
"Tolong ... ayah mama ..,"
Teriak Amira terus memberontak berharap ada orang yang lewat dan menolongnya. Namun Amira lupa kalau di sekolah sedang acara, jadi mana mungkin ada orang yang pergi kelantai atas.
"Teriak lah sepuasnya, ha .. ha ... tak ada yang nolong loe!"
"Loe harus jadi milik gue!"
"Tidak!!!"
"Tolong ..."
Bugh ...
Akhhhh ...
Jerit Aditya mengeram sakit ketika Amira menendang selangka nya. Amira menggunakan kesempatan itu untuk kabur namun sialnya kakinya di cengkram oleh Aditya.
"Lepas sialan!"
Bentak Amira berusaha menginjak tangan Aditya. Namun, Aditya malah menarik nya membuat Amira terjatuh.
Aditya mengungkung tubuh Amira membuat Amira terus memberontak karena posisinya sangat berbahaya.
Plak ...
"Diam!"
Bentak Aditya sambil menampar Amira membuat Amira langsung terdiam. Amira tak menyangka bahwa Aditya akan melakukan hal menjijikan padanya.
Tak pernah sekalipun Amira di tampar oleh kedua orang tuanya. Namun, kini orang lain berani menampar bahkan Amira merasakan panas di pipinya. Amira yakin wajahnya akan bengkak dan memerah.
Melihat Amira diam Aditya Menggunakan kesempatan itu. Aditya mencengkram kedua tangan Amira lalu mendekatkan wajahnya.
Cup ...
Lagi-lagi Amira memalingkan wajahnya dengan sisa tenaganya membuat bibir Aditya menempel di pipinya.
"Loe diam, atau gue akan berbuat kasar pada loe!"
Bisik Aditya tepat di telinga Amira, Amira hanya menggigit bibir bawahnya dengan gemetar. Tubuhnya seakan lemas berada di posisi seperti itu.
"Tolong lepaskan aku!"
"Gue tak akan melepaskan loe, sebelum loe jadi milik gue!"
"Tidak!!"
Amira kembali memberontak di sisa tenaganya. Amira gak mau bibirnya di cium oleh orang yang membuat Amira jijik.
Grep ...
Aditya mencengkram pipi Amira supaya Amira berhenti memberontak.
"Tolong!!!"
"Diam sialan!"
Shrek ...
__ADS_1
Bugh ...
"Oh sittt!"
Umpat Aditya ketika wajahnya di tinju bahkan membuat ia tersungkur.
"Amira, ya ampun kamu tidak apa-apa!"
Pekik Shofi langsung menghampiri Amira yang menangis tak berdaya. Shofi langsung membawa Amira kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan Amira yang ketakutan bahkan tubuh Amira bergetar hebat dengan air mata yang terus mengalir.
Shofi menghapus air mata Amira lalu membenahi rambut Amira yang berantakan. Namun, tatapan Amira terpaku pada sosok tinggi di depannya, bahunya naik turun dengan tangan mengepal erat.
"Siapa kau, kenapa kau ikut campur urusanku!"
Bentak Aditya menatap tajam sosok gagah di depannya yang menatap Aditya dingin. Raut wajahnya begitu Kelam dengan sorot mata tajam seakan ingin memakan Aditya hidup-hidup.
Sosok gagah itu berjalan mendekati Aditya membuat Aditya mundur.
"Mau apa kau!"
Bugh ... Bugh ... Bugh ...
Sosok gagah itu kembali melayangkan tinju pada wajah Aditya bahkan sampai Aditya terkapar. Sosok itu terus meluapkan emosinya dengan terus menghabisi Aditya sampai Aditya benar-benar tak berdaya bahkan Aditya sampai tak sadarkan diri baru sosok gagah itu berhenti.
Sosok gagah itu berbalik menatap Amira yang berada di dalam pelukan Shofi. Namun, mata sayu Amira menatapnya.
Sosok gagah itu membuka jaketnya lalu berjongkok dan memakaikan pada Amira yang diam.
Tangan Amira berusaha meraih wajah sosok di hadapannya.
"O ...,"
Pekik Shofi terkejut melihat Amira tak sadarkan diri di pelukan sosok gagah itu. Tanpa banyak omong sosok itu membawa Amira pergi di ikuti oleh Shofi dari belakang.
Mereka mencari jalan aman supaya tak ada yang melihat.
"Bisa mobil?"
"Bisa!"
"Bawa mobil saya, saya tunggu di belakang gedung!"
Shofi langsung mengangguk lalu berlari ke halaman parkir. Lalu memencet tombol hingga terdengar suara mobil membuat Shofi tahu di mana letak mobil itu. Dengan cepat Shofi langsung memutar kemudi dan menuju ke belakang gedung.
Sosok gagah itu langsung masuk sambil tetap menggendong Amira.
