
Amira hanya diam saja ketika Alam mengobati lukanya. Bahkan Amira tak bergeming sama sekali. Pikirannya hanya tertuju pada Aditya.
Kobaran amarah masih menguasai jiwa Amira. Bagaimana jika kejadian satu tahun lalu terjadi padanya. Mungkin Amira akan jauh lebih gila dari pada yang Amelia alami.
Rasa benci sudah terpupuk nyata di hati Amira. Sungguh laki-laki itu begitu sangat mengerikan sekali. Bahkan tampang bajingan ya begitu mudah di sembunyikan lewat wajah tampan dan tatapan polosnya.
Amira benar-benar marah sangat marah hingga tak bisa mengendalikan emosinya. Padahal Amira gadis yang terkenal penyabar dan masa bodo. Namun, Aditya sudah membuat Amira menunjukan sisi lain dari dirinya sendiri.
"Awwss ...,"
Amira meringis ketika Alam menekan lukanya.
Alam sengaja melakukannya karena sendari tadi Amira hanya diam saja. Bahkan tak melirik dirinya sama sekali membuat Alam menjadi kesal.
"Om kenapa di tekan, sakit tahu!"
Ketus Amira menepis tangan Alam yang akan mengobatinya lagi.
"Dari tadi melamun, memikirkan si brengsek itu!"
"Iya!"
"Awas, Rara harus ke rumah sakit!"
Cetus Amira membuka pintu mobil, namun Alam mencegahnya.
"Tangan kamu belum di obati!"
"Tak perlu!"
"Diam!"
Tekan Alam, membuat Amira terdiam. Alam menyunggingkan senyum tipis melihat Amira menurut. Dengan telaten Alam membersihkan luka di punggung tangan Amira lalu memberikannya plaster.
"I hate you hiks ...,"
"I hate you ..,"
Lilir Amira tiba-tiba menangis membuat Alam terkejut. Alam tak mengerti kenapa Amira malah menangis. Dan, malah berkata membencinya.
"Ra, kamu kenapa!"
"Aku benci om hiks ...,"
Amira malah semakin menangis membuat Alam bertambah bingung. Apa salahnya kenapa Amira malah membencinya. Harusnya yang Amira benci di bajingan itu bukan dirinya.
"Kenapa kamu membenci om, harusnya yang kamu benci si bajin--"
"Aku benci om, kenapa om lakukan ini semua kenapa! Chat ku satupun tak ada yang om balas. Tapi, kenapa sekarang peduli hah, kenapa hiks ...,"
Deg ...
Alam terkejut dengan apa yang Amira katakan. Alam pikir Amira menangis karena bajingan itu ternyata karena dirinya.
"Om jahat ... Rara benci om!"
Amira terus menangis sambil membelakangi Alam yang hanya diam dengan tatapan dinginnya.
Entah harus bagaimana Alam memperingati cucu dari Tante dan omnya itu. Sungguh Alam frustasi, Alam tak mau berada dalam situasi seperti ini.
"Ini salah, harusnya kamu tahu status kita!"
__ADS_1
Tekan Alam dingin mengepalkan kedua tangannya erat.
"Apa yang salah! aku mencintai om, Rara juga yakin om pun sama!"
Alam menarik nafas dalam lalu menghembuskan ya kasar. Alam tak tahu harus berkata apa lagi. Karena percuma, Amira sampai kapanpun tak akan pernah mengerti.
"Kita ke rumah sakit!"
Putus Alam menjalankan mobilnya ke rumah sakit. Dimana Amelia di larikan ke sana.
Shofi dan Bunga duduk menunggu pemeriksaan dokter. Sendari tadi dokter memang belum keluar membuat Bunga dan Shofi cemas.
Walau Shofi dan Bunga tidak menyukai Amelia. Apalagi Amelia selalu mencari gara-gara dengan Shofi.
Namun, dua gadis itu masih mempunyai hati nurani. Mereka menolong hanya rasa ke manusia saja tidak lebih.
"Bunga, Shofi!"
Panggil Amira seperti biasa akan kembali ceria lagi di hadapan semuanya.
"Ra, kamu gak apa?"
Tanya Bunga dan Shofi barengan sambil berdiri menyambut Amira.
"Aku baik-baik saja, bagaimana ke adaan Amelia?"
"Dokter belum keluar sendari tadi!"
Ketiga gadis itu kembali duduk dengan pikiran berbeda. Entah apa yang tiga gadis itu pikirkan mengetahui apa yang terjadi pada Amelia.
Pantas saja satu Minggu Amelia tak masuk, ternyata Amelia bukan sakit tapi mengurung diri karena keadaannya. Kenapa dia bisa kebablasan seperti itu. Sungguh, kecantikan tak bisa menilai nilai iman seseorang.
