
"Sumpah, aku gak nyangka kamu mempunyai uncle sekejam itu!"
"Aku sampai shok mendengar berita kejadian kemaren. Penangkapan uncle kamu sangat-sangat viral di media sosial!"
"Aku tak menyangka hidup kamu se menakutkan itu. Jika dari awal aku tahu kamu dalam bahaya aku tak mau berteman dengan kamu!"
Cerocos Bunga tak henti-hentinya membuat Amira langsung men toyor Bunga.
"Terus sekarang kenapa ke sini?"
Tanya Shofi pura-pura cemberut akan ucapan Bunga yang menyakiti hatinya.
"Isst, karena aku sudah terlanjur berteman dengan mu, he .. he ...,"
Amira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Bunga yang mulai keluar bar-bar nya.
"Bahkan kamu tahu, suami ku juga mendapat luka. Aku sampai menjerit tak mengenalinya. Aku pikir dia hantu masuk ke apartemen ku, sampai aku berteriak-teriak!"
"Bisa di bayangkan gak sih, wajah tampan suamiku jadi buruk rupa, bahkan saat tidur aku terus meliriknya karena masih tak percaya!"
Shofi dan Amira di buat tertawa mendengar cerita Bunga. Sungguh, kalau sudah Bunga yang ngomong pasti mengalahkan jalan kereta listrik.
Nyerocos tak ada jeda, bahkan saking asiknya bercerita ludah Bunga berhamburan bak ada hujan tiba-tiba membuat Amira langsung menjauh.
"Sudah sudah, kau ini!"
Cetus Amira menutup mulut Bunga dengan tisu.
"Isstt, lepas!"
"Makannya jangan ngomong Mulu,"
"Kau ini!"
Jadi hiburan tersendiri bagi Shofi melihat tingkah kedua temannya. Mungkin Shofi akan merasa rindu dengan momen kebersamaan ini.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Shofi. Sudah tiga hari ini Shofi tak mendapati Fatih menjenguknya. Apa laki-laki itu baik-baik saja atau bagaimana mana. Bahkan tak ada satu orang pun yang membicarakan Fatih.
Shofi menatap Amira, Shofi yakin Amira tahu sesuatu. Namun, Shofi mengurungkan niat nya. Lebih baik seperti ini dari pada harus menanyakan Fatih.
"Hey, kenapa jadi bengong!"
Ucap Amira menepuk bahu Shofi yang terlihat melamun. Shofi tersenyum tipis menanggapi ucapan Amira.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?"
Tanya Bunga sambil mendekat.
"Tidak! aku cuma berpikir. Mungkin aku akan merindukan momen ini!"
Ucap Shofi sendu sambil menatap kedua temannya di iringi senyum tipis.
"Emang kapan kamu pergi?"
"Tidak tahu, aku terserah kakak Davit saja!"
__ADS_1
"Jangan sekarang-sekarang lah, nanti saja. Tanggung, empat bulan lagi kita lulus. Dan, kamu jangan dulu pergi sebelum menyaksikan acara resepsi pernikahan ku dan Raja!"
Mohon Bunga, dia akan sangat sedih jika salah satu temannya tak hadir dalam acara sakral bagi dirinya. Momen di mana yang sudah Bunga tunggu-tunggu.
"Jika kamu takut meminta izin, biar aku saja yang bicara pada kakak kamu supaya dia mengizinkan kamu tinggal di sini sampai waktu itu tiba!"
"Emang berani!"
"Tidak!"
Tak ...
Amira kembali men toyor Bunga yang bicara sok-sok an.
"Bilangnya minta izin, tadi saja melihat kak Davit di luar Bunga malah ngumpet!"
"Habis kak Davit seram nya minta ampun, walah ganteng tapi mukanya datar banget dan tatapannya sangat mengerikan!"
"Tapi dia baik kok,"
Ucap Shofi cepat, kakaknya orang yang paling baik yang Shofi miliki setelah kedua orang tuanya. Davit bukan hanya sekedar kakak, tapi juga menjadi sosok Daddy dan mommy baginya. Karena hanya Davit yang saat ini Shofi miliki tidak ada yang lain.
Andai saja Davit bukan kakak nya tentu saja Shofi akan merasa sakit hati. Shofi merasa hidupnya sangat menyedihkan.
"Iya iya, kakak mu memang yang paling baik!"
Cetus Bunga mengerucutkan bibirnya membuat Shofi tersenyum.