Shofi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Shofi berharap Amira baik-baik saja. Jika sampai terjadi sesuatu pada Amira Shofi tak mau memaafkan dirinya sendiri.
Hingga mobil yang Shofi bawa sampai di rumah sakit. Tanpa kata sosok gagah itu turun dan masuk ke ruang UGD tanpa bicara apapun membuat petugas mencegah karena melanggar prosedur.
Namun, sosok gagah itu menatap tajam pada para petugas hingga Shofi datang dan mengurus bagian pendaftaran.
"Periksa dia, jangan sampai terjadi sesuatu!"
Ucap sosok gagah itu menatap tajam pada dokter. Bahkan wajahnya tampannya sangat menyeramkan di mata dokter membuat dokter mengangguk pasrah.
Sosok gagah itu berdiri di depan pintu UGD dengan tangan mengepal erat. Bahkan rahangnya masih mengeras menunjukan bahwa amarahnya masih ada.
Sedang keadaan Aditya tak ada yang tahu. Entah Aditya mati atau masih hidup di ruang kosong itu dengan keadaan yang mengenaskan. Bahkan darah bercucuran di hidungnya dengan bibi dan pelipis yang sobek.
__ADS_1
"Emmz ..,"
Gumaman kecil terdengar di bibir Amira. Sudah dua jam pasca pemeriksaan Amira baru sadar.
Bau obat menyeruak ke dalam Indra penciuman Amira membuat Amira tahu di mana ia sekarang. Amira berbalik menatap orang-orang yang berdiri di samping kanan kirinya.
Ada Jek dan Melati, Angga dan Murni, Queen dan Farhan, Fatih, Aurora, Bunga dan Shofi. Namun, Amira tak melihat ada sosok yang menolongnya.
"Apa ini mimpi!"
Lilir Amira pelan sangat pelan bahkan hanya ia sendiri yang mendengarnya.
Melati menatap cemas pada putrinya yang hanya diam dengan tatapan kosong.
"Sayang, apa yang kamu rasakan!"
Ucap Melati mencium tangan putrinya sambil mengelus pipi Amira yang bengkak, sangat lembut saking takutnya Melati menyakiti putrinya.
"Sa-sakit mah, dia jahat, dia kejam, Rara takut!!!"
Lilir Amira kembali menangis ketika bayangan menyeramkan itu terlintas di ingatannya.
"Suttt, jangan takut sayang, ada mama di sini!"
Ucap Melati bergetar bahkan Melati sampai mengigit bibir bawahnya agar tak ikut menangis melihat keadaan putrinya yang rapuh.
Semua orang di sana menitikkan air mata melihat keadaan Amira yang terguncang di pelukan Melati. Walau tidak terjadi luka yang parah namun bisa jadi psikis Amira yang terguncang bahkan sepertinya Amira trauma akan kejadian beberapa jam yang lalu.
"Sayang tenang ya, jangan takut. Mama akan melindungi Rara!"
"Rara takut mah, hiks ... hiks ..!"
"Dia jahat, dia sangat menyeramkan ... Rara kotor!"
"Tidak sayang, tidak ada yang terjadi sama kamu. Rara baik-baik saja,"
"Dia berusaha hiks ...,"
Melati semakin mempererat pelukannya mencoba menenangkan putrinya yang semakin terguncang ketakutan.
Jek tak kuat melihat keadaan putrinya yang rapuh. Dengan cepat Jek keluar guna memanggil dokter. Jek takut terjadi sesuatu pada putrinya.
Hingga tak lama Jek kembali bersama dokter dan menyuntikan obat penenang supaya Amira tidak histeris terus.
"Putri kita!"
Lilir Melati menatap Jek, Jek menarik sang istri kedalam pelukannya.
Shofi hanya bisa diam menunduk tak tahu harus berbuat apa. Andai saja ia tadi tak cepat menemukan Amira. Entah akan seperti apa keadaan Amira, mungkin Amira akan membenci dirinya sendiri.
Shofi memang tadi pergi ke atas gedung untuk menyendiri dalam kesedihannya. Namun, Shofi memutuskan untuk kembali karena takut Amira dan Bunga mencari.
Ketika Shofi kembali tak sengaja Shofi berpapasan dengan seseorang yang bertanya tentang Amira. Apakah Shofi melihatnya atau tidak.
Shofi jadi panik sendiri ketika seseorang itu berkata bahwa Amira pergi mencari temannya yang hilang. Sudah Shofi tebak, Amira sedang mencari dirinya. Hingga Shofi putuskan mencari Amira dengan orang yang tak Shofi kenal.
Hingga Shofi mendengar teriakan Amira meminta tolong di salah satu ruangan kelas yang kosong. Hingga tanpa berpikir panjang Shofi dan seseorang itu langsung berlari dan mendobrak pintu tersebut. Alangkah terkejutnya Shofi ketika melihat Amira dalam posisi yang sangat mengenaskan.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...