mengantarkan Queen pada cinta hidupnya lagi yaitu Farhan.


"Kau selalu memberikan bee suapan terakhir!"


"Karena bee, adalah cinta terakhir Queen. Hingga tak ada lagi yang bisa Queen beri selain bee, suapan ini, hati ini dan tubuh ini semuanya milik bee,"


Bisik Queen sensual di telinga Farhan membuat Farhan tersenyum manis semanis madu.


Karena istrinya selalu saja bisa membuat hatinya berbunga-bunga layaknya anak remaja yang jatuh cinta.

__ADS_1


Angga tersenyum bahagia melihat putrinya di cintai sebegitu besar oleh Farhan. Sepertinya Angga benar-benar tenang ketika suatu hari nanti meninggalkan anak-anak yang sudah bahagia dengan keluarganya masing-masing.


Begitupun Dinda dan Fandi yang berada di sebrang sana sangat bahagia akan berita, jika mereka akan mendapatkan cucu lagi.


Kini kekecewaan Queen pada kedua anaknya sirna ketika mereka malah mengerjainya dan memberikan kejutan yang sangat luar biasa.


Bahkan Aurora dan Fatih begitu menempel di lengan kiri kanan Queen. Membuat Queen bahagia.


Hingga hari menjelang malam, semuanya berangsur pulang.


Fatih mencari-cari keberadaan Shofi, namun tidak ada di dalam.


"Bun, kakak mau cari Shofi ya!"


Queen yang sempat akan protes mengurungkan niatnya ketika sang suami menggeleng.


"Kenapa bee gak melarangnya?"


"Biarkan saja, putra kita sudah besar, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri!"


"Bukankah satu bulan lagi gadis itu akan pergi!"


"Ya, biarkan putra kita belajar kuat untuk melepaskan nya, kita hanya berusaha memberi sedikit waktu dan ruang saja. Putra kita sudah dewasa percayalah!"


Cup ...


"Mulai nakal ya!"


"Apaan sih, ayo pulang!"


Farhan hanya tersenyum saja melihat wajah sang istri yang malu-malu. Padahal mereka menikah sudah tujuh belas tahun, namun Queen masih saja suka malu-malu jika menginginkannya.


Hingga Fatih melihat sosok gadis yang sedang berdiri di bawah pohon. Sepertinya gadis itu sedang menelepon seseorang.


"Philo!"


Panggil Fatih membuat Shofi langsung berbalik. Shofi langsung memutuskan sambungan teleponnya ketika Fatih sudah ada di hadapannya.


"Kenapa di sini!"


"Cari angin,"


"Orang-orang sudah pada pulang, ayo gue antar pulang,"


"Supir aku bagaimana!"


"Sudah gue suruh pulang duluan tadi, ayo!"


Shofi hanya mengangguk saja mengikuti langkah Fatih memarkirkan motornya.


Fatih menyunggingkan bibirnya ketika Shofi melingkarkan tangannya di perutnya. Fatih tak perlu memaksa lagi, toh Shofi sudah tahu apa yang Fatih inginkan.


"Ayo jalan, kenapa diam!"


"Iya!"

__ADS_1


Fatih langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Suasana malam yang sangat indah, dengan semilir angin membuat Shofi mengeratkan pelukannya.


Seolah malam ini, berpihak pada Fatih.


Bisakah mereka seperti itu terus, tetap bersama dengan hari yang terikat walau status yang berbeda.


Shofi menengadahkan kepalanya ketika merasa kenapa Fatih tak sampai-sampai kerumahnya. Seolah Fatih sedang berkeliling terus menulusuri jalan.


Harusnya tiga puluh menit mereka sampai, tapi kenapa ini sudah satu jam lebih tapi Fatih belum sampai-sampai juga ke rumahnya.


Sialnya, Shofi tadi menikmati momen ini hingga Shofi tak sadar Fatih sudah membawanya entah kemana.


"Fatih, kita mau kemana. Kok udaranya semakin dingin sih?"


"Ini bukan jalan ke rumah ku!"


Tanya Shofi sedikit berteriak agar Fatih mendengarnya.


"Kita akan berkemah!"


"What!"


Pekik Shofi terkejut bahkan sampai melepaskan pelukannya.


"Fatih berhenti!"


Teriak Shofi sambil memukul-mukul punggung Fatih membuat Fatih langsung menghentikan motornya.


"Kau mau bawa aku kemana! camping! kamu gila!"


"Ke Bogor!"


Jawab santai Fatih di mana langsung mendapat tatapan tajam dari Shofi.


"Amira dan yang lainnya sudah menunggu, ayo naik!"


"Amira!"


Ulang Shofi masih terlihat bodoh, belum mengerti dengan semuanya.


"Hey, loe lupa, bukankah kita sudah berencana mau camping setelah ujian selesai. Dan, di Bogor tempatnya!"


"Ayo naik!"


Shofi jadi linglung sendiri, bahkan ia naik motor Fatih kembali sambil mengingat-ingat apa benar ini sudah di rencanakan.


Seketika Shofi menepuk jidatnya sendiri ketika sudah mengingatnya.


Ya, kemaren ketika mereka pulang dari rumah sakit. Fatih mengajaknya ke mall guna mencari kado untuk ulang tahun sang bunda. Dan, di sana juga ternyata sudah ada Amira dan Bunga begitupun ketiga sahabat Fatih. Di sanalah lah mereka merencanakan semua itu.


Sebenarnya ini usul Fatih sendiri, karena Fatih ingin menghabiskan waktu di detik-detik kepergian Shofi tanpa Shofi sadari.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....

__ADS_1


Jangan lupa Saksikan cerita Alam dan Amira di novel



__ADS_2