Tanpa mereka sadari sendari tadi Davit mendengarkan obrolan mereka. Bukannya marah namun Davit jadi terlihat sendu.
"Katakan, jangan buat adik kecilku menunggu!"
"Baiklah!"
Pasrah Davit, sepertinya ini waktu yang kurang tepat bagi Davit berkata jujur. Namun, Davit harus melakukannya.
Waktu mereka tidak banyak, dan rencananya setelah pulih Davit dan Angel akan kembali membawa Shofi ke Jerman. Karena persembunyian mereka telah usai. Mungkin mereka akan memulai hidup baru lagi dengan suasana baru.
Kita tidak tahu kedepannya bagaimana, itu semua sudah Davit rencanakan. Apalagi, sebentar lagi Shofi akan mengemban tanggung jawab besar. Walau usia Shofi masih remaja namun kemampuan Shofi sudah tak di ragukan lagi.
Dan, untuk itu semua Shofi harus mempersiapkan diri di mana dia akan tersorot oleh publik. Di mana Shofi di nyatakan meninggal juga dalam pembunuhan itu.
Dan, masih banyak lagi urusan yang harus Shofi lakukan. Dan itu pasti cukup mental yang kuat.
Davit dan Angel masuk membuat Bunga langsung bergeser.
Mampus aku, apa mereka mendengar ucapan ku?
Batin Bunga was-was, jangan sampai Davit mendengar ucapannya.
"Waktu kunjung kalian sudah habis!"
Angel mencubit pinggang Davit yang bicara sangat datar dan dingin sampai membuat Bunga ketakutan. Bahkan wajah Davit tampak ekspresi dengan sorot mata tajam.
"Sakit sayang,"
__ADS_1
"Makanya, kalau ngomong lembut sedikit. Mereka bukan aku!"
Bisik Angel ingin tertawa melihat ketakutan Bunga. Bahkan gadis imut itu sampai gemetar.
"Waktunya Shofi istirahat!"
Ujar Davit berusaha bicara lembut, namun yang terdengar malah Davit seakan dengan jelas mengusir mereka.
Angel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedatangan sang suami. Sungguh Davit tak bisa bicara lembut kecuali pada Shofi dan istrinya. Walau kadang Davit juga akan tetap bicara dengan wajah datar.
"Kalian bisa kembali besok ya!"
"Oh, kalau begitu kami pamit kak!"
Ucap Amira tersenyum sambil menarik tangan Bunga keluar dari ruangan Shofi.
Huh ...
Bunga menarik nafas dalam-dalam ketika sudah keluar membuat Amira mengerutkan kening.
"Aduh, kirain aku akan mati. Satu ruangan dengan kakak Shofi membuat aku sesak nafas!"
Celetuk Bunga masih mengatur nafasnya, sontak Amira malah tertawa. Karena Bunga sangat terlihat lucu.
Sedangkan Shofi menatap sang kakak yang malah bertingkah gugup. Bahkan keringat dingin keluar membasahi dahinya.
"Kenapa kakak keringetan, perasaan di sini gak panas?"
Tanya Shofi membuat Davit langsung menatap sang istri. Angel memberi anggukan meyakinkan Davit bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan!"
Ucap Davit cepat membuat Shofi terdiam dengan perubahan sikap sang kakak yang kembali datar.
"Kakak akan menjawab semuanya!"
Ucap Davit lagi, Angel memilih keluar karena Angel tahu. Mereka butuh ruang untuk mengungkapkan semuanya.
Shofi menatap intens sang kakak yang nampak serius dengan omongannya.
"Kenapa aku yang jadi ahli waris, bukan kakak?"
"Karena kamu berhak atas semuanya!"
"Tidak, bukankah yang berhak mendapatkannya adalah kakak. Karena kakak putra pertama?"
Tanya Shofi menggebu, karena Shofi takut apa yang dia pikirkan benar. Jika om Farhan berkata kedua kakak meninggal dan dia adalah yang paling bungsu lalu siapa Davit sebenarnya. Bukankah Davit juga kakak nya, bahkan om Farhan juga tak menceritakan bagaimana Davit lahir.
Shofi mengepalkan kedua tangannya cemas menunggu jawaban sang kakak. Berharap apa yang dia pikirkan salah. Berharap apa yang om Farhan katakan keliru.
Sungguh Shofi tak bisa membayangkan kalau semuanya benar!
"Saya bukan kakak kandung kamu!"
Deg ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....