Suara pintu terbuka membuat ke tiga gadis itu berdiri.
Dokter memandang ketiga gadis di depannya dengan tatapan entah. Dokter hanya menghela nafas saja. Terlihat dari raut wajahnya seakan ada sesuatu yang serius.
"Dok, bagaimana keadaan Amelia?"
Tanya Amira cepat, karena kesal melihat dokter hanya diam.
"Di mana kedua orang tuanya, dan siapa kalian?"
"Ka-kami temannya!"
"Tolong, jika ada kedua orang tuanya suruh keruangan saya!"
"Tapi, bagaimana keadaannya dok, apa kamu boleh masuk?"
"Pasien mengalami pendarahan, tapi Baby nya selamat. Kalian boleh masuk!"
"Terimakasih dok!"
Sang dokter langsung pergi membuat Amira, Shofi dan Bunga masuk.
Amelia memalingkan wajahnya melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya. Bukan mereka yang Amelia harapkan tapi kedua orang tua dan teman-teman nya saja.
"Apa kalian mau mengejek gue hah, pergi!"
Usir Amelia ketus, seperti biasa dalam keadaan seperti ini Amelia masih saja angkuh.
Amira hanya tersenyum kecut melihat keangkuhan Amelia. Harusnya dia itu berterimakasih bukan malah mengusir.
__ADS_1
"Apa ini cara kau berterimakasih!"
Ketus Amira kesal, amarahnya masih saja menguasai dirinya. Di tambah karena kesal pada Alam juga.
"Kami tidak ada mengejek mu, kami ingin melihat apa kau baik-baik saja atau tidak!"
Cetus Bunga tersulut emosi juga melihat keangkuhan Amelia. Sudah untung mereka tolong.
"Hidup gue sudah hancur, masa depan gue juga hancur!"
"Hidup dan masa depan loe tidak hancur, jika loe mau merubah masa depan dan kehidupan loe sendiri!"
"Kami mungkin di mata loe hanya musuh, tapi bagi kami loe bukan musuh kami,"
"Walau sejujurnya kami shok dengan apa yang terjadi pada diri loe. Kami lihat, se jahat-jahatnya loe, loe masih mempunyai hati nurani untuk tidak mengugurkan kandungan loe!"
"Namun, loe salah jika harus meminta pertanggung jawaban laki-laki brengsek itu!"
"Lalu gue harus apa, siapa yang mau tanggung jawab! gue gak mungkin membesarkan baby ini sendirian!"
Bentak Amelia emosi, kenapa tak ada yang mengerti posisinya. Semua orang sama saja.
Amelia benci itu, semua orang tak ada yang mengerti perasaan nya.
"Loe bisa pasti bisa, apa loe gak berpikir, bagaimana bisa loe hidup sama orang yang sudah memandang loe hina bahkan tak menginginkan baby loe. Apa loe akan bahagia hah, ayo katakan apa loe akan bahagia!"
Shofi mencengkal lengan Amira yang tersulut emosi. Sedang Amelia sendari tadi hanya menangis pilu.
"Besarkan baby loe sendiri. Gue yakin loe bisa, jangan jadikan diri loe seperti kedua orang tua loe sendiri!"
Deg ...
Amelia terkejut mendengar bentakan Amira, Amelia menatap nanar Amira. Kenapa bisa Amira tahu tentang kedua orang tuanya. Bagaimana bisa, padahal Amelia tak pernah sekalipun bercerita. Hanya ketiga sahabatnya nya lah yang tahu. Bagaimana bisa orang yang selalu Amelia benci tahu tentangnya.
"Pertahankan baby loe, dia masih bisa bertahan karena tahu, ibunya kuat!"
Amira langsung pergi meninggalkan ruang rawat Amelia dengan emosi yang menggebu-gebu. Di ikuti oleh Bunga.
Shofi memandang Amelia dengan tatapan sulit di artikan.
Entahlah, apa karena kasihan atau kesal pada Amelia yang selama ini selalu mengganggunya.
"Apa yang di katakan Amira benar, kamu ibu kuat dan ... hebat!"
Shofi baru bersua di mana sendari tadi dia hanya diam saja. Karena bingung harus berbuat apa.
Amelia berbalik menatap nanar tas yang Shofi letakan di pangkuannya.
Air mata Amelia terus mengalir deras sangat deras hingga Amelia merasakan sesak yang tiada Tara.
Kenapa!
Kenapa orang yang selalu Amelia musuhi malah orang yang menolong dan peduli padanya.
Kenapa!
Amelia mencengkram erat seprai rumah sakit dengan rahang mengeras.